Seorang teman dari Amerika datang ke rumah, ia rencananya mau menginap di tempatku. Dengan tergopoh-gopoh dua tas besar ia jinjing dan satu tas lagi ia gendong. Tubuh bermandikan keringat, nafas terengah-engah dan tanpa rasa sungkan dua gelas plastik air minum yang kami hidangkan langsung diminumnya. Ia ingin tinggal di Denpasar dengan harapan dapat memperoleh tempat kost yang jauh lebih murah, daripada hotel di Ubud yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Karena ia antropolog tentunya keberadaanya di Bali untuk sebuah penelitian. Kehidupan perempuan Bali menjadi fokus temanya. Untuk beberapa hari ia tidur di tempatku sebelum menemukan tempat yang ideal baginya.
Bali adalah pulau surga para peneliti, dari Cliford Gertz sampai Geoffery Robinson pernah dan terkenal sebagai peneliti karena Bali. Bali juga pulau para turis dari Four Season sampai Bvlgari Hotels n Resort menancapkan tembok kokohnya di sana. Turis dan peneliti asing adalah sama-sama orang asing, tetapi terkadang peneliti asing tidak mau disamakan dengan turis. Teman saya ini ia sangat tersinggung kalau dianggap tourist karena tourist berkonotasi hanya datang sebagai pengembira yang hanya suka hura-hura. Bukan bermaksud menyederhanakan persoalan terkadang ada yang sama antara peneliti asing dan turis asing selain mereka semua adalah manusia dari negeri seberang. Tetapi sebelum mencari persamaanya mari kita cari perbedaanya terlebih dahulu. Persamaan dan perbedaan ini nantinya penting untuk mengetahui keterkaitannya terhadap yang dibayangkan orang tentang identitas ketimuran. Timur yang selalu dikonstruksi identitasnya mengikuti era dan jamanya, timur dalam konteks kekinian.
Tourist membayangkan kebudayan Bali sebagai sebuah tempat hiburan dan pertunjukan yang dapat menghilangkan dahaga romantisme. Tourist biasanya tertarik dengan pagelaran seni, panorama alam, pura serta candi peninggalan para leluhur sebagai obyek foto. Gambar-gambar indah ini nanti menjadi penghias album foto mereka. Sedangkan para peneliti biasanya suka situasi dibalik layar kemegahan pariwisata, seperti kehidupan anak-anak terlantar di Bali, ibu-ibu korban kekerasan domestik dan pegawai hotel yang merana akibat tragedi bom Bali. Peristiwa dibalik layar ini menjadi objek foto mereka, untuk melengkapi data dan dokumen penelitian. Disini kebudayaan Bali dibayangkan sebagai sebuah ruang yang politis, ada yang terhempas dan ada yang bersulang. Sudah sepantasnya kaum peneliti harus mendapatkan realitas yang lebih dalam sifatnya, mencari sesuatu diluar image dan citra umum, sehingga mengetahui dan berempati terhadap situasi di balik layar adalah bagian dari misi penelitian. Dari sini saya menyadari kenapa teman saya enggan di anggap turis. Status menjadi turis tidak sesuai dengan misi untuk berempati. Juga ada sebuah kesulitan jika berstatus turis, ada perasaan berdosa melanggar etika bagi seorang peneliti. Karena posisi teman saya sebagai peneliti ia dituntut bersusah payah meminimalisir batas antara dia sebagai orang asing dengan manusia Bali sebagai subjek penelitianya.
Belajar bahasa indonesia dengan giat, tinggal di wilayah penelitian lebih lama dan berdialog dengan subjek lebih intens, salah satu usaha para peneliti asing untuk dekat dengan si subjek. Kalau berstatus turis tentunya tidak perlu susah-susah mengerti bahasa seseorang, justru orang lokal sendiri yang ingin mendalami bahasa mereka. Turis memiliki batas yang jelas karena mereka adalah tuan dan orang lokal memposisikan dirinya sebagai pelayan mereka. Kalau peneliti apalagi aktivis asing mereka sendiri yang ingin memposisikan diri sebagai pelayan orang lokal dengan metode dan pengetahuanya. Membuat program kemanusiaan ataupun penyuluhan melalui seminar-seminar salah satu contohnya. Tapi bagi orang lokal mereka tetaplah turis yang harus dibalas dengan senyum dan keramahan. Tetap saja mereka adalah target yang dapat mendatangkan keuntungan. Saya mempunyai sebuah pengalaman menarik, ketika saya ajak teman saya itu kesalah satu LSM ternama di Bali. Tanpa basa-basi dan rasa sungkan aktivis lokal ini menyodorkan masalah yang dia hadapi. Masalah sosial yang ditangani LSMnya langsung disodorkan dengan sejujur-jujurnya, dengan harapan teman saya bisa bantu carikan lembaga dana. Mengapa permasalahan itu tidak di sodorkan kepada saya ? Kenapa permasalahan yang ia hadapi lebih jujur diungkapkan kepada orang asing dari pada orang Bali sendiri? Apakah mungkin teman saya bisa mendapatkan status peneliti karena dilain pihak subjek penelitian tetap memandang mereka sebenarnya juga turis yang melulu menjadi lahan profit datangya kucuran dolar? Di sini salah satu persamaan antara turis dan peneliti asing, ketika adanya sebuah persamaan persepsi orang lokal kepada mereka. Mereka tetap seorang mister pembawa dolar entah mister John, mister Michel, mister Fredrick dll.
