“saya tahu benar awal saya bergabung bahwa itu bisnis pyramid, itu sangat menyakitkan tapi saya tidak punya pilihan, saya jadikan itu hallal. Ada satu hal yang saya pelajari dari bisnis itu”
-Deo[1] -
Ini salah satu pernyataan yang sangat menarik tentang bisnis multilevel yang disampaikan oleh Deo saat kami ngobrol bareng di Taman 65. Kesadaran akan pentingnya membangun kesadaran kembali untuk meneruskan perjuangan sebenarnya ditengah-tengah buaian jaringan kapitalis yang sesat. Namun bagi seorang Deo, justru hal ini memberikan inspirasi dan memakai metode mereka sebagai sebuah senjata untuk melawan dan menghancurkan kekuatan mereka.
Awal Revolusi di Timor Leste
Untuk kasus Timor Leste, saya ketika awal Revolusi Bunga di Portugal, saya ketika itu berumur delapan tahun. Saya masih ingat benar sebelum revolusi bunga ada beberapa orang mahasiswa yang kuliah di Portugal waktu itu. Sekitar tujuh mahasiswa jauh sebelum mereka kembali ke Timor Leste mereka di Portugal, mereka terlibat dalam satu komunitas kecil, komunitas diskusi di Portugal namanya Casare Timor (Rumah Timor) di Portugal mereka buat satu komunitas seperti ini. Mereka mulai diskusi dan kelompok diskusi itu kemudian membuka, membangun hubungan yang kemudian memberi mereka kesempatan mengenal komunitas lain seperti itu, untuk Mozambique, Genitisao, Brazil sehingga kemudian waktu itu ada hubungan dengan tokoh seperti Amir Kal Caberal kalau teman-teman ada yang pernah baca buku pergerakan Afrika salah satu tokoh yang juga menentukan revolusi di Afrika itu adalah Amir Kal Caberal, dia salah satu tokoh yang disegani Che. Ketika Che berkunjung di dalam perjalanan dia ke Afrika salah satu orang yang penting dia kunjungi adalah Amir Kal Caberal.
Nah! Orang-orang yang beberapa mahasiswa yang ada di Portugal tersebut kemudian pulang dengan membawa suatu bekal, bahwa perjuangan Timor Leste untuk melepaskan diri dari Portugal itu harus dimulai dengan merubah cara berpikir Orang Timor Leste melihat dirinya sendiri. Portugal ketika datang ke Timor Leste dia hanya bangga dan mengandalkan marinir, pelaut-pelaut yang memang hebat, tetapi di bidang yang lain Portugal sangat lambat. Yang dia kembangkan waktu itu di Timor Leste adalah exploitasi sumber daya diatas permukaan, perkebunan. Dialah memperkenalkan perkebunan kopi, karet dan kelapa itu kemudian melahirkan struktur masyarakat yang kami sebut di Timor itu Asliyan atau pekerja, apa namanya, saya tidak tahu term yang paling tepat dalam Bahasa Indonesia tetapi seperti “pesuruh” gitu mungkin term yang paling tepat atau pekerja kasar untuk para tuan tanah.
Nah! Siapa orang-orang yang memimpin perkebunan-perkebunan itu, itu mereka bawa dari, orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah di Portugal atau di koloni lain mereka bawa ke Timor Leste. Kemudia mereka mematok konsolidasi lahan dan menjadikan orang-orang itu sebagai tuan tanah dan mempekerjaan orang-orang Timor. Atau memang sih orang-orang Timor menyerahkan lahan mereka untuk penanaman Kopi. Dan itu kemudian melahirkan struktur bawahan dan pemilik, patron dan bawahan. Budaya itu sangat kuat, budaya itu sangat kuat misalnya di zaman Portugis itu hanya satu orang yang bisa, hanya satu orang yang sampai level kepala dinas yaitu Savier, Fransicus Savier Guameron presiden Fretelin yang pertama yang kemudian menjadi Presiden Timor Leste yang pertama, dia pada zaman Portugis dialah yang sampai pada posisi Kepala Bea Cukai, selain dari itu di bawah. Jadi mentalitas orang Timor leste sebagai bangsa yang terjajah sangat kuat. Struktur itu diperkuat lagi dengan para Pastor yang kemudian melahirkan, sebelumnya saya harus bersyukur bahwa sebagian lain sumbangan gereja katolik untuk Timor Leste adalah membuka ruang untuk pendidikan. Tetapi juga menurut menurut pandangan saya juga memperkuat kekuasaan Portugal di Timor Leste. Pada tahap berikutnya nanti akan kita lihat pertarungan itu muncul di tingkat perdebatanan antara intelektual, kelompok intelektual yang loyal kepada ajaran agama katolik kemudian yang berpikir secara kritis.
Munculnya Partai-Partai di Timor Leste
Kembali ke tujuh mahasiswa tadi, ketujuh mahasiswa tadi ketika mereka datang ke Timor Leste sudah ada partai, ada lima partai di Timor Leste; ada partai UDT, yang ingin merdeka setelah sepuluh tahun otonomi dengan Portugal, Apudete sama juga, otonomi dengan Indonesia sepeluh tahun baru menuju referendum untuk menentukan pilihan. Jadi Apudete bukan integrasi ke Indonesia. Berita yang dibangun ketika zaman pendudukan Indonesia adalah Apudete partai pro-integrasi itu salah. Di dalam manifesto partai Apudete adalah menyatakan bahwa otonomi dengan Indonesia sepuluh tahun kemudian dia lakukan referendum tetap dengan Indonesia atau merdeka, jadi sepeti itu. Kemudian Fretelin yang waktu itu. ASDT bukan sebagai suatu front. Awalnya Fretelin dibentuk oleh para pendiri J. Ramos Horta, Savier itu salah tokoh-tokoh pendiri ASDT (assosiasi democratik Timor Leste) jadi asosiasi demokratik untuk pembebasan Timor Leste, yang kemudian berubah menjadi front pembebasan Fretelin. Nah!, kemudian ada dua partai kecil, ada partai untuk keluarga para raja, partai yang sangat sedikit feodal kotak, kemudian partai buruh yang mungkin diilhami oleh tokoh buruh dari Australia waktu itu berkunjung ke Timor Leste, tapi dia sama sekali tidak mempunyai model partai buruh seperti negara-negara apa namanya Eropa Timur sangat berbeda, menjadi penghimpunnya sangat kecil. Nah, ketujuh mahasiswa tersebut kemudian menjadi mesin partai ASDT yang kemudian mereka merubah bahwa hanya dengan partai tidak mungkin mendapat dukungan yang besar, dengan demikian diperlukan flatform yang lebih luas. Flatform itu kemudan dibuat Front Pembebasan Nasional namanya Fretelin. Jadi Fretelin itu bukan partai sekarang dirubah menjadi partai. Pada awalnya fretelin sebagai front pembebasan nasional.
Kendala Sosial
Nah, kemudian mereka melihat bahwa struktur feodal yang begitu kuat, struktur Ausliyan yang tadi pekerja itu sangat kuat, itu sangat menjadi kendala sehingga mereka kemudian menyamakan strategi bahwa konsep penyadaran kemerdekaan itu harus dimulai dari desa. Apa yang terjadi kemudian mereka, beberapa tokoh yang terkenal sampai saat ini pemikiran dia sangat mempengaruhi, saya pikir juga beberapa teman-teman di Indonesia pernah menulis tentang Mise Teresahe, Fay dan temen-teman pernah melaporkan pada(….) khusus. Dia dan kawan-kawan dia kemudian membentuk beberapa apa namanya e…e..e brigadir, jadi mereka membentuk brigadir-brigadir yang kembali ke desa. Brigadir-brigadir itu detraining untuk melakukan penyadaran. Ada brigadir tentang kesehatan ada brigadir tentang pendidikan popular untuk alpavitisas…pemberantasn buta hurup, pada tahun itu yang bisa membaca dan tulis sekitar belasan persen jadi targetnya adalah meningkatkan pemberantasan buta huruf jadi mereka ada kader itu. Kemudian kader lain adalah pengimbangan ekonomi kerakyatan, koperasi-koperasi petani, nelayan. Nah, kemudian mereka sebagian besar menjadi mesin yaitu transformasi masyarakat dari basis. Sayangnya proses itu sangat pendek pertarungan dunia waktu itu sangat kuat, Amerika dengan bloknya kemudian Rusia dengan bloknya. Itu kemudian isu internasional itu kemudian dipakai aktor-aktor lokal. Habama mengatakan bahwa, yang terjadi di Timor Leste itu sebetulnya ada kepentingan eksternal mengiring proses politik Timor Leste. Kemudian berkembang isu di Timor Leste bahwa kelompok mahasiswa ini adalah orang-orang yang mau menanamkan komunisme di Timor Leste, Berkembang sangat pesat di kalangan gereja. Kemudian beberapa tokoh yang dibidik secara konservatif di Seminari-Seminari waktu itu yang mungkin juga pemahaman mereka sangat superficial yang kemudian mengatakan bahwa itu komunisme tidak berTuhan seperti itu jadi harus ditangkap. Isu itu kemudian berkembang lintas negara, sehingga beberapa kali Ramos Horta dipanggil oleh Adam Malik berdiskusi di Jakarta beberapa kali. Adam Malik mengatakan waktu itu mengatakan bahwa Indonesia tidak punya niat yang mereka takutkan adalah secara ekplisit dia, waktu itu dia bilang yang kami khawatirkan adalah perkembangan Komunisme. Ramos Horta menegaskan seperti di dalam buku, kalau pernah baca buku testimoninya Ramos Horta dia mengatakan bahwa segala upaya terjadi di Timor Leste pada saat…, Ramos Horta mengatakan pada pertemuan itu bahwa secara kultural komunisme tidak bisa perkembang di Timor Leste. Pertama karena masyarakat tradisional Timor Leste sangat…. apa namanya, kultur feodal itu sudah ada kemudian diperkuat lagi dengan agama Katolik. Sehingga, tapi alasan itu juga tidak,tidak,…saya pikir tidak dipercayai atau barangkali diabaikan oleh Jakarta. Nah, sesaat saya masih ingat kalo tidak salah tanggal 5 Desember 1975, Kisingger dan Jerald Ford kalau tidak salah waktu berkunjung ke Indonesia mereka buat pertemuan di Borobudur, Jawa Tengah dan sehari setelah mereka kembali, tanggal 7 pasukan mendarat, menyerang Timor Leste jadi pencaplokan dilakukan setelah pertemuan itu. Jadi e….saya berpikir waktu itu Soeharto dengan para Jenderal di Jakarta tidak mengambil keputusan secara…apa, berdasarkan kepentingan Indonesia sebetulnya. Itu dibawa….terjebak didalam konflik global itu. Dan apa yang terjadi setelah pencaplokan itu, waktu parasut apa namanya diturunkan di Dilli, saya waktu itu sudah, pasukan payung saya sudah di gunung, kita kebetulan berada di gunung sehingga kita tidak dapat lagi kembali ke kota dan saya bersyukur juga, waktu itu sempat beberapa tahun berada di hutan bersama bergerilya di hutan jadi 1975-1979 akhir saya dan beberapa orang ditangkap di kebon. Kami ditangkap di suatu lembah.
Kekerasan di Timor Leste
Nah, bentuk kekerasan seperti apa yang terjadi di Timor Leste. Ketika hari pertama mereka mendarat di Dili, itu ada komunitas China di Timor Leste di Dili mereka tidak lari ke hutan waktu itu, mereka di kota masih di kota Dili. Nah, komunitas Cina yang berada di Dili, Agung masih ingat di depan pelabuhan itu ada patung integrasi, siapa yang pernah ke Timor pernah lihat patung integrasi besar di Hotel Timor, di depan Hotel Timor. Itu lokasi pembantaian komunitas China yang mereka tangkap di sekitar pertokoan di situ. Itu saya pikir sebelum mereka di berangkatkan mereka sudah dicuci otakkan bahwa sebagian dari pengikut PKI Indonesia berada di Timor Leste. Dan apa yang, kenapa saya mengatakan seperti itu, ketika beberapa orang anak kecil yang kemudian selamat, kemudian ketika kami berada di Jogyakarta mereka bercerita bahwa mereka mendengar ketika tentara menangkap orang tua mereka itu yang disebutkan adalah komunis. Bunuh! Mereka komunis. Jadi teman-teman itu memberikan, karena yang mereka tahu kemudian waktu kuliah kenal term komunis itu baru mereka ingat bahwa kata-kata ini yang dulu digunakan menghabisi orang tua mereka di pinggir pantai dan salah satu diantara mereka adalah istri Nikola Lobato wakil presiden, atau Perdana Menteri Timor Leste dia dibunuh di pelabuhan itu. Nah, yang lain pembunuhan yang barangkali juga cukup besar untuk komunitas China di Maubara. Di Maubara itu ada satu lagua, ada suatu lagoon danau kecil, itu dulu sampai ada mitologi bahwa warna air yang berubah menjadi merah itu karena kebanyakan darah. Ya, betul lokasi itu dipakai untuk pembantaian komunitas China Maubara dan Likisa. Juga dituduh karena mereka komunis. Itu untuk yang komunitas China.
Kemudian untuk masing-masing distrik, masing-masing kabupaten itu selalu mempunyai kenangan, sampai hari ini masing-masing kabupaten selalu mempunyai lokasi yang mengingatkan kembali pada kekerasan di era pendudukan. Misalnya di Jaenaro ada Jakarta Port, Jakarta Besar. Itu ada suatu clip di sungai, semua orang yang dituduh valentil atau ikut pergerakkan menyumbang tenaga untuk klandestin, itu dibawa diikat mata atau tangan, barangkali kakinya juga diikat kemudian didorong sampai jatuh menghantam batu-batuan di bawah. Itu sangat terkenal, sangat ditakuti oleh orang-orang Aenaro kalau disebut, “Kamu akan dibawa ke Jakarta Board”. Di Kente misalnya kita kenal satu desa namanya Kararas, itu desa para janda. Jadi tahun 1981 itu setelah militar Indonesia melatih para militer namanya Hansip, beberapa hansip kemudian menggunakan persenjataan mereka dan amunisi mereka disumbangkan kepada Valentil. Nah, kemudian jaringan itu, kerja jaringan itu bocor dan satu desa itu kemudian menjadi janda. Itu pembantaian terbuka di depan istri-istri mereka dan anak-anak mereka.
Kisah lain di Los Palos itu ,sekarang Noburas, organisasi saya bekerja dengan komunitas di Tutual dan kami ada satu desa yang digambarkan mereka buat, masyarakat dari swadaya kemudian melukiskan kembali bagaimana kawan-kawan mereka ketika itu dibantai. Jadi ada upacara 17 Agustus atau upacara bendera merah putih, saya tidak tahu ada event yang benar itu apa tapi ada upacara. Setelah upacara, pasukan tembak ada barisan masyarakat di sebeah sana, ada yang disebelah kiri, kanan, di belakang kemudian ada pasukan tembak depan. Orang-orang yang dianggap mendukung pergerakkan kemerdekaan disuruh berbaris di depan dan pasukan tembak langsung menembak di depan masyarakat. Itu membuat saya berpikir, tujuannya untuk menakuti, menakutkan masyarakat untuk melakukan perlawanan. Hampir setiap distrik mempunyai kenangan seperti itu. Itu yang massal, belum yang ditangkap dibawa dari tahanan kemudian dihabisi. Itu barangkali ceritanya tidak banyak karena tidak banyak saksi tapi kalau kita, saya kadang-kadang tidak percaya statistik yang dibuat oleh para peneliti di beberapa buku tentang Timor Leste, tapi bahwa pembunuhan yang terjadi di Timor Leste cukup banyak itu faktanya adalah hampir setiap kabupaten memiliki kenangan itu. Itu yang pertama, yang kedua efek dari peran itu sendiri, Prajurit Indonesia yang saya tidak tahu mereka belajar metode dari mana, setiap kali mereka misalnya masuk desa ini penghuninya sudah lari semua, tidak hanya rumah yang dibakar, kalau jagung yang lagi tumbuh mereka akan tebas semua. Kalau jagung di Timor Leste itu pakai konservasi jagung di atas pohon, itu semua akan dibakar. Jadi betul-betul seluruh sumber daya itu dihancurkan. Dan itu efeknya sangat besar, saya masih ingat ketika tahun 1978 ibu saya sudah lebih dulu ditangkap dan bapak saya sudah dibunuh sejak tahun 1975. Ibu saya ditangkap ketika harus berjalan puluhan kilo untuk mencari makanan dan ketika mereka ditangkap saya harus berjuang menjadi orang tua bagi kedua adik-adik saya. Saya masih ingat saat itu sangat sulit mencari bahan makanan. Pisang liar kami sebut, itu kami harus potong bagian dalamnya yang putih, disini barangkali untuk bikin janur itu. Itukan ada seperti benang, kami harus pakai lidi untuk membersihkan benang itu kemudian direbus dan dimakan. Dan itu bukan hanya satu kali makan, tiap pagi sarapan mungkin siangnya tidak dapat mungkin malamnya seperti itu terus. Itu efek dari kondisi kekurangan makanan tersebut membuat banyak orang meninggal karena mal nutrisi. Diare karena kita tidak tinggal di gubug, kita harus buat gubug temporary, hari ini berada disini besok militer di dekat kita, kita harus mundur lagi kebelakang dan kita masuk seperti ini dibelakang harus berjalan mundur. Maksudnya, berjalan kesana, semua orang tim yang di belakang akan seperti ini. Jadi itu untuk mengacaukan jejak kita dan itu kadang kadang kami harus berjalan seperti itu sampai dibelakang kombat. Kami berjalan berusaha sedemikian rupa sehingga kami berada di belakang mereka lagi. Proses itu yang kita lakukan. Faletil tidak punya arti sebetulnya karena waktu Portugal keluar saat itu hanya ada tiga ribu senjata tiga ribu serdadu dan sebagian dari mereka mati di wilayah perbatasan. Apa yang terjadi, perlawanan itu satu move, satu sektion hanya ada tiga orang. Untuk tiga orang ini barangkali hanya ada satu G….(maaf saya tidak tahu nama senjata) ada satu jenis senjata otomatis atau maosef. Maosef itu senjata paling kuno dan kuat tapi tembakannya satu-satu. Jadi kadang-kadang tiga orang itu hanya punya satu senjata. Pelurunya yang tujuh atau enam butir. Jadi amunisi sudah habis waktu itu tahun 1978-79 tersebut sudah habis. Jadi sebetulnya tidak punya arti lagi. Mulai dari situ support base, lokasi-lokasi yang dijadikan pusat mobilisasi masyarakat itu sudah mulai hancur karena restes sudah mulai rusak, hancur karena kekurangan makanan, logistik segala macam. Kemudian ada yang menyerah, give up!. Boleh dikatakan tahun 80-an keadaan itu hampir lumpuh dan kemudian di tahun 1981 dilakukan suatu operasi yang namannya sapu jagat dimana tentara memobilisir semua orang kecuali anak-anak dan perempuan, pemuda 14 tahun ke atas saat itu semua harus ikut operasi yang disebut sapu jagat tersebut. Bergandengan tangan untuk menyapu, setelah proses itu Jakarta berpikir bahwa sudah selesai perjuangan di Timor Leste. Waktu itu Xanana dan Falentil masih tersisa sekitar 60-an orang. Sedemikian rupa turun hanya sekitar enam puluh hingga seratusan orang. Kemudian dari core group itu melakukan reorganisasi jaringan klandestin untuk support. Struktur komando diorganisir ulang dan kemudian memilih Xanana menjadi Panglima Perang. Enam puluh hingga seratusan orang tersebut berjalan kaki untuk mengorganisir kembali perjuangan dan hal itu sangat berat sampai tahun 1983 mereka melahirkan konsep perjuangan. Front Fretilin itu menjadi flatform yang lebih nasional menjadi CNRL kemudian di tahun 90-an dirubah menjadi CNRT untuk memberi nuansa nasionalismenya lebih kuat. Nah, perjuangan itu kemudian tidak berhenti di armada front bersenjata, di dalam kota, saya masih ingat waktu itu saya terlibat dalam gerakan Klandestin tahu 1985 saat itu saya masih SMP. Kadang-kadang kami harus buat pertemuan di pantai di Dili namainya pasir putih sebuah tempat rekreasi. Kami duduk sambil makan, ada tiga orang duduk merencanakan sesuatu dan yang lain ribut-ribut agar orang-orang tidak tahu. Yang kita lakukan waktu itu menggunakan symbol-simbol gereja katolik juga salah satunya adalah jaringan Saint-Antoni, salah satu santo yang dipercayai oleh orang katolik untuk memberikan keselamatan. Kerja jaringan seperti itu sehingga kemudian berkembang yang kemudian menggunakan juga symbol-simbol tradisional Nulig. Mengajak orang di dalam jaringan membagi misalnya jimat bahwa bila jimat tersebut dipakai anda akan tahan peluru. Sebetulnya kalau dikasi itu akan tetap tembus peluru juga. Dari proses itu kemudian kita galang kekuatan sampai kemudian merasa bahwa hal itu tetap tidak efektif karena sering kali ditangkap, kukunya diambil, dicabut terus mengalami penyiksaan-penyiksaan seperti itu. Kemudian sebagaian mendapat kesempatan ke Indonesia. Itu sebetulnya awal kita mengembangkan konsep memindahkan perhatian perang dari Timor Leste ke Indonesia. Sehingga kalau kita lihat ke belakang tahun 1986 saat itu pertama kali orang Timor Leste meminta swaka politik disini, Fernando Lasamo dan teman-teman minta swaka pilitik di Konsul Australia dan kemudian tahun 1988 di Jakarta. Tahun 1990 trennya saat itu kampus kita sudah kuasai dan di beberapa kampus besar kita sudah ada core group seperti di UGM, UI, Komunitas HMI kita masuk disitu. Jadi waktu itu strategi kita bahwa, kalau perjuangan itu kita lakukan sendiri kita tidak akan mungkin sampai. Kita harus menggalang kawan-kawan kita di Indonesia. Buku itu tujuannya berbeda tetapi target musuh kita sama dan saat itulah kita kemudian kenal Fay (Ilmar Farid), Nuke dan teman-teman lain di Jaringan Kerja Budaya (JKB). Kalau teman-teman masih ingat awalnya reformasi, pendudukan fakultas sastra UGM, saat itu sebetulnya semua dilakukan bahu membahu antara activist pro-kemerdekaan dan aktivis (boleh dikatakan awalnya bibitnya asalah teman-teman PRD sebetulnya. Setelah beberapa hari menguasai fakultas Sastra-Filsafat UGM saat itu massa semakin berkumpul dan semakin banyak hingga sampai pada demo pertama kali yang dilakukan secara terbuka di UGM dan pembakaran patung Soeharto di kampus. Mungkin beberapa teman yang hadir disini saat ini ada disana. Jumlah teman-teman Timtim memang besar waktu itu. Kita bikin patung besar Soeharto, ketika orang sudah siap, mereka bawa masuk patung Soeharto dari belakang, dosen-dosen dan rektor UGM sudah hampir bicara di depan menggunakan mike dan bicara melawan Soeharto dan kebetulan mahasiswa bakar patung Soeharto. Jadi membawa mereka ke dalam konflik itu. Jadi waktu itu kami berpikir waktu itu adalah strategi yang cukup bagus, mereka tidak bisa mundur lagi dan rektor sudah memegang mike dan mereka bicara kritik jadi kita berada di dalam satu line tanpa mereka sadar. Dan kawan-kawan diluar negeri, expathriat di Australia kemudian teman-teman yang lain terus memperkuat barisan diplomasi. Lompat pagar, ada yang kemudian menetap di Inggris ada yang di Irlandia ada yang kemudian dikerim terima beasiswa dari pemerintah ke Kanada kemudian bikin swaka di Kanada. Pokoknya setiap kali ada fasilitas swaka disana, bikin jaringan baru disana. Kemudian dibuat proses melobby para musisi seperti U2 juga pernah pentas menggunakan bendera Timor Leste. Prosesnya seperti itu, kadang-kadang apa artinya musisi itu untuk membawa issu Timor Leste. Tapi teman-teman, waktu kami di Swiss bahwa, kita harus menggunakan semua resources, semua peluang, semua media dan setiap kelompok mahasiswa di Indonesia memiliki media. Media underground untuk menangkis pemberitaan negative dari media-media mainstream tentang East Timor yang mungkin diperoleh oleh koramil atau diperoleh dari Pangdam. Jadi kita coba melawan menangkis dengan model seperti itu.
Sisi Lain Perjuangan
Berhubungan dengan demonstrasi tahun 1991 pembantaian Santa Cruz, Prabowo dengan orang-orangnya membantai pemuda yang membuat demonstasi di Santa Cruz. Nah, seminggu kemudian kami membuat satu demonstrasi yang barangkali setelah kasus Malari, demonstrasi anti Soeharto di Jakarta adalah kelompok Timtim. Tahun 1991 kami buat satu demonstrasi dari depan kedutaan PBB (di depan Sarinah) kemudian kami dikepung di hotel Indonesia. Saya waktu itu, terus terang pertama kali datang ke Jakarta jadi samasekali tidak tahu arah utara-timur dimana. Ketika kami dibawa ke hotel di kebon jeruk tidak punya uang. Waktu itu hanya beberapa ribu di kantong, kadang-kadang nasi bungkus satu harus dibagi untuk tiga orang dan itu beberapa hari. Melakukan persiapan untuk teman-teman lain dari propinsi lain untuk datang ke Jakarta. Kemudian kami pada suatu saat mengumpulkan sekitar 80-an orang, kami kemudian melakukan demonstrasi di depan kedutaan PBB dan kedutaan Australia, kemudian kami setelah dari kedutaan Australia ke kedutaan Amerika. Nah, waktu itu kami dikepung di hotel Indonesia. Saya berpikir hotel Indonesia adalah salah satu kantor kedutaan, jadi saya disuruh sebagai orang yang ada di front line itu untuk melindungi teman-teman yang memegang dokumen deklarasi ‘statement’. Tiba-tiba kami semakin dikepung dan tiba-tiba barisan pertama, saya dan teman-teman di depan sudah dihantam ke lantai. Saya ditekan saya tidak tahu tenaga dapat dari mana tiba-tiba saya berdiri dan say merasa seperti ada 3 orang dibelakang saya. Tenaga ketakutan itu membuat bisa melompat terlepas dari ketiga orang lalu masuk ke hotel Indonesia. Padahal hotel Indonesia waktu, saya masih ingat sekitar setinggi ini saya masih bisa lompat pagar itu. Di dalam sudah ada teman-teman yang lebih dulu masuk, mereka lari lagi keluar berteiak, “Oh, itu bukan embassy!”. Terpaksa kami duduk dengan ketakutan dan kemudian kami dibawa ke Metro Jaya. Tidak ada sebetulnya terlalu seram disitu, Cuma ketika kami masuk itu, pasal subversif yang diberikan kepada kami. ” Anda telah melakukan suatu aksi subversive, subversive kalian tahu PKI itu dibunuh! Mati atau seumur hidup itu pilihan kalian. Jadi selalu interogasi itu dimulai dengan undang-undang subversif itu pasal 304. Diinterogasi berganti-ganti, sistim mereka itu sangat efektif. Jam tujuh sampai jam duabelas, satu orang pergi, orang lain datang menginterogasi kita di beri beer seperti ini, kopi sampai jam dua-tiga pagi membuat kita jadi betul-betul loyo. Ancam lagi, “detik-detik anda tinggal sedikit, anda dengar itu namannya suara azan sebentar lagi kalau anda tidak melakukan pengakuan anda akan kami bawa ke bawah”. Di Polda metro Jaya itu dibawahnya ada tempat tahanan isolasi, “prosedurnya seperti itu”, lanjutnya. Kami mencoba membohongi dengan berbagai cara. Paling sulit bicara bohong, sulit karena kita harus berpikir sekuensi dari cerita itu. Tadi saya cerita seperti ini dan lalu saya harus terus mengingat sekuensi dari cerita itu terus-menerus, kalau dia berganti saya harus konsisten terus-menerus dan itu sangat melelahkan, sangat sangat melelahkan. Setelah itu, mereka melihat jumlah kami sangat besar delapan puluh dua orang. Kalau itu semua ditahan, semua ambassy di Jakarta pasti akan marah. Apa yang mereka lakukan kemudian mereka mengeluarkan kami empat puluhan orang kemudian yang lain mereka pertahankan. Sebulan berikutnya mereka mengeluarkan beberapa orang lagi dan kemudian hanya tinggal tujuh orang. Ada yang dihukum tiga tahun seperti Versido, kemudian Lasama sepuluh tahun kemudian bersama-sama Xanana di Cipinang.
Nah, cerita ini kemudian saya bawa ke cerita lucu tadi bergabung dengan MW. Ketika balik ke Jogjakarta orang dari Pemda TimTim datang ke Jogja bawa dokumen untuk Deklarasi Patuh Kepada Pancasila dan RI. Kami bikin pertemuan seperti ini, mahasiswa tiga ratusan orang datang mereka bicara, “Kalian tidak tahu malu terima beasiswa, terima semua fasilitas dari pemerintah, melawan pemerintah.” Dan setelah itu mereka bilang, “Yaa semua, kita menyadari teman-teman mahasiswa darah muda” seperti itu selalu menyanjung kita. “Kami tahu kalian emosional, daripada kalian kehilangan segala-galanya datang tanda tangan ini dokumen ini”. Saya suruh, saya dibelakang saya bilang, “tolong baca dokumen itu”. Dan dokumen itu isinya jelas untuk tunduk kepada Indonesia dan seterusnya. Saya bilang waktu itu, “saya pergi ke Jakarta demonstrasi bukan karena kemauan orang tapi saya sadar, saya pergi ke Jakarta melakukan demonstrasi karena sebuah pergolakan batin saya bahwa, “Saya tidak terima teman-teman saya dibantai seperti binatang di Santa Cruz Dili”. “Kalau anda bisa mengembalikan dari mereka yang anda bunuh saya bisa menandatangani surat itu malam ini juga. Jadi apalah artinya seratus ribu, waktu itu beasiswanya seratus ribu. Memang sangat berarti sebetulnya tapi saya bilang, “apalah artinya seratus ribu dibandingkan dengan nyawa teman-teman saya”. Dan saya menyadari setelah say buat deklarasi itu, teman-teman saya sangat memberi aplaus kemudian say sampai di kos mereka masih ikuti saya. Menyuruh orang-orang mereka datang bawa saya ke Malioboro. Lesehan makan disitu yang sudah sekian tahun saya disana tidak pernah makan disitu karena sangat mahal, apalagi burung dara dan setelah makan mereka bilang, “eh, tadi kamu bikin malu sekarang dokumennya disini tanda tangan”. Saya bilang, “saya tidak akan menanda tangani itu karena saya telah diberi penghargaan oleh teman-teman saya dan itu beresiko untuk saya”. Dan betul setelah itu saya baru semester kedua di UGM setelah bea-siswa saya dihentikan kalang kabut juga agar uang semesteran seratus dua puluh ribu biaya hidup minimum untuk makan sekitar empat pulu ribu, transport, buku semua itu membutuhkan minimum sekitar seratus ribu. Sangat berat kehidupan seperti itu tapi terus saya jalani kemudian kadang-kadang harus berhenti jual apalah yang bisa dikerjakan. Nah, suatu saat teman saya datang bawa sabun, bawa tas ada parfum dan bilang ke saya, “Hey Deo, deo, sini saya ada barang bagus sekali”. Dia presentasi, begitu dia presentasi saya melihat, “Ini orang yang nomer satu ini akan terus menjadi nomer satu dan bawahannya akan terus menjadi bawahan”. Lalu, “Saya sadar bahwa ini adalah pyramid”, dalam hati kecil saya ini modal, modal saya juga yaa. Tapi untuk bergabung saya harus mencari empat puluh ribu, yaa,..untuk makan saja tidak punya apalagi empat puluh ribu.(bersambung)
*)Mohon maaf bila adanya kesalahan dalam penulisan nama, tempat dan peristiwa.
[1] Ketua Haburas sebuah LSM yang bergerak dalam bidang konservasi lingkungan di Timor Leste.

45 comments
Comments feed for this article
October 24, 2007 at 7:58 am
Almerio Saldanha Borges
obrigado barak ba informasaun ida ne’e. hau haksolok tamba sei iha ema nebe hakarak koalia lia los tuir experiencia nebe mak iha. informasaun ida nee importante atu gerasaun foun bele estuda hosi pasado para melhor construir o futuro.
obrigado
July 22, 2010 at 8:20 am
EDIZO
Semua itu memang kenangan pahit yang tak dapat kita lupakan sapai hari ini. ita tenkiser agradece ba mahasiswa sira ne,e be,e maka fo an ba mate tamba ita nia rai doben Timor Leste ida ne,e jadi himbawan saya kawan tekunlah belajar agar membawah negara ini ke masa depan yang lebih ceriah. VIVA TIMOR LESTE, VIVA JOVEN TUDE LORICO ASU WAIN.
Salam.
November 1, 2007 at 4:52 pm
putra
“Kekerasan” merupakan sebuah judul lagu yang tetap populer karena terus hadir dari dulu hingga kini. Akankah lagu ini akan tetap populer? Disini sampai detik ini masih berlangsung, we have to change untill the beutifull dream come true!
November 4, 2007 at 8:25 pm
dailyfact
A really nice blog, but my knowledge of your language is very poor and i’d like to read it in English, could you point me to some good online translator so i could read it in english?
November 9, 2007 at 12:03 pm
+/-
ya. seperti kata putra, akankah lagu ini ttp populer? kalau boleh saya sekedar urun pendapat; akan tetap populer selamanya bung! we have to change, but we won’t change. we want beautiful dream come true just for ourself. we won’t share it. we never share it.
November 12, 2007 at 1:57 pm
frediano osorio
terima kasih karena masih ada orang yang mau menulis tentang sejarah timor2. sejarah yang ditulis ini adalah sejarah yan bohong besar..
December 27, 2007 at 4:59 am
Tymus777
isi ceritanya tidak menarik dan tidak menggugah hati. pergolakan di timor leste adalah akibat gesekan kepentingan idiologi liberal dan sosialis kita anak timor adalah ladang percontohan dari idealisme tersebut, sudah saatnya kita menanamkan rasa nasionalisme bukan sura-kolen. yang terpenting sekarang adalah mau dibawa kemana negara baru ini, apa yang harus diperbaiki dan ditumbuh kembangkan buat membangun negara ini. tidak ada maksud meremehkan sejarah, sejarah harus ditulis dengan kebenaran dan dijadikan spirit dalam menbangun negeri ini. jangan menjadikan sejarah untuk terus ditoleh kebelakang sehingga kita sulit maju. yg membuat dosa di saat masa perjuangan harus ditindas sesuai dengan kesepakatan pelanggaran hak asasi manusia, bukannya dipelihara dengan budaya rekonsialiasi dan mengabaikan masa lalu dan tindaklanjut hukum.
menurut saya, cerita diatas bukan menjadi inpiratif dan pengetahuan melainkan anekdok yang mengedepankan tokoh-tokoh tertentu
January 23, 2008 at 1:11 pm
i wayan larianto
seandainya saja saya tidak mencari bahan mengenai Santa Cruz, saya tentu tak akan bergabung dengan blog ini.
namun ketika membaca tulisan anda, saya lantas merasakan simpati yang tak biasa. bukan semata karena prihatin perihal penderitaan serta kekejaman yang dialami oleh penduduk timor, melainkan karena lebih lantaran sebuah imaji yang kemudian muncul dalam benak saya. ya, setelah mengetahui bahwa ternyata bentuk kekerasan semacam itu juga terjadi di timor, saya semakin yakin bahwa sesungguhnya tak ada bentuk kedamaian selama manusia masih hidup dan berkembang. hal ini kemudian membuat saya bertanya lebih jauh: apa sebenarnya yang kita ‘inginkan’ dari penyimpangan kemanusiaan seperti itu? sebuah upaya untuk menegakkan ideologi? atau semata untuk menunjukkan dominasi sebuah ‘kelompok’?
apapun itu, saya tak setuju apabila ada seseorang yang menyatakan bahwa tindak kekerasan seperti ini tidak patut untuk di-expose berlebihan. apalagi dengan alasan bahwa sudah terlampau banyak kasus-kasus semacam ini–baik di indonesia maupun luar negeri. sebab adalah tidak bijaksana (sekaligus menyedihakan) bila kita tak menyadari suatu hal: yakni bahwa sebuah kemanusiaan ternyata diremehkan oleh manusia sendiri.
maka, yang kemudian mesti disadari, sejauh mana kemanusiaan menunjukkan kita sebagai mahluk yang paling beradab? kemanusiaan macam apa yang mungkin dipertahankan di tengah polemik politik serta sebagainya yang kian menguatkan hegemoni tertentu?
July 21, 2008 at 6:20 am
G I
yang … jelas saya bisa membayangkan bagaimana kekerasan yang terjadi di timor leste…
namun yang paling penting bahwa… kita harus belajar dari traedi di temor leste tersebut……itu aadalah milmu yang sangat berharga dari kita sebagai referensi pengetahuan….
sejujurnya saya sendiri sangat terhenyuh membaca tulisan ini.
October 4, 2008 at 8:46 pm
rebel
aneh timor-timur udah ditolong dari perang saudara thn 75..setelah di jajah portugis hampir 400 tahun,,,tapi tidak tau balas budi…peristiwa santa cruz,,,merupakan pelajarn buat org yg tidak bisa berbalas budi…
HAM??? giliran GPK, bandit fretelin yg mati orang teriak HAM, tapi giliran POLISI atau TENTARA,, yg berdinas mati mereka diam2 saja…
October 5, 2008 at 6:01 am
kolonel togel
Kan sudah kita sikat habis-habisan minyak mereka, bagaimana kamu kok ndak tahu itu?
November 21, 2008 at 2:19 am
silvado
viva Leste….. bagaimana pun kita di indonesia sama di jajah soeharto…
salam buat kawan-kawan di bumi loro sae…
February 25, 2009 at 3:01 pm
top73
Ngaur sekali artikelnya,,
February 25, 2009 at 3:10 pm
top73
Rebel bangsat kamu,, kamu tidak tahu sejarah Timor-Timur jadi jgn asal ngomong. Indonesia tolong apanya pada thn 1975?? masuknya ke Tim-Tim aja dgn cara Invasi Militer,, Anda harus tahu itu,!!! DASAR TOLOL.!! HET O NIA AMAN,,
February 25, 2009 at 3:30 pm
top73
Buat “Rebel” yg sudah ngasih Comment di atas,,tapi kamu itu tidak lebih baik dari MONYET,,ngasih comment tanpa dasar/mengetahui sejarah. kamu tidak tahu sejarah Timor-Timur jadi jgn asal ngomong. Indonesia tolong apanya pada thn 1975?? masuknya ke Tim-Tim aja dgn cara Invasi Militer melalui udara,laut & darat,, Anda harus tahu itu,!!! DASAR TOLOL.!! HET O NIA AMAN,,
Dan satu lagi,, dengar baik2 TOLOL,, Sejak Indonesia menduduki Tmor-Timur thn 1975 smpai dgn Timor-Timur mendptkan Kemerdekaannya,,PBB tidak pernah mengakui kalau Timor-Timur adalah salah satu wilayah dari Indonesia,,Carrailho pa,…..
VIVA TIMOR LESTE,,,
March 3, 2009 at 7:22 am
Aze
Semua orang pasti mempunyai pendapat yang berbeda tentang sejarah sebuah bangsa atau daerah. Tapi yang penting adalah bagaimana membangun kebersamaan dalam lintas negara. Sebagai orang Timor-Leste, sejarah adalah proses yang terjadi pada masa lalu dan akan dikenang dengan berbagai dalil baik itu pro maupun yang tidak setuju, hal itu jangan dijadikan sebagai konflik tetapi bagaimana kita bangun kebersamaan antara kedua bangsa.
March 5, 2009 at 2:12 pm
Tomas atoni leko
ORANG YANG SEPERTI REBEL ITU MEMANG UNIK SAYA SEBENARNYA MALU KARENA MEMEPELAJARI SEJARI BANGSA INDONSIA YANG TIDAK BENAR SEJARAH INDONESIA SEJAK REZIM DIKTATORT SOEHARTO ITU MEMANG TIDAK BENAR REBEL ITU ORANG SETIA SEKALI DENGAN PAK HARTO SEBENARNYA ANDA TAHU KITA ORANG INDO HARU MALU DAN MINTA MAAF UNTUK RAKYAT TIMOR TIMUR KARENA KITA TELAH MENGINVASI TIMOR LESTE SEPERTI APA YANG DILAKUKAN ISRAEL KE PALESTINA. SEJARAH YANG KITA PELAJARI TIDAK BENAR SAMA SEKALI KAPAN PEMIMPIN KITA (INDONESIA) BISA MENJELASKAN KEBRUTALAN JELEK TNI KEPADA MASYARAKAT INDONESIA SEHINGGA MASYARAKAT BISA TAHU KEJELEKAN TNI DI TIM-TIM
August 28, 2009 at 7:32 am
olivia (Timor leste)
Rebel yg syng….Rebel yg maniz……Rebel yg Malang,,,,,,,,TImor Leste bkn di TOLONG katamu tapi di jajah jg, jadi peristiwa SANTA CRUZ itulah yg membuka mata seluruh DUNIA untk membebaskan TL dr kekejaman Indonesia dari 2 opsi ituh Bro……..akhirnya rakyat memilih untk MERDEKA (free)
obrigado
September 28, 2009 at 6:40 pm
rui reha
hahahah
October 20, 2009 at 4:49 pm
made Indonesia
buat saudara2 ku di Timor Leste, jadikan sejarah sebagai pelajaran hidup bangsa ke depan. terus maju Timor Leste!!!
buat saudara rabel, sebaiknya jangan ngomong kalau gak tau apa2!!
July 27, 2010 at 2:51 pm
Sarief
Sudahlah…biarkan Timor Leste membangun negaranya…jangan sampai kita dijadikan tunggangan orang2 yg punya kepentingan utk berkuasa…hidup kita pasti mati…jalanilah dengan penuh tanggung jawab…mendingan kita bersama2 menjaga bumi ini dalam perdamaian….
August 8, 2010 at 1:10 pm
NONO
“tulisan untuk penjajah”
saudara, Rebel…akan sangat susah bagi kita untuk memahami bahwa “siapa penjajah itu”? apabila kita hanya memahami bahwa penjajah itu adalah orang kulit putih (portugal)..akan tetapi, bukankan saudara orang “indonesia”yang baik hati dan berkulit “sawo matang ” inipun telah menyandang statusnya sebagai penjajah selama 24 tahun. Mengapa saya sebut bangsa anda telah menyandang status itu. pertama tentu Invasi Militer dalam wilayah kami yang mengakibatkan kematian berjuta-juta orang Timor Leste, dan tentu saja ini tidak sesuai dengan “peri kemanusia-an dan peri keadilan”, yang kedua anda tidak berhasil dalam pembangunan yang mengakibatkan diskriminasi antara kita dimana sebagian besar rakyat kami hidup dalam kemiskinan dan ini tidak sejalan dengan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” dan yang ketiga tentu saja pelanggaran HAM santa cruz telah membuktikan bahwa bangsa anda telah menjajah bangsa kami selama 24 tahun dan ini tidak sesuai dengan falsafah anda bahwa “seluruh penjajahan diatas dunia harus dihapuskan”. dan yang terakhir, anda perlu banyak membaca pemahaman tentang bentuk “penjajahan” mulai dari tingkat penjajahan politik, ekonomi, sosial, budaya dan bentuk-bentuk penjajahan lainnya, saya yakin bangsa anda punya materi dan pengalaman yang banyak tentang bentuk-bentuk penjajahan yang halus “terima kasih”.
saudara rebel saya tidak menaruh dendam terhadap anda akan tetapi hanya menyadarkan anda bahwa bangsa anda adalah “Penjajah” dan saya menutuo tanggapan ini dengan tetap menghargai anda sebagai saudara sawo matang yang telah menjajah kami.
September 28, 2010 at 9:14 am
boy
VIVA TIMOR LESTE,RAI LULIK LAFAEK ISIN…..
BUAT REBEL ANJING…….!!
bapakmu itu yg kau bilang timor ditolong,,anjing cukimae,,,tamu tak diundang! masuk kayak babi hutang,,,,tidak tau sejarah gak usah ngomong smbarang,,,HET O NIA INAN NIA KIDUNG…kita memng perang saudara pada waktu itu, tpi bukan berrti kita minta tolong dari anjing kyak kalian,,,,kalian itu pada waktu itu cmng disuruh untuk masuk melerai krna berdekatan dgn negara kami,,,tpi karna terlalu pejilat dan pengen curi kekayaan kami..kalian masuk kayak pencuri jahanam,,NAOK TEN………apa yg terjadi pada kejadian 12 november,kami tidak akan pernah lupa dgn pembantaian itu,,,,teruslah kalian tertawa,,,suatu saat kita akan injak kalian seperti malasya injak kalian sekrng ini……..perjuangan tdk akan berakhir sampai titik darah terkhir,itu lah kami…ingat itu,darah yg tumpah akan selalu menghntui kalian sampai akhirx kalian akan tau siapa yg lebih kuat……….VIVA POVU MAUBERE,,,ASUAIN TIMOR
January 1, 2011 at 8:35 pm
matsu
Timor leste merdeka karena konspirasi internasional dgn berbagai macam kecurangan saat referendum…..
sekarang kalian miskin, hanya keturunan portugis yg berkuasa dan kaya, pribumi ttp miskin…kasihan kalian ditipu ramos horta, xanana, cnrt…
May 1, 2011 at 8:09 am
kuncen
bung matsu…
saya setuju dengan apa yg anda bilang bahwa TL merdeka karena adanya konspirasi internasional… yaaah memang itu sah-sah saja… tp satu hal yang anda harus tahu.. kalau pada waktu penghitungan hasil suara dalam pemilu refrendum di lakukan oleh orang2 indonesia.. mungkin itu lebih curang… anda mengejek negara orang tp dalam negara anda sendiri pemerintahnya tdk becus menyelesaikan masalah2 yang ada… lihat saja kasus korupsi yg saat ini sedang mengeroti negeri anda tapi sampai saat ini blm bisa di selesaikan oleh pemerintah anda sendiri.. diplomasi pemerintah anda terhadap malaysia juga sangat lemah… rakyat indonesia juga masih banyak yg miskin… lihat di pulau jawa, sumatera, kalimantan, NTT,NTB yang hidupnya sungguh tragis.. kalau itu anda belum tahu ya… banyaklaaah belajar,, atau berkacalah dulu sebelum mengejek orang lain.. mendingan anda simpan air liur anda untuk bahas masalah dalam negeri anda… tidak perlu menjelek-jelekan TL yg sudah terlepas dari penjajahan negaramau.. mungkin anda iri hati ya…
anda mengejek negara orang tp negara anda sendiri jauh lebih buruk…
January 25, 2011 at 2:35 am
joao guterres
Mohon foto2 perang tahun 1975 di timtim. terima kasih
May 1, 2011 at 3:55 am
suciptoardi
klik di sini:
http://suciptoardi.wordpress.com/2010/06/14/dari-timor-timur-hingga-timor-leste-dalam-gambar/
March 9, 2011 at 8:00 am
lutche
untuk teman rebel….ku yang perlu banyak belajar lagi……
penjajah tetaplah penjajah.karena timor leste tidaklah sama seperti daerah indonesia lainnya yang mudah dipengaruhi dan dijadikan sama statusnya. mengapa demikian! Karena Dilihat dari budaya memang jauh sekali perbedaannya,warna kulitnya beda, cara berpikir juga beda, apalagi watak dan perilaku pasti beda jauh. sebenarnya indonesia itu hanyalah sebatas pulau jawa dan untuk orang di sekitar Jawa. tidak mungkin orang di NTB, Flores, Kupang, Irian Jaya, Ambon dsb disebut orang Jawa. apalagi tingkat pembagunan dan kesejahteraan hanya dirasakan sebatas daerah Jawa dan sekitarnya, tapi tidak sampai ke Dibagian Timur.jadi mohon sekali lagi pikir 1001 Kali sebelum menulis atau bicara. trim.. ksh. you wouldn’t never know Timor Leste historical but first…you have learnt more about youself because you might be know who you are, and where do you come from !!!
April 24, 2011 at 1:04 pm
ardana
saya ingin tahu tentang insiden dilli yang terjadi pada tanggal 12 November 1991 untuk bahan skripsi saya. mohon bantuannya ya.
May 1, 2011 at 3:57 am
suciptoardi
Kepada Taman 65, ijin copas tulisan ini untuk di blog saya. Tq.
May 1, 2011 at 4:05 am
Rekaman Pengalaman Tentang Sejarah Kekerasan di Timor Leste Melalui Penuturan De Carvalho « Historia Vitae Magistra La Historia Me Absolvera!!! Viva Historia, Jas Merah!!!
[...] membaca tulisan dibawah ini, saya jadi tertarik untuk menerbitkannya di blog saya. Alasan utamanya ialah, banyak [...]
May 1, 2011 at 4:05 am
Rekaman Pengalaman Tentang Sejarah Kekerasan di Timor Leste Melalui Penuturan De Carvalho « Historia Vitae Magistra La Historia Me Absolvera!!! Viva Historia, Jas Merah!!!
[...] [1] Ketua Haburas sebuah LSM yang bergerak dalam bidang konservasi lingkungan di Timor Leste. [...]
May 1, 2011 at 8:15 am
kuncen
Timor Leste telah menjadi sebuah negara pada tahun 1975 ketika Portugal memberikan kebebasan kepada negara – negara jajahanya untuk mendirikan negara sendiri dan dunia Internasional mengagumi Portugal, dan Indonesia dengan rezim orde barunya langsung mencaplok wilayah Timor Leste dan memasukanya dalam NKRI sungguh sesuatu yang SANGAT MEMALUKAN.
August 10, 2011 at 6:22 am
Luta nai'in
Buat rebel Fahi aman,,,,,,,,,,,,Ini bukan bohong tapi, ini kenyataan. jika anda bilang bong besar berarti anda bukan org Timor-Leste tapi anda adalah seorang penghianat bangsa. dan kalo anda nga percaya anda boleh pergi ke Ainaro dan berdiri di Jakarta dua2 baru anda bilang Ini bohong maka hari itu juga anda akan ikut Jatuh ke dalam jakarta 2 dan bertemu dgn arwa2 mereka yang di dorong hidup2. dan disanalah kmu akan percaya bahwa itu benar ok !
August 10, 2011 at 6:33 am
Luta nai'in
Buat Rebel, di rumah kamu ada TV ngak ? kalo ada maka nonton dong biar kmu tahu perkembangan indonesia sekarang kayak gimana ? kalo Tim-tim masih mending di banding dengan anak yg baru lahir tapi, indonesia udah berapa tahun ya ? masih aja ada yang tidur di kolam jembatang ada yang di siksa hidup2 oleh majikannya di arab tapi,nga ada tangapan dari pihak yang berwewenang kacian deh loh,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,ngca donggggggggggggg ! Rasainnnnnnnnnnnn loh REbel
August 15, 2011 at 4:29 pm
metan
dasar buta huruf baru dikomentari udah maen maki…masih banyak pejuang di perbatasan… sante bro….
November 17, 2011 at 1:35 am
JHONY ALVES
buat Rebel : kamu dasar anak tidak tau diri, tdk bersejarah, tidak ada rasa solidaritas kepada teman atau sesama negara. kamu kira orang timor leste bukan manucia ? heiiiii kawan…. kalau mau perang jangan di lihat dari alat berat yang kamu punya, orang timor leste tidak akan pernah takut pada perang. dulu bapak prabowo pernah menbawa beribu pasukan denga tank perang untuk melawan falintil. kamu tau apa hasilya : anak buah prabowo hanya satu yang balik ke markas, tanpa baju dan tanpa sepatu. maka saya kasi tau kamu rebel jangan coba2 meremehkan sejarah Timor Lesre. silakan cari saya di suai Covalima.
March 17, 2012 at 6:03 am
Ramdhan Al-Bukhari
Saatnya berbenah, cintai perdamaian dan kerjasama.
May 2, 2012 at 1:50 am
fonci martins da silva
yang lalu biarlah berlalu,,,,,,,,Indonesia & Timor Leste tetap ber1……….jangan berikan comment yg berbau negatif yg cuma hanya untuk merusak hubungan ke2 negara,,,,,,,,,,,I LUV U TIMOR-LESTE,,,,,I LUV U INDONESIA,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
October 10, 2012 at 8:02 am
GIU HILARIUS
Saudaraku serumpun, sekalipun kita berbeda negara namun kiga adalah sesama sauidara. Kami tahu timor leste sangat terbuka bagi orang luar termasuk Indonesia sebaliknya Indonesiapun demikian. Kulit kita sama-sama sawomatang, rambut kita sama-sama ikal alias keriting, hanya adat istiadat tentu berbeda. Apapun yang terjadi Timor Leste-Indonesia tetap bekerja sama demi kemajuan kedua negara. Marilah kita saling menukar pengalaman, tidak selamanya Indonesia yang lebih dahulu mardeka lebih maju dan lebih tau. Marilah kita saling bekomunikasi dan bekerja sama yang baik demi masa depan dan anak cucu kita, dan masa lalu biarlah berlalu dan jangan meninggalkan kesan dendam untuk anak cucu kita. Kita adalah saudara. Suara saudaramu di sebelah lautan (flores-ende)
October 10, 2012 at 8:08 am
GIU HILARIUS
Pesan buat Saudara-saudara, adik, dan anak-anak Timor Leste, Timor Leste adalah asal negaramu…, janga lupa disanalah bersemayam leluhur kita. Hujan emas di negeri orang jauh lebih baik sekalupun hujan batu di negeri sendiri.
November 27, 2012 at 3:58 pm
timrqu damai
MARI KITA SATU KAN PERDAMAYAN ITU YANG UTAMA BUAT APA KITA UNGKIT MASA MASA LALU .BIARLAH MASA lalu ITU SEBAGAI sebuah tongkat yang bisa menyadarkan kita bahwa kita ini adalah satu anak tuhan kita yesus kristus semoga damai selalu beserta bangsa kita timor leste maupun indonesia
bagi kita jgn membuat kata kata yang jorok sadarlah kita bahwa tanah timor adalah tanah yang memaafkan ida nee mak ema timor sejati jayalah timor leste ku
February 12, 2013 at 2:53 am
el
domin mak lia fuan murak, liafuan murak ba ema hotu rona, mai ita fo liman ba malu metin los hanesan tali dada la kotu, no hamutuk ho lia fuan ida tamba ita mesak maun ho alin. TL-INDINESIA sempre
; peace, Love and Gaul, and fun. Forca timor-leste
April 8, 2013 at 4:47 am
nbre
obrgado brak ba historia timor w bele htne 8tuan tmb bel aumenta w ni konhecemento kna ba historia timor nian,,,,
April 20, 2013 at 1:09 pm
saint
ini apakah cerita real? menarik sekali untuk dikaji tentang maksud dr soeharto melakukan itu semua lalu soal prabowo di dili itu saya msh penasaran latar belakang mengapa ia melakukan pembantaian itu