Kita memanggilnya Bang Udin, sekali waktu Bang Udin sempat hadir di tengah-tengah kita di taman 65 untuk membeberkan semua ‘gerakkannya’ selama ini di salah satu kampung di Salatiga. Gerakan yang dimaksud (..jangan berpikir yang ngeri-ngeri dulu dech! Ini karena anda sudah terlanjur sepakat bahwa kata gerakan sudah tidak mendapatkan hati di masyarakat apalagi selalu dihadapkan pada kecurigaan-kecurigaan negara…) adalah terobosan dalam dunia pendidikan yang tidak lagi memakai metode warisan ulama-ulama lama pedepokan yang rata-rata cerdas dalam hal penyelewengan dana bos. Apabila model ini diteruskan justru ikut meramaikan deretan lembaga penghambat perkembangan pendidikan anak-anak bangsa.
Melalui buku-buku yang masih dalam bentuk fotocopian dengan laminating cover yang siap naik cetak. Karya ini bagi mereka adalah karya disertasi dan cd presentasi dalam format power point yang merupakan karya-karya dari anak-anak yang kreatif bebas dalam belajar. Ada perasaan bangga dalam hati setelah melihat semua ini, timbul harapan mungkinkah pada mereka kita bisa titipkan harapan bahwa kelak mereka akan mampu mengubah wajah, pola, rezim, orientasi pendidikan bangsa ini di masa depan. Jawabannya, Pasti Bisa!(…maaf ini bukan iklan mlm yang salah satu semboyannya juga,’ orang bodohpun bisa jadi milyader yang penting punya lembaran sertifikat/ijazah!!!…)
Seusai menonton tontonan gratis tersebut dan sebelum diberondong pertanyaaan segar mengalir maka untuk menghalau keraguan penonton selanjutnya Bang Udin pun bercerita. panjang lebar tentang kiprahnya selama ini sebagai komandan gerakan disiplin merdeka.
Qaryah Thayyibah sebuah lembaga pendidikan alternative yang gagasan namanya sendiri disumbangkan oleh seorang batak kristen dan yang hanya memiliki dua belas orang siswa pada awal lembaga ini dibentuk. Sekarang sekolah ini sudah dipercayai membidani seratus orang anak yang segera akan melahirkan disertasi-disertasi yang siap disumbangkan kepada masyarakat luas. Sementara teman-temannya kekenyangan dan mual-mual menkonsumsi disiplin yang diterapkan di sekolahnya, anak-anak ini justru bermain-main bebas dengan disiplin yang ada dalam dirinya. Selagi anak-anak di sekolah lain di dera dan dicambuk oleh disiplin titipan negara, anak-anak ini justru sedang asyik ngobrol memenuhi undangan sebagai pembicara di sebuah sekolah yang bertarap international yang lagi mencari inspirasi. Sekali lagi kita berharap bahwa salah satu dari mereka adalah anak kita.
Melihat kondisi pendidikan nasional saat ini kepercayaan masyarakat semakin pudar, mereka yang berduit akan memboyong putra-putrinya ke sekolah-sekolah yang lebih bermutu atau bertaraf internasional agar qualified dalam bursa kerja nanti , terus bagaimana dengan yang tidak mampu? Bang Udin telah menjawab salah satu persoalan yang dihadapi oleh negara kita dari pada janji-janji mulut besar para pejabat penyelenggara republik ini. Alasannya, kompleksitas persoalan negara yang dihadapi membuat mereka lupa akan janjinya.
Suatu hal yang wajar bila kita memandang kemegahan negara ini yang dikonstruski oleh hutang luar negeri hingga sampai kapanpun pemerintah takkan mampu memprioritaskan usaha-usaha penyelesaian permasalahan di bidang pendidikan. Kondisi semacam ini justru menginspirasikan orang-orang seperti Udin, bergerilya di kampung melakukan pemberontakan terhadap rezim pendidikan nasional saat ini, yang keberadaanya justru sebagai penghambat utama dalam memajukan pendidikan nasional. Anak-anak diteror disiplin karena hanya memprioritaskan target ijasah sebagai bekal mencari majikan kelak. Ikut dunia kerja keras membangun negara melalui perusahaan-perusahaan investor yang multi nasional. Bila kita menikmati kemegahan republik ini yang kokoh disusun oleh lembaran-lembaran obligasi maka kita akan sepakat dengan selembar ijazah tersebut, korupsi para pejabat ditanggung oleh tangan-tangan masyarakat buruh pekerja keras.
Qaryah Thayyibah tidak mencetak ijazah namun anak-anak yang paham dengan kondisi keterpurukkan bangsa ini, tidak juga menciptakan gerombolan pekerja namun akan mencetak calon profesional yang punya nurani, kepekaan atas nasib bangsanya. Amin.

9 comments
Comments feed for this article
March 11, 2007 at 10:01 am
goes indra
sangat bagus sekali sekolah yang anda dirikan, yang mana tidak berbasis pada biaya, namun berbasis pada kwalitas pendidikan anak-anak. dengan mengenalkan mereka tentang dunia komputer, maka imajinasi yang terbangun dalam diri anak tersebut akan berkembang.
saya sangat salut sekali dengan bang udin. semoga bang udin tetap berjuang didalam mempertahankan sekolah ini…
April 2, 2007 at 3:47 pm
Termana
Bli, kapan updatenya? Pemirsa menunggu!
April 2, 2007 at 4:01 pm
Termana
Bli, tulisanmu tajam! Setajam keris untuk ngurek! Seperti kata Gus Indra, “Saya sangat SALUT sekali dengan Bang Udin” dan juga Bang Raka. Yang jelas ingat sabar, ikhlas, tawakal!
April 4, 2007 at 9:12 am
jirov
bang udin ini apanya zainuddin mz? he.he.
tulisan2 mading pelangi di upload dong. biar rame.
-anton-
April 8, 2007 at 7:48 am
raka
hi pak pengecer warta thanks untuk menjadi bagian dari blog ini
ok! Tulisan2 di mading akan kita muat segera tunggu yaa. salam buat Bani (eh bener ya anakmu namanya Bani) + c u soon!
April 20, 2007 at 9:53 am
Bodrex
Benar Bli tiang juga ikut Nyalud “yeh” dengan Bang Udin. Kapan lagi niki menayangkan tulisan Tu Raka Santeri, tiang nyantos baan penyambleh nasi gudeg.
April 20, 2007 at 9:56 am
Bodrex
Bagaimana dengan TKB (Tenaga Kerja Bali) kita di Philadelphia, kok tidak dingeh bersuara? Apakah nyokcok terus disana dan lupa dengan kawitan. Apakah perlu tiang kirimkan nasi kucing dan tempe bacem biar bisa bersuara?
May 14, 2007 at 5:21 am
ike
ikut gabung ya…
tapi kapan nie di Update…
August 8, 2007 at 12:34 am
Gung putra
Saya sudah dapat firasat yang nulis ini pasti seorang arsitek berijasah yang masih kalang kabut bergelut dengan peluh dan debu memburu susu dan popok. Saluuut bisa menulis walaupun stress, capek, marah dan gundah menjadi keseharian dalam hidup mu, ya nasib, ya nasib.
Tulisan yang mantap, yang tumbuh dari pengalaman langsung dengan Bang Udin. Tolong kasih tahu saya bagaimana Team Bang Udin membesarkan sekolahnya karena saya tidak lihat dalam tulisan ini? Ini penting untuk input bagi siapa yang tertarik mencobanya.
Kangwang monto malu nah yang kel sirep.
Gung Tra
Penggemar anggrek temannya pak Herman.