Peneliti asing berusaha akrab dengan subjek penelitian, mereka berusaha mengikuti pola kehidupan si subjek, mengikuti gaya hidup si subjek, dengan harapan dapat menemukan kedalaman realitas. Ada sebuah kepercayaan jika semakin sama, dan semakin percis dengan subjek, semakin tipis jarak itu. Tetapi sebenarnya ada sebuah ceremonial khusus jika peneliti asing datang ke daerah timur. Mereka berusaha mencari informasi tentang tempat penelitiannya. Terkadang lembaga donor yang menseponsori mereka membuat semacam pendidikan beberapa bulan mengenal tentang Indonesia. Indonesia adalah negara seribu masalah, tidak mudah untuk beradaptasi apalagi jika peneliti berasal dari negeri maju. Menurut teman saya itu semua peneliti dari Amerika mesti dapat imunisasi hepatitis A dan tetanus sebelum berangkat ke indonesia. Makanya saya tidak merasa aneh lagi jika melihat tas teman saya itu penuh obat-obatan. Setiap berangkat tidak lupa lotion anti nyamuk di ransel, karena di indonesia lagi maraknya demam berdarah. Selalu membawa lotion anti septic setelah membasuh tangan sehabis makan, dengan harapan tidak terkena flu burung. Itulah timur kini, sebuah daerah rawan penuh penyakit yang membahayakan. Penyakit yang bisa membunuh orang, yang sama dahsyatnya dengan teroris. Benar memang ada fakta itu, tetapi fakta itu mampu mereduksi, mengenaralisasi dan akhirnya mengarah pada stereotipe identitas. Berdasarkan hal ini, menjadi masuk akal bahwa kebersihan menjadi syarat utama rumah kost yang akan ditempati teman saya itu.
Wilayah timur yang di identitaskan sebagai daerah rawan ini menjadi semacam wilayah tes nyali dan ketangguhan bagi para peneliti asing. Timur adalah Wilayah adu kesaktian menjadi survivor. Mereka melakukan penelitian tetap dengan perasaan was-was, waspada dan sigap untuk menelphone international SOS jika tertular. Disatu sisi etika penelitian mengharuskan mereka menghilangkan sekat dengan dekat terhadap subjek penelitian, di sisi yang lain untuk dekat membutuhkan nyali. Sekat ini yang susah dihilangkan karena ketakutan dan rasa was-was adalah senjata tangguh untuk melahirkan jarak. Mengandaiakan timur sebagai wilayah uji nyali sama saja mengandaikanya sebagai zone perang yaitu daerah yang belum ditaklukan, karena itu harus di taklukan. Mirip dengan acara reality show khas Amrik, Survivor dimana beberapa orang berjuang hidup disebuah daerah asing, disana ada ketakutan, was-was, nyali, dan kecerdikan.
Alasan medis memang susah di hilangkan, karena siapapun tidak akan mau sakit. Kalau dahulu timur diidentitaskan secara cultural sebagai daerah yang tradisional dan eksotik. Bagi para peneliti kritis, identitas seperti ini sudah ketinggalan jaman. Identitas ini sudah banyak bobroknya, palsu karena terkena bias orientalis dan sangat hegemonik. Sesepuh teoritikus post kolonial Edward Said sudah mengoyak dan meremukan pandangan identitas kaum orientalis klasik ini. Tetapi kalau identitas dilekatkan dengan alasan medis menjadi lain persoalannya, karena sudah menyentuh tubuh si peneliti. Menyentuh tubuh berarti menyentuh subjektifitas, karena tubuh adalah instrument eksistensi, tubuh terkoyak eksistensi sebagai manusia akan terenggut. Tubuh teraniaya sakitnya pun lebih terasa. Ketika terjadi seperti ini timur sebagai identitas bukan lagi berada diluar tubuh. Maksudnya Timur tidak lagi menyangkut dunia diluar barat yang berada jauh. Timur sudah menjelma menjadi katakutan yang sangat membadan dan menjelma didalam tubuh karena eksistensi kehidupan seseorang mampu dilenyapkanya. Demam berdarah, HIV dan flu burung siap menjadi senjata ampuh pembuat jarak yang mengerikan.
Akhirnya masalah inipun diterjemahkan sebagai masalah adaptasi seseorang yang ingin mencicipi sebuah daerah luar. Tetapi alasan ini melupakan paradigma berpikir seseorang yang ingin berada di sebuah daerah asing. Didalam paradigma itu mengendap bayangan-bayangan tentang kategori-kategori daerah yang ingin di tuju. Kategori-kategori yang di ciptakan wacana medis terus membekas di dalam diri orang barat walaupun sudah berada di daerah timur. Memang mereka berusaha mirip dengan audiens, bahasa indonesianya lancar, mengikuti trend fashion orang lokal, makan-makanan lokal. Tapi tetap detak jantung berdebar, kalau nanti digigit nyamuk, kalau nanti makan ayam yang ada flu burungnya atau makanan yang dimakan kadulu warsa. Ketakutan adalah hak semua orang di dunia, tidak ada larangan untuk itu. Timbul masalah ketika ketakutan ini dianggap sebagai tindakan rasional bagi mereka, maka juga rasional anggapan timur sebagai daerah rawan. Semakin kokoh identitas timur sebagai mahluk pasif, kurang pengetahuan dan jorok, sedangkan Barat sebagai nabi penolong yang siap membantu.
Patut di ingat citra identitas ini semakin kuat karena kuatnya fakta bahwa masyarakat kita banyak yang miskin. Kesehatan dan kebersihan menjadi kebutuhan sekunder mereka. Kesehatan ataupun kebersihan hanya dapat di nikmati kalangan berdasi, dan kalangan bermobil kinclong. Sayangnya segerombolan kalangan bermobil kinclong doyan korupsi dan tentunya yang kena sial kalangan kebanyakan yaitu kaum miskin. Lebih sialnya lagi program-program kesehatan dan kebersihan yang digalakan pemerintah menyalahkan gaya hidup kaum miskin ini. Hal ini bisa dilihat dari ramainya pandangan bahwa banyaknya jentik nyamuk melulu karena tidak pernah menguras bak mandi atau tidak pernah membersihkan selokan. Alasan medis dari kelangan penguasa ini mampu mereduksi pandangan bahwa semua ini merupakan kesalahan masyarakat tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena masyarakat tidak mempunyai pengetahuan yang cukup. Kembali ada hirarkis, pemerintah sebagai nabi penolong dan masyarakat adalah sekelompok orang pasif, yang kurang pengetahuan dan jorok. Masyarakat yang mana? tentu saja si jorok miskin.
Disini kita melihat bahwa masalah medis juga adalah permasalahan kelas, ada sebuah struktur politik yang mengukuhkan timur sebagai daerah virus. Alasan-alasan medis mampu menghilangkan politik di balik semua ini, terlihat kemudian masalah menjadi sangat netral politik. Mengikuti paradigma Marxis, identitas timur berada dalam roda kepentingan politik sekelompok orang, dimana kaum miskin siap menjadi kaum yang sengaja diciptakan sebagai sebab musabab bencana. Mereka menjadi pemicu denyut jantung kengerian para peneliti dalam upaya berpetualang di dunia timur. Mereka juga menjadi kambing hitam program-program kesehatan yang digalakan pemerintah. Identitas timur lahir dari pergulatan-pergulatan itu, so welcome to the junggle dude….


25 comments
Comments feed for this article
September 21, 2007 at 2:34 pm
termana
Menarik!! Bukan dalam kerangka untuk menjadi anti peneliti asing atau “orang luar”, melainkan lebih pada usaha mencermati konteks kekekinian orientalisme.
Namun dalam kuatnya pengaruh Yang Maha Kuasa Pariwisata, hal ini dilihat sebagai suatu yang selayaknya nasib bagi “orang lokal” di hadapan peneliti asing. Orientalisme bukan hanya dilangengkan oleh subyek orientalis melainkan oleh obyeknya juga.
September 23, 2007 at 5:37 am
Ji KOmpyang kancil
Buat wah uta. relasi luar–dalam atau wacana outsider dan insider sangat ruwet. Yang jelas Bali sebagai wacana juga produk orang luar baik oleh turis atau peneliti asing yang berkolaborasi dengan orang lokal. Hak untuk menulis, meneliti atau menjadi murid-murid kebudayaan Bali ada pada setiap orang di dunia, nukan hanya orang Bali saja. Ilmu sebagai pengalaman tak bisa direduksi menjadi ,ilik ethnis tertentu yang ujung-ujung akan membuahkan ethnis nasioanalis yang memebodohkan. Yang jelas bali menghasilakan dollar seperti sekarang karena buah peneliti asing. Saya juga tidak tahau apakah harus berterimakasih pada peneliti asing atau harus mengutuk peneliti asing. I” dont know.
