<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>taman 65</title>
	<atom:link href="http://taman65.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://taman65.wordpress.com</link>
	<description>just another park of the power of flower</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Nov 2011 01:35:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='taman65.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>taman 65</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://taman65.wordpress.com/osd.xml" title="taman 65" />
	<atom:link rel='hub' href='http://taman65.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MENARI DIATAS PIJAKAN RAPUH (Refleksi Keterdesakan Bali Dari Ekspansi Industri Pariwisata)</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2008/08/30/menari-diatas-pijakan-rapuh-refleksi-keterdesakan-bali-dari-ekspansi-industri-pariwisata/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2008/08/30/menari-diatas-pijakan-rapuh-refleksi-keterdesakan-bali-dari-ekspansi-industri-pariwisata/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 08:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Walhi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini National Geographic merilis sebuah laporan tentang kondisi 111 pulau yang menjadi tujuan wisata di seluruh dunia. Dengan metode panel dari 522 ahli, pulau-pulau tersebut dinilai dengan 6 kategori yakni: kualitas lingkungan dan ekologi, integritas sosial dan budaya, kondisi bangunan bersejarah dan situs arkelogi, daya tarik keindahan, kualitas manajemen wisata dan proyeksi terhadap masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=107&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Baru-baru ini <em>National Geographic </em>merilis sebuah laporan tentang kondisi 111 pulau yang menjadi tujuan wisata di seluruh dunia. Dengan metode panel dari 522 ahli, pulau-pulau tersebut dinilai dengan 6 kategori yakni: kualitas lingkungan dan ekologi, integritas sosial dan budaya, kondisi bangunan bersejarah dan situs arkelogi, daya tarik keindahan, kualitas manajemen wisata dan proyeksi terhadap masa depan.</span><span style="font-size:9pt;font-family:Whitney-Medium;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Bali, merupakan salah satu pulau yang dinilai, ternyata menduduki posisi menengah dalam arti secara umum dikategorikan sebagai pulau yang beresiko di masa mendatang (Jonathan B. Tourtellot, 2007: 124). Selain dikarenakan oleh faktor keamanan, dua kali terkena bom, munculnya penilaian ini juga disebabkan oleh pertumbuhan pariwisata yang pesat namun tanpa perencanaan yang baik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-107"></span><strong><span lang="SV">Bali Sebagai Satu Kesatuan Bioregion</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Bali termasuk provinsi yang tidak begitu luas dan dikelilingi oleh laut. Berdasarkan penafsiran para ahli geografis bahwa luas Bali adalah 5.636,66 km<sup>2</sup> atau kira-kira seperempat dari luas Pulau Jawa (138.793,6 km²). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Sumber daya alam yang dimiliki Bali dapat dikatakan beragam mulai dari gunung dan hutan dengan luas 23,20 % dari luas daratan, 4 buah danau yakni: Danau Batur, Danau Beratan, Danau Buyan dan Danau Tamblingan, lahan pertanian, daerah aliran sungai sampai dengan bentangan pesisir sepanjang 430 km. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Meskipun Bali tidak begitu luas namun jika dilihat dari jumlah penduduknya, maka Bali tergolong padat yakni rata-rata 576 jiwa per km<sup>2</sup>. Misalnya, sangat mencolok sekali perbedaannya kepadatan penduduk Propinsi Bali dibandingkan dengan Propinsi Kalimantan Tengah yang rata-rata hanya 12 jiwa per km<sup>2</sup>. Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) Bali tahun 2006, jumlah penduduk di Bali tercatat sebanyak 3.263.296 jiwa yang terdiri dari 1.635.415 jiwa (50,12%) penduduk laki-laki dan 1.627.881 jiwa (49,88%) penduduk perempuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dilihat dari administrasi pemerintahan Propinsi Bali terdiri dari </span><span lang="SV">8 kabupaten dan 1 kotamadya, dan membawahi 53 Kecamatan atau 678 desa. Dari 678 desa tersebut sebanyak 158 desa letaknya berbatasan dengan laut (22%), pinggir pantai atau disebut desa pesisir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Bali dan Industri Pariwisata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Industri pariwisata di Bali telah dimulai sejak 1924 saat Perusahaan Navigasi Belanda (Dutch Navigation Company/ KMP) membuka biro perjalanan wisata di Singapura untuk mempromosikan Bali. Pada periode awal pariwisata ini, Bali dikunjungi oleh para seniman, peneliti, penulis yang tertarik oleh penyebaran informasi dan label yang dilekatkan pada Bali tentang keunikan budaya dan keindahan alamnya. Lewat politik kolonial dan oparator wisata asing yang mengendalikan sebagian besar industri pariwisata awal, Bali dipertahankan keunikannya serta diciptakan label ”Pulau Surga” untuk menarik keuntungan dari setiap pengunjung yang datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Politik ini kemudian dilanjutkan oleh Rejim Orde Baru dibawah Suharto, dengan membuatkan rencana wilayah untuk mengambil alih eksploitasi potensi Bali sebagai tujuan wisata. Berbeda dengan Sukarno yang tidak mendorong pariwisata Bali sebagai sektor utama, Suharto melihat pariwisata justru sebagai pengembangan ekonomi Bali dan sumber pertukaran asing bagi Indonesia. Kemudian dimulailah babak baru pengembangan pariwisata Bali dengan kendali terpusat yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pariwisata Bali pun meluas secara pesat dalam 25 tahun, dengan jumlah wisatawan yang datang ke Bali rata-rata meningkat sekitar 12-15 persen per tahun, dari 34,147 pada 1971 menjadi 1,306,316 pada 1997. Pertumbungan signifikan pada pariwisata domestik juga meningkat pada periode ini dengan kedatangan domestik tumbuh sekitra 5 persen per tahun dan total 700.00 pada 1997. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT">Pengeluaran total wisatawan di Bali menunjukkan peningkatan. Pada 1985 total pengeluran wisatawan luar negeri adalah US$198 juta. Sampai 1987 meningkat menjadi US$337 juta dan pada 1990 total pengeluarannya adalah US$406 juta. Peningkatan ini mendorong pertumbuhan dalam sejumlah resort, hotel, restaurant, jasa transportasi, pemandu, kerajinan/ pertunjukan, dan berhubungan dengan jasa pariwisata dan fasilitas (Hassall and Associates, 1992, 3:13).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IT"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Alokasi pendanaan publik pada program Repelita berbasiskan pada pendapatan paralel dari pariwisata dan investasi privat. </span><span lang="SV">Kemudian meningkatkan investasi privat untuk sektor hotel dari 30 % pada Desember 1970 menjadi 81 % pada Juni 1972 (Gerard Francillon: 1975: 23). Peningkatan secara signifikan investasi privat dalam sektor pariwisata ini masih terus berlanjut hingga awal 1990-an. Angka resmi menunjukkan sepuluh kali lipat peningkatan dalam investasi asing dan domestik pada proyek besar di Bali antara 1987 dan 1988 dari US$17 juta menjadi US$170 juta, hampir dua kali lipat lagi pada 1989-1990 (Pusat Statistik, Bali 1991).<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pola pembangunan industri pariwisata dengan menggunakan logika investasi tanpa batas ini kemudian melahirkan berbagai permasalahan bagi Bali. Sampai 1990 sejumlah permasalahan lingkungan hidup akut berhubungan dengan pembangunan tersebut banyak diungkap oleh media lokal. Pertambangan batu karang tanpa aturan untuk pembangunan hotel dan perluasan airport, abrasi pantai; peningkatan sampah plastik, limbah dan polusi udara; salinasi pada air bawah tanah; pengambilan air pertanian untuk dijual ke hotel dan lapangan golf; konversi lahan produktif – seringkali lewat tekanan dan intimidasi<em> </em>– menjadi fasilitas pariwisata; dan keterlibatan angkatan bersenjata dan pemerintah dalam memfasilitasi proyek menjadi topik di halaman depan, karikatur politik dan surat dari editor pada koran lokal saat itu (Caroll Warren: 1996: 3).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hal tersebut belum termasuk dampak sosial-budaya yang harus diterima oleh masyarakat lokal sebagaimana terjadi pada Rencana Lapangan Golf di Selasih, Payangan, Kab. Gianyar. Konflik antara petani penggarap tanah dengan investor PT. Ubud Resort Duta Development yang terjadi sejak 1992 menyebabkan petani penggarap tidak memiliki kejelasan status atas tanahnya hingga saat ini. Begitu juga yang terjadi pada masyarakat Pulau Serangan, dan banyak tempat lain di Bali kala itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Bali Yang Rapuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody></tbody>
</table>
<p><a href="http://taman65.files.wordpress.com/2008/08/walhi1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-113" src="http://taman65.files.wordpress.com/2008/08/walhi1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><span lang="SV">Logika pertumbuhan ekonomi lewat investasi yang dikonstruksikan oleh Orde Baru nampaknya diwarisi terus oleh pola pembangunan di Bali hingga saat ini. </span><span lang="IT">Ekspansi industri pariwisata terus menurus terjadi dan semakin menjadi-jadi seiring berlakunya otonomi daerah. Lahirnya raja-raja kecil di kabupaten menyebabkan babak baru penjualan tanah-tanah dan sumber daya alam Bali atas nama mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD).</span></p>
