inilah pamflet itu

…wishful, sinful, our love is beautiful to see I know what I would like to be, right back where I came…”

The Doors/wishful sinful/The Soft Parade

Saya memiliki tato pada lengan sampai kaki kanan saya dan gambar matahari memenuhi punggung, yang bagian atasnya bertuliskan “Rest In Pain”. Tato di lengan sampai kaki saya itu berpola celtic yang disambung dengan pola biotech. Keseluruhan tato pada tubuh saya memakai tehnik black and grey kecuali pada bagian kaki memakai tehnik color. Mesin tato yang digunakan oleh “artis tato” yang mentato tubuh saya masih berupa mesin sederhana yang dirakit sendiri dari bekas dinamo kipas angin dan jarum yang digunakan adalah jarum jahit ukuran duabelas. Tinta yang digunakan pun bukanlah tinta yang biasa digunakan di studio-studio tato, tapi tinta gambar merk rotring yang biasanya digunakan untuk mengisi ulang pena gambar arsitek. Yang menorehkan tinta pada tubuh saya bukanlah artis tato profesional, tapi seorang teman sepermainan yang tadinya menggelar lapak tato dipinggir jalan kota Bandung[i].

Read the rest of this entry »

Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah ada pelaku. Mereka si pelaku ini bukanlah subjek pasif karena mereka menikmati juga, menikmati tubuh-tubuh perempuan yang direndahkan dan disiksa secara sexsual itu. Karena alasan tugas atau strategi mereka si pelaku ini mempunyai ruang sebebas-bebasnya mengoyak tubuh-tubuh perempuan yang tidak berdaya ini. Bahkan ketika ada ruang kebebasan yang disahkan ini, mampu menjadikan manusia-manusia pelaku ini sebagai manusia yang super berani. Cerita moral yang diberikan ibu-ibu mereka, kaidah agama ataupun norma-norma sosial lenyap dalam kegagahan mereka saat melakukan penyiksaan. Kemachoan absolute mereka sebagai laki-laki pemberani muncul di bawah rasa takut perempuan yang disekap.

Read the rest of this entry »

Seorang teman dari Amerika datang ke rumah, ia rencananya mau menginap di tempatku. Dengan tergopoh-gopoh dua tas besar ia jinjing dan satu tas lagi ia gendong. Tubuh bermandikan keringat, nafas terengah-engah dan tanpa rasa sungkan dua gelas plastik air minum yang kami hidangkan langsung diminumnya. Ia ingin tinggal di Denpasar dengan harapan dapat memperoleh tempat kost yang jauh lebih murah, daripada hotel di Ubud yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Karena ia antropolog tentunya keberadaanya di Bali untuk sebuah penelitian. Kehidupan perempuan Bali menjadi fokus temanya. Untuk beberapa hari ia tidur di tempatku sebelum menemukan tempat yang ideal baginya.

Read the rest of this entry »

“saya tahu benar awal saya bergabung bahwa itu bisnis pyramid, itu sangat menyakitkan tapi saya tidak punya pilihan, saya jadikan itu hallal. Ada satu hal yang saya pelajari dari bisnis itu”

-Deo[1] -

Ini salah satu pernyataan yang sangat menarik tentang bisnis multilevel yang disampaikan oleh Deo saat kami ngobrol bareng di Taman 65. Kesadaran akan pentingnya membangun kesadaran kembali untuk meneruskan perjuangan sebenarnya ditengah-tengah buaian jaringan kapitalis yang sesat. Namun bagi seorang Deo, justru hal ini memberikan inspirasi dan memakai metode mereka sebagai sebuah senjata untuk melawan dan menghancurkan kekuatan mereka.

Awal Revolusi di Timor Leste

Untuk kasus Timor Leste, saya ketika awal Revolusi Bunga di Portugal, saya ketika itu berumur delapan tahun. Saya masih ingat benar sebelum revolusi bunga ada beberapa orang mahasiswa yang kuliah di Portugal waktu itu. Sekitar tujuh mahasiswa jauh sebelum mereka kembali ke Timor Leste mereka di Portugal, mereka terlibat dalam satu komunitas kecil, komunitas diskusi di Portugal namanya Casare Timor (Rumah Timor) di Portugal mereka buat satu komunitas seperti ini. Mereka mulai diskusi dan kelompok diskusi itu kemudian membuka, membangun hubungan yang kemudian memberi mereka kesempatan mengenal komunitas lain seperti itu, untuk Mozambique, Genitisao, Brazil sehingga kemudian waktu itu ada hubungan dengan tokoh seperti Amir Kal Caberal kalau teman-teman ada yang pernah baca buku pergerakan Afrika salah satu tokoh yang juga menentukan revolusi di Afrika itu adalah Amir Kal Caberal, dia salah satu tokoh yang disegani Che. Ketika Che berkunjung di dalam perjalanan dia ke Afrika salah satu orang yang penting dia kunjungi adalah Amir Kal Caberal.

Read the rest of this entry »

“With my friends now, up to the city we’re gonna shake the gate of hell And I will tell them, we will tell them. That the sunlight is not for franchise”

Bella Ciao/Chumbawamba, Asing Song & A Scrap album

Beberapa tahun lalu ketika saya masih SMA banyak teman yang bertanya asal-usul saya; darimana asal saya dan seterusnya. Ketika saya berkata bahwa saya berasal dari Nusa Penida, hal (lucu) pertama yang mereka tanyakan adalah “Apa ada air di Nusa Penida?” Sejauh yang masih saya ingat, saya tidak pernah menjawab pertanyaan (lucu) itu. Seingat saya, saya hanya tersenyum. Kembali lagi ke masa saya masih duduk di bangku SMP di Klungkung, saya sering (terlalu sering malah) mendengar pertanyaan konyol (yang lucu) itu. Jadi ketika saya mendengar pertanyaan (lucu) itu (lagi), hal itu terkesan seperti memutar ulang hari-hari saya (yang indah dan menyenangkan) di Klungkung. Dan itu lebih menguatkan ingatan saya tentang apa yang orang pikirkan tentang saya, darimana saya berasal dan bagaimana mereka bersikap pada saya. Hal kedua yang membekas dalam ingatan saya adalah ketika hampir setiap orang tertawa ketika saya bercakap-cakap dengan kolega saya dari Nusa Penida. Selanjutnya orang-orang akan mencoba menirukan dialek kami dengan cara yang lucu (mereka selalu menganggap hal itu lucu) dan tertawa mengejek setelahnya. Dan itu masih terjadi sampai sekarang…

Read the rest of this entry »

srikandiKelurahan adalah unit ruang administrasi terkecil pemerintahan di tingkat kabupaten. Dalam kegiatan managemen politiknya, lurah melakukan koordinasi yang cenderung ke bawah yakni dengan para pimpinan kelompok warga. Seperti apa yang kita miliki di Bali adalah dengan para klian banjar adat[1] yang ada dalam lingkungan wilayah kekuasaan administratifnya. Hal tersebut menjadikan kedekatan hubungan antara Lurah dan kepala warga tumbuh secara organik tanpa dipacu oleh kebijakan dari atas yang sering kali justru melemahkan produktifitas hubungan, relasi tadi. Sehingga apa yang diharapkan sebagai tanggung jawab moral tugas seorang Lurah dapat dikembalikan lagi ke warganya bukan semata-semata dibutuhkan sebagai pemelihara kebijakan atasan, dalam hal ini adalah camat dan seterusnya walikota/bupati.

Read the rest of this entry »

Masyarakat akhir-akhir ini banyak yang sudah mulai memahami apa itu HIV/AIDS. Namun, ironisnya jumlah penderita yang terinfeksi HIV/AIDS semakin meningkat.

Lantas apakah penderita HIV/AIDS harus kita kutuk, kesepekang, diisolir atau didiskriminasi? Dan ketika sang penderita meninggal, apakah kulkul banjar tidak pantas lagi buat mereka?

Keberadaan HIV/AIDS sudah tidak bisa ditolak lagi dan apapun alasannya lebih bijak memahami, mencegah daripada membencinya membabi buta.
Hal inilah yang membuat Komunitas Taman 65 menyelenggarakan dialog tentang HIV/AIDS agar kita tidak panik dan buru-buru menjatuhkan cap atau stigma buruk pada penderita HIV/AIDS. Ingat, siapa saja bisa kena HIV/AIDS; pemangku, pecalang, penglingsir, hingga ibu rumah tangga serta anak-anak. HIV/AIDS tidak pandang bulu, jenis kelamin, kasta, ras, buruh ataupun kaum professional

Untuk itu kami mengundang anda untuk bergabung, membuka dialog, urun rembug tentang HIV/AIDS, pada Hari Sabtu, 14 Juli 2007 jam 18:00 Wita, di Taman 65 (Jl. WR. Supratman 193 Kesiman). Kali ini kita akan ditemani oleh Putu Ikha Widari dan Dr. Oka Negara.

Kehadiran anda akan sangat berarti dalam upaya bersama mencegah penyebarluasan HIV/AIDS untuk masa depan yang sehat, cerdas, serta memiliki kepedulian antar sesama.

Thanks.

 

inggratis.jpg

Taman 65; sebuah media pendidikan alternatif di Kesiman-Denpasar, bekerjasama dengan VIA (Volunteer in Asia); sebuah organisasi yang menyalurkan mahasiswa tenaga sukarelawan sosial untuk belajar dan berinteraksi di Indonesia, akan menyelenggarakan Bahasa Inggris Gratis untuk teman-teman LSM, mahasiswa, seniman atau siapa saja yang punya komitmen dan keinginan yang kuat untuk belajar, terutama bahasa Inggris. Program ini akan diselenggarakan mulai tanggal 9 Juli - 16 Agustus 2007 dan akan lebih menekankan pada kurikulum belajar kelompok melalui diskusi, bacaan dan menulis lewat interaksi langsung antara mahasiswa VIA dari Amerika dengan peserta lokal. Pada akhir program ini, peserta dan mahasiswa VIA akan melakukan kerja kolaborasi untuk membuat majalah sederhana dari hasil tulisan mereka selama program. Majalah ini nantinya dapat dimiliki secara cuma-cuma oleh peserta, mahasiswa VIA akan membawanya kembali ke negara dan kampus mereka.

Komunitas Taman 65 bersama VIA membuka kesempatan bagi siapa saja yang memiliki komitmen dan niat belajar yang tinggi untuk mengikuti program ini. Tidak memandang walaupun mereka “orang luar” maupun “orang asli.” Karena sesungguhnya berbagai macam ide, pendapat dan pikiran dari berbagai macam orang dari disiplin ilmu yang berbeda akan sangat berharga untuk menambah khasanah wawasan kita bersama.

Berhubung program ini akan menggunakan Taman 65 di Jalan W.R Supratman No.193 Kesiman-Denpasar sebagai tempat belajar dengan kapasitasnya yang cukup terbatas, dan juga menimbang efektifitas kelompok belajar dalam berinteraksi, kami mohon maaf sebesar-besarnya jika kami tidak mampu menampung peserta dalam jumlah yang besar. Oleh karenanya, dengan mengisi form dan mengirimnya kembali paling lambat tanggal 6 Juli 2007 anda sudah dapat mengikuti program ini. Untuk informasi lebih jelas silahkan hubungi Termana (08156574080)


The Jineng building remains our joyful friend.

pict0129.jpgA woman named Sri graduated from Senior High School two years ago and her joy was immense when she entered her favored tourism school in the Nusa Dua area. Her parents were also very happy seeing the joy of t heir only daughter.

Sri’s parents were rich farmers from a small village in Bali. A village, which is surrounded by green, wide-terraced rice fields with beautiful view, the kind that can be seen on postcards. However, Sri considered that her village was place which is distracted her form the glitter of the world; the fancy things, her favorite soap operas, and youth trends. Staying longer in the village, she felt, was not her choice, but her destiny led her to start her life there. Most Balinese young people would prefer to work in the tourism industry; in a luxury modern hotel in the southern part of Bali than to deal with the mud and dirt of the rice field in the village.

Read the rest of this entry »