“…wishful, sinful, our love is beautiful to see I know what I would like to be, right back where I came…”
The Doors/wishful sinful/The Soft Parade
Saya memiliki tato pada lengan sampai kaki kanan saya dan gambar matahari memenuhi punggung, yang bagian atasnya bertuliskan “Rest In Pain”. Tato di lengan sampai kaki saya itu berpola celtic yang disambung dengan pola biotech. Keseluruhan tato pada tubuh saya memakai tehnik black and grey kecuali pada bagian kaki memakai tehnik color. Mesin tato yang digunakan oleh “artis tato” yang mentato tubuh saya masih berupa mesin sederhana yang dirakit sendiri dari bekas dinamo kipas angin dan jarum yang digunakan adalah jarum jahit ukuran duabelas. Tinta yang digunakan pun bukanlah tinta yang biasa digunakan di studio-studio tato, tapi tinta gambar merk rotring yang biasanya digunakan untuk mengisi ulang pena gambar arsitek. Yang menorehkan tinta pada tubuh saya bukanlah artis tato profesional, tapi seorang teman sepermainan yang tadinya menggelar lapak tato dipinggir jalan kota Bandung[i].
Dulu sebelum saya memiliki tato, saya selalu memandang takjub pada tubuh yang penuh dengan tato. Saya selalu berpikir bagaimana mereka menahan sakit pada tubuh mereka, mengapa mereka rela menahan sakit, dan apa kepuasan yang mereka dapat setelah itu? Titik balik dimana saya merasa saya harus merasakan semua jawaban pertanyaan itu adalah ketika kakak saya di damprat habis-habisan oleh bapak karena ia mentato tubuhnya. Bisa dikatakan kalau saya sedikit tertantang dengan aturan ketat orang tua yang terasa begitu erat mengikat dengan tameng norma-norma umum. Tato pertama yang saya buat adalah tato matahari di punggung saya beserta tulisan diatasnya. Menurut beberapa teman, saya cukup berani (sebagai seorang yang sama sekali belum pernah ditato) untuk membuat tato sebesar itu. Tato itu hanya menyisakan sedikit ruang kosong di punggung saya. Memang benar, proses mentato tubuh terasa sakit, tapi kenikmatan setelahnya mengalahkan (ingatan akan) sakit itu sendiri.
Kenikmatan bertato saya dapatkan ketika ada seseorang (yang juga bertato) memperhatikan tato yang saya punyai. Selain itu, ia menjadikan saya “berbeda” dengan orang lain, ia membentuk kedirian saya di hadapan yang lain. Meskipun pembentukan kedirian saya mengarah kepada yang negatif dihadapan yang lain. Ia menjadi negatif ketika dihadapkan pada moralitas bentukan kuasa. Tato yang melekat pada tubuh saya, bisa dilihat sebagai “pemberontakan” atas batas-batas “kenormalan”. Sebaliknya, tubuh saya tidak “melakukan” apapun dihadapan yang lain yang juga memiliki tato. Dihadapan yang lain ini saya dibedakan dari tehnik, pola, dan seterusnya yang berhubungan dengan tato. Dengan kata lain selalu ada sekat antara saya dengan yang lain, bisa saja sekat itu berupa cermin yang memantulkan diri saya, bisa juga “tembok” yang menghadapkan saya pada sesuatu yang benar-benar berbeda.
Pertama-tama others yang mesti hadapi adalah orang tua yang mengekang dengan norma-norma kenormalan bentukan kuasa. Melalui norma-norma ini, kekuasan yang dihadapi tidak lagi berupa kuasa (negara) yang berada nun jauh disana, melainkan kuasa (negara) yang sudah melekat pada tubuh orang-orang sekitar yang sangat dekat dan kasat mata. Rezim disiplin, dalam pandangan ini, tidak perlu jauh dicari, ia berada dekat sekali, bahkan sangat dekat. Sebuah “perlawanan” yang sangat beresiko. Yang dipertaruhkan disini bukan sekedar pengurungan tubuh secara fisik sebagaimana yang terjadi pada sebuah perlawanan pada kuasa negara. Terkadang yang dipertaruhkan disini adalah “kehilangan keberadaan diri” dihadapan orang tua. Perkataan seperti misalnya, “Memalukan nama keluarga!” bisa dilihat sebagai salah satu ekspresinya. Mereka juga adalah cermin dimana saya selalu berusaha mencari cara untuk memenuhi hasrat mereka. Kenikmatan ketika saya bertato juga bisa dicari jejaknya dari sini. Ketika mereka berpaling dari saya, saya berusaha menjadi apa yang bukan mereka untuk menarik perhatian mereka lagi.
Dengan kontras, ketika mereka kembali berpaling pada saya namun menunjukkan ketidak sukaannya, hal itu menggoreskan luka mental pada kedirian saya. Kembali lagi saya terasing dari hasrat yang lain. Perasaan berdosa ini kemudian menjadi perantara atas dua kemungkinan terbesar. Pertama, saya akan “terpuruk” dalam perasaan berdosa dan merasa terancam dengan dosa yang telah saya lakukan. Perasaan terancam ini kemudian akan menyarankan suatu keadaan siaga sekaligus ketakutan. Bersiaga agar tidak lagi melakukan kesalahan, karena dengan kesalahan itu orang tua saya berpaling dari saya. Pada saat yang sama saya takut mendapat hukuman setelah apa yang saya lakukan. Dengan demikian dengan tidak langsung (dan dengan disadari ataupun tidak) orang tua saya adalah kuasa yang mesti saya patuhi (meski secara verbal tak ada kalimat pelarangan), mereka menundukkan (tubuh) saya menjadi tubuh yang patuh. Kedua, saya akan tetap “melawan” kuasa itu dengan segala konsekwensinya. “Perlawanan” ini lebih disebabkan karena luka yang digoreskan itu. Sementara perasaan berdosa itu adalah pemicu “perlawanan” tersebut. Luka itu mencederai kedirian saya sehingga saya bersikap defensif yang lebih mengarah pada agresifitas binatang yang terlukai.
Secara fisik, tubuh yang dipenuhi tato adalah tubuh yang “mengancam” kekuasaan dalam kemampuannya untuk “tidak tunduk”. Masyarakat moralis “mendapat” legitimasi kuasa (negara) untuk “menyingkirkan” tubuh yang kira-kira memiliki potensi untuk “bersaing” memperebutkan kekuasaan. Dengan kekuasaan yang ia peroleh inilah mereka menunjukkan kontras baik-buruk tubuh dengan tato. Ketidak jelasan batas baik-buruk disamarkan dengan mengetengahkan moralitas bentukan kekuasaan (negara) melalui (salah satunya) media. Pada akhirnya seseorang tidak lagi dikurung dalam sebuah ruang sempit penjara, namun ia merasa selalu diawasi dan merasa dituntut untuk mengikuti norma-norma bentukan kuasa (negara). Penjara tanpa terali yang mengurung fisik inilah yang menciptakan tubuh-tubuh yang patuh. Patuh untuk mengikuti norma-norma bentukan, bahkan patuh untuk tidak “bernafas”!
[i] Untuk glosari istilah-istilah, pola, tehnik, jenis tinta dan jenis mesin tato, lihat: Hatib Abdul Kadir Olong, LKiS, 2006.


45 comments
Comments feed for this article
January 11, 2008 at 4:38 am
derraka
PARA HEDONIS KLASIK MELAWAN DENGAN TATTOO
Sebagai pembaca aku masih merasa penting dan sekaligus menuntut untuk diuraikan secara panjang lebar melalui beberapa kasus yang menjamah budaya otoritas sang kuasa atas tattoo terus stigmasi. Ada kepentingan yang kuasa tersembunyi untuk menjadikannya sebagai pusat disiplin melalui pengadopsian setiap potensi budaya daerah. Misalnya aku pernah dengar dari seorang teman bahwa di Kalimantan pedalaman dimana tattoo adalah sebuah apresiasi, bagian dari beauty elements hingga dia juga sebuah anugerah yang Kuasa. Bagaimana cara seperti ini lalu diadopsi oleh lembaga pemasyarakatan di perkotaan sehingga menjadikannya dua kategori tattoo yang memiliki sinifikasi pesan yang sangatlah berbeda dalam memakai medium yang sama yaitu kulit manusia.
Tatto di KTP yang selama bertahun-tahun menempel, yang ini jelas bukan karena masalah jenis tinta atau jarum printer yang kemudian merangsang orang-orang untuk melakukan perlawanan. Sebelum berhadapan dengan jarum tattoo, bayangkan sejenak seandainya ex-tapol pasca tragedy 1965 keluar dengan secuil tatto di tubuhya maka apa yang akan terjadi, bila itu kamu? Mereka jelas akan berjuang mecabik-cabik tubuhnya sendiri. Tidak ada hubungan yang jelas antara tattoo dengan melawan moralitas umum bila yang menganugerahinya adalah sang Kuasa sendiri dan kamu menambahnya dengan rasa nikmat melawan yang instant. Kamu sendiri adalah pihak kuasa atas tubuhmu sendiri. Sedangkan pada diri ex-tapol, kuasa atas tubuhnya sendiri telah dirampas oleh negara. Coretan yang katanya seni tahan rasa atas jarum lalu dipertontonkan secara paksa tersebutlah sebenarnya yang ‘mengganggu’ siapapun. Aku juga akan sangat sedih bila ex-tapol itu tidak bisa menghilangkan tattoo sang kuasa. Dalam kasusmu ini, jadi melawan anugerah “kuasa” tidak berarti melulu melawan pusat moralitas, hal ini sangat tergantung ada pada siapa pihak kuasa tersebut yaitu negara atau kamu sendiri. Seperti apa yang kamu anggap perlawanan saat mentatto tubuhmu sendiri menjadikan seolah-olah orang-orang yang tidak memiliki tattoo tersebut adalah orang-orang yang sok moralis atau orang-orang yang tidak mampu menahan sakit. Lalu kamu lebih memilih tattoo dan terus merayakannya.
Sisi menarik di akhir tulisanmu sangat pendek dan paragraph sebelumnya hanya berusaha mengingatkan aku akan tubuhmu dan tubuh saudaramu (..yang ……) dan maaf aku belum terangsang! Menegaskan kekompakan kalian berdua “MELAWAN DENGAN TATTO”, bersaing jadi Yakuza donk!, atau “MELAWAN DENGAN RESTAURANT” wah!….yang ini lebih lezat bisa makan bareng Yakuza! Undang segera kami untuk makan gratis! Bagiku mungkin judul masih kurang tepat kalo diikuti oleh kata ‘melawan’ atau yang dikonotasikan seperti itu jadi terasing dengan kata yang lain tapi itulah yang dianggap tepat jadi sudah cukup berjuang dan menantang. Kata melawan menjadi sebuah merk franchise bisa ditempel dimana-mana yang sesungguhnya itu kopian komitmen palsu.
