Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah ada pelaku. Mereka si pelaku ini bukanlah subjek pasif karena mereka menikmati juga, menikmati tubuh-tubuh perempuan yang direndahkan dan disiksa secara sexsual itu. Karena alasan tugas atau strategi mereka si pelaku ini mempunyai ruang sebebas-bebasnya mengoyak tubuh-tubuh perempuan yang tidak berdaya ini. Bahkan ketika ada ruang kebebasan yang disahkan ini, mampu menjadikan manusia-manusia pelaku ini sebagai manusia yang super berani. Cerita moral yang diberikan ibu-ibu mereka, kaidah agama ataupun norma-norma sosial lenyap dalam kegagahan mereka saat melakukan penyiksaan. Kemachoan absolute mereka sebagai laki-laki pemberani muncul di bawah rasa takut perempuan yang disekap.
Buku ini dibuat oleh Ita F Nadia, ringan dibaca namun berat dicerna. Berat karena langsung menyentuh perasaan muak, sedih, jijik, sekaligus marah bahkan mungkin tidak kuat lagi untuk membacanya. Di sini akan terpampang secara blak-blakan bagaimana pahitnya sejarah untuk diingat. Ini adalah buku pengakuan beberapa perempuan yang disekap dan disiksa karena mereka dituduh sebagai komunis. Tidak ada cerita besar seperti terlibatnya CIA dalam tragedi itu, ataupun menceritakan masalah konflik internal TNI. Hanya memuat cerita dari kaum kecil tapi bermakna besar. Setelah anda membaca buku ini maka akan terbersit kengerian jika dimasa depan anak perempuan, saudara perempuan ataupun ibu kita mungkin akan mengalami penderitaan ini. Sudah pasti laki-laki yang menjadi dalangnya.
Membaca buku-buku sejarah tentang peristiwa 65 yang melulu bercerita tentang situasi politik Negara pada waktu itu, akan berbeda rasanya ketika membaca cerita-cerita dari korban-korbanya langsung. Mendengar cerita dari para korban, sejarah tragedi itu bukan lagi berada jauh. Bukan lagi cerita milik orang-orang besar yang terlibat dalam tragedi itu semisal para tokoh, para jendral, para menteri ataupun spionase asing. Cerita-cerita besar inilah yang menjadikan kejadian berdarah itu seolah-olah jauh dari dunia keseharian. Mendengar penuturan korban maka kengerian sejarah itu lebih terasa, dan membuat kita bertanya apakah salah satu dari keluarga kita terlibat. Tragedi berdarah itu bisa masuk ke ruang paling intim yang bisa merengut esksitensi orang yang kita cinta. Tragedi itu bisa masuk ke dalam rumah orang-orang biasa yang tidak tahu juntrung persoalannya seperti ibu-ibu ini. Umumnya mereka adalah masyarakat biasa yang sama sekali tidak tahu menahu alasan mereka dicabik-cabik. Ketika membaca ini kengerian timbul, apakah ke depan ini akan terulang jika terjadi kemelut melanda dunia politik orang-orang besar. Karena mungkin kita adalah bagian dari orang-orang biasa yang bisa saja jadi korban, walaupun sama sekali tidak mengerti akar pemicu malapetaka. Karena itulah sejarah penuturan korban tidak berada jauh, melainkan menjadikannya sangat dekat, dan mungkin kita adalah korban selanjutnya. Bisa jadi kita si laki-laki adalah bagian dari pelaku dikemudian hari.
Petaka bisa datang kapan saja, entah pagi, siang dan malam. Tidak perduli momen dan waktu, petaka bisa datang langsung tanpa permisi masuk ke dalam rumah mu. Ini bukanlah tsunami, manusia murka juga datang dengan kengerian yang secara tiba-tiba. Mirip dengan tsunami, mampu menghempaskan jutaan orang dengan cepat dan mampu menciptakan trauma yang dahsyat. Para korban ibu-ibu ini bukan hanya mengalami penyiksaan fisik, tapi setelah mendapatkan masa bebas mereka juga mengalami penyikasaan sosial. Cap “komunis” menghantui warga, sehingga pengusiran oleh warga menjadi akibat yang ditanggung korban. Identitas mereka ganti di rantauan untuk strategi survive karena sudah terlanjur di cap.
Bagi para pelaku sudah pasti kemunculan cerita-cerita ini sangat menghantui mereka. Mereka terlihat sebagai mahluk biadab yang sangat tangguh mengobrak-abrik ‘organ’ perempuan. Pelaku yang memiliki kuasa saat ini tentunya akan berusaha meredam pengakuan-pengakuan para korban. Bisa dibayangkan seandainya terbongkar maka kejantanan dan keperkasaan sang pelaku akan rontok. Mereka akan terlihat pengecut karena menundukan seseorang yang tidak berdaya dengan gagah dan garangnya. Tidak bisa dibayangkan seandainya anak-anak para pelaku ini tahu perbuatan bapak-bapak mereka. Keperkasaan pelaku sebagai pemimpin di dalam keluarga, ataupun di dalam perusahaannya akan remuk rontok. Anak-anak mereka ataupun anak buah mereka akan bertanya balik apakah kesuksesan yang mereka nikmati karena cara-cara yang biadab. Anak buah tahu mungkin bisa dipecat, anak-anak tahu maka akan menanggung malu seumur hidup. Oleh karena itu maka cerita ini berbahaya bagi nyaman dan harmonisnya keluarga, karena itu harus dilenyapkan.
Tragedi 65 adalah sebuah tragedi dimana kejantanan menjadi pertaruhan. Resim orde baru tumbuh karena mereka mempertaruhkan kejantanannya. Negara orde baru muncul sebagai sebuah bentuk kejantanan yang terlihat absolute. Lihat program-program PKK, disana laki-laki diciptakan sebagai pemimpin serta pengayom keluarga. Begitu istimewanya posisi laki-laki sehingga dikonstruksi sebagai pelindung kaum perempuan yang dianggap lemah. Laki-laki adalah Superman yang nyata, ini terbukti dari didirikannya puluhan bangunan megah ciptaan orde baru sebagai tanda kesuksesannya. Istilah bapak bangsa pun menjadi semakin popular. Laki-laki sangatlah dihargai setinggi langit. Keberhasilan ini merupakan ciptaan seorang pemimpin yaitu si laki-laki. Melihat cerita dari para korban perempuan ini maka akan terlihat kejantanan itu rapuh. Melihat ini maka kejantanan itu telah kalah dalam taruhannya. Mereka tidak-lah jantan seperti yang mereka kira, karena sukses dengan cara-cara yang tidak jantan walaupun beraksi bengis dengan gagahnya kala itu. Keberanian pada dasarnya adalah sebuah tindakan pengecut. Keberanian yang lahir bukan karena berani menentang maut, melainkan karena tidak adanya maut maka mereka berani. Tokoh Bima salah satu jendral dari keluarga Pandawa dalam epos Mahabarata menjadi berani karena ia memiliki kekuatan dari anugerah Para Dewa Perang, apakah Bima dalam perang kuru bisa menjadi berani kalau dia tidak memiliki kekuatan yang dikondisikan tadi?
Memperkosa beramai-ramai, menyetrum orang yang tidak berkutik, melukai tubuh orang yang diikat adalah bahan-bahan dasar kokoh bangunan megah nan perkasa kepemimpinan laki-laki. Di satu sisi kepemimpinan laki-laki ini disulap sedemikian rupa seolah-olah kepemimpinan laki-laki sangatlah gagah tanpa dosa. Tapi jika melihat sejarah penuturan korban maka tidak aneh lagi, gonjang-ganjing negara kita saat ini dilestarikan oleh cara-cara biadab. Sejarah yang kita pelajari adalah sejarah kebiadaban, hingga saat ini masih lestari.
Wajah Indonesia masih tetap sama dari dulu sampai sekarang. Rakyat banyak menjadi korban kekerasan yang tidak hanya terkait dengan peristiwa 65. Korban Penggusuran, korban KKN, korban penculikan, korban kekerasan aparat, adalah salah satu dari puluhan korban yang juga ingin diakui dan didengar pengalaman mereka. Jika kita menggantungkannya pada resim maka kekerasan-kekerasan yang berlimpah ini akan diseleksi mengikuti kepentingan sang rezim. Jelas karena cerita-cerita ini mungkin saja akan dapat mengangangu jalannya resim, karena itu diseleksi. Rasa duka, sedih, marah, dan trauma para korban dikompetisikan dalam arena seleksi buatan rezim. Alangkah baiknya kalau semua cerita ini bisa dibagi-bagikan ke masyarakat, sehingga kita bisa belajar dari cerita-ceita korban ini. Ini akan gawat kalau rezim nanti percaya bahwa masa depan akan lebih baik jika melupakan yang buruk dimasa lampau. Semua cerita buruk korban-korban berbagai macam kekerasan ini akan menjadi masa lalu saja. Gawatnya lagi setiap kekerasan akan terus menjadi masa lalu, walaupun itu masih dilakukan hari ini dan esok hari.


39 comments
Comments feed for this article
October 18, 2007 at 2:17 am
derraka
…….Pelaku dan Korban selalu ada dalam perjalanan sejarah kekerasan di Negara Para Jago Kepruk dan Maling ini. Setelah satu episode selesai melakukan penyiksaan lalu dalam episode selanjutnya mereka malah dianugerahi kekuasaan sebagai Pemimpin Besar Penghutang yang gagah dengan bintangnya. Awal tugas muliapun dimulai dengan mengomandoi perampokan harta rakyat di depan istri dan anak-anak mereka. Ironisnya sampai saat ini kita masih menjunjung tinggi manusia-manusia rendah seperti mereka.
Dalam skenario ini, jelas arsitek perancang master plan sejarah biadab ini tak pernah tersentuh kalaupun disebut hanya sebatas ngipas-ngipasi rakyat yang gerah karena panasnya mie instant si penolong yang disumbangkan para koruptor untuk korban bencana dan kemiskinan. Ini salah satu program mulya dari pengawetan kemiskinan melalui setiap paketnya.
Profesionalisme Maling berjuang dimana-mana menyelamatkan periuk mereka sangat jago memisahkan mana urusan negara dan mana urusan akhirat jadi realitas sering dibelokkan. Kekerasan dan kemiskinan jadi urusan akhirat dan yang menyedihkan justru yang berjuang untuk memeranginya dikirim segera ke akhirat yang membuat para wartawan sibuk menuliskannya.
Yaa…., pemimpin yaa…dia juga algojo dan sering nyambi maling dan menjarah tapi kadang-kadang kelihatan bersih seperti para artis pendeta yang pasti mereka tidak akan pernah seperti petani apalagi petani yang menolak pupuk urea dan pestisida.
October 19, 2007 at 4:32 am
Dod
Selalu ada kepentingan dibalik kekerasan, karena kekerasan itu sebagai alat yang bisa digunakan untuk kepentingan apa saja (baik revolusi maupun kediktatoran rezim).
Kepentingan para golongan “pengatur” yang ingin mengakumulasi dan mengkonsentrasikan kekuatan kapital berdasarkan kepentingan para “pengatur” saja – adalah kekuatan dibalik aksi kekerasan oleh negara.
Untuk kasus pembantaian manusia di tahun 1965 (termasuk di Bali), merupakan jalan pembuka untuk kekuatan yang lebih besar lagi, yang lebih banyak membantai manusia secara perlahan dan pasti namun seolah-olah tidak sadis (globalisasi pemiskinan oleh neoliberalisme misalnya).
kekerasan di tahun 65 telah menghancurkan segalanya dan berdampak keberbagai sektor kehidupan sosial saat sekarang ini. Sebagai pelaku maupun sebagai korban sudah sulit tuk dielakkan lagi, namun kendalanya bukan disitu.
Namun selain menyerang dampaknya juga sebaiknya menyerang akar permasalahan dari permasalahan ini, demi menyelamatkan kehidupan kita masing-masing.
Perubahan sosial mungkin saja sangat berat (mungkin juga mustahil..) tapi perubahan itu bisa segera dimulai..
selamat mencoba
October 21, 2007 at 10:20 am
putra
Buat deraka, negara kita memang negara maling bro dan maling sudah menjadi kode etik profesionalisme di negara ini.
Buat dod saya setuju dangan apa yang dik dod bilang. Permasalahan kapital sebagai sumber masalah dunia. Masalah 65 juga menyangkut masalah itu, dan ini sudah banyak digubris para ahli-ahli seperti kepentingan kapitalis menanam modal di indonesia atas nama ideologi maupun anti ideologi.
Justru membaca buku ini maka akan terlihat masalah yang sifatnya lebih kedalam. Tidak lagi menggubris persoalan orang-orang besar melawan orang besar lainya. Berbicara 65 melulu berbicara ke wilayah yang besar seperti peran kapitalisme luar atau spionase asing, maka pelaku akan mampu berkelid atas nama korban kapitalisme ataupun korban kuasa neoliberalisme. Mereka jadi aman…padahal mereka melakukan itu berdasarkan planing jelas, dan sadar untuk menyiksa sesorang.
Kalau melihat buku ini maka kamu akan melihat kekejian yang pada dasarnya pelaku itu menikmati dirinya sebagai pelaku. Justru yang aku tulis ingin melihat kondisi akar permasalahan, karena pelaku keji akan takut setengah mati dengan cerita-cerita kecil ini yang pada dasarnya bertebaran bak pasir dilaut. Kekuasaannya akan rontok karena wajah kalem nan gagah mereka terkoyak menjadi seorang pengecut berhati iblis. Mereka akan senang kalau wacana 65 dialihkan sebagai sebuah masalah global atau sebagai sebuah wacana politik internasional kapitalis misalnya. Ini akan menjadi sebuah topeng kekejaman mereka. Mereka senang kalau dirobotkan seperti ini, senang menjadi robot politik international padahal mereka dalam konteks 65 sangatlah aktif bergerak dan tidaklah robotik.
Saya bukan berarti tidak sepaham dengan mas dod, tetapi buku ini berusaha mengisi kekosongan yang selama ini dimana peristiwa 65 melulu diterjemahkan sebagai masalah kontestasi kekuatan kapital. Ini besar bung, jadi yang kecil menjadi hilang. Akar permasalahn bukan lah satu, tapi banyak buanget. Buku ini adalah salah satu dari akar itu…..
October 21, 2007 at 10:48 pm
Kak okoh
Kalau negara dipimpin perempuan juga sama saja…contohnya megawati…tapi yang jauh pertlu disadari adalah ideologi” Ibuisme” itu,agar tak terperangkap. Ini yang rumit….Selama kita melihat perempuan sebagai korban…..bukan survival…kita akan “melaki-lakikan” sudut pandangan itu. Nah monto malu. Saya ingin baga buku ini. Apanya yang baru dari buku ini? saya nggak tahu.
October 22, 2007 at 3:30 am
Dod
yooai mas putra
ga sepaham ma gw juga bebas-bebas aja lah
iya ga?? heheh, gw bukan tipe orang yang menganggap perubahan itu lahir dari pemikiran satu orang saja kok…
para pelaku itu lebih dari sekedar menikmati karena mereka memang berfungsi sebagai itu, yang mempunyai kepentingan untuk menjalankan fungsinya… sebagai orang yang merasa dirinya seolah-olah hebat tentunya
tapi permasalahan ini ga bisa dilepaskan dari konteks internasional kalo menurut saya siiyy.
tetapi boleh-boleh aja tidak memperdulikan pihak luar nasional atau membedahnya dalam konteks lokal, namun menurut saya lagi mengaitkan dengan dunia internasional bukan sebuah pengalihan – ga mungkin para pasukan penjahat kemanusiaan tersebut membantai mereka-mereka yang merah bahkan yang mereka yang diduga merah jika tidak mendapatkan / menantikan hadiah dari kebijakan internasional.
mereka senangnya bukan karena wacana 65 ini dipandang sebagai wacana global, tetapi mereka senang tuh karena masyarakatnya belum berani (dan berhasil ditundukkan) untuk membalikkan keadaan, karena mungkin berdasarkan tingkatan pemikiran tertentu dari kondisi masayarakat. para pelaku itu pasti akan takut luar biasa jika orang seperti mas putra (yang kritis ini…) berjumlah 300 juta orang
hehehh
selain para pelaku yang masih terlalu kuat juga kalangan akar rumput yang sayangnya masih terlalu lemah… karena itu kenapa dilema ini masih berlanjut (menurut saya..)
tapi, ya itu tadii …
mari (terus) mencoba dan selamat mencoba
muuahh
D
October 26, 2007 at 6:08 pm
putra
Buat kak okoh terimakasih atas masukannya, ibuisme juga gawat…
Buat Dod, aku sudah tulis kok dalam tanggapan yang pertama bahwa kuasa international juga penting untuk menganalisis sumber masalah. Tapi tragedy 65 juga harus melihat politik lokal karena pihak-pihak local juga ikut terlibat didalamnya. Mereka tidak selamanya didikte oleh factor eksternal itu, mereka juga punya motif-motif dan alasan-alsannya sendiri. Kalau kau mewawancarai korban maka kau akan menemukan penyebab tragedi yang bersumber dari hubungan yang sangat intim dalam kehidupan sosial keseharaian mereka.. Seperti pembantaian terjadi karena masalah perebutan perempuan, masalah pemilihan kepala desa, masalah konflik keluarga, masalah kasta, bahkan banyak diantara korban bukanlah anggota partai dan sama sekali tidak tahu menahu dengan komunisme. Kalau kau melihat yang intim ini maka pelaku bukan lagi spionase asing, kapitalis, ataupun para atasan militer, pelaku bisa saja paman, saudara, ataupun tetangga-tetangga terdekat kita. Banyak diantara keluarga korban terlibat dalam tindakan kekerasan terhadap mereka. Karena itu penuturan sejarah korban ini menjadi sangat dekat, kengerian ini menjadi lebih terasa.
Wacana adalah sebuah permainan. Lihat Bali dengan Ajeg Balinya dimana masalah di Bali selalu diandaikan bersumber dari luar, entah penduduk pendatang, kebudayaan barat ataupun teroris. Siapa yang senang dari analisis ini? Tentu saja para koruptor karena mereka aman, masalah dialihkan ke luar. Lihat Jakarta pengusiran kaum pendatang anak kolong jembatan karena dianggap sebagai biang kerok kemacetan, dan kekumuhan kota. Yang luar diciptakan untuk mengalihkan perhatian kita terhadap masalah yang sebenarnya bersumber dari kebijakan pemerintah yang enggak adil. Jadi asumsi dasar sebab terjadinya tragedi berdarah 65 yang melulu disebabkan faktor luar, maka akan menyenangkan pelaku-pelaku aktif di dalam. Mereka seolah-olah robot barat, padahal hidup enak dan asik setelah mengganyang. Wacana otokritik menjadi lenyap, karena tenaga dikerahkan mengkritisi yang luar itu. Intinya yang luar bobrok, yang di dalam juga bobrok.
Memperdalami yang intim maka kita tidak terjebak dalam universalisme. Kontekstualitas masalah akan nampak dan kerumitannya lebih terasa. Aku percaya setiap daerah dan tempat mempunyai sebab dan musabab yang berbeda pula.
October 31, 2007 at 6:46 am
+/-
iya, terlalu “internasionalis” juga berbahaya. melulu melihat semua dari sudut pandang (kapitalisme) global dan melupakan “subaltern”. lupa juga kalo dalam tubuh “sualtern”, “korban”, dan seterusnya juga ada konflik yang membuat mereka saling tikam.
ya..idols yang tinggi besar itu mungkin akan menimpa “kita” sampai mati…
November 19, 2007 at 2:40 pm
antonemus
hmmm, nak belog lewat nih. dan selalu sinawang mesti komen apa. jeg gawat dan intelek sajan dini puk.
November 26, 2007 at 5:41 am
ndut
Saya lahir di pertengahan dekade 70an yang hanya tahu kenikmatan orde baru, yang membenci kaum komunis karena tahu dari buku dan guru di sekolah, yang mencaci kaum gerwani yang (katanya) menyayat nyayat “burung” Jenderal2, yang menonton film “Penghianatan G/30-S PKI” sampai2 tidak bisa tidur selama seminggu dan terus menjadi mimpi yang paling buruk saya sampai sekarang (Sampai saya harus ke psikiater untuk menghilangkan mimpi buruk itu, dan ternyata kawan2 seumuran mengalami hal yang sama), yang akhirnya setelah jaman Reformasi tiba lambat laun menjadi tahu latar belakang seluruh peristiwa tersebut…
Saya sebagai orang awam yang jiwa saya telah sedikit goncang akibat “pencucian otak” pada masa itu hanya bisa berdoa semoga arwah orang-orang yang telah meninggalkan dunia ini pada saat pra dan pasca 65 yang tidak bersalah untuk dimaafkan dosa-dosanya oleh Alloh SWT, untuk kaum ibu yang masih hidup yang tercatat di buku ibu Ita…Bu, kami sangat kagum akan kekuatan dan ketabahan hatimu, engkau adalah seseorang yang patut diberikan 1000 tanda jasa dibandingkan dengan orang-orang pengecut yang mengaku dirinya adalah pahlawan orde baru, yang hanya bisa memperkosa (rame-rame lagi, dasar orang udik) dengan dalih interograsi…Bu, you’ll never walk alone…
November 27, 2007 at 9:42 am
antiantonat!!
buat antonemus :
kamu orang yang gawat itu, selalu menyela sok belog merendah sombong, BASI LUU!
November 29, 2007 at 6:48 pm
pemuda rakyat
Semakin saya membaca banyak buku tentang tragedi 65 dan banyak bicara dengan para korban, semakin menegaskan bahwa orang-orang PKI bukanlah orang yang jahat dan keji. Negara ini seharusnya malu karena kerapkali membungkam kebenaran. Ini sebabnya kita menjadi bangsa yang sangat mundur, karena membungkam kejahatan kemanusiaan dan mengagung-agungkan kemunafikan serta kebohongan.
Jujur, saya merasa sangat kerdil ketika membaca buku karya Ita Nadia ini. Perjuangan hidup para perempuan ini tidak sebanding dengan rata-rata kehidupan generasi jaman sekarang.
November 30, 2007 at 3:14 pm
+/-
kak okoh, “tidak ada” hal yang “baru” dalam buku ini. seperti kisah-kisah sedih lainnya yang setelah membacanya membuat kita bersedih dan menjadi menangis mengingat ibu yang sudah tua dan tetap bekerja.
oh ya, pak/mas/bang/om/ tante/ mbak/ ibu moderator, kok lama gak ada tulisan baru lagi sih?? Saya suka blog ini tapi sayang jarang ada tulisan baru. saya menjadi malas deh dan akhirnya saya beli es teh dan jadi nonton bokep.
atau para penulis yang kritis di blog ini sedang sibuk ikut berdemo di Bali itu? waaaaaaaahhh keren ya..
November 30, 2007 at 4:29 pm
pemuda rakyat
Buat +/-, kalau memang ceritanya sedih dan membuat kita menangis, kenapa harus dipaksakan untuk tidak sedih dan tidak menangis?
Bagi saya yang baru dalam buku ini adalah mengangkat permasalah korban perempuan tragedi 65 dari perspektif perempuan. Itu sudah cukup untuk membuat saya untuk tidak menyelesaikan buku ini dalam satu hari. Nggak kuat, karena menyentuh sekali. Jauh dari kesan penulisan tentang sebuah tragedi yang biasanya mengubar nilai kekerasan yang sangat vulgar (pornography of violance).
December 3, 2007 at 8:17 am
dod
gw sepakat banget ma bung “plus minus” (+/-); bahwa tidak ada hal yang baru dalam buku itu, selain berbagai varian penyiksaan yang pastinya bikin perasaan ga enak. Lagipula bukan kekerasan namanya jika tidak meminta korban.
namun sayangnya bung “plus minus” masih nunggu tim taman65 tuk mensuplai tulisan. kenapa tidak menjadi bagian dari media tulisan itu sendiri?? kemalasan kamu dan kegemaran nonton bokep sambil minum es teh dalih yang sama sekali bukan hal yg baru.
sama seperti di buku itu…
December 5, 2007 at 9:20 am
putra
Saya pikir persoalan dalam buku ini bukan masalah menarik atau tidak menarik. Ini bukanlah tayangan sinetron kalau tayangannya gak menarik bisa digantikan dengan chanel yang lain. Ini cerita yang berdasarkan fakta dan pengalaman yang dialami oleh seseorang, bukan sebuah kemasan yang sengaja dibuat indah dan menarik untuk memuaskan pembaca.
persoalannya adalah buku ini memberikan perspektif baru tentang 65, sebuah perspektif yang bersumber dari suara perempuan. Sejarah maindstream tentang 65 adalah sejarah versi laki-laki, sejarah para tokoh nan gagah yang dianggap pahlawan atau Pertarungan internal TNI yang semuanya memandang sejarah ibaratnya pertempuran yang selalu melahirkan rambo.
Bagi saya ini baru atau mungkin ini pengalam pertama saya baca buku dari pengalaman korban. Ini bagi saya sebuah buku penulisan sejarah yang berbeda, tidak ada teori yang ruwet, tidak ada kesimpulan, tidak ada kategori-kategori ketat khas sejarawan. Penulisan yang apa adanya,sehingga kita si pembaca dibiarkan menyimpulkan sendiri seperti kesimpulan anda bahwa cerita trauma dan kesedihan korban tidak menarik…..
December 6, 2007 at 4:57 am
Agus
Saya jadi ingat lagu2 pada saat peristiwa Mei 98, begini lagunya:
“Angkatan B********* Republik Indonesia,
Tidak berguna,
Bubarkan saja,
Suka merkosa,
dan juga nyiksa,
lebih baik diganti pramuka…”
Ternyata benar boo…
December 7, 2007 at 3:14 am
+/-
bung pemuda rakyat yang gagah berani, saya sedih juga lo . . . tapi cerita yang berdarah-darah begitu. i ngurah suryawan (ini dari Bali kan?)dalam banyak pengulangan dalam bukunya yang (hampir) semua sempat saya baca juga sama. darah korban menggenangi lantai menganak sungai.. so what? buku lain; 65 tahun yang tak pernah berakhir, banyak tulisan Baskara T Wardaya, tulisan-tulisan kelompok JKB awal-awal, Degung Santikarma (ini dari Bali jugakan?), Cribb, Robinson, Anderson, dll.Kurang banyak?
Pornography of violence? there’s much film that told the same old “shit” too.so what? Perspektif nya selalu “sama”. “korban” tertinggal tetap “korban” vice versa. Apa “kita” tidak bisa melangkah lebih jauh? mungkin samplenya seperti Arendt (banality of evil).
kata putra diatas,ini perspektif baru yang memandang kejadian dari sudut perempuan.apa perspektif ini bukannya malah mempertegas dikotomi laki-perempuan?untuk memandang perempuan lebih tersiksa lahir batin (seakan laki2 tidak). Seakan tragedi memisahkan diri ketika melihat jenis kelamin yang “berbeda”.kalo sy bc komentar putra sepertinya begitu. si ragedi datang, lihat vagina langsung menyiksa lahir batin si vagina. eh begitu liat penis dia cuma sekedar menyiksa. ah saya kira tidak. si tragedi datang gak mandang penis-vagina. saya kira kelakuan “kita” tetap tak berubah setelah baca buku itu. “Kita” tetap memandang sama sesuatu ber-vagina itu. vagina itu “kita” liat sebagai obyek. paling pol “kita” “merubah kelakuan” “kita” pada anak perempuan “kita” pada vagina yanng lain? sama saja seperti hari yang lalu.
salam kenal dod yang sok tau…(bung? hahahaa satu lagi rambo yang nganggep semua orang yang kasi komentar adalah laki-laki). menunggu itu menyenangkan dod. seperti nunggu bus kota, jadi bisa liat kelakuan “aneh” orang-orang yang juga menunggu dan bisa memaki-maki bus yang datang telat, ato macetnya jalan, atao panasnya matari.sambil minum es teh….
December 8, 2007 at 9:50 am
putra
Waduh bung atau mbak plus minius bukan maksud saya bahwa korban perempuan lebih sakit daripada laki-laki, jelas sekali bukan itu maksud saya. Coba baca lagi deh, atau mungkin saya yang nulis salah sehingga bung atau mbak menafsirkan seperti ini.
Trauma memang tidak bisa diukur dengan rumus-rumus. Maksud saya disini bahwa sejarah mainsstream tentang 65 umumnya diihat dari sudut pandang laki-laki yang sangat bias patriarkhi. Perdebatan yang saya ajukan dalam ranah ideologi atau wacana. Bukan dalam konteks mengkalkulasi atau mem-persen-tasikan korban. Ini jelas mustahil, trauma dan rasa sakit sesorang tidak bisa dijelaskan dengan kata sekalipun. Kalau didikusikan dalam ranah wancana atau ideologi maka laki-laki selalu dalam posisi teratas umat manusia.
Beberapa korban perempuan di buku itu suaminya juga dienjara, dan si suami setelah keluar dari penjara malahan menceraikan sang istri karena mengetahui diperkosa ramai-ramai. Ia benci istrinya karena dianggap tidak suci. Si perempuan lari ke luar kota karena di rumah sendiri juga diasingkan, ia dicap pelacur komunis.
Kalau bicara penderitaan dan trauma, Si suami juga mengalami trauma karena di siksa dipenjara, dan perempuan juga trauma karena diperkosa. Trauma kedua korban itu jelas tidak bisa diukur, Tetapi ketika terjadi pandangan bahwa si istri tidak suci lagi dan diusir dari rumah karena mempermalukan nama keluarga maka perdebatan harus mengarah ke ranah laki-laki sebagai kuasa wacana atau ideologi, bukan dalam ranah siapa yang paling trauma. Oleh karena itu laki-laki selalu berada diatas perempuan sekali lagi dalam konteks wacana atau ideologi.
Sejarah mainstream yang saya tahu tidak menyediakan ruang bagi suara-suara perempuan, karena itu saya bilang sejarah mainstream adalah sejarah tokoh-tokoh, laki-laki PKI versus Laki-Orba plus laki-laki CIA. Sejarah yang selalu menerjemahkan situasi 65 melulu polemik bak dunia perang khas Rambo, yang selalu melahirkan tokoh pahlawan sekaligus tokoh penjahat. Laki-laki menjadi bagian dari tokoh-tokoh penting itu, perempuan hilang. Memang ada Gerwani tapi hanya menjadi bumbu penyedap bak figuran.
Bukan bermaksud membela ngurah suryawan, bukunya dia memang banyak darah dan mebangkitkan kengerian. Saya mengakui ada yang traumanya muncul kalau baca buku berdarah- darah. Coba kasih saran ke saya bung plus minus, menurut saya generasi tua memang wajar trauma karena dia adalah saksi atau korban dari sejarah itu, bagaimana dengan generasi muda yang sama sekali tidak tahu dengan cerita tentang pembantain yang mengerikan ini. Sya pikir Buku Ngurah penting bagi generasi muda yang buta akan tragedi ini, bagi generasi muda yang masih percaya bahwa masal lalu bangsa yang selalu indah.
Memang susah apakah sejarah kengerian ini kita perhalus dengan bahasa yang tidak vulgar hanya karena trauma generasi tua yang sebagai saksi dan korban pada saat itu? bukankah sejarah adalah hak setiap orang entah muda atau tua? Atau Apakah sejarah harus ditampilkan blak-blakan tanpa memperhitungkan trauma korban? bagaimana ini, apakah kita tampilkan vulgar karena pada dasarnya sajarah bangsa sangat kasar dan mengerikan atau kita perhalus penulisannya agar tidak trauma tetapi sejarah menjadi cerita roman dimana kesedihan mengandung kenikmatan dan bukan kengerian?
Saya menyadari ketidak puasan bung bahwa seteiap buku yang bung baca tentang 65 bahwa korban hanya mendeg sebagai korban, kira-kira harus bagaimana menurut bung atau mbak? Blog ini kan ruang diskusi, nah jadi boleh dong saya tanya.
December 8, 2007 at 12:06 pm
dod
lu bener nus (singkatan plusminus) gw cowok, nama gw cukup jelas kok tuk nerangin jenis sex gw. ga perlu wacana yg rumit dan rumusan bertele-tele tuk tau jenis kelamin.
sok tau?? ada gitu yang gw tau dari dirimu hai nus (sekali lagi; singkatan plusminus) ???
i don’t think soo,
gw cuman liat apa yg lu tulis, dan apa yang lu coba nyampein dari tulisan lu, ga lebih dari itu… jadi bukan sebagai klaim loohh…
bukan kah perkembangan peradaban manusia dilihat dari apa yang di produksi dan di-reproduksinya??
atau hanya menunggu dan mengulangi sejarah?? atau dengan mengimajinasikan analisa abstrak?? atau….??
December 10, 2007 at 11:54 am
pijat+
65 bikin pusing, saya yang pusing jadi tambah pusing, ada enggak yang mau kasih lowongan pekerjaan ke saya?
December 11, 2007 at 5:55 am
Ndut
maaf kawan,bukannya daku sok tau, coba deh jangan kebanyakan nonton bokep mlulu, otak jadi penuh nafsu tuh… semua cerita dianggap cerita sex, wanita dijadikan objek sex, lama-lama semua yang dilihat diracuni oleh nafsu sex, akhirnya semua yang dilihat pengen di “embat”…(Asal jangan kambing aje lu embat) hihihi…maaf biar ada joke sedikit bos…
December 20, 2007 at 3:14 pm
pemuda rakyat
Waduh Ndut, aku nggak sesadis itu untuk bercanda bokep di relate’kan dengan tragedi. Kejam sekali dikau!!!!!!!!!
Aku setuju sama Putra, bukan dalam artian untuk kembali “mengeksotiskan” perempuan ketika kita membaca sebuah buku sejarah dari persepektif perempuan. Tapi, jujur aja deh, sampai detik ini sejarah dan kehidupan masih sangat di dominasi oleh kaum adam.
December 22, 2007 at 1:17 pm
soulidaritas
kenapa harus diperdebatkan laki dan perempuan……selagi dia korban harus…tetap di bela tul nggak bro..kebetulan aja yang nulis tuh buku cewek, jadi yang diangkat ya perempuan tapi janga salah juga bahwa korban 65 kalau dikalkulasi lebih banyak cowok…. mereka diperkosa hak politiknya, bahkan hak hidupnya…..bukan berarti aku pembela kaum adam…..yang terpenting mari kita posisikan korban 65 tidak dari jenis kelamin…tapi tetap sebagi korban…….dari keberingasan satu rezim……rezim orba…dan tentara sebagai anjing pemburu !!!!!
December 23, 2007 at 2:46 am
putra
Buat soulidaritas memang korban harus di bela, dan memang korban ada laki ada perempuan. Ada saatnya mereka sama-sama korban, ada juga saatnya mereka dipisahkan tanpa bermaksud menyepelekan laki-laki korban. Ketika masalh tragedi 65 dikaitkan dengan patriarkhi maka perempuan adalah korbannya. Patriarkhi juga termasuk didalam kancah bagaimana tragedi itu muncul dan diperdebatkan. Patriarkhi juga menjadi bagian dari suksesnya kepemimpinan laki-laki ordelama dan orde baru. Dari cerita Sang revolusioner soekarno, dan Sang Pembangun Soeharto. Saya pikir Generalisasi korban tidak akan mampu menyentuh kompleksitas persoalan yang pada dasarnya penuh dengan konteks dan pergulatan.
Menurutku kalkulasi bisa membutakan masalah, karena asas kalkulasi sangatlah nomerik dan tidak mampu menyentuh sisi psikis pasca 65. Memang banyak yang meninggal dan ditangkap para adam tapi dampak pasca 65 juga berdampak pada generasi selanjutnya. Perempuan yang diperkosa, perempuan yang kehilangan suami yang susah payah mebesarkan anak, begitu juga anak-anak tanpa orang tua bisa terkena biasnya. Korban itu banyak jenisnya dan dimunculkan oleh sebab-sebab yang kompleks, jadi tragedi itu muncul dari multi sebab. Salah satu sebab itu adalah patriarkhi.
December 29, 2007 at 6:56 am
Agung Alit
Mohon dengan hormat untuk tidak pakai nama samaran, tidak baik untuk kesehatan bangsa !
Buku Mbak Ita F Nadia, Dahsyat !
Setiap membaca buku ungkapan pengalaman selalu ada saja mutiara mutiara yang bisa dipetik untuk memperkaya batin.
Buku ungkapan pengalaman yang disusun dengan bahasa jujur sederhana dan mengalir apa adanya, enak dibaca dan menyentuh hati saya. Saya belajar empati.
Saya tidak punya komentar, saya hanya bersyukur buku itu terbit karena penting agar generasi muda Indonesia dan kita semua tidak dibohongi oleh sejarah dan mengulang sejarah, seperti kata orang “history ignored history repeated”.
Sebagai bangsa yang besar kita semua wajib tahu seluk beluk sejarah bangsanya sendiri walaupun memang terasa pahit dan sulit karena pasti akan menyentuh kepentingan orang orang atau tokoh tokoh yang masih hidup dan payahnya lagi sedang berkuasa.
Semoga buku itu akan semakin banyak dibaca oleh putra putri Indonesia, sehingga semakin menjadikan bangsa ini terutama pejabatnya untuk tidak membohongi rakyat .
Rakyat taat
Pejabat tak berkhianat
Negara Kuat
January 1, 2008 at 3:01 pm
antonemus
bli gung alit memang bijaksana bijaksini sekali. out of topic neh. tiap orang memang sebaiknya bertanggung jawab terhadap idenya. salah satunya ya dengan menyebut identitas yg jelas.
kalo tidak jelas identitasnya, kadang2 kita kayak bicara dg hantu. masak hantu diajak bicara. itu kan jd kayak sinetronnya indosiar? hehe..
lagian, bukankah tidak jelasnya sejarah kekerasan 65 juga terjadi karena ketidakjelasan identitas pelaku? *ini bener ga sih? hehe*
sekalian buat yg antiantonemus, wah, keren nok. aku punya penggemar gelap.
tp jd goblog itu hak setiap orang. lha wong memang ga ngerti masak mau bilang ngerti. itu namanya sok tahu. menjadi goblog bukan tindak kriminal.
buat semeton titiang ring klumpu, ayo dong. tambah lagi tulisan2 lain. yg nyak cak seperti biasa. boleh juga tentang global warming dan kekerasan di rumah tangga. *apa coba?*
salam..
January 2, 2008 at 11:07 am
putra
Saya pikir masalah nama, memang antara penting dan tidak. Maaf bagi saya yang terpenting adalah isi dari pesan, pertanyaan dan opininya. Kadang-kadang nama bisa menjebak, nama mengandung kuasa. Banyak terjadi kalau membaca sebuah tulisan, kecenderungan nama penulis menjadi prioritas untuk membaca. Kadang-kadang kalau orang yang gak bernama, dan bukan tokoh sering disampingkan, atau menjadi pilihan kedua. Kalau memang nama-nama ini adalah nama samaran, mungkin kita saja yang tidak tahu konteksnya karena nama juga ada berbagai macam, ada inisial, nama formal seperti di KTP, nama ejekan waktu kecil dll. Yang terpenting bagi saya biasakanlah membaca isi tulisan, bukan nama atau tokoh.
January 2, 2008 at 12:50 pm
Agung Alit
Beh Pak Putra jeg nyakcak sajan benar benar cucunya Foucault.
Yaaah dibilang penting yaa penting karena seringkali nama sebenarnya dirindukan sang penulis maupun pembaca, kadang kadang dengan samaran ada juga penyembunyian sesuatu. Sepakat bahwa yang penting substansi nama sendiri disamping kuasa juga ada ‘substansi kayaknya Pak Tre.
Untuk pak Antonemus, bijaksininya lebih banyak daripada bijaksana, jangan nak merendah terus meninggi juga manusiawi dan hak setiap orang, kalau merendah untuk menguji baru gawat…
January 6, 2008 at 6:49 am
namamu
…………. dan namaku adanya di KTP saja sebenarnya negara tdk peduli itu, kalo otakmu dan nuranimu negara baru akan peduli kalo kamu jalan berseberangan tidak di atas rel politik maling! (KONFERENSI INTERNASIONAL
MENENTANG KORUPSI 28JAN – 1FEB DI BALI)
January 14, 2008 at 12:43 pm
soulidaritas
bung putra mungkin benar, tapi ingat budaya patriarkhi juga tidak berdiri sendiri, tidak hanya di monopoli oleh kaum adam, ada sumbangsih cukup besar dari kaum hawa…untuk melanggengkan patriakhir itu sendiri. Adalah satu resiko ketika tidak adanya keberanian dari kaum hawa untuk tampil ke permukaan…sama juga hal itu akan terjadi ketika kaum adam pun tak mampu melawan satu tradisi untuk merontokkan dominasi kaum hawa, ambil contoh saja di kebudayaan masyarakat padang yang lebih matrilinial. malah menurutku kita tidak mesti terjebak lagi akan perbedaan lain jenis. Dalam memandang korban 65, generalisasi korban tidak selamanya salah untuk kita lakukan, mungkin pada awalnya hal ini yang harus kita lakukan, baru kemudian apa yang seperti bung putra bilang mereka kemudian dipisahkan, itu adalah masalah pendekatan dan metode bagaimana kemudian kita melakukan pembelaan terhadap si korban baik itu laki-atau-perempuan
menurutku kalukulasi tidak akan membutakan masalah, kita lihat dulu konteksnya seperti apa, dengan kita mengetahui jumlah korban kita akan semakin tahu betapa kejamnya rezim orba, satu nyawa saja cukup bisa dikatakan sadis, apalagi jutaaan nyawa yang tak berdosa…….dan yang namanya kalkulasi yah sudah tentu nomerik…karena hal itui berkaitan dengan angka..tanpa adanya kalkulasi mungkin hal itu yang membuat permaslahan semakin bias dan tidak jelas….apakah kita hanya cukup menjawab, oh..korbanya laki-laki, anak-anak, dan perempuan, ketika ada anak cucu kita yang menanyakan berapa banyak korban keberingasan orde baru di tahun 65……dengan demikian malah kita yang nantinya dituduh menyembunyakan fakta sejarah….
bung putra bukankah kesuksesan soekarno, dan soeharto ada peran sang kaum hawa yang cukup besar. Apalagi di negeri ini, masalah Ibu negara adalah syarat mutlak yang harus ada jika seseorang ingin menjadi pemimpin [kone..], mungkin pepatah kuno ada benarnya, keruntuhan atau kekuatan sebuah negara disebabkan oleh wanita……
resferensi ; [ TROY, Julius Caesar, turunnya adam ke bumi, Keberhasilan sang nabi Muhammad SAW, etc]
just disscusss…..
January 26, 2008 at 4:01 am
putra
Buat Soulidaritas makasih atas masukannya, memang benar patriarkhi dalam proses internalisasinya tidak memandang lawan jenis, entah laki atau perempuan. Perempuan tanpa disadari mengamini patriarkhi bahkan meneguhkan patriarkhi itu sendiri. Seperti dalam ibuisme masa orde baru.
Posisi saya di sini sebagai seorang pembaca dari sebuah buku. Buku ini berupa testimony dari korban sendiri, karena itu saya tertarik. Buku ini berupa pengakuan sejarah biadab 65 bukan dari versi penginterpretasi seperti sejarawan atau antropolog, melainkan dari subjek yang menjadi korbannya langsung.Bagi saya ini baru, karena sedikit buku seperti ini makanya buku ini mampu menambah perpspektif saya tentang hiruk pikuk masalah tragedi 65. Memang ada buku-buku biografi, tetapi dari perspektif korban perempuannya minim.
Dalam konteks penyiksaan terhadap korban perempuan dalam tragedi berdarah itu mau-enggak mau patriarkhi harus diikutsertakan. Bukan hanya itu, patariakhi juga harus diikut sertakan dalam kasus perempuan-perempuan yang ditinggalkan sang suami ketika dipenjara atau ketika sang suami meninggal dibunuh. Mereka mengalami diskriminasi gender seperti mereka dianggap janda pelacur komunis dimana masyarakat melecehkan keberadaan mereka. Karena itu buku ini penting bagi saya secara pribadi. Seperti di Bali misalnya, banyak janda korban diserobot tanahnya oleh tetua laki-laki karena sang suami telah meninggal. Mereka enggak bisa melawan karena tidak memiliki kuasa, bukankah masalah ini harus dihubungkan dengan patriarkhi sebagai salah satu indikator?
Dari sini kita akan melihat bahwa masalah 65 bukan hanya masalah angka berapa orang yang terbunuh. Angka yang fantastis memang benar mampu membuat kita bergidik, dan jijik terhadap kekerasan, tetapi berbicara angka akan lupa melihat pasca dari tragedy itu yang berdampak secara psikis terhadap korban-korban serta generasi selanjutnya. Angka-angka tidak akan mampu melihat bagaimana korban-korban perempuan ini mengalami diskriminasi sosial yang sangat khas patriarkhi, tidak akan mampu melihat bagaimana mereka diusir oleh orang tua mereka sendiri karena mereka korban pemerkosaan.
Kesuksesan sebuah kekerasan bukan hanya terlihat dari jumlah korban yang meninggal, tetapi juga dari dampak yang berkelanjutan setelah itu yang justru sulit diangkakan sebagai sebuah fakta. Mengeneralisasikan korban tanpa kelamin maka akan menutup kemungkinan kita untuk melihat bagaimana kelamin-isme bermain dalam tragedy ini, yang pada dasarnya memang ikut bermain. Kelamin adalah senjata kaum adam mengoyak tubuh perempuan hingga berdampak setelah masa pembebasan, yang akhirnya pembebasan pun mejadi sebuah sebuah penjara lagi, yaitu penjara sosial bagi mereka. Korban tanpa kelamin maka si laki-laki pelaku akan aman….
Kesuksesan sebuah kekerasan juga harus dilihat dari keberhasilanya menciptakan harmoni. Keberhasilannya membuat situasi damai tanpa gejolak, situasi khas orde baru. Seperti ketika sang ibu korban takut pengalaman buruknya diketahui oleh sang anak…
January 29, 2008 at 9:24 am
Ibu
kalian harus mulai bekerja, mencari uang biar bapak / ibu dirumah bisa tidur nyenyak.
ga ada kerennya kalo cadas berpikir tapi bapak / ibu masih membanting tulang untukmu
January 30, 2008 at 3:20 pm
antonemus
buat putra, thx pencerahannya soal nama. kita melihatnya dr sudut pandang yg beda. kalo aku ngeliat penyebutan nama itu sbg bagian dari tanggung jawab atas apa yg kita sampaikan saja, tidak mikir jauh2 soal kuasa di balik nama.
nah, lanjut gen diskusine. maju jalan..
January 30, 2008 at 6:12 pm
soulidaritas
untuk sang ibu,…mungkin itu pengalaman anda pribadi…he..he….gak apa kok curhat….makanya jangan melulu cari kerja…sekali-kali bikin lapangan kerja…..minimal untuk diri sendiri….jangan dikira klo kita berpikir cadas…bukanlah satu pekerjaan…dengan membiasakan berpikir….mungkin otak kita akan jadi lebih encer…dan itu membuktikan bahwa otak kita telah bekerja,…alangkah lebih baik klo tafsir tentang kerja itu tidak melulu
diartikan mencari duit…..
Hidup bekerja……!!!!!!!
February 4, 2008 at 2:14 pm
x.x
benar juga kata ibu, kadang bosan juga dengar perebatan terus kalau periuk isinya cuma kecoak, kalau dompet isinya cuma KTP, kalau rumah tanap atap, ya nasib, ya nasib, bantu aku cari pekerjaan.
March 10, 2008 at 4:19 am
+/-
tanggung jawab seperti apa bang/bung/mbak antonemus? bukannya kita masuk ke dunia maya ini dengan “harapan” diri menghilang lalu hadir tanpa wajah?
ibu oh ibu nasibmu….:(
anak-anakmu pergi berdemo pulang membawa lebam di tubuh. esok lulus kuliah , tak sanggup membahagiakan mu, oh ibu nasibmu kini…
oh ibu kapan engkau berhenti bekerja dan bersantai dirumah? menunggu anak yang pulang membawa uang untuk makan sehari-hari? oh ibu nasibmu kini ibu oh ibu oh ibu i love you ibu oh ibu ae lop yu peri mas
March 29, 2008 at 5:01 am
wira santana
tolong kembalikan diskusi ke arah yang benar choy!
April 9, 2008 at 3:54 am
+/-
arahnya kemana ya?? janti naek 8, pake taksi? ojek mas..ojek..benar kok arahnya ke janti..taksi…taksi…berapa? sampe jalan solo 10 ribu..ojek..ojek..
April 9, 2008 at 4:19 am
wira santana
kir, kiri, kiri,……………….kiri, mas!!!