September 23, 2007 at 3:14 pm
Pak Tut Kenyung
Kok sinis banget sama Peneliti asing Sih? Sunafik lhu!!! Pacarkan kan juga peneliti asing…..udah ajeg Bali banget lhu. Semejak ada di Bali.
Mahaf…….mahak ank gung….kata BLi Lundi.
September 24, 2007 at 6:24 am
Ji
Saya tidak mengerti dengan pasti arah tulisannya kemana ?!?! mungkin saya yang bego?!?! tapi pengen ngasih comment. hehehehe
jadi sejauh yang saya tangkap dari tulisan diatas ditambah kurangnya kemampuan saya menangkap, saya ngasih commentnya: maap
karena comment ini juga dipicu sepakatnya saya dengan JI Kompyang kancil dalam hal “Bali sekarang adalah hasil peneliti asing”
bali yang sekarang jelas dihasilkan oleh penelitian yang dikemas dalam berbagai rupa menjadi suatu cindera mata entah itu cantik entah tidak, yang jelas menarik, faktanya banyak yang mengunjungi bali karena tertarik pastinya. dan sejak disadari bahwa bali bisa menjadi produk yang unggul untuk menghasilkan uang lalu
berbagai kemasanpun muncul:
ada yang mengemas menjadi landscape paradise
dikemas menjadi surga budaya
kemasan beach party, sun bathing
berbagai kemasan exotic!
termasuk kemasan Bali menyimpan banyak tanda tanya untuk diteliti!
jelas ada kemasan yang dipertahankan ada yang ditinggalkan dan ada yang diperbaharui
wong sebuah produk yang menjanjikan kok bagi banyak pihak! dalam konteks uang masuk.
dan dalam perhitungan uang masuk / bisnis, tourist atau peneliti asing sama kedudukannya yaitu user atau customer ataupun masih new market.
dan bali adalah product unggulannya.
so? bali sold out! bukan hanya karena negara adalah pebisnis yang sukses juga karena budaya konsumsi dunia yang tinggi, dan pelanggannya puas entah itu yang surfing, leissure ataukah peneliti asing
salamku untuk pacarmu the porto girl, OK
thanx..
September 24, 2007 at 8:39 am
cok gus
……sampai detik ini susahnya dekat dengan peneliti asing, yang sering saya temui justru orang-orang asing yang datang untuk tidak meneliti apa-apa sama sekali alias toris cap sandal dgn ransel di punggung yang di dalamnya ada laptop dan camera digital. Memakai kaos singlet naik motor honda Tiger sewaan di sepanjang Legian dan juga Tegalalang. Dan setiap siang hari mereka ngumpul di Warung Nikmat atau Warung Italy. Yang satu peneliti, jelas mempengaruhi intelektulitas kita, yang satunya lagi mempengaruhi dompet kita.
Saat ini bicara Bali Masa Depan, menurut Rekening Listrik dan PDAM yang nomer dua jelas akan mampir mensejahterakan keluarga di masa depan dan siap membasmi semua tunggakan. Sedangkan yang satu lagi sama saja dengan mempersiapkan gerombolan pengangguran di masa depan.
Tapi jangan terpengaruh oleh semua itu dan jangan justru anti dan jatuh hati setengah mati dapat membuat anda menjadi setengah hidup tidak realistis. Mereka sama-sama kita dekati untuk kemudian mensiasati keseimbangan isi otak dan dompet.
Bukankah kekuatan di kedua sisi ini yang kita perlukan untuk menghadapi era global? Volume Otak dan Dompetlah yang kemudian bisa menghapuskan penindasan di seluruh dunia, itu kalo anda mau. Dan satu lagi pesan dari orang-orang yang sudah meninggal katanya begini,” Jangan hidup di dunia terlalu lama, di akhirat jauh lebih baik, kehidupan jauh lebih sejahtera karena Tuhan tidak lagi membedakan yang humanis dan yang anti-humanis, komunis dan kapitalis karena mereka sudah insyaf-akur dan tidak lagi saling mencurigai dan menyakiti!!”
September 24, 2007 at 11:21 am
Putra
Buat Termana, identitas timur memang dilanggengkan kedua belah pihak baik dari timur sendiri atau barat. Justru yang menjadi persoalan dari semua itu adalah pihak yang dikorbankan tetap saja kaum miskin. Jadi di dalam lokalitas ada juga hirarki, bukan totalitas yang seragam.
Buat Ji Kompyang Kancil, memang peneliti asing mengkonstruksi kebudayaan Bali sehingga memiliki identitas, dan negara menggunakan sebagai alat menjaring dolar melalui pariwisata budaya. Menjual budaya juga dilanggengkan oleh orang lokal sendiri karena mereka bisa kerja, makan, bahkan panen deposito. Orang lokal menjadi aparatur negara secara tidak langsung.
Ironis kemudian karena pembagian hasil tidaklah merata, banyak juga yang terhempas yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Ketimpangan ini menghasilkan berbagai macam problem salah satunya maraknya virus penyakit karena masyarakat yang terhempas lebih mementingkan isi perut dari pada membersihkan rumah. Suksesnya lagi negara mencuci tangan dengan mengkambinghitamkan gaya hidup kaum miskin ini. Sudah merana karena dirampas tanahnya untuk hotel, plus jadi kambing hitam karena maraknya jentik nyamuk. Timur akhirnya terbentuk menjadi ruang virus.
Peneliti asing sangat berbeda dengan turis, mereka ingin berada di tengah masyarakat bukan melulu ada di hotel berbintang. Kalau kita melihat cara pandang orientalisme klasik, timur sebelum diekspansi di pandang sebagai daerah berbahaya yang membutuhkan nyali untuk menaklukannya. Mirip dengan peneliti asing yang diplonco terlebih dahulu dengan kategori-kategori identitas melalui literatur yang berkaitan dengan derah yang dituju. Timur sebagai ruang virus yang diproduksi negara menjadi salah satu referensinya. Nah Timur bagi turis adalah tempat berpelesiran, sedangkan timur bagi peneliti asing adalah ruang adu nyali, mirip film Indiana Jones. Jadi orintalisme klasik yang memandang timur sebagai daerah kaum barbar pemakan manusia, berubah menjadi gudangnya flu burung. Berubah tapi tetap sama….
Cok Gus dikau sangat sinis, tapi setelah saya pikir panjang dikau merupakan salah satu dari representasi bagaimana orang Bali melihat peneliti asing. They are steel same,so they are target of profit, no matter they are tourists or reseachers. Even though they try hard to be native, they are just foreigner…. Ini menarik sebagai bahan pertimbangan dalam metode penelitian sosial di Bali.
Buat pak Tut Kenyung, peh jeg sampunang kroda enggih. Tiyang bukan pro Ajeg Bali, menuduh ngawur adalah tulah. Saya hanya menulis dan menanggapi strategi survive peneliti asing di Bali. Ide ini juga bersumber dari strategi survive pacar dan teman-teman saya yang hidup di Bali sebagai peneliti asing. Para peneliti asing adalah orang-orang yang pintar dan tajam mengkritisi kebudayaan Bali. Mereka juga mengkritisi orientalisme bahkan touristme.
Mereka terkesan sebagai subjek yang selalu sigap dan sadar terhadap kekuasaan yang bermain. Jujur saja saya lihat mereka enggak mau dibilang tourist, karena bagi mereka tourist adalah subjek yang sudah membadankan citra identitas eksotis timur kedalam hati. Karena itu saya pingin tahu apakah mereka benar-benar subjek yang lepas dari kuasa. Dari hasil pengamatan saya peneliti asing bukanlah superman, mereka terlihat bersusah payah untuk dekat dan mirip dengan subjek tetapi tetap sigap dan waspada karena dihantui ketegori-kategori identitas timur kontemporer. Memang normal kalau manusia takut sakit, tapi saya menulis untuk berupaya menguak kenormalan itu. Ampurayang kalau tulisan ini tidak mengesankan anda dan analisisnya kurang bagus….
Buat Ji, sory kalau tulisannya gak bagus buat anda bingung. Anda orang yang hebat, walaupun anda bingung tetap gigih berupaya berpendapat. Sepakat, identitas Bali adalah produk….
September 24, 2007 at 12:21 pm
GI
oeeeeee… putra, saya ikut berikan comment tulisan kamu…
pak put, tulisan ini juga mengingatkan saya pada indentitas diri sendiri ketika melihat toris.
memang benar hal itu terjadi, turis kalau dari kaca mata orang lokal adalah mesin duit, yang selalu memposisikan dia adalah dewa penolong bagi pekerja pariwisata.
namun kalau melahat konteks yang kamu tulis ini, serasa kamu sangat memposisikan orang timur itu adalah identitas yang sangat kotor dan jorok. sedangkan orang yang ada di seberang benua adalah orang yang bersih dan sehat ples parlente.
namun kontruksi kekotoran manusia yang ada di timur itu juga bagian dari penjajahan barat yang membuat hal ini terjadi. maksud saya diasaja yang menggap orang timr itu seperti dalam tulisanmu itu.
tapi kembali ke konteks lokal, mereka sudah terbiasa dengan kehidupan dia seperti itu, dan yang jelas seperti kamu katakan itu, nahwa mentalitas korupsi manusia timur khususnya indonesia itu mejadikan masyarakat menjadi menderita seperti yang dilihat orang asing.
maaf, bukan maksud saya membela orang timur, namun yang jelas bagi saya tulisan kamu dasiat.. melihat perbedaan ini.
biarpun saya sedikit kurang mengerti, atau saya mungkin kurang melihat seperti anda lihat itu.
menurut saya timur, barat adalah sama , namun kontuksinya saja berbeda dan yang membuat itu berbeda adalah kaca mata ruang yang menilainya.
September 24, 2007 at 1:47 pm
putra
Buat Gi, terimakasih berkomentar saya pikir saya sudah menulisnya di paragraf kedua paling akhir. Timur yang jorok bukan sebuah keniscayaan, tapi sebuah product. Kebijakan negara yang tidak berpihak kepada kaum miskin kota yang banyak jumlahnya terbelit dengan masalah isi perut. Kebersihan menjadi kebutuhan nomer dua. Bukan berarti mereka enggak mau bersih, semua orang di dunia pingin bersih. Bersih itu mahal bung…identitas timur itu terlahir dari kondisi struktural ini.
Saya juga sepakat barat berperan. Barat dalam hal ini adalah Investor asing yang menekan negara agar memproduksi kebijakan yang berpihak pada profit mereka. Sudah menjadi kebiasaan tanah warga digusur untuk hotel yang di dukung kebijakan negara misalnya. Nah kemiskinan juga diproduksi oleh pemodal barat tentunya timur sebagai ruang virus di ciptakannya juga….
Barat memang tidak monolitik, ada juga bobroknya dari masalah rasisme, kemiskinan kaum homeless, sampai masalah imigrant ilegal. Citra ini tidak pernah dibayangkan karena identitas barat melulu di lekatkan pada gaya hidup tourist asing. Mereka berpelesiran di Timur, tidur di tempat yang nyaman macam hotel ataupun bungalow. Orang timur melekatkan barat seperti para turist ini. Nah yang nyaman-nyaman dan enak di maknai sebagai yang barat, dan yang ruwet, bermasalah sebagai timur.
September 24, 2007 at 2:26 pm
sri
Medical Orientalist menjadi taktik pedekatan dalam metode penelitian diluar keinginan untuk membangun rasa curiga dan konstruksi ini sehat atau ini menimbulkan menceret yang sesungguhnya juga adalah ciptaan Tuhan(Kuasa).
Jadi jangan mengarah ke sikap yang cenderung cynical terus mengingkari kontribusi mereka dalam dunia akademik.
September 24, 2007 at 4:09 pm
Putra
Saya tidak mengingkari itu. Itu sudah pasti mereka banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan dunia pengetahuan. Saya menyadari itu. Ide-ide mereka banyak menginpirasikan ide-ide saya dalam menulis bahkan bersikap. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh berpendapat dan mengkritik….
September 25, 2007 at 11:01 pm
Alit
Ikut satu Tre,
Tulisan Putra reflektif dan bagus untuk autokritik agar menjadi lebih mantap dalam melihat kedua dunia; Barat dan Timur.
Saya jadi teringat dengan apa yang pernah dilontarkan oleh Goenawan Muhamad :”tidak ada Barat dan Tidak ada Timur yang ada adalah variasi, dan kesimpulan kesimpulan sementara”
Barat dan Timur saya pikir soal tafsir dan dalam setiap tafsir ada saja unsur kuasa, saling mengagungkan dan saling menumbangkan.
Nah untuk yang Timur sebagai sumber virus seperti kata Putra, saat ini memang benar meradang, Timur dalam arti negeri kita dan tanah air tercinta yang bernama Indonesia, saat ini sungguh meradang yang diakibatkan oleh virus gawat yang bersumber dari orang timur sendiri yaitu : virus korupsi. Ini yang membuat Timur jadi terkapar dimana mana, tidak saja di barat, di timur bahkan di tenggara, selatan barat daya barat laut, pokoknya nyegare gunung.
Dan payahnya lagi Barat senang situasi dan kondisi yang koruptif karena lebih gampang menghancurkan lewat kuasa dan modal. Barat juga punya kontribusi besar dalam korupsi, terutama saat mereka ingin mengoperasikan kapital mereka dalam bentuk investasi, banyak sekali menempuh cara cara yang koruptif dan kekerasan. Lihat Papua, Aceh, dan Bali dengan peristiwa 65. Barat diam seribu bahasa dan no comment.
Viva Fair Trade !
September 26, 2007 at 3:10 am
i komang adiartha
Dear
all of my friends at taman 65, many good think i can read here……
terutama untuk bli Raka … beh luung sajan lay outnya !!!
miss u already
adi
September 26, 2007 at 5:34 pm
k
maaf, cuma ingin “memastikan” aja,
identitas ketimuran..identitas ketimuran..bicara timur, bicara relasi kuasa yang timpang, pun dengan identitas..bukan begitu?
barat=peneliti, timur=diteliti (dan sejuta analogi lainnya)..dan itu “menyejarah”…
ga tau kenapa ya?rasanya ini terlalu “besar”…kira-kira bagaimana kamu alias putra (orang “timur”) di amerika (barat) sana? pengalaman kamu (putra) disana??
September 27, 2007 at 9:17 am
Putra
Buat Alit, yup saya sepakat korupsi adalah sebab musabab semakin hancurnya negara ini. Ruang virus penyakit pun marak karena virus korupsi ini. Identitas virus ini pun digunakan untuk mencari dana bantuan yang akhirnya di korupsi juga. Viva fair trade….
Buat I komang Adi, lay outnya memang dahsyat bro….
K saya pikir yang besar itu terlahir dari yang kecil. wacana orientalisme bukan berada jauh di awang-awang, tapi juga menjadi keseharian dalam hidup. Yang saya tulis justru ingin menerjemahkan yang besar itu dalam cerita keseharian saya dalam menapaki hidup. Ini terlahir dari suatu yang sering terjadi dalam keseharian. Maaf kalau itu gagal menurut K, dan terlalu besar….
Pengalaman di negeri super power banyak manis dan pahitnya. Di sana saya melihat barat yang sering diterjemahkan sebagai super power ternyata kropos juga. Tidaklah seragam seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Di sini terjadi pergulatan saya memaknai barat, antara image dan realita. Yang saya pahami sebelumnya hanyalah image, dan saya pikir teman-teman di sini juga mengalami hal yang sama. Image telah menjadi identitas yang absolut bagi orang timur sendiri, yaitu barat sebagai Tuhan dan timur sebagai hambanya.
Sistem sekolah, transportasi maupun tingkat kesejahteraan memang barat yang no satu bagi saya. Luar biasa canggihnya bro…tapi kalau kita melihat lebih dalam waduh ruwetnya minta ampun.Orang Indoneisa yang saya temui kebanyakan mereka adalah imigran ilegal. Hidupnya berat, banting tulang sudah pasti ketakutan menjadi keseharian. Takut karena mungkin petugas imigrasi siap menangkap. Eksploitasi gaji dan waktu kerja sudah menjadi resiko keseharian mereka. Mau mengadu kemana? polisi? susah bro..melapor sama dengan bunuh diri. Nanti malahan mereka yang di tangkap karena ilegal. Saya tidak mengerti dengan pemerintah di US, mereka dianggap musuh tapi masyarkat di sana memakai mereka sebagai tenaga kerja.
Merekrut ilegal sebagai tenaga kerja tentunya murah karena enggak usah mikirin asuransi ataupun dana pensiun mereka. Mereka juga enggak punya hak untuk komplain. Kalau merekrut tenaga kerja orang asli Amerika, para bos harus memikirkan asuransi, pensiun, dan strategi kalau mereka komplain. Labor Union di sana sangat kuat, sekali demo betul-betul mengguncang infrastruktur. Ilegal gak bisa buat union, nah disini terkadang terjadi konflik antara orang Amerika yang hidupnya miskin dengan Orang Asia ilegal. Ilegal gampang cari kerja karena murah, nah warga Amerika kulit hitam merasa terasing di tempatnya sendiri. Warga kulit hitam kebanyakan hidup di bawah rata-rata karena kebanyakan miskin. Semakin miskin karena mereka enggak dipekerjakan. Orang asia ilegal menjadi curahan kebencian mereka. Nah disini kita akan melihat konflik antara kaum marginal, sang bos tak tersentuh padahal sang bos menjadi otak dari segalanya.
Mereka siap bergulat di negeri seberang karena di negara asal hancur lebur karena lemahnya Negara. Korupsi merajalela, kekerasan hidup semakin parah. Susah payah di negeri asal tetaplah nothing. Susah payah di negeri seberang tetap menghasilkan uang
September 27, 2007 at 9:19 am
Putra
sambungan di atas…
yang mampu menghidupi anak cucu di negeri asal, walaupun pahit getir hidup menjadi keseharian.
Nah ini sekelumit pengalaman yang saya bisa bagikan ke kamu K. Amerika tidaklah tunggal seperti yang saya bayangkan. I feel defrent. If people from the other country come to Bali we call them “tourits”. Off course, we call them tourist because they buy our handy crafts, sleep in our motel, give us alot of dolar. If you come to the US that they assume u are “imigrant” because they think u are the dolar hounter.
September 28, 2007 at 12:06 am
Kacotan
Kalau di Indoensia tourist juga disebut “bule” atau penderita penyakit kulit atau dalam bahasa Bali “bulenan”. Sedangakan pak Putra di amerikakan statusnya “overseas student”…..keren banget. Kok sinis banget sama Amerika setelah pulang kampung? ada apa sih?
September 29, 2007 at 2:30 pm
gableran rani
gw setuju dengan Kacotan, kadang gw juga bertanya-tanya kenapa sich perubahan itu membawa dampak yang sangat kontroversial, ada apa ama dengan dirimu putra? Wiss gimana? Kok nggak kedengaran lagi moncongnya?
October 2, 2007 at 4:13 am
penunggu bale bengong
putra, ini tulisan refelektif seperti kata gung alit. karena itu, aku ambil buat di bale bengong. sayang, tulisan cerdas tidak dibagi2. ha.ha.ha.
komentarku soal barat-timur itu, tidak hanya peneliti yang membuat semua citra itu. jurnalis lebih parah lagi. mereka sering melakukan generalisasi, tidak mendalam seperti layaknya peneliti, lalu mengambil kesimpulan dan menyampaikan itu pada konsumen media. media di Amrik, tempat kamu pernah belajar basa inggris pun, pun jauh lebih gila dibanding Bali Post. isu terorisme, salah satunya, adalah hasil dosa-dosa media besar kayak NYT, Post, CNN, Fox, dst itu. mereka jauh lebih sangar pada isu terorisme dibanding pd isu global warming atau fair trade, misalnya. -viva mitra bali! bli gung alit dtunggu tulisan2nya. he.he-
balik soal created image, atau kata baudrillard simulakra, atau kata yasraf hiperrealitas, itulah yg sekarang trjadi, termasuk soal idenitas timur barat. berapa sih orang yg baca buku sbg hasil penelitian dibanding yg baca koran, nonton TV, denger radio, atau klik internet sbg hasil kerja jurnalis? jurnalis dan media paling besar membuat dosa terhadap kenyataan-kenyataan palsu. jd kau sbg peneliti pasti masuk surga. kalo aku sih pasti masuk neraka karena banyak dosanya. -ha.ha.ha-
nah, itu gen. jadi nglantur. sok-sok pinter padahal cuma belogger alias orang goblog yg suka ngeblog. hasta la vista taman 65!
October 3, 2007 at 6:45 pm
putra
Buat kacotan dan gableran ini bukan sinisme yang irasional ini terlahir dari pengalaman saya di sana. Ini bisa di cek di lapangan. Ini bukan berarti saya tidak tertarik dengan kamujuan, dan gemah ripah peradaban Amerika, saya menikmatinya juga kok.
Buat penunggu Bale Bengong, silahkan diambil untuk Bale Bengong. Sorry beli saya belum ada ngirim tulisan ke bale bengong. Rencanya saya mau kirim, tapi enggak ada waktu. Tulisan yang ada di Blog taman 65 adalah tulisan lama telah saya buat sebelum berangkat. Rencananya sih saya ngirim yang baru tapi enggak ada waktu buat tulisa. Saya lagi sibuk ngurus skripsi yang belum kelar jadi enggak ada waktu nulis. Mungkin saya akan kirim tulisan lama saya untuk beli.
December 26, 2007 at 12:20 pm
Ancak
aduh adi jeg berat sajan bahasane, bli…kayakne tang perlu kursus bahas inggris malu di taman 65 ne…
~Ancak~
March 29, 2008 at 5:49 am
Dora
Buat Ancak, mo kursus apa aja tersedia di taman65 kecuali kursus bela diri dan jurus jurus terbang yang lainnya. Silahkan datang kapan saja pasti ada yang menemani kalaupun ndak ada sama sekali tapi masih ada pohon dan rumput!
April 18, 2008 at 11:38 am
Dono
peh pak ancak ini kok merendah sekali sih, andakan ketua salah satu organisasi yang terkenal menangani masalah lingkungan. Pokoknya jangan merendahlah, nanti jadi tenggelam beneran
April 18, 2008 at 7:13 pm
cunga
sebenarnya barat-timur itu buatan siapa sih???
koq sampe skarang msh kepake aj tu istilah……
mohon penjelasan tentang sislsilah barat-timur apkah berdasarkan letak secara geopolitik atau ad hal lain……
dan satu lgi knapa harus timur menjadi salah satu pembanding dari kesuksesan dan kejayaan barat????
maaf banyak nanya…..^^
April 22, 2008 at 11:56 am
+/-
cak, mabuk yuk..
mungkin saya ga punya sesuatu yang bisa buat saya menjawab disini, tapi, cob a liat lagi culture adn imperialism nya edward said atai orientalisme nya edward said…………sepertinya cukup membantu untuk maslah barat-timur (meski dia ga sesempit itu)……
April 24, 2008 at 5:24 am
sanca
Eeemang elu siapa pake nyuruh-nyuruh orang baca? Kalo ngerasa paham banget kenapa elu nggak jelasin aja langsung!!!!