Bagaimana kalo “MELAWAN DENGAN MIE INSTANT” tawarannya begini, bagaimana bila ajakan tersebut diganti dengan “MELAWAN MIE INSTANT” jadi berani melawan kepalsuan disaat perut lapar, rasa sakit dialokasikan dengan benar bukan di usus besar tempat muara MSG (monosodium glutamate), tapi pada tujuan tubuh atau badan. Akibatnya kemudian rasa sakit tersebut bisa dirasakan juga oleh pengecer, supplier hingga distributor dan akhirnya pihak pemodal dan juga negarawan yang melalui hasil survey anthropology berhasil membelokkan selera pasar menuju Sabang sampai Merauke.
Tatto dan rokok adalah budaya yang lahir kembar, saat ditatto sambil merokok sebuah kehormatan yang mewah luar biasa untuk menikmati budaya ini yang kemudian membayarnya dengan rasa sakit. Ingat TKW di luar negeri para pahlawan penyumbang devisa terbesar setelah minyak, mereka justru kadang dibayar dengan rasa sakit yang tidak pernah ada maksud untuk menawarkannya pada majikan. Mereka tidak pernah bangga karena telah berhasil melalui rasa sakit yang mendalam. Lalu, adakah niat atau usaha untuk, “MELAWAN DENGAN ROKOK”, hati-hati! yang ini perlu keberanian extra untuk menggantikannya dengan “Melawan Rokok” karena akan membuat banyak pihak merasa tersinggung. Walau imbauan sudah ada tapi tetap diharapkan anda merokok, bukan merokok yang menyebabkan penyakit yang harus dihiraukan tapi merokok yang mengalirkan profit yang diharapkan. Kelompok ini saling genggam, bahu-membahu untuk berjuang bersama-sama dengan rokok atau berjuang sambil merokok dan boleh disebut ‘pejuang tembakau’.
Coba kita lihat ke belakang dalam ruang lampau sejarah kita, sesungguhnya merokok termasuk budaya yang paling tua dalam sejarah peradaban manusia setelah ‘ngupil’, lihat saja target sasaran kenikmatannya adalah disekitar itu-itu juga. Karena dianggap budaya paling tua maka kita hormati kewajaran tersebut dan rela menganggap sah bila mereka harus tersinggung. Pertama lapisan kelompok tersebut adalah Menperindag dan Dep. Perpajakan karena telah gigih mengundang investor mendirikan pabrik rokok dengan niat mempekerjakan para perempuan di luar rumah dan departemen yang kedua akan kehilangan pemasukkan bila pabrik ini bangkrut. Sedangkan Depnaker, sesungguhnya mereka juga penganggur, untuk mengurangi pengangguran para pengangguranlah yang sebenarnya menyumbangkan pekerjaannya buat mereka jadi nggak ngaruh sama sekali. Ke-2 dan yang paling sensitive adalah para ibu buruh penggiling rokok tapi sebelumnya adalah para bapak yang tega mempekerjakannya menjadi penggiling. Menjadi buruh penggiling bukan berarti lebih baik daripada menjadi ibu rumah tangga saja. Walau hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak menyandang kata ahli, mereka semestinya juga harus diperhatikan oleh negara. +3 adalah para entrepreneur dan para musisi buruh yang siap menjual trend karena sensasi rokok adalah reprepsentasi kelakian yang gagah, bila ini ditutup itu berarti menutup panggung megah dengan gemerlap seribu cahaya tempat mereka beraksi/bekerja/cari duit sambil membanggakan diri. Ke-empat adalah mereka yang mendukung ketiga lapisan kelompok diatas secara membabi buta, sadar dan setengah sadar. Merokok seenaknya mempertotonkan buangan kepulan asap coklat keputihan yang sebenarnya sarat mengandung muatan bijih bau mulut yang dahsyat, dua lapis pencemar berbahaya bagi paru-paru bersih anak-anak dan lingkungan kita. Mereka beraksi di tempat-tempat umum dan kadang juga dengan tega mendahulukan kepentingannnya di depan anak-anak. Jangan berusaha melarang mereka karena mereka punya HAM sedangkan yang lain masih dianggap berjuang untuk mendapatkannya dan bersyukurlah karena masih untung anda tidak diusir dari komunitas mereka.
Diakhir comment ini aku cuman pingin bilang, melawan dengan penanda tidak akan pernah menjadikannya sebagai petanda sebuah perlawanan. Tatto dan Rokok menjadi attribute non sign dari sebuah perjuangan orang-orang (konsumen) primitive dengan memakai cara-cara yang primitive pula dalam usaha meninggalkan identitas primitive itu sendiri. Awalnya mereka melawan medium tubuhnya sendiri yang kemudian menjadikannya sebagai sebuah etalase kemunafikan. Bagi perokok, perjuangan meraih kepercayaan diri tidak pernah disadari bahwa sebagian dari porsi perjuangannya diperani, disokong oleh kekuatan kapitalis modern (lihat iklan rokok yang sangat macho dan sasaran perokok rata-rata adalah penduduk miskin yang memiliki penghasilan kurang dari 20.000 rupiah per hari) menjadikannya symbol sebuah perlawanan yang rancu dan sulit dicerna tujuannya. Ego dan Kenikmatan menciptakan seonggok identitas yang tidak akan pernah mengarahkan sebuah kepentingan perjuangannya untuk orang lain kecuali kaum kapitalis. Mereka membelokkan rasa sakit menjadi urusan kesenangan belaka. Selamat mencoba, now or never et moi, jamais dans la vie!
January 15, 2008 at 4:49 pm
nama?
mas keta,
saya sebenarnya kurang paham tato.
tapi baiklah saya akan belajar lebih banyak.
saran saya, sebelum menulis perihal tato dengan kesungguhan, bagaimana kalau kita berdiskusi dulu soal…
tato, hedonis dan perlawanan
atau
tato, hedonis, dan perlawanan?
jamais dans ma vie itu sepertinya artinya hedonis makan mie ya?
January 16, 2008 at 8:51 am
dod
ngomen lagi aahh, (setelah lama ga ngasih komen…)
kehidupan keseharian kita tuh berangkat dari satu titik kondisi sejarah tertentu (saya kira semua orang juga paham), bukan dari suatu hal yang abstrak dan penuh dengan kejelasan. termasuk keberadaan kita saat sekarang dan keberadaan orang2 tua kita. dan berangkat dari titik itu kemudian menuju ke perkembangan peradaban yang cnderung lebih fleksibel dan kompleks. dan salah satu contohnya adalah tato itu sendiri.
Tato, adalah kegiatan yang tidak muncul dengan sendirinya. tidak jatuh dari langit tidak juga tiba2 keluar dari comberan. tato ada sejarahnya, sebab masa sekarang adalah hasil perkembangan dari masa yang ada sebelumnya.
meminjam dari kata bangsa Samoan[1]; tatau, adalah asal mula kata tato. yg artinya tanda atau menusuk lebih dari satu kali. dan sejarahnya mulai dikenali dari jaman Neolithikum oleh Eurosian. bahkan mummi Otzi the iceman[2] yg diperkirakan berasal 4abad SM, terdapat bekas tato disepanjang punggung, kaki sebelah kiri, dan pergelangan kaki sebelah kanan. jaman paleolitikum (10ribu tahun yg lalu) praktik tato juga ditemukan dijepang. sementara itu, tato juga merupakan salah satu budaya etnis tertua bangsa Indonesia yang ditemui pada suku Mentawai dan Dayak[3].
dari segi tujuannya, tato adalah bersifat dekoratif dan keperluan spiritual seperti:
tata cara tuk penyembahan, tanda dari status dan pangkat sosial, tanda pemberani, tanda beragama dan kesetiaan, daya tarik seksual, ikrar cinta, hukuman, jimat, proteksi diri, tanda khusus bagi orang buangan, tanda bagi budak dan tahanan.
bahkan sekarang ini juga bisa diartikan sebagai kosmetik (permanen make-up); mempertebal alis, menambah tahi lalat, dll.
penolakan terhadap seni tradisional tato di eropa bermula seiring dengan
penyebaran agama kristen. dan di indonesia sendiri kebiasaan membuat tato mulai pudar karena pada tahun 1970 dilarang oleh pemerintah (berkaitan dengan peraturan pemerintah tahun 1970an mengenai perencanaan pembangunan hutan), namun coba dibangkitkan lagi oleh sub-kultur punk dan sub-kultur lainnya dan alhasil tato pun kembali meramaikan pasar di indonesia. namun dari mananya lagi yang disebut perlawanan jika sudah dipasarkan??
dan peran keluarga dan orang2 sekitar tentang “Memalukan nama keluarga!”, hal ini mau ga mau harus dikaitkan dengan K, apakah tujuan-mu mau memalukan keluarga sendiri?? saya rasa tidak…walaupun saya belum pernah kenal dengan keluarga si K.
menurutku, dalam tulisan ini (paragraf trakhir), tidak memiliki landasan yang kuat:
- Secara fisik, tubuh yang dipenuhi tato adalah tubuh yang “mengancam” kekuasaan dalam kemampuannya untuk “tidak tunduk”. Masyarakat moralis “mendapat” legitimasi kuasa (negara) untuk “menyingkirkan” tubuh yang kira-kira memiliki potensi untuk “bersaing” memperebutkan kekuasaan. dst… -
negara memang benar selalu menghancurkan dan mengadopsi setiap lembaga yang ada disekitarnya, termasuk lembaga terkecil yang kita punyai; yaitu keluarga…
namun sayangnya tora sudiro, personel SID, menejer saya dikantor, axl rose, tidak mempunyai tujuan tuk memperebutkan kekuasaan. jika segalanya digeneralisasikan seperti ini maka akan semakin memperkuat posisi sistem kapital yang selalu menampilkan semua hal untuk dilihat dari luarnya saja tanpa harus membedah dalamnya.
bukankah media sudah mengenal tato bukan lagi sebagai hal yang tabu?? A&E’s Inked dan TLC’s Miami Ink & LA Ink (Tattoo Tv) adalah media yang juga telah dialih siarkan oleh tv di indonesia, karena apa?? karena peminat pop-kultur dan sub-kultur diindonesia pasarnya sangat menjanjikan.
begitu pula dibali, tak terhitung lagi banyaknya studio tato yang ber-operasi. masihkah mereka disebut dipenjara oleh norma-norma??
apakah orang2 yang ber-tato patuh terhadap aturan2 yang diberikan kepadanya?? apakah eminem patuh dengan norma?
semuanya sangat tergantung dari tujuannya, karena tato bukan penentu terhadap perlawanan ataupun pemberontakan. tato tidak akan pernah menyentuh permasalahan sosial yang terjadi, tato hanya objek yang menerangkan tujuan subjek, bukan sebagai subjek.
sebab pengalaman kehidupan akan tertulis kedalam tato, bukan tato yang menuliskan alur kehidupan. dan tentu saja tidak ada ancaman tuk negara hanya dengan melalui tato…
cheers&beers
D
sumber-sumber (maaf bagi yg ga bisa berbahasa inggris)
[1]. http://en.wikipedia.org/wiki/Samoan_language
[2]. http://en.wikipedia.org/wiki/%C3%96tzi_the_Iceman
[3]. http://www.geocities.com/tattoosind/tribal-artikel.htm
January 25, 2008 at 3:48 am
k
melawan(dengan)tanda,melawan (dengan) tattoo, melawan (dengan)mie, melawan (dengan)yakuza, melawan(dengan)restoran, melawan(dengan)makan, melawan(dengan)sejarah, melawan(dengan)cinta, melawan(dengan)rokok, waaaaaaaahhhh banyak sekali…
tapi coba jangan dibaca kata yang dalam kurung…
melawan”dengan”tanda,melawan”dengan”tattoo, melawan”dengan”mie, melawan”dengan”yakuza, melawan”dengan”restoran, melawan”dengan”makan, melawan”dengan”sejarah, melawan”dengan”cinta, melawan”dengan”rokok, waaaaaaaahhhh banyak sekali…
tapi coba jangan dibaca kata yang dalam tanda kutip…
COBA YANG SATU INI DENGAN TEHNIK YANG SAMA DENGAN YANG DIATAS: MELAWAN(DENGAN MENJADI BAGIAN DARI)TAMAN65.
pasti menarik ya, kalau tanda-tanda diperhatikan dan dibongkar pasang dengan seenaknya??????
…..selalu
k
January 25, 2008 at 3:54 am
+/-
kenapa saya jadi bingung?
January 25, 2008 at 4:17 am
k
-/+, kebingungan adalah sumber dari segala sumber penderitaan, maka bertaubatlah. kembalilah kejalan yang benar dengan menjadi anak yang saleh(a). maka engkau tidak akan bingung, karena bertattoo membuat orang yang tidak berttatoo menjadi maka memberi koment yang lebih membingunkan lagi: siapakah penemu kuasa(negara)?dimanakah kuasa(negara) berada? mengapa tattoo menjadi (subkultur)pop? mengapa orang yang mengaku tidak mengkonsumsi sampah seperti budaya pop bisa memberi komentar atas budaya pop? apakah ia berkhianat dengan apa yang dia ucapkan? mengapa bahasanya menjadi susah? maka saya bertanya…… I’m not consume junk, brother..i’m sorry
kemudian memberi komentar dengan bertanya lagi: sejarah tattoo apakah berhubungan dengan sejarah saya? apakah saya tidak boleh menuliskan sejarah saya yang saya anggap cukup keren karenanya ia melawan?apakah kuasa(negara)mesti dihubungkan dengan kapitalisme (global yang gombal)?
maka dari itu semua pertanyaan itu mungkin jawabannya adalah IYA. tapi apa yang terjadi jikalau soehato ternyata tidak mati?maka kemungkinann jawabannya adalah tidak. maka kenapa jika pergi ke kaliurang lebih dekat lewat concat saya harus lewat tanjung priok? siapa suruh datang jakarta…sapa suruh datang jakarta..sendiri,sendiri, bingung,bingung sendiri, sendiri bingung..apakah komentar saya tepat? ah tenti tidak! lalu? lalu lintas. lintas darat? tentu bukan, lintas laut! ah..lintah penghisap darah,ah lintah darat,ah saya juga bingung
ada yang tidak bingung?
January 25, 2008 at 4:20 am
k
tuh hedonis klasik yang melawan dengan tattoo
tuh tattoo yang melawan hedonis klasik
any one?
January 30, 2008 at 8:01 am
c
nah trus… selanjutnya bagaimana
January 31, 2008 at 6:26 am
gerot
Saya ini bertato dan merokok…kok jd bingung yah….
February 14, 2008 at 1:40 pm
k
wah sama dong saya juga merokok dan bertato tapi tidak bingung
February 17, 2008 at 6:57 am
Miss Ika
Oom Dewa yang terhormat,
Aku bingung sekali seperti bli Gayroth… Terlebih lagi, Gung Aji Derraka dan Dodi yang tidak memberikan comment tapi menulis artikel hehehehe
Peace guys!!!
Tato??? aku cuma mau nanya, emang kalo bertato itu harus mempunyai arti ya??? soalnya Lelakiku selalu meledek tato burukku… dan doi selalu bilang kalo bertato itu ya harus bermakna, soalnya kan dibawa sampai mati!!! padahal menurutku, tato yang kubuat ini gak ada maknanya, aku cuma menikmati rasa sakit yang ter-aransemen. Secara, sakit yang terasa sangat teratur dan berirama waktu jarum tertorehkan…
Pokoke sakit itu sangat nikmat deh… makanya selalu ada keinginan untuk mengulangi lagi…
By the way, anyway, bus way, rail way, kamu juga menikmati yang itu kan???
Love – Peace – Sexee
February 28, 2008 at 5:16 am
dod
haii miss Ika.
mungkin krna perkembangan pemikiran kali yaa, jadi semakin banyak juga orang2 yang bertatto tetapi tanpa makna apa2 selain gaya-gayaan aja.
jadi saya asumsikan tatomu itu karya abstrak
, yang mungkin nantinya berharga tinggi.. LOL
hehehh
February 28, 2008 at 6:13 am
mister kurator
saya kurator tatto, mungkin tattonya mbak ika bisa saya pamerkan di museum, siapa tahu ada yang beli karena satu-satunya tatto tanpa judul, alias judulnya “tanpa judul”, cool sekali bok.
March 3, 2008 at 3:32 am
k
ya..saya ga tau yang mana bermakna yang mana tidak. yang bermakna buat saya belum tentu bermakna buat anda sekalian bukan? kecuali anda (atau siapapun yang disini) mau menetapkan satu makna yang universal.tapi kemudian permasalahannya: apakah itu mungkin?kadang tidak bermakna juga.lalu yang disebut gaya-gayaan apa tidak bermakna? ya belum tentu. kecuali anda yang mau menetapkan satu makna tunggal pada semua orang.
selain itu bisa juga maknanya punya bayak sisi (atau sudut, atau apalah), tergatung cara “baca”nya.
apa mesti semua orang “membaca” sesuatu dengan gaya, cara, teknik, metode (atau apapun itu) yang sama?
sejauh yang saya tau menara babel runtuh karena semua orang berbicara dengan bahasa yang sama.
pun demikian dengan perlawanan, tubuh (saya yang seksi) ini bisa jadi adala media perlawanan buat saya.melawan apa? the orfer of parents culture, mungkin? tapi kemudian yang mana yang disebut parents culture? ahhh kalau saya memberi komentar terlalu panjang nanti dibilang menggurui…..dibilang tidak menerima ruang plural (entah apa itu ruang plural)..
tengkyu
March 29, 2008 at 5:28 am
meika
……gue juga ada ada tatto disekitar “miss V ” warisan mantan gue!
April 3, 2008 at 10:25 am
RudY "Boxer"
Artikel aji”Deraka” perlu dibuat buku.
omong2 saya juga anggota “MASBERTO” (Masyarakat BerTato)
April 5, 2008 at 5:01 am
k
waaaaaaaaaaaahhhh meika, keren dooooong
April 11, 2008 at 9:03 am
pemuda rakjat
Oi, aku jadi ingat kakekku pada tempoe doeloe juga melawan dengan “tatto”
Cuma “tattonya” beda! Gambarnya ga jelas dan tersebar di seluruh badan. “Tatto” ini penanda bahwa dia pekerja keras di sawah ladang dan ga pernah mandi sesudahnya karena tenggelam dalam sloki arak dalam balutan canda tawa kaum tani.
Tentu saja “tatto” ini tanda perlawanan bagi kaum priyayi yang kerjaannya mandi melulu karena kelebihan uang sabun dari menghisap hasil kerja keras kaum tani.
“Tatto” ini sangat unik karena hanya terdiri dari satu warna. Orang sekarang menyebut “tatto” ini KURAP.
Mau? Mau? Mau? Mau? Mau?
April 15, 2008 at 6:10 am
rakyat memuja
ouaiiis!!
…….tatto dan kurap sama-sama produk gagal dalam medium perjuangan klas dan di bukan hasil konstruksi kelompok masyarakat untuk melawan kelompok masyarakat yang lain. Sekali lagi bila itu kakekmu penuh kurap bukan berarti kamu bisa seenaknya memasarkannya dengan mengemas sebagai sebuah tanda perlawanan. Sebaiknya carilah waktu yang tepat coba tanya kakekmu sekali lagi mungkin saja dia hanya sedang bersenang-senang dengan menganggap tubuhnya sebagai galleri dan mungkin juga kakekmu seorang pemalas seperti yang lainnya yang jauh tidak mengenal kata perlawanan.
…….kurap melawan priyayi!??????
…….kurap melawan TNI
…….kurap melawan Amerika
…….yang pasti,
…….kurap berjuang sendiri melawan antidot nya yaitu obat kurap
rm!
April 16, 2008 at 5:21 am
Peternak Kurap
huee jangan ngomong sembarangan, saya adalah peternak kurap paling militan. Jangan ngomongin kurap sembarangan, karena kurap berfaedah untuk alternatif pembangkit tenaga selain minyak. Karena itu saya sebagai peternak kurap merasa tersinggung karena tanggapan di atas terlalu melecehkan kurap. Bagi kawan-kawan di atas gak usah malu lagi dengan kurap, kurap adalah berkah terindah di dunia.
April 17, 2008 at 2:19 am
pemuda rakjat
Untuk Rakyat Memuja dan Peternak Kurap,
Kalian berhak atas penghargaan “Kurap Idol” dan kayaknya asyik klo dibuatin “Monumen Kurap Sakti” yang termasyur itu lho.
Klo aku mending milih ga bertatto dan ga berkurap, tapi bukan berarti ga melawan’kan…….?
April 22, 2008 at 11:35 am
K
halo. wahai kalian yang berkurap dan yang berternak kurap dan yanng anti kurap sudahkah kalian berjuang? kalau sudah berjuang, jangan lupa makan. cuci kaki sebelum tidur, pake selimut yang tebal biar ga masuk angin, pulang sebelum jam 9 biar ga dimarah mama, jangan minum minuman beralkohol ntar dimarah dokter, jangan makan-makanan yang berlemak ntar diabetes, stroke, dkk….DAN YANG PALING PENTING JANGAN BIKIN TATO! MEMALUKAN NAMA KELUARGA!GA BISA DAPAT KERJA! GA BISA JADI PEGAWAI NEGERI!GA DILIRIK CEWEK! DIAMGGAP GA BERMORAL! POKOKNYA JANGAN BERTATO!JANGAN BERTANYA! JANGAN/ GA USAH (BERUSAHA) NGERTI BUDAYA POP! KARENA (KATA DOD) BUDAYA POP ITU JUNK, SAMPAH, DSB…LALU MATILAH DENGAN TENANNG….SETENANG REMBULAN YANG MENGALIR DALAM KEBISINGAN TERIAKAN PROTES (BUDAYA POP)..
April 22, 2008 at 11:37 am
K
ANYBODY……….
April 30, 2008 at 9:09 am
RudY "Boxer"
Halo “K”… saya pribadi tidak sependapat dengan anda!
Sapa bilang BerTatto itu “memalukan nama Keluarga???” Sapa Bilang BerTatto itu ga bisa kerja!!!” Sapa Bilang Bertatto itu ga jadi pegawai negri!!!” Sapa Bilang Bertatto itu ga dilirik cewe!!!” dan Yang paling EXTRIM kata anda adalah “Bertatto Dianggap Tidak Bermoral”<— KATA SAPAA!!
BANYAK KOK YG BERTTATO BIKIN KELUARGA BANGGA, BANYAK KOK YANG BERTATTO JADI BOS DI KERJANYA BAHKAN LEBIH SUKSES, BANYAK KOK BERTATTO JADI PEGAWAI NEGRI,POLISI SAMPAI HAKIM. BANYAK KOK YANG BERTATTO PUNYA ISTRI CANTIK KELUARGA BAHAGIA….KALO MASALAH TIDAK BERMORAL… KANYAKNYA LEBIH BERMORAL KALO TIDAK MENGANGGAP ORANG TIDAK BERMORAL
JADI MENURUT SAYA PERNYATAAN ANDA SALAH BESAR SODARA “K”..
SEKIAN..
June 15, 2008 at 3:58 pm
k
yang bilang begitu tentu saja orang yang bermoral.
lalu siapa orang yeng bermoral itu?
menurut saya anda adalah perwakilan dari kelompok yang bermoral itu karena anda jelas-jelas mengatakan pendapat saya salah besar. lalu apa yang benar? siapa yang menentukan itu benar? apa hak dia mengatakan itu benar?
sekian..
July 13, 2008 at 2:36 pm
Rudy "Boxer
Lalu mengapa anda mengatakan seperti yang lalu itu???
dari mana anda dapat mëngatakan yang bertato tak bermoral???
mungkin anda perlu bukti pernyataan saya??
bisa anda hubungi saya di 08123633007 atau lgsung ke rumah saya Jero Pemayun Penyobekan jl. letda suji no.4 denpasar
July 22, 2008 at 5:05 pm
anton
wah lama ga mampir blognya taman. ga ada update soale. jd jarang mampir.
karena ngomong soal tato, ikut2 aja komen. itu banyak tuh orang bertato yg tidak jelas jg utk apa. pokok asal tato gen. paang gaya. sing ada sing perlawanan cara ditulis dini.
ni patuh dogen ajak anak band nganggo che. pokokne jeg asal gaya gen. sing peduli soal ideologi.
nah, kira2 ane keto tuh melawan apa? melawan milan kundera apa melawan lupa?
hidup kurap!!!
August 5, 2008 at 6:15 am
ANcak
Ada apa ya???
Kok diskusinya berat banget!
August 5, 2008 at 9:26 am
k
pak anton…pernahkah anda bertanya sesuatu pada orang yang bertato atao anak band yang anda sebut diatas? benarkah tidak ada perlawanan? apa benar yang dia katakan itu benar2pendapat dia? apa tidak mungkin dia terintimidasi dengan pertanyaan yang anda lontarkan?lalu mengapa ia menjawab demikian?never think about that? oh yeah cheeeeeerrrrrsss i’m prefer against god, it’s much more better than just against kundera or forget or whatever
hidup anton !!!
untuk Rudi” Boxer” : pertanyaannya kemudian apakah definisi moral itu? siapa yang mendefinisikan moral?siapa yang menyatakan kebenran dari definisi (dan redefinisi ini)?redefinisi dari margin yang dipinggir, saya kira lebih dibutuhkan. daripada sekedar memberi alamat, saya kira lebih baik meredifinisi definisi moral yang dibentuk orang orang-orang bermoral gerombolan. bukankah sudah banyak dibicarakan dalam banyak sekali tulisan Nietszche tentang moralitas ini?lalu bisakah definisi moral ini dijungkir balik dengan dekonstruksi derridean atau malah kalau bisa redefinisi moral ini yang didekonstruksi lagi. terlalu postmodern? tidak menemukan ujung pangkal? Bukankah kata Barthes (dan Derrida dilain tempat) kita seharusnya bisa puas dengan hanya signifier, pure signifier?
August 7, 2008 at 3:41 am
jigsaw
saya juga bertato di daerah Mr. P, warisan mantan saya,…
meika keren abis..
mari merenungi tattoo warisan mantan kita, wah cantik sekali tattoo ini
I Love my Mr.P
August 19, 2008 at 6:01 am
Rudy "Boxer"
Mr. K atau siapakah anda..? yang menjadi pertanyaan saya dari dulu mengapa anda mengatakan bertatto itu tak bermoral???? kok meluas pernyataan anda *&%#$%.
dan saya yakin berarti om saya ji alit pun anda katagorikan tidak bermoral (karena dia juga pake tatoo) adik2 saya juga, sodara2 saya yang di Puri P, teman2 saya di Suicide Glam. banyak lagi yang lainnya.
maka dari itu jangan muter2 pembicaraannya, yang simple2 aja… jawabnya.
yang jelas.. pernyataan anda harus anda pertanggung jawabkan!!!
buat wah agus ” orin jebos tiang, sire niki, suksma “
August 21, 2008 at 3:15 am
muli tupi
Huahahaha… Why so serious? You guys, with or without tattoos, are just some assholes.
August 23, 2008 at 10:07 am
+/-
“God has die twice. first on earth, second on heaven, and with him moral law”
(I think it’s Nietszche’s)
September 2, 2008 at 3:12 am
k
baiklah untuk memperjelasnya, sebutkan pada bagian mana saya mengatakan kalau bertattoo itu tidak bermoral?
September 5, 2008 at 2:47 am
Rudy "Boxer"
pada comment anda tgl 22 april 2008, Yakni pada kalimat yang anda Pakai Huruf besar.
September 6, 2008 at 4:41 pm
k
“DAN YANG PALING PENTING JANGAN BIKIN TATO! MEMALUKAN NAMA KELUARGA!GA BISA DAPAT KERJA! GA BISA JADI PEGAWAI NEGERI!GA DILIRIK CEWEK! DIAMGGAP GA BERMORAL! POKOKNYA JANGAN BERTATO!JANGAN BERTANYA! JANGAN/ GA USAH (BERUSAHA) NGERTI BUDAYA POP! KARENA (KATA DOD) BUDAYA POP ITU JUNK, SAMPAH, DSB…LALU MATILAH DENGAN TENANNG….SETENANG REMBULAN YANG MENGALIR DALAM KEBISINGAN TERIAKAN PROTES (BUDAYA POP).. ”
pertama-tama, konteks. Konteks kalimat tersebut bukanlah sebuah statement, melainkan kontra komentar dari komentar sebelumnya.
kedua, tulisan induknya yang berjudul “Karena saya juga bertattoo” tidak menyarankan bahwa bertattoo itu tidak bermoral.
Ketiga, tulisan induknya yang berjudul “Karena saya juga bertattoo” adalah tulisan saya.
keempat, saya sangat setuju dengan +/- kalau moral law sudah mampus bersamaan dengan kematian tuhan.
kelima, (menurut saya) dilihat dari sisi manapun kalimat itu membawa kesan sinisme pada moral law.
ke enam(enamenam) dan yang paling penting:sudah anda bacakah tulisan induknya??
January 11, 2010 at 6:12 am
Matah Gede
Ga perlu susah, ga perlu suli. Bertatto ataupun tidak jika dipandang secara kultural insan, jikalau niatankepala dan jiwatman yang terkandung dalam benak sudah buruk rupa, tatto bukanlah sebagai suatu indikator yang meng”JUDGE” sebuah personal itu BURUK atau TIDAK BURUK.
PEACE.
January 13, 2010 at 3:08 am
bruno
HI,
ga ada yang susah, ga ada yang sulit dan ngga ada yang memburu anda untuk mengambil kesimpulan. Semua komentar baik baik saja, perdebatan yang sangat kaya dan seru, tatto hanya menginspirasikannya intinya perdebatan ini harus berlanjut !!!!
(:
January 20, 2010 at 6:47 am
bHaLaDiKa
saia juga bertatto. untuk menutup mantan luka serta jahitan di tangan akibat kecelakaan. semoga saya bukan termasuk orang yang tidak bermoral. soalnya saiya takut sama orang-orang yang menyudutkan kalo manusia bertatto itu golongan tak bermoral.
January 21, 2010 at 2:12 pm
Zephyrus
January 22, 2010 at 1:40 pm
Jihwa
Pro-kontra yang seru….. LANJUT GAN!!!
February 3, 2010 at 12:23 am
m. io
Ternyata ada juga yang mengangkat tatto sebagai objek pembicaraan. Nah bagaimana pendapat rekan dengan tatto yang merajah tubuh anggota suku dayak di kalimantan?
February 4, 2010 at 2:31 am
bruno
Jangankan tatto choi, upil yang masih nempel di dinding dalam hidungmu bisa kita angkat jadi objek pembicaraan!!
salam Brotto Top
February 10, 2010 at 12:26 am
L
kalau upilpun ampe diangkat jadi objek pembicaraan, berarti ini segerombolan atau sekawanan *a**s** yang tidak punya pekerjaan. gag beda dengan Penge**s di trotoar yang cuma bisa menengadahkan tangan. Wahai kawan… masih banyak yang bermanfaat untuk di kerjakan daripada mengangkat sesuatu yang gag jelas-jalas amat seperti UPIL itu misalnya.
apa yang sudah kalian beri untuk masyarakat yang sudah terhimpit dalam perekonomian ini?
apa dengan mengangkat masalah seperti upil memberikan sumbangsih? yang real aja kawan.
contoh tuh kick andy. yang dia angkat itu real. ada manfaatnya. ada motivasinya. buakan bualan. bermanfaat. bukan malah mengangkat yang gag jelas sperti UPIL.
Ono wae sa iki…….
hwa… hwa… hwa… hwa… hwa… hwa… hwa…
February 12, 2010 at 5:14 pm
bruno
Betul, betul, betul ITU!
salam dari negeri Melayu
Ipin!