<p><span lang="IT">Kasus demi kasus yang berkorelasi dengan pengembangan industri pariwisata pun kembali terjadi menempatkan posisi masyarakat lokal dan lingkungan hidup semakin terpinggirkan. Sebagai contoh, Kasus Loloan Yeh Poh di Pantai Berawa, Kabupaten Badung; Kasus Geothermal Bedugul di Cagar Alam Batukaru; hingga yang paling mutahir Hotel Vita Life di Wongaya Betan, Penebel dan Villa Pantai Kelating, Kerambitan, Kabupaten Tabanan; Pengusahaan Pariwisata Alam di Taman Wisata Alam (TWA) Hutan Dasong Buyan-Tamblingan, Kabupaten Buleleng hingga Hotel dan Lapangan Golf terbesar di Bali yang rencananya dibangun di Bugbug, Kabupaten Karangasem. Kesemua proyek tersebut memiliki dampak yang besar dan penting bagi lingkungan hidup dan tatanan sosial masyarakat Bali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Pesatnya pertumbuhan pariwisata tanpa mempertimbangkan daya dukung Bali<span> </span>merupakan faktor yang memperparah permasalahan lingkungan yang telah ada dan belum terselesaikan. Saat ini, dengan pertumbuhan investasi tidak terkontrol dan jumlah kunjungan wisatawan sekitar 1, 5 juta orang setiap tahun terus meningkat, akan membuat Bali semakin terdesak. Jika kita lihat dari kebutuhan air, setiap kamar hotel membutuhkan air sebanyak 3.000 liter/ hari. Dengan asumsi 1 kamar diisi oleh 2 orang, maka setiap wisatawan menghabiskan air sebanyak 1.500 liter/ hari/ orang. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan dengan pemakian air oleh penduduk Bali yang hanya 220 liter/ orang/ hari (Data Primer PDAM Denpasar). </span><span lang="SV">Maka tidak mustahil air menjadi barang dagangan karena kebutuhan industri pariwisata terus meningkat seiring dibangunnya fasilitas-faslitas baru. Namun permasalahannya air dari subak yang mana lagi akan diambil untuk dijual ke hotel, villa dan lapangan golf baru tersebut??</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ditengah menurunnya pasokan air yang disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah perubahan iklim, penjualan air kepada industri pariwisata akan menambah konflik air dan deretan krisis air ditengah masyarakat. Menurut laporan dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI bahwa defisit air di Bali telah terlihat sejak 1995 sebanyak 1,5 miliar m</span><span lang="SV">eter kubik/ </span><span lang="SV">tahun. Defisit tersebut terus meningkat sampai 7,5 miliar m</span><span lang="SV">eter kubik/</span><span lang="SV"> tahun pada 2000. Kemudian, diperkirakan pada 2015 Bali akan kekurangan air sebanyak 27,6 miliar m</span><span lang="SV">eter kubik/ </span><span lang="SV">tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte vml 1]&gt;     &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody></tbody>
</table>
<p><span lang="SV">Selanjutnya, menurut pengamatan WALHI Bali dari 2006 – 2007 saja sejumlah daerah tercatat mengalami krisis air, antara lain: Tirta Mas Mampeh di Kintamani, Denpasar, Negara, Batu Agung, Singaraja, Besakih (Karangasem), Semarapura (Klungkung), dan Nusa Penida. </span><span lang="FI">Perosalan krisis air di Bali juga berdampak pada kehidupan sosial. Krisis air telah memicu konflik antar petani dengan swasta, petani dengan petani, petani dengan perusahaan air minum. Beberapa kasus konflik air yang muncul di media lokal antara lain; <em>Subak Jatiluwih </em>dengan pihak swasta di Jatiluwih, Penebel, Kabupaten Tabanan. <em>Subak Yeh Gembrong</em> <span> </span>dengan perusahaan air minum daerah (PDAM) di Yeh Gembrong, Kabupaten Tabanan. (Kertas Krisis WALHI: 2007:4).</span></p>
<p><span lang="FI">Selain itu permasalahan sumber daya air diatas, masih banyak permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh maraknya pariwisata massal di Bali yang akan berakibat pada kerentanan ekologi karena lingkungan hidup tidak mampu menjalankan fungsi ekologinya. Garis pantai Bali yang saat ini terabrasi dengan laju 3,7 km pertahun dan 50-100 meter inland, menyusutnya lahan terbuka hijau dan lahan produktif, pencemaran, sampah, kebisingan. Jika kerentanan-kerentanan ekologi ini terakumulasi maka akan dapat meledak menjadi bencana ekologi.</span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;font-size:0;color:black;padding:0;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Untuk k</span><span lang="SV">onversi lahan, kita lihat bahwa di tahun 2004 saja di Kabupaten Badung terjadi alih fungsi seluas 209,95 Ha dan Denpasar seluas 35,01 Ha (Bappeda Provinsi Bali: 2005: I-2). Hal ini menyebabkan Badung dan Denpasar menggantungkan pasokan pangannya dari keluar daerah, seperti Tabanan dan Gianyar yang selama ini menjadi pemasok pangan terbesar bagi Bali. Namun pertumbuhan investasi signifikan di Tabanan dan Gianyar yang juga melakukan konversi lahan produktif, akan menyebabkan menurunnya pasokan pangan bagi Bali. Pada gilirannya Bali akan mengalami kerentanan pangan dan menggantungkan semuanya dari luar Bali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dari sudut pandang sosial, ternyata pertumbuhan pariwisata ini tidaklah berkorelasi pada perbaikan kualitas hidup masyarakat Bali. Malah justru melahirkan keterasingan-keterasingan karena kehilangan akses terhadap sumber daya alam dan persaingan hidup yang ketat di sektor pariwisata. Keterasingan ini banyak terjadi di Bali, salah satunya dialami oleh masyarakat lokal Nusa Dua yang hanya menjadi penonton ditengah gemerlapnya industri pariwisata di wilayah mereka (BP, 1 April 2006). Keterasingan dan kemiskinan akibat persaingan tersebut menyebabkan kerentanan sosial sehingga berpotensi menimbulkan konflik-konflik tertutup – mulai dari munculnya indentifikasi seperti orang lokal-pendatang, bali-jawa, dan lainnya – jika terakumulasi dapat meledak menjadi bencana sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Moratorium Pariwisata Bali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Bali yang memiliki banyak konsep tradisional, seperti <em>Tri Hita Karana</em> – menjaga keseimbangan antara spritualitas, hubungan sosial dan ekologi – saat ini semakin tidak bermakna karena semakin sering diucapkan oleh pihak-pihak yang justru menjadi komprador penerus eksploitasi Pertiwi Bali tanpa memikirkan tentang kebutuhan generasi mendatang. Turunan dari konsep <em>Tri Hita Karana </em>menjadi <em>Nyepi, Tumpek</em> saat ini diartikan hanya sebatas ritual belaka dan gagal diartikulasikan dalam praktek nyata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Nyepi merupakan filsafat jeda (<em>ngeneng</em>) untuk membangun keseimbangan spritualitas, hubungan sosial dan ekologi. Pada hari <em>Nyepi</em>, manusia Bali melakukan jeda dari segala aktivitas sehingga memberikan ruang bagi bumi untuk bernafas dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh prilaku manusia (ekologi). Dalam jeda tersebut, manusia Bali melakukan evaluasi atas apa yang telah dilakukannya (spritual) dan menguatkan ikatannya ke dalam diri, keluarga dan masyarakat (sosial). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Jeda memberikan arti penting dan sangat diperlukan untuk membangun hubungan yang lebih harmonis dalam kehidupan. Maka menjedakan pariwisata, sebagai bagian dari aktivitas ekonomi manusia, juga merupakan keniscayaan. Karena pariwisata telah sedemikian rupa menyebabkan ketimpangan sendi-sendi spritual, sosial dan ekologi Bali maka tidaklah cukup hanya dilakukan dalam satu hari saja, melainkan paling tidak selama lima tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Moratorium atau jeda pariwisata Bali merupakan pintu masuk yang harus segara diambil oleh provinsi ini jika ingin selamat dari bencana ekologi dan bencana sosial. Moratorium pariwisata Bali dengan jalan menghentikan sejenak ekspansi investasi pariwisata untuk mengambil jarak dari masalah, akan dapat mencarikan jalan keluar yang bersifat jangka panjang, menyeluruh dan permanen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Saat moratorium dilaksanakan, aktivitas dan kebijakan akan diarahkan pada pengkajian dan evaluasi atas pariwisata Bali selama ini, menyusun arah pembangunan Bali dan menata kembali sendi-sendi sosial budaya dan lingkungan hidup yang selama ini dikomodifikasikan demi kepuasan para turis. Dari sisi masyarakat sipil, saat jeda merupakan waktu yang tepat untuk membangun <em>critical mass </em>(masyarakat yang kritis) untuk dapat berpartisipasi dalam mewujudkan pengelolaan pertiwi yang lebih berpihak pada rakyat dan lingkungan hidup. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Jika tidak dilakukan jeda maka investasi-investasi pariwisata akan terus meluas, kedepan anak cucu kita hanya akan mendapatkan Bali yang telah rusak, terkapling-kapling dan terjual habis oleh industri pariwisata. </span><span lang="FI">Dan pasti, anak cucu kita akan menyalahkan kita (generasi saat ini) karena tidak melakukan apa-apa ketika masih ada waktu untuk menyelamatkan Bali. Apabila Bali rusak dan tidak layak lagi untuk ditempati maka para turis dan para ekspatriat dapat saja pulang ke negeri asal mereka, tetapi kita sebagai masyarakat lokal tidak tahu akan kemana. </span><span lang="SV">Karena kita tidak punya bali-bali yang lain.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/107/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/107/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=107&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2008/08/30/menari-diatas-pijakan-rapuh-refleksi-keterdesakan-bali-dari-ekspansi-industri-pariwisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taman65.files.wordpress.com/2008/08/walhi1.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Q-MUNITY MENGAJAK ANDA NONTON BARENG &amp; DISKUSI (Mohon datang tepat waktu karena acara akan ditutup tepat pukul 22:00 wita)</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2008/08/21/nonton-bareng-diskusi-mohon-datang-tepat-waktu-karena-acara-akan-ditutup-tepat-pukul-2200-wita/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2008/08/21/nonton-bareng-diskusi-mohon-datang-tepat-waktu-karena-acara-akan-ditutup-tepat-pukul-2200-wita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 14:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=95&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://taman65.files.wordpress.com/2008/08/flyer-taman65-color.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-96" src="http://taman65.files.wordpress.com/2008/08/flyer-taman65-color.jpg?w=490" alt=""   /></a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/95/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/95/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=95&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2008/08/21/nonton-bareng-diskusi-mohon-datang-tepat-waktu-karena-acara-akan-ditutup-tepat-pukul-2200-wita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taman65.files.wordpress.com/2008/08/flyer-taman65-color.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>INDOROCK : Musik “Hibrid” dan Secelah Ruang Ketiga yang [Nyaris] Terlupakan</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2008/08/17/indorock-musik-%e2%80%9chibrid%e2%80%9d-dan-secelah-ruang-ketiga-yang-nyaris-terlupakan/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2008/08/17/indorock-musik-%e2%80%9chibrid%e2%80%9d-dan-secelah-ruang-ketiga-yang-nyaris-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 05:03:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Lahandi said… … Para &#8216;pembuat&#8217; sejarah itu selalu ingin membuat inferior negara2 dunia ke-3. Ingin membuat kita yakin bahwa negara kita itu tidak punya tradisi juara, tidak punya bakat yang bagus, tidak punya penemu, tidak punya seniman yang mashur, dsb. Itu memang akal2an mereka bos. … November 08, 2007 11:22 pm Emielx said… … Tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=91&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Lahandi said…</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">… Para &#8216;pembuat&#8217; sejarah itu selalu ingin membuat inferior negara2 dunia ke-3. Ingin membuat kita yakin bahwa negara kita itu tidak punya tradisi juara, tidak punya bakat yang bagus, tidak punya penemu, tidak punya seniman yang mashur, dsb. Itu memang akal2an mereka bos. …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">November 08, 2007<span> </span>11:22 pm</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Emielx said…</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">… Tapi ini keren, makasih pak, kita jadi kayak nemu bagian sejarah yg hilang&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">November 09, 2007<span> </span>11:12 pm</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Gerybatarasony said…</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">wooowww..!! keren sekali!! ternyata Indonesia udah punya orang2 keren semenjak dahulu, gilaa tahun 60-an &#8220;The Tielman Brother&#8221; udah rockin dan rollin dalam arti sesungguhnya! Elvis Presley aja pernah nonton mereka di Jerman! ahh.. ini gillaa!! pengetahuan saya tentang sejarah negara jadi bertambah lagi dan saya sangat bangga menjadi orang Indonesia! … </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">November 21, 2007<span> </span>8:05 pm</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">God Father said…</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Music History was changed</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Elvis dan The Beatles pantesnya jd grup pembukanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">Nenek moyangku ternyata seorang Rocker… bukan cuman Pelaut!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:54pt;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">April 02, 2008<span> </span>11:46 am<a name="_ednref1" href="#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">[i]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Sejak pertengahan tahun 2007, jika kita menelusur di internet dengan menggunakan kata kunci “The Tielman Brothers”, maka komentar-komentar seperti itu akan dengan mudah kita temukan di milis-milis atau blog (terutama) milik anak muda Indonesia. Beberapa saat setelahnya, “kegemparan” ini mulai memunculkan satu genre musik yang sebelumnya bisa jadi kurang dikenal dalam kosakata kita: Indorock. Seorang teman, ketika saya putarkan video dari The Tielman Brothers, video yang sama yang membuat banyak orang Indonesia bersuka-cita sehingga melontarkan kekaguman seperti saya kutip di atas, bahkan berkomentar tidak kalah seru: “<em>kalo udah kayak gini, baru deh kerasa nasionalisme-nya sebagai orang Indonesia.</em>” Siapakah The Tielman Brothers, mengapa band lawas ini bisa menimbulkan kesan begitu hebat bagi banyak orang Indonesia, kesan yang bahkan “beraroma” nasionalisme; dan seperti apa dan bagaimanakah genre musik yang disebut Indorock itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span id="more-91"></span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Adalah YouTube.com yang bertanggung jawab menyebarkan “demam” The Tielman Brothers dan Indorock akhir-akhir ini, serta berjasa “mengingatkan kembali” bahwa pernah ada The Tielman Brothers, sebuah band besar yang merupakan salah satu band rock tertua di dunia. Tidak hanya di Indonesia, video live dari lagu berjudul “Rolling Rock” yang di-<em>upload</em> pada akhir tahun 2006 itu juga menghentak khalayak di banyak penjuru dunia karena aksi panggungnya yang menghebohkan. Video yang merekam penampilan pertama The Tielman Brothers di stasiun TV Belanda (AVRO) pada tanggal 23 Januari 1960 itu memperlihatkan bagaimana mereka beratraksi memainkan gitar menggunakan kaki dan gigi, gitar dipegang di belakang kepala sang gitaris sembari menaiki double bass (atau di Indonesia dikenal dengan sebutan kontra bass) yang “dibaringkan” di lantai sambil dengan antengnya tetap dimainkan oleh sang basis, atau ketika sang drummer menggunakan stik drum-nya untuk memukuli senar gitar; semua masih dalam harmonisasi irama dan melodi yang tetap terjaga. Band ini menjadi istimewa karena ia menghadirkan fakta bahwa ternyata aksi panggung liar semacam ini ternyata sudah dilakukan The Tielman Brothers bahkan satu dekade (mereka sudah pasti melakukannya sejak tahun 1956) sebelum dunia diguncangkan oleh penampilan sejenis dari band <em>rock n roll </em>seperti The Rolling Stones. Sang legendaris Jimi Hendrix, yang muncul lebih dahulu dari The Rolling Stones, hanyalah salah satu nama gitaris yang konon terinspirasi oleh The Tielman Brothers, yang kemudian mempopulerkan aksi panggung semacam ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">The Tielman Brothers sendiri adalah sebuah band yang resminya terdiri atas empat orang kakak beradik: Andy (gitar, vokal), Reggy (gitar, vokal), Ponthon (double bass, vokal), dan Loulou (drum, vokal) dari seorang ayah berdarah Maluku dan ibu berdarah Jerman. Karir bermusik mereka dimulai sejak kecil, ketika keluarga mereka masih berdomisili di Surabaya pada tahun 1945. Saat itu mereka – termasuk ayah, ibu, dan adik perempuan mereka – masih mengusung nama The Timor Rhythm Brothers yang kerap membawakan lagu-lagu daerah sembari menarikan tarian tradisional. Kemampuan membawakan nomor-nomor jazz rumit di usia yang masih sangat belia mencengangkan para audiens mereka, baik orang-orang Eropa maupun Indonesia. Tur keliling kota-kota besar di Indonesia pun bukan hal yang aneh, mereka bahkan berkesempatan mempertunjukkan kebolehan mereka di hadapan presiden Soekarno di istana negara. Pasca pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949, isu kewarganegaraan mencuat. Hermann Tielman, sang ayah, sebagai seorang tentara KNIL harus memilih antara menjadi warga negara Indonesia atau hijrah ke Belanda. Atas berbagai pertimbangan, akhirnya keluarga ini memutuskan untuk pindah ke Breda, Belanda pada tahun 1957. Bermula di kota ini, karir musik legendaris The Tielman Brothers (mereka mengubah nama karena kata “Timor” terdengar asing bagi orang Eropa) berjalan mulus, menjadikannya band rock papan atas yang dikenal luas terutama di Eropa. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">The Tielman Brothers hanyalah salah satu dari sekian banyak kelompok musisi Indo Eropa (terutama peranakan Maluku) yang lahir di Indonesia dengan kisah migrasi yang sama pada masa itu. Saya banyak merujuk pada pengalaman The Tielman Brothers karena band inilah yang menjadi simbol kebanggaan Indorock, dan karena band ini pula yang menjadi pemicu wabah Indorock akhir-akhir ini. Masih ada sederet nama lain seperti Electric Johny &amp; His Skyrockets, The Black Dynamites (kemudian sering pula disebut Los Indonesios), The Javalins, The Crazy Rockers, dan masih banyak lagi. Musik yang mereka usung kemudian melahirkan satu genre yang disebut Indorock, sebuah <em>scene</em> musik rock (kebanyakan instrumental) yang mengalami masa jaya pada kisaran 1958 – 1965, sebelum akhirnya tergusur oleh kehadiran band-band Inggris seperti The Rolling Stones dan The Beatles (atau yang biasa disebut <em>British Invasion</em>).<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[ii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Indorock memang lahir dari subkultur imigran Belanda-Indonesia yang dicirikan oleh perpaduan antara musik Barat dan musik Indonesia. </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Musik Barat yang menjadi acuan band-band ini di masa awal kelahirannya di Indonesia adalah musik Hawai, rock ‘n roll generasi pertama, dan musik country Amerika yang saat itu bisa didengar lewat radio Amerika yang dipancarluaskan dari Filipina dan Australia. Sementara musik Indonesia yang dimaksud, selain lagu-lagu daerah, adalah musik keroncong, yang dicirikan oleh permainan gitar yang khas, minimal dua gitar yang seakan saling “bersahut-sahutan” mengisi melodi dan <em>rhythm</em>. Dalam perkembangan keroncong di Indonesia, fungsi dua gitar ini dihasilkan dari suara cuk dan cak. Eksplorasi gitar, yang menjadi ciri penting genre Indorock (umumnya musisi Indorock bahkan memiliki tiga gitaris), memang merupakan suatu hal yang baru bagi publik Eropa, mereka pada masa itu lebih terbiasa mendengar musik <em>a la </em>“orkestra” dengan biola atau piano sebagai alat musik yang dominan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Pada tahun 1958, <em>scene </em>rock ‘n roll di Belanda mulai diambil alih oleh anak muda, sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya di negara-negara Eropa lainnya. Jika sebelumnya musik rock dimainkan oleh kalangan tua yang biasanya tampil solo atau hanya kelompok vokal yang lebih “santun” dan hanya merekam lagu-lagu versi gubahan dari lagu Amerika yang sudah dikenal maka kali ini musik rock didominasi oleh band-band anak muda yang sanggup menggubah lagu ciptaannya sendiri. <em>Scene </em>musik yang waktu itu berkembang terutama rock ‘n roll “putih” orang Belanda asli (“Nederrock”) dan rock ‘n roll “biru/hitam” yang diusung oleh orang Indonesia yang tinggal di Belanda (“Indorock”), serta satu <em>scene </em>yang tidak sebesar dua <em>scene</em> tadi, yaitu rock ‘n roll yang dibawakan oleh orang Suriname di Belanda (“Surirock”). Dari semua itu, <em>scene </em>Indorock-lah yang paling banyak peminatnya, dan The Tielman Brothers adalah band rock ‘n roll anak muda Belanda pertama yang mencicipi dapur rekaman, sekaligus menjadi band rock ‘n roll pertama yang membawakan komposisi lagu mereka sendiri.<a name="_ednref3" href="#_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[iii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Webdings;"><span>»</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Membicarakan Indorock sebagai genre musik yang muncul pasca migrasi besar-besaran orang Indonesia [dan Indo] ke Belanda pada tahun 1950an, berarti membicarakan konteks kepindahan itu sendiri dan pilihan “status kewarganegaraan” dari para ekspatriat yang mayoritas orang Maluku ini. Kepindahan para musisi ini jelas sangat terkait erat dengan kebijakan Orde Lama di bawah kepemimpinan presiden Soekarno yang anti-Barat. Saat itu, segala yang berbau Amerika “diberangus”, termasuk pilihan mendengarkan – apa lagi menjadi musisi – rock ‘n roll. <span> </span>Mereka tentu harus menentukan sikap terkait pilihan karir mereka: tetap membawakan musik sebagaimana mereka menginginkannya, walau harus berjuang lebih keras “di negeri orang”; atau harus berakhir di penjara, sebagaimana yang terjadi pada Koes Ploes pada awal tahun 1960an (yang bahkan aksi panggungnya jelas tidak “se-urakan” The Tielman Brothers). Pada kasus The Tielman Brothers sendiri, keluarga mereka sebenarnya ditawarkan kesempatan emas tur keliling Indonesia dengan imbalan yang tidak kecil oleh Presiden Soekarno, jika mereka memilih menjadi warga negara Indonesia. Sebuah kesempatan emas untuk sang “anak emas”. Namun, tentu saja, ada persyaratan yang harus dipenuhi: mereka harus meninggalkan ke-rock ‘n roll-an mereka dan hanya membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Selain alasan “musikalitas profesional” ini, ada alasan lain yang tidak kalah penting. Orang-orang Maluku, terutama eks-KNIL (dan keturunannya), apa lagi sejak pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia, berada di posisi yang “tidak nyaman” di negeri ini. Sejak akhir abad ke-19, banyak laki-laki Maluku, terutama yang beragama Kristen, menjadi anggota KNIL yang mengabdi pada Kerajaan Belanda. Hal ini memang merupakan bagian dari politik <em>divide et impera </em>kolonial Belanda, apalagi sudah sejak lama disadari oleh pemerintah Belanda bahwa agama dapat dijadikan salah satu strategi efektif untuk meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap kolonial. Sebagai imbalannya, para anggota KNIL ini diberi status sosial yang lebih tinggi dan jaminan pendidikan bagi anak-anak mereka. Selepas kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, terjadilah Agresi Militer Belanda yang didukung oleh tentara KNIL. Akibat partisipasi KNIL dalam operasi militer melawan angkatan muda republik Indonesia ini, orang-orang Maluku kemudian kerap diberi julukan “Belanda hitam”, “antek kulit putih”, atau “pengkhianat” oleh orang Indonesia lainnya. Nasionalisme Indonesia saat itu (yang dipandang banyak kalangan sebagai nasionalisme Jawa; bagi orang Maluku Jawa-isasi ini berarti berhadapan dengan batasan lain: agama [Islam]) disambut dengan diproklamirkannya Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 1950 yang lepas dari Indonesia. Namun kemerdekaan Maluku ini tidak berusia lama (walaupun banyak orang Maluku yang masih mempercayai keberadaan RMS yang sah, mereka bahkan tetap memiliki presiden RMS yang berdiam di Belanda), dengan diinvasinya pulau itu oleh tentara Indonesia dan Maluku pun menjadi bagian dari Indonesia. Peristiwa ini, kemudian berbuntut dengan diangkutnya ribuan tentara eks-KNIL dari Maluku beserta keluarga mereka ke Belanda.<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[iv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Posisi para migran Maluku di Belanda pada masa itu, jangan pula dibayangkan sebagai sesuatu yang sanggup membuat mereka merasa lebih nyaman dibandingkan di Indonesia. Mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan karena perserikatan buruh khawatir mereka dapat menurunkan standar upah pekerja Belanda. Selain itu, perlu dicatat bahwa keberadaan mereka di Belanda awalnya dimaksudkan untuk sementara waktu saja hingga kondisi di Maluku pasca-“pemberontakan” RMS kembali kondusif; sehingga tidak ada bayangan dari orang-orang Maluku ini pada saat itu untuk melebur dengan masyarakat Belanda, dan sebaliknya. Mereka menjadi pengangguran, terisolasi dalam kamp penampungan, tidak lagi memiliki status militer yang sebelumnya mereka banggakan, belum lagi kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat setempat dan harus berdamai dengan iklim yang berbeda dengan di Indonesia. Nyaris tidak ada yang tersisa bagi mereka, kecuali hidup dalam harapan yang membuai, romantisme masa lalu, dan mitos yang sanggup menggugah semangat mereka. RMS, bisa jadi salah satu mitos yang bermain-main di benak mereka saat itu, sebuah bayangan akan negara Maluku yang damai, sebuah “rumah”. Sampai saat ini, perjuangan akan RMS memang masih mereka kobarkan, janji Belanda untuk membantu mewujudkan impian akan Ibu Pertiwi dan memulangkan mereka ke kampung halaman tetap diingat, walaupun tentu saja sudah banyak yang berubah. Seiring dengan perkembangan waktu, generasi selanjutnya dari para migran Maluku di Belanda sudah jauh berasimilasi dengan masyarakat Belanda, menjadi bagian dari negara Belanda yang multikultur. Mereka bisa jadi sudah menganggap diri mereka “orang Belanda”, walau tetap menghargai akan RMS, demi orang tua dan kakek nenek mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Namun, sekali lagi, perasan mereka tentu berbeda pada masa awal kedatangan ke Belanda yang penuh tekanan. Dalam setiap keterhimpitan sekalipun, senatiasa tersisa ruang kosong. Hidup jalan terus, mereka harus tetap “ada”, sekaligus menunjukkan keber”ada”an itu. Mereka “bergerilya” mencari ruang tersisa itu, sebuah tempat dimana mereka tetap bisa berdiri di antara masyarakat Belanda, sebuah komunitas yang [tidak sepenuhnya] asing bagi mereka. Apa yang dilakukan oleh para musisi Indorock ini dapat pula kita pandang sebagai sebuah upaya untuk mencari sebuah ruang kosong yang tersisa, tempat di mana ia berusaha membangun nilainya sendiri, sekaligus membangun sebuah ruang negosiasi demi menunjukkan eksistensi mereka. Mereka hadir dan menuntut perhatian – sekaligus menuntut pengakuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Kisah mereka hampir mirip dengan kisah eksodus kaum kulit hitam dari Hindia Barat ke Inggris pada kisaran waktu yang sama, ketika sejarah hidup mereka justru sanggup melahirkan sebuah subkultur baru. Dick Hedbige (1979) pernah menuliskan bagaimana para pendatang yang “kecewa” ini mulai merasakan perpaduan aneh dari berbagai motivasi yang bertentangan: perasaan putus asa atau setidaknya tidak sabar dengan kondisi negeri asal mereka, kepercayaan akan aksi mereka, hasrat akan perbaikan status; sekaligus keyakinan <span> </span>bahwa Ibu Pertiwi akan memenuhi kewajibannya, merelakan sekaligus “menghukum” anak-anak negerinya yang hilang. Mereka mulai berkumpul, “kekecewaan” mereka siap diekspresikan<a name="_ednref5" href="#_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[v]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Pada pertengahan tahun 1950an, musisi Indonesia yang tersebar di banyak kota di Belanda, terutama di Den Haag sebagai salah satu kota dengan populasi orang Indonesia terbanyak, sering mempertunjukkan kebolehan bermusik mereka dalam pesta setiap akhir pekan yang dikunjungi oleh anak-anak muda Indonesia dan Eropa. Menarik mencermati bagaimana sebenarnya yang dilakukan oleh kaum migran Maluku di Belanda ini cenderung melawan arus konservatisme Belanda saat itu. Berbeda dengan anak-anak muda Belanda yang lebih memilih membawakan musik jazz karena citra musik rock ‘n roll yang urakan, justru anak muda Indonesia berani memainkan musik rock ‘n roll dan Hawaiian yang saat itu tengah menjadi tren, selain tentu saja, musik keroncong sebagai salah satu ujud menumpahkan kerinduan mereka akan tanah air nun jauh. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, perpaduan antara beragam musik inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal Indorock. Setiap kota kemudian memiliki ciri khasnya sendiri dan membentuk <em>scene indie</em>-nya masing-masing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Gaya</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"> musisi Indorock yang tidak lazim bagi arus utama musik di Belanda saat itu memang memancing cercaan dari banyak pihak. Piet Muys, pemerhati musik dari Belanda mencatat bagaimana aksi The Tielman Brothers yang untuk pertama kalinya disiarkan oleh stasiun televisi Belanda (AVRO) pada Januari 1960 sebagai “pertunjukan rock ‘n roll yang sungguh sensasional dan liar, yang tidak pernah muncul di TV Belanda … benar-benar sulit ditandingi. Rock ‘n roll dari anak muda Indonesia ini sungguh begitu menghangatkan jiwa kita di negara yang dingin dan ortodoks ini, namun pengamat TV dan pakar musik berpikiran lain. Segudang kritik negatif langsung dicetak di koran-koran.”<a name="_ednref6" href="#_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[vi]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Eksperimentasi gitar dan aksi panggung yang “tidak sesuai norma konservatif” Belanda yang diusung oleh para musisi ini memang melahirkan caci-maki, namun perhatian besar yang tersorot pada mereka di sisi lain langsung merebut hati massa yang sontak menjadi penggemar fanatik mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Bisa jadi, suguhan lain dari yang lain <em>a la </em>The Tielman Brothers ini, sesuai dengan apa yang dikatakan Hebdige, sebagai upaya menilai ulang stigma dan menjelmakan kemencolokannya tentang pernyataan tentang keasingan, suatu lambang bagi ke-Lain-an diri mereka<a name="_ednref7" href="#_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[vii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Melalui “berani tampil beda” inilah, keberadan mereka berusaha diperluas, dijabarkan, dan diwujudkan. Ia bisa menjadi simbol perlawanan. Sebuah upaya resistensi dalam keterhimpitan. Tapi sebenarnya, jika kita membicarakan konteks orang-orang Maluku dalam kaitan keterlibatan keluarga mereka dengan KNIL, maka perlawanan seperti apa yang dimaksud? Secara sederhana (kalau tidak serampangan), kita bisa beranggapan bahwa mereka adalah “antek kulit putih”, maka mereka berarti bukan dari pihak terjajah, karena mereka berada “di sisi” penjajah. Benarkah demikian? Bisa jadi. Tapi kita harus melihat bahwa mereka tidak benar-benar ada “di sisi” Belanda, karena mereka tidak pernah bisa menjadi “Belanda”, mereka adalah “Belanda hitam”. Posisi mereka pun berada dalam hirarki atasan-bawahan, tuan-budak dengan segala hasratnya yang tetap menghantui. Lebih jauh, kita tidak bisa melupakan bahwa bagaimanapun juga mereka adalah imigran. Pengertian imigran mengandung pengertian “migran”, meninggalkan kampung halaman mereka karena “keterpaksaan”, adanya setidaksesuaian harapan di tanah mereka sebelumnya.<span> </span>Perasaan ini di satu sisi menimbulkan perasaan bersalah karena meninggalkan “masalah” di kampung halaman; di sisi lain, di tanah yang baru ada permasalahan persinggungan dengan masyarakat setempat, muncul perasaaan takut ditolak atau malah dikasihani. Hal-hal semacam ini, bisa dengan mudah kita temukan dalam perjalanan hidup orang-orang Maluku di Belanda. Amin Maalouf pernah menuliskan bagaimana diam-diam para pendatang ini kebanyakan bermimpi agar dianggap sebagai “penduduk asli”, godaan pertama mereka adalah menjiplak tuan rumah yang ada kalanya berhasil, ada kalanya tidak<a name="_ednref8" href="#_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[viii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Dalam upaya-upaya inilah mimikri, sebagaimana ditawarkan Homi K. Bhabha, pun hadir (walaupun mungkin cikal bakal itu sudah ada sejak mereka masih berada di Indonesia), sebuah upaya untuk menjadi “Belanda” atau katakanlah, Eropa. Mereka mendengarkan musik yang sama, memakai pakaian yang sama, berbicara nyaris dalam bahasa yang sama dengan mereka; namun pada satu sisi lain, kampung halaman mereka tetap tidak ditinggalkan, tidak hanya dalam ujud fisik seperti warna kulit, namun juga mereka ujudkan dengan menunjukkan kecintaan mereka pada gitar sebagaimana “diajarkan” oleh musik keroncong, sebuah aliran musik yang berkembang menjadi budaya populer di Indonesia pada dekade itu. Kepiawaaan Andy Tielman misalnya, sang gitaris yang menjadi <em>front man</em> The Tielman Brothers, dalam mengocok gitar memang diakui banyak pihak. Tidak tanggung-tanggung, tidak kurang dari Fender, sebuah perusahaan gitar jazz bonafide, sempat membuatkan seri gitar Jazzmaster, khusus untuk Andy Tielman. Sesuatu yang menunjukkan pengakuan atas sang master gitar yang memang hanya dikhususkan pada segelintir musisi dunia saja. Lebih jauh, permainan gitar mereka (terutama Andy) menginspirasi tidak hanya musisi Indorock lainnya, namun juga diakui membawa pengaruh bagi musisi lain seperti Elvis Presley, juga termasuk band-band <em>Merseybeat sound</em>, yang terutama dipopulerkan oleh The Beatles. Tidak kurang seorang George Harrison, gitaris The Beatles, mengidolakan Andy Tielman dan menyebutnya sebagai “The Indo-Man”. Di masa-masa ini, ada kalanya Andy bahkan menutup kepala gitarnya dengan handuk, agar “trik khusus” yang ia gunakan tidak ditiru orang lain, yang tentu saja tidak selalu berhasil. Gaya panggung mereka, walaupun bisa jadi beberapa bagiannya “dicuri” dari gaya Spike Jones dan Bill Haley, namun kemampuan mereka “beratraksi” sambil tetap memainkan alat musik dan bernyanyi yang bisa membuat takjub orang Eropa masa itu, sebenarnya bukan hal yang baru bagi mereka yang terbiasa bernyanyi dan bermain musik sembari menarikan tarian tradisional saat masih berada di Indonesia. Apa yang dilakukan mereka, sanggup mentransformasi makna warisan kolonial menjadi tanda pembebasan. Lebih lanjut, sebagai diaspora, mereka sudah pasti dapat memunculkan identitas-identitas baru dan kompleks yang membutuhkan analisis yang baru pula. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Produksi makna dari sumber-sumber yang berbeda ini, dalam pencarian ruang kosong bagi eksistensi mereka, termobilisasi dalam sesuatu yang Bhabha sebut sebagai Ruang Ketiga (<em>Third Space</em>). Performa dari relasi ini umumnya berada dalam “ketidaksadaran” yang membawa ambivalensi dalam tindakan interpretasi atas makna baru tersebut. Intervensi Ruang Ketiga yang menjadikan struktur makna berada dalam proses ambivalensi, menghadirkan pengetahuan kultural yang terus-menerus hadir sebagai kode yang tidak pernah menyempit dan senantiasa terbuka. Bahkan sebelum kita membicarakan konsep hibriditas, dari sini pun kita bisa melihat bagimana “kemurnian budaya” adalah sesuatu yang tidak bisa dipertahankan. Dalam Ruang Ketiga, tanda yang sama akan selalu bisa diterjemahkan, disesuaikan, dan dibaca dengan cara yang baru sama sekali. Bhabha lebih lanjut menawarkan cara mengkonseptualisasikan budaya lintas-nasional (inter-nasional) yang terutama berdasarkan pada artikulasi hibriditas budaya<a name="_ednref9" href="#_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[ix]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Musik Indorock jelas merupakan musik hibrid ketika ia mengambil gagasan dan kosa kata Barat sembari menjajarkannya dengan gagasan pribumi, yang lantas dibaca melalui lensa interpretatif mereka sendiri, untuk kemudian dipakai dengan penyesuaian “sana-sini” yang semakin menegaskan perbedaan tak terjembatani antara penjajah dan terjajah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Musisi Indorock yang umumnya adalah musisi hibrid ini juga kian menunjukkan betapa identitas itu niscaya bukanlah sesuatu yang mutlak dan terberi, melainkan selalu dalam posisi tarik ulur yang senantiasa direkonstruksi terus-menerus. Identitas mereka tidak pernah mapan, sama seperti musik yang mereka usung. Seperti yang sudah jamak kita ketahui, keroncong itu sendiri bukanlah musik asli Indonesia. Ia adalah musik yang berakar dari musik Portugis yang disebut fado, yang dibawa ke Indonesia pada abad ke-16. Musik keroncong awalnya adalah musik yang dimainkan oleh para budak dan opsir Portugis, Maluku adalah salah satu daerah kekuasan Portugis yang menjadikannya cukup lama mengakrabi musik ini dibanding banyak daerah lain di Indonesia. Dalam perkembangannya, musik ini mengalami akulturasi dengan unsur tradisional Indonesia, sekaligus terdapat pergeseran alat musik dan fungsinya. Kontra bass misalnya, di Portugis alat ini merupakan alat musik gesek, namun di Hindia Belanda, kontra bass lama-kelamaan menjadi alat musik petik, setelah sebelumnya pernah menjadi alat musik pukul. Bahkan sebelum musisi Indorock melakukan mimikri dalam musiknya, apa yang ia ambil pun sebenarnya merupakan mimikri, upaya sang budak untuk mengikuti “gaya” tuannya. Gagasan mengenai mimikri dalam keroncong mungkin tidak akan banyak saya bahas di sini, karena sepertinya pembahasan ini sudah banyak disinggung. Saya hanya hendak menunjukkan bagaimana hal-hal semacam ini tidak pernah usai, seperti sejarah gitar sebagai alat musik petik itu sendiri yang memiliki sejarah teramat panjang nan kompleks. Meski Spanyol (dan Portugis) “berjasa” menyebarluaskan gitar akibat invasi kolonialisme yang dilakukannya ke berbagai penjuru bumi, namun jejak sejarah alat musik ini berikut perkembangannya, dapat terus dirunut ke belakang hingga invasi bangsa Moor pada abad ke-8, bahkan mungkin lebih tua lagi dari itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"><span> </span>Dalam proses penulisan paper ini, ada sesuatu yang saya “temukan” dan tidak kalah menarik. Dalam satu perbincangan dengan seorang musisi keroncong, Muhammad Ramdhan a.k.a Ramses,<span> </span>setelah sebelumnya saya putarkan beberapa lagu Indorock, ia berpendapat bahwa sulit baginya untuk menemukan unsur “keroncong” dalam lagu-lagu tersebut. Di telinganya yang sudah menggeluti keroncong 15 tahun lebih, ia berpendapat bahwa unsur rock ‘n roll-lah yang dominan. Akhirnya saya berkesimpulan, walaupun mungkin unsur keroncong baik dalam bentuk sinkopasi dan notasi kromatik sulit ditemukan dalam Indorock, namun yang membuatnya tetap dapat dianggap berakar dari keroncong adalah eksplorasi pada gitar, sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, sesuatu yang belum menjadi hal yang lazim di Eropa masa itu. Namun hal ini menggelitik kegelisahan saya yang lain. Saya menjadi bertanya-tanya, mengapa begitu banyak sumber yang menyatakan bahwa Indorock “erat” dengan keroncong? Bisa jadi, para pakar musik di Belanda masa itu tidak paham sepenuhnya soal musik keroncong, selain persoalan eksplorasi gitar yang membuat mereka tercengang itu. Patut dicatat bahwa Indorock tidak dikenal luas di Indonesia, sama seperti The Tielman Brothers itu sendiri, menjadikan tidak [atau belum] ada pakar musik Indonesia yang memberi komentar. Bisa jadi. Tapi, bagaimana dengan para musisi Indorock itu sendiri? Mereka sudah pasti jauh lebih paham hal-hal semacam ini. Bagi banyak musisi, seperti yang kita pahami, tidak banyak memang yang merasa perlu berpusing-pusing dengan pelabelan musik mereka, seperti juga nama Indorock yang diberikan oleh publik Eropa. Urusan seperti itu, seperti juga apa dan bagaimana musik mereka, biasanya memang menjadi santapan kritikus. Tapi ijinkan saya untuk membayangkan hal lain. Bahwa pengakuan publik Eropa terhadap eksistensi musik keroncong dalam musik mereka yang diterima luas itu adalah salah satu bentuk pengukuhan sekaligus pengakuan terhadap eksistensi bagi keberadaan “rumah” mereka yang nun jauh, yang mereka rindukan. Para musisi ini membiarkan eksotisme, yang tentu saja sanggup menjual ini, “membuai” publik Eropa, sebuah bayangan akan Timur yang mereka idamkan. Lebih jauh, hal ini juga bisa kita lihat bagaimana Timur yang pernah mereka “taklukkan” ini, akhirnya sanggup “berdamai” dengan budaya mereka, budaya Barat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"><span> </span>Respon negatif yang dilontarkan para kritikus musik Belanda terhadap penampilan The Tielman Brothers, mungkin tidak pula bisa kita pandang melulu dikarenakan aksi panggungnya yang tidak sesuai dengan norma-norma konservatif Belanda. Saya rasa, disini ada semacam “ketakutan”, ketika bagaimana musik dari “mantan budak” mereka ini ternyata diterima oleh publik Belanda dan Eropa secara luas. Dampak dari Indorock ini ternyata memang jauh lebih hebat dari yang saya bayangkan. Dalam <em>Dutch Culture in European Perspective: 1950 </em>(2004) disebutkan bahwa apa yang dilakukan The Tielman Brothers ini dapat dipandang serupa dengan aksi Elvis Presley yang sanggup menerjemahkan idiom musik kulit hitam bagi khalayak kulit putih, ketika mereka sanggup menerjemahkan rock ‘n roll menjadi lebih “Belanda”<a name="_ednref10" href="#_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">[x]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. Kesukesan The Tielman Brothers juga diakui membawa banyak perubahan bagi kultur anak muda Belanda saat itu, bahkan berperan terhadap lahirnya kultur anak muda di Belanda menjadi sesuatu yang otonom dan diterima, untuk pertama kalinya. Ketakutan khalayak Eropa tadi menjadi beralasan, ketika kehadiran anak-anak muda [non-Belanda] ini justru sanggup mengubah tatanan nilai yang sudah lama dianut oleh budaya orang tua. Apa lagi, ia bersumber dari sesuatu yang terlepas dari genggaman “orang tua” ini, sebuah tanah yang mereka sebut Hindia Belanda. Lihatlah juga bagaimana pada sampul album piringan hitam The Tielman Brothers yang bertajuk <em>O Sole Mio</em> (1964), disertai pernyataan jelas: “<em>We don’t have Indonesia anymore …, but we still have The Tielman Brothers</em>”<em>. <span> </span></em>Ternyata, tidak hanya orang-orang dari negeri jajahan saja yang membutuhkan pengakuan; pihak kolonial, atau Barat, pun membutuhkannya demi pengukuhan satu bentuk “kedirian” mereka yang tercerabut paksa, sembari pada saat bersamaan seakan berusaha mengingatkan kembali dan “bermain-main” dengan romantisme masa lalu. Di sini, kita juga bisa melihat sesuatu yang jelas lainnya: kalimat ini menunjukkan bahwa The Tielman Brothers tetaplah bukan “Belanda”, tetapi sesuatu yang mereka [pernah] miliki, ia adalah tetap “Indonesia”. Saya jadi bertanya-tanya apa yang dirasakan oleh The Tielman Brothers ketika mereka membiarkan tulisan itu tercantum di sampul album mereka. Banggakah – karena merasa “diakui”? Atau sedih – karena “tidak diakui” (dan harus berdamai atas nama “pasar”)? Entahlah. Memang, Andy Tielman, sang gitaris sekaligus <em>front man </em>dari The Tielman Brothers sudah sejak lama dijuluki oleh publik Belanda sebagai <em>The Godfather of Dutch Rock ‘n Roll</em>, sementara bagi para penggemar Indrock ia biasa disebut <em>The Uncrowned King of Indorock</em>. Pada tahun 2005, atas jasa-jasanya bagi perkembangan kultur pop Belanda, Andy mendapatkan penghargaan <em>Order of Orange Nassau</em> dari pemerintah Belanda. Pengakuan itu bisa jadi memang sudah ada, setidaknya dari sisi musikalitas, sesuatu yang sepertinya sudah bisa bermakna banyak bagi seorang musisi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Webdings;"><span>»<span>»</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"><span> </span>Di pihak lain, terlepas dari perdebatan tentang identitas The Tielman Brothers dan Indorock (juga Maluku), ia ternyata sanggup menyisakan kebanggaan bagi banyak pihak di Indonesia, sebagaimana dilansir di awal tulisan ini. Kebanggaan ini bisa mudah dipahami ketika ada sesuatu yang dapat dikatakan cukup dekat dengan kita (Maluku di bayangan teman-teman ini sudah pasti Maluku sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia) mendapat pengakuan dari banyak pihak, yang dalam hal ini notebene adalah Eropa. Memang, penampilan memukau The Tielman Brothers dalam video tadi bisa dengan mudah membuat siapa saja tercengang dan menggelengkan kepala. Namun, saya sedikit bertanya-tanya apakah komentar-komentar yang “beraroma” nasionalisme itu juga akan muncul jika katakanlah, mereka tidak memakai jas <em>a la </em>orang Eropa, menyanyikan lagu tradisional, tidak menampilkan orang kulit putih yang <em>nongol</em> untuk merapikan panggung (anggaplah di studio mana video ini direkam atau diputarkan untuk publik mana video ini berada di luar konteks, karena bahkan jika mereka tahu pun saya rasa tidak menjadi persoalan, apa lagi hal ini tidak bisa diketahui dengan mudah jika hanya melulu menyaksikan video ini), walaupun menampakkan kemampuan musikalitas dan aksi panggung yang sama? Seperti teman saya yang tidak saya beri pengantar tentang apa dan siapa band ini hingga ia selesai berkomentar? Atau bisa jadi mereka bangga setelah mengetahui band ini diakui di Eropa dan sanggup melahirkan genre musiknya tersendiri? Atau mungkin hal ini juga bisa menimbulkan kebanggaan karena gaya para musisi ini mirip dengan gaya para musisi idola mereka sekian lama, yang kebetulan tidak ada “sangkut-pautnya” dengan Indonesia, dan hampir semuanya Eropa, yang bisa jadi mereka percaya sebagai sesuatu yang orisinil? Berlawanan dengan semangat komentar-komentar ini, saya tidak berani mempertanyakan lebih jauh “nasionalisme” dan “ke-Indonesia-an” dari para musisi Indorock ini, selain fakta bahwa banyak dari para musisi ini yang memilih menghabiskan masa tuanya di Indonesia dan menghembuskan nafas terakhirnya di tanah air. Saya percaya rasa keterasingan itu ada, sama seperti musik mereka sendiri di tanah air, persis seperti salah satu lagu The Tielman Brothers, <em>I’m A Stranger In My Land</em>, walau saya masih sibuk mereka-reka, “<em>land</em>” manakah yang mereka maksud. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"><span> </span>Saya terus-terang juga mempertanyakan mengapa popularitas The Tielman Brothers tidak begitu luar biasa mengingat segala pencapaian musikalitas mereka? Bisa jadi ia tidak dikenal luas di Indonesia (seperti juga gitaris Ambon Lodewyk Nanlohy yang membawa pengaruh besar bagi <em>scene </em>rock ‘n roll Australia) mengingat masa jaya mereka adalah era kepemimpinanan Soekarno, tapi bagaimana di belahan dunia lainnya, apakah benar itu ada keterkaitan dengan “ke-bukan-Eropa-an mereka” atau jawabannya “sesederhana” berada dalam pusaran kapitalisme semata? Apakah akan berbeda misalnya, jika mereka ada di Amerika? Karena kalau bicara masalah zaman dan teknologi media, ada begitu banyak musisi sebelum mereka yang sudah dikenal luas. Apakah ini terkait melulu dengan “ke-konservatif-an” Belanda? Ah, mungkin jawaban untuk semua ini akan bisa menjadi sangat panjang lagi dan menjadi sangat politis, dan membutuhkan kaca pembesar yang lain lagi untuk meneropongnya.</span></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn1" href="#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Kutipan ini saya ambil dari blog beralamat </span><a href="http://menteridesainindonesia.blogspot.com/"><span style="color:#000000;">http://menteridesainindonesia.blogspot.com</span></a><span lang="SV">. </span>Namun komentar senada bisa dengan mudah ditemukan di situs-situs, milis, atau blog lain; baik dari dalam atau luar negeri.</p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[ii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sebagian besar sejarah Indorock dan The Tielman Brother saya sarikan dari tulisan Piet Muys, <em>The History of Indorock</em> (1999) dan <em>The Tielman Brothers (</em>2003) dalam <a href="http://indorock.pmouse.nl/"><span style="color:#000000;">http://indorock.pmouse.nl/</span></a> , yang terakhir saya unduh pada 25 April 2008.</p>
<p class="MsoEndnoteText">Tidak banyak referensi terkait Indorock yang bisa saya akses, umumnya artikel tersebut berbahasa Belanda. Walaupun akhir-akhir ini banyak artikel yang mengulas tentang Indorock, namun semua artikel yang saya temukan hanya merupakan reproduksi dari tulisan Piet Muys diatas, termasuk artikel Wendy Putranto berjudul <em>Stranger in Their Land</em> yang mengulas tentang The Tielman Brothers dan dimuat oleh majalah yang kerap dijadikan barometer musik, The Rolling Stones, pada edisi 29, September 2007 (edisi Indonesia). Kesemua tulisan itu lebih membicarakan Indorock dari sisi musikalitasnya saja.</p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-family:Garamond;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:Garamond;">[iii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:Garamond;"> Paragraf ini saya sarikan dari tulisan Rockin’ Henry yang berjudul “50 Years Rock ‘n Roll in Netherlands” yang pernah dimuat di majalah Belanda/Belgia Boppin’ Around pada tahun 2005. Penulisan kata-kata “putih/biru/hitam” adalah sebagaimana penyebutan yang ada di artikel itu (“white/blue/black”). Artikel ini saya unduh pada 19 Mei 2008, dari <a href="http://members.lycos.nl/"><span style="color:#000000;">http://members.lycos.nl/</span></a>playlistsite/html/50yearsdutchrandr.html/.</span></p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn4" href="#_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[iv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ben Allen &amp; Aart Loubert, “History &amp; Identity: Moluccans in the Netherlands”, The Hague Legal Capital, 2005. Diunduh pada 2 Juni 2008 dari <a href="http://www.thehaguelegalcapital.nl/lc/publications/articles/History%20and%20Identity.doc"><span style="color:#000000;">www.thehaguelegalcapital.nl/lc/publications/articles/History%20and%20Identity.doc</span></a>.</p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn5" href="#_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[v]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat Dick Hebdige, <em>Subculture: The Meaning of Style</em>, 1979, dari edisi Indonesia: <em>Asul-Usul &amp; Ideologi Subkultur Punk</em>, Ari Wijaya (penerjemah), Buku Baik, tanpa tahun, hlm. 78-79.</p>
</div>
<div id="edn6">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn6" href="#_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[vi]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> sebagaimana dikutip dari tulisan Piet Muys, “The Tielman Brothers”, 2003; dinduh dari <a href="http://indorock.pmouse.nl/"><span style="color:#000000;">http://indorock.pmouse.nl/</span></a> pada 25 April 2008</p>
</div>
<div id="edn7">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn7" href="#_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[vii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat Dick Hebdige, <em>Subculture: The Meaning of Style</em>, 1979, dari edisi Indonesia: <em>Asul-Usul &amp; Ideologi Subkultur Punk</em>, Ari Wijaya (penerjemah), Buku Baik, tanpa tahun, hlm. 80.</p>
</div>
<div id="edn8">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn8" href="#_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[viii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat Amin Maalouf, <em>In the Name of Identity</em>, dari edisi Indonesia, Ronny Agustinus (penerjemah), Resist Book, 2004, hlm.39-40.</p>
</div>
<div id="edn9">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn9" href="#_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[ix]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat Homi K. Bhabha, “Cultural Diversity &amp; Cultural Differences”, dalam <em>The Postcolonial Studies Reader</em>, Bill Ascroft et.al (<em>ed.</em>), London: Routledge, 1995, hlm 208 – 209.</p>
</div>
<div id="edn10">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn10" href="#_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[x]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat Kees Schuyt &amp; Ed Taverne, <em>Dutch Culture in European Perspective: 1950</em>, Uitgeverij Van Gorcum: 2004, hlm. 408.</p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=91&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2008/08/17/indorock-musik-%e2%80%9chibrid%e2%80%9d-dan-secelah-ruang-ketiga-yang-nyaris-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LAUNCHING BUKU &amp; FILM DI TAMAN 65     (8 Februari 2008 Pukul 18. 00 WITA &#8211; till drop)</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2008/02/06/83/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2008/02/06/83/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 06:54:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=83&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://taman65.files.wordpress.com/2008/02/pamflet.jpg?w=464&#038;h=568" alt="inilah pamflet itu" align="top" height="568" width="464" /></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=83&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2008/02/06/83/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taman65.files.wordpress.com/2008/02/pamflet.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">inilah pamflet itu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KARENA SAYA JUGA BERTATTOO. . .</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2008/01/11/karena-saya-juga-bertattoo/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2008/01/11/karena-saya-juga-bertattoo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 04:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/2008/01/11/karena-saya-juga-bertattoo/</guid>
		<description><![CDATA[“&#8230;wishful, sinful, our love is beautiful to see I know what I would like to be, right back where I came&#8230;” The Doors/wishful sinful/The Soft Parade Saya memiliki tato pada lengan sampai kaki kanan saya dan gambar matahari memenuhi punggung, yang bagian atasnya bertuliskan “Rest In Pain”. Tato di lengan sampai kaki saya itu berpola [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=81&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><i><span style="font-size:10pt;">“</span></i></b><i><span style="font-size:10pt;">&#8230;wishful, sinful, our love is beautiful to see I know what I would like to be, right back where I came&#8230;”</span></i></p>
<p align="right">  <i><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"><span>                                                                                                      </span>The Doors/wishful sinful/The Soft Parade</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Saya memiliki tato pada lengan sampai kaki kanan saya dan gambar matahari memenuhi punggung, yang bagian atasnya bertuliskan “<i>Rest In Pain</i>”. Tato di lengan sampai kaki saya itu berpola <i>celtic</i> yang disambung dengan pola <i>biotech. </i>Keseluruhan tato pada tubuh saya memakai tehnik <i>black and grey</i> kecuali pada bagian kaki memakai tehnik <i>color</i>. Mesin tato yang digunakan oleh “artis tato” yang mentato tubuh saya masih berupa mesin sederhana yang dirakit sendiri dari bekas dinamo kipas angin dan jarum yang digunakan adalah jarum jahit ukuran duabelas. Tinta yang digunakan pun bukanlah tinta yang biasa digunakan di studio-studio tato, tapi tinta gambar merk rotring yang biasanya digunakan untuk mengisi ulang pena gambar arsitek. Yang menorehkan tinta pada tubuh saya bukanlah artis tato profesional, tapi seorang teman sepermainan yang tadinya menggelar lapak tato dipinggir jalan kota Bandung<a href="#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span id="more-81"></span><span>Dulu sebelum saya memiliki tato, saya selalu memandang takjub pada tubuh yang penuh dengan tato. Saya selalu berpikir bagaimana mereka menahan sakit pada tubuh mereka, mengapa mereka rela menahan sakit, dan apa kepuasan yang mereka dapat setelah itu? Titik balik dimana saya merasa saya harus merasakan semua jawaban pertanyaan itu adalah ketika kakak saya di damprat habis-habisan oleh bapak karena ia mentato tubuhnya. Bisa dikatakan kalau saya sedikit tertantang dengan aturan ketat orang tua yang terasa begitu erat mengikat dengan tameng norma-norma umum. Tato pertama yang saya buat adalah tato matahari di punggung saya beserta tulisan diatasnya. Menurut beberapa teman, saya cukup berani (sebagai seorang yang sama sekali belum pernah ditato) untuk membuat tato sebesar itu. Tato itu hanya menyisakan sedikit ruang kosong di punggung saya. Memang benar, proses mentato tubuh terasa sakit, tapi kenikmatan setelahnya mengalahkan (ingatan akan) sakit itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Kenikmatan bertato saya dapatkan ketika ada seseorang (yang juga bertato) memperhatikan tato yang saya punyai. Selain itu, ia menjadikan saya “berbeda” dengan orang lain, ia membentuk kedirian saya di hadapan yang lain. Meskipun pembentukan kedirian saya mengarah kepada yang negatif dihadapan yang lain. Ia menjadi negatif ketika dihadapkan pada moralitas bentukan kuasa. Tato yang melekat pada tubuh saya, bisa dilihat sebagai “pemberontakan” atas batas-batas “kenormalan”. Sebaliknya, tubuh saya tidak “melakukan” apapun dihadapan yang lain yang juga memiliki tato. Dihadapan yang lain ini saya dibedakan dari tehnik, pola, dan seterusnya yang berhubungan dengan tato. Dengan kata lain selalu ada sekat antara saya dengan yang lain, bisa saja sekat itu berupa cermin yang memantulkan diri saya, bisa juga “tembok” yang menghadapkan saya pada sesuatu yang benar-benar berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Pertama-tama <i>others</i> yang mesti hadapi adalah orang tua yang mengekang dengan norma-norma kenormalan bentukan kuasa. Melalui norma-norma ini, kekuasan yang dihadapi tidak lagi berupa kuasa (negara) yang berada nun jauh disana, melainkan kuasa (negara) yang sudah melekat pada tubuh orang-orang sekitar yang sangat dekat dan kasat mata. Rezim disiplin, dalam pandangan ini, tidak perlu jauh dicari, ia berada dekat sekali, bahkan sangat dekat. Sebuah “perlawanan” yang sangat beresiko. Yang dipertaruhkan disini bukan sekedar pengurungan tubuh secara fisik sebagaimana yang terjadi pada sebuah perlawanan pada kuasa negara. Terkadang yang dipertaruhkan disini adalah “kehilangan keberadaan diri” dihadapan orang tua. Perkataan seperti misalnya, “Memalukan nama keluarga!” bisa dilihat sebagai salah satu ekspresinya. Mereka juga adalah cermin dimana saya selalu berusaha mencari cara untuk memenuhi hasrat mereka. Kenikmatan ketika saya bertato juga bisa dicari jejaknya dari sini. Ketika mereka berpaling dari saya, saya berusaha menjadi apa yang bukan mereka untuk menarik perhatian mereka lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Dengan kontras, ketika mereka kembali berpaling pada saya namun menunjukkan ketidak sukaannya, hal itu menggoreskan luka mental pada kedirian saya. Kembali lagi saya terasing dari hasrat yang lain. Perasaan berdosa ini kemudian menjadi perantara atas dua kemungkinan terbesar. Pertama, saya akan “terpuruk” dalam perasaan berdosa dan merasa terancam dengan dosa yang telah saya lakukan. Perasaan terancam ini kemudian akan menyarankan suatu keadaan siaga sekaligus ketakutan. Bersiaga agar tidak lagi melakukan kesalahan, karena dengan kesalahan itu orang tua saya berpaling dari saya. Pada saat yang sama saya takut mendapat hukuman setelah apa yang saya lakukan. Dengan demikian dengan tidak langsung (dan dengan disadari ataupun tidak) orang tua saya adalah kuasa yang mesti saya patuhi (meski secara verbal tak ada kalimat pelarangan), mereka menundukkan (tubuh) saya menjadi tubuh yang patuh. Kedua, saya akan tetap “melawan” kuasa itu dengan segala konsekwensinya. “Perlawanan” ini lebih disebabkan karena luka yang digoreskan itu. Sementara perasaan berdosa itu adalah pemicu “perlawanan” tersebut. Luka itu mencederai kedirian saya sehingga saya bersikap defensif yang lebih mengarah pada agresifitas binatang yang terlukai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Secara fisik, tubuh yang dipenuhi tato adalah tubuh yang “mengancam” kekuasaan dalam kemampuannya untuk “tidak tunduk”. Masyarakat moralis “mendapat” legitimasi kuasa (negara) untuk “menyingkirkan” tubuh yang kira-kira memiliki potensi untuk “bersaing” memperebutkan kekuasaan. Dengan kekuasaan yang ia peroleh inilah mereka menunjukkan kontras baik-buruk tubuh dengan tato. Ketidak jelasan batas baik-buruk disamarkan dengan mengetengahkan moralitas bentukan kekuasaan (negara) melalui (salah satunya) media. Pada akhirnya seseorang tidak lagi dikurung dalam sebuah ruang sempit penjara, namun ia merasa selalu diawasi dan merasa dituntut untuk mengikuti norma-norma bentukan kuasa (negara). Penjara tanpa terali yang mengurung fisik inilah yang menciptakan tubuh-tubuh yang patuh. Patuh untuk mengikuti norma-norma bentukan, bahkan patuh untuk tidak “bernafas”!</span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--><br />
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<div>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref1" title="_edn1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Untuk glosari istilah-istilah, pola, tehnik, jenis tinta dan jenis mesin tato, lihat: Hatib Abdul Kadir Olong, LKiS, 2006.</p>
<p class="MsoEndnoteText">&nbsp;</p>
<p class="MsoEndnoteText"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoEndnoteText">&nbsp;</p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=81&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2008/01/11/karena-saya-juga-bertattoo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MUNGKIN KITA ADALAH KORBAN atau PELAKU SELANJUTNYA (Membaca Ulang Buku “Suara Perempuan Korban Tragedi 65”)</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2007/09/30/mungkin-kita-adalah-korban-atau-pelaku-selanjutnya-membaca-ulang-buku-%e2%80%9csuara-perempuan-korban-tragedi-65%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2007/09/30/mungkin-kita-adalah-korban-atau-pelaku-selanjutnya-membaca-ulang-buku-%e2%80%9csuara-perempuan-korban-tragedi-65%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Sep 2007 00:57:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/2007/10/01/mungkin-kita-adalah-korban-atau-pelaku-selanjutnya-membaca-ulang-buku-%e2%80%9csuara-perempuan-korban-tragedi-65%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=80&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah ada pelaku. Mereka si pelaku ini bukanlah subjek pasif karena mereka menikmati juga, menikmati tubuh-tubuh perempuan yang direndahkan dan disiksa secara sexsual itu. Karena alasan tugas atau strategi mereka si pelaku ini mempunyai ruang sebebas-bebasnya mengoyak tubuh-tubuh perempuan yang tidak berdaya ini. Bahkan ketika ada ruang kebebasan yang disahkan ini, mampu menjadikan manusia-manusia pelaku ini sebagai manusia yang super berani. Cerita moral yang diberikan ibu-ibu mereka, kaidah agama ataupun norma-norma sosial lenyap dalam kegagahan mereka saat melakukan penyiksaan. Kemachoan absolute mereka sebagai laki-laki pemberani muncul di bawah rasa takut perempuan yang disekap.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span id="more-80"></span>Buku ini dibuat oleh Ita F Nadia, ringan dibaca namun berat dicerna. Berat karena langsung menyentuh perasaan muak, sedih, jijik, sekaligus marah bahkan mungkin tidak kuat lagi untuk membacanya. Di sini akan terpampang secara blak-blakan bagaimana pahitnya sejarah untuk diingat. Ini adalah buku pengakuan beberapa perempuan yang disekap dan disiksa karena mereka dituduh sebagai komunis. Tidak ada cerita besar seperti terlibatnya CIA dalam tragedi itu, ataupun menceritakan masalah konflik internal TNI. Hanya memuat cerita dari kaum kecil tapi bermakna besar. Setelah anda membaca buku ini maka akan terbersit kengerian jika dimasa depan anak perempuan, saudara perempuan ataupun ibu kita <span> </span>mungkin akan mengalami penderitaan ini. Sudah pasti laki-laki yang menjadi dalangnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Membaca buku-buku sejarah tentang peristiwa 65 yang melulu bercerita tentang situasi politik Negara pada waktu itu, akan berbeda rasanya ketika membaca cerita-cerita dari korban-korbanya langsung. Mendengar cerita dari para korban, sejarah tragedi itu bukan lagi berada jauh. Bukan lagi cerita milik orang-orang besar yang terlibat dalam tragedi itu semisal para tokoh, para jendral, para menteri ataupun spionase asing. Cerita-cerita besar inilah yang menjadikan kejadian berdarah itu seolah-olah jauh dari dunia keseharian. Mendengar penuturan korban maka kengerian sejarah itu lebih terasa, dan membuat kita bertanya apakah salah satu dari keluarga kita terlibat. Tragedi berdarah itu bisa masuk ke ruang paling intim yang bisa merengut esksitensi orang yang kita cinta. Tragedi itu bisa masuk ke dalam rumah orang-orang biasa yang tidak tahu juntrung persoalannya seperti <span> </span>ibu-ibu ini. Umumnya mereka adalah masyarakat biasa yang sama sekali tidak tahu menahu alasan mereka dicabik-cabik. Ketika membaca ini kengerian timbul, apakah ke depan ini akan terulang jika terjadi kemelut melanda dunia politik orang-orang besar. Karena mungkin kita adalah bagian dari orang-orang biasa yang bisa saja jadi korban, walaupun sama sekali tidak mengerti akar pemicu malapetaka. Karena itulah sejarah penuturan korban tidak berada jauh, melainkan menjadikannya sangat dekat, dan mungkin kita adalah korban selanjutnya. Bisa jadi kita si laki-laki adalah bagian dari pelaku dikemudian hari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Petaka bisa datang kapan saja, entah pagi, siang dan malam. Tidak perduli momen dan waktu, petaka bisa datang langsung tanpa permisi masuk ke dalam rumah mu. Ini bukanlah tsunami, manusia murka juga datang dengan kengerian yang secara tiba-tiba. Mirip dengan tsunami, mampu menghempaskan jutaan orang dengan cepat dan mampu menciptakan trauma yang dahsyat. Para korban ibu-ibu ini bukan hanya mengalami penyiksaan fisik, tapi setelah mendapatkan masa bebas mereka juga mengalami penyikasaan sosial. Cap “komunis” menghantui warga, sehingga pengusiran oleh warga menjadi akibat yang ditanggung korban. Identitas mereka ganti di rantauan untuk strategi survive karena sudah terlanjur di cap.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Bagi para pelaku sudah pasti kemunculan cerita-cerita ini sangat menghantui mereka. Mereka terlihat sebagai mahluk biadab yang sangat tangguh mengobrak-abrik ‘organ’ perempuan. Pelaku yang memiliki kuasa saat ini tentunya akan berusaha meredam pengakuan-pengakuan para korban. Bisa dibayangkan seandainya terbongkar maka kejantanan dan keperkasaan sang pelaku akan rontok. Mereka akan terlihat pengecut karena menundukan seseorang yang tidak berdaya dengan gagah dan garangnya. Tidak bisa dibayangkan seandainya anak-anak para pelaku ini tahu perbuatan bapak-bapak mereka. Keperkasaan pelaku sebagai pemimpin di dalam keluarga, ataupun di dalam perusahaannya akan remuk rontok. Anak-anak mereka ataupun anak buah mereka akan bertanya balik apakah kesuksesan yang mereka nikmati karena cara-cara yang biadab. Anak buah tahu mungkin bisa dipecat, anak-anak tahu maka akan menanggung malu seumur hidup. Oleh karena itu maka cerita ini berbahaya bagi nyaman dan harmonisnya keluarga, karena itu harus dilenyapkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Tragedi 65 adalah sebuah tragedi dimana kejantanan menjadi pertaruhan. Resim orde baru tumbuh karena mereka mempertaruhkan kejantanannya. Negara orde baru muncul sebagai sebuah bentuk kejantanan yang terlihat absolute. Lihat program-program PKK, disana laki-laki diciptakan sebagai pemimpin serta pengayom keluarga. Begitu istimewanya posisi laki-laki sehingga dikonstruksi sebagai pelindung kaum perempuan yang dianggap lemah. Laki-laki adalah Superman yang nyata, ini terbukti dari didirikannya puluhan bangunan megah ciptaan orde baru sebagai tanda kesuksesannya. Istilah bapak bangsa pun menjadi semakin popular. Laki-laki sangatlah dihargai setinggi langit. Keberhasilan ini merupakan ciptaan seorang pemimpin yaitu si laki-laki. Melihat cerita dari para korban perempuan ini maka akan terlihat kejantanan itu rapuh. Melihat ini maka kejantanan itu telah kalah dalam taruhannya. Mereka tidak-lah jantan seperti yang mereka kira, karena sukses dengan cara-cara yang tidak jantan walaupun beraksi bengis dengan gagahnya kala itu. Keberanian pada dasarnya adalah sebuah tindakan pengecut. Keberanian yang lahir bukan karena berani menentang maut, melainkan karena tidak adanya maut maka mereka berani. Tokoh Bima salah satu jendral dari keluarga Pandawa dalam epos Mahabarata menjadi berani karena ia memiliki kekuatan dari anugerah Para Dewa Perang, apakah Bima dalam perang kuru bisa menjadi berani kalau dia tidak memiliki kekuatan yang dikondisikan tadi?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Memperkosa beramai-ramai, menyetrum orang yang tidak berkutik, melukai tubuh orang yang diikat adalah bahan-bahan dasar kokoh bangunan megah nan perkasa kepemimpinan laki-laki. Di satu sisi kepemimpinan laki-laki ini disulap sedemikian rupa seolah-olah kepemimpinan laki-laki sangatlah gagah tanpa dosa. Tapi jika melihat sejarah penuturan korban maka tidak aneh lagi, gonjang-ganjing <span> </span>negara kita saat ini dilestarikan oleh cara-cara biadab. Sejarah yang kita pelajari adalah sejarah kebiadaban, hingga saat ini masih lestari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;">Wajah Indonesia masih tetap sama dari dulu sampai sekarang. Rakyat banyak menjadi korban kekerasan yang tidak hanya terkait dengan peristiwa 65. Korban Penggusuran, korban KKN, korban penculikan, korban kekerasan aparat, adalah salah satu dari puluhan korban yang<span>  </span>juga ingin diakui dan didengar pengalaman mereka. Jika kita menggantungkannya pada resim maka kekerasan-kekerasan yang berlimpah ini akan diseleksi mengikuti kepentingan sang rezim. Jelas karena cerita-cerita ini mungkin saja akan dapat mengangangu jalannya resim, karena itu diseleksi. Rasa duka, sedih, marah, dan trauma para korban dikompetisikan dalam arena seleksi<span>  </span>buatan rezim. Alangkah baiknya kalau semua cerita ini bisa dibagi-bagikan ke masyarakat, sehingga kita bisa belajar dari cerita-ceita korban ini. Ini akan gawat kalau rezim nanti percaya bahwa masa depan akan lebih baik jika melupakan yang buruk dimasa lampau. Semua cerita buruk korban-korban berbagai macam kekerasan ini akan menjadi masa lalu saja. Gawatnya lagi setiap kekerasan akan terus menjadi masa lalu, walaupun itu masih dilakukan hari ini dan esok hari.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=80&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2007/09/30/mungkin-kita-adalah-korban-atau-pelaku-selanjutnya-membaca-ulang-buku-%e2%80%9csuara-perempuan-korban-tragedi-65%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGUJI NYALI DI BALI (Peneliti Asing Dalam Cengkraman  Orientalisme Medis)</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2007/09/21/menguji-nyali-di-bali/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2007/09/21/menguji-nyali-di-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Sep 2007 11:57:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/2007/09/21/menguji-nyali-di-bali/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman dari Amerika datang ke rumah, ia rencananya mau menginap di tempatku. Dengan tergopoh-gopoh dua tas besar ia jinjing dan satu tas lagi ia gendong. Tubuh bermandikan keringat, nafas terengah-engah dan tanpa rasa sungkan dua gelas plastik air minum yang kami hidangkan langsung diminumnya. Ia ingin tinggal di Denpasar dengan harapan dapat memperoleh tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=79&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Seorang teman dari Amerika datang ke rumah, ia rencananya mau menginap di tempatku. Dengan tergopoh-gopoh dua tas besar ia jinjing dan satu tas lagi ia gendong. Tubuh bermandikan keringat, nafas terengah-engah dan tanpa rasa sungkan dua gelas plastik air minum yang kami hidangkan langsung diminumnya. Ia ingin tinggal di Denpasar dengan harapan dapat memperoleh tempat kost yang jauh lebih murah, daripada hotel di Ubud yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Karena ia antropolog tentunya keberadaanya di Bali untuk sebuah penelitian. Kehidupan perempuan Bali menjadi fokus temanya. Untuk beberapa hari ia tidur di tempatku sebelum menemukan tempat yang ideal baginya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span id="more-79"></span>        <span style="font-size:10pt;">            Bali adalah pulau surga para peneliti, dari Cliford Gertz sampai Geoffery Robinson pernah dan terkenal sebagai peneliti karena Bali. Bali juga pulau para turis dari Four Season sampai Bvlgari Hotels n Resort menancapkan tembok kokohnya di sana. Turis dan peneliti asing adalah sama-sama orang asing, tetapi terkadang peneliti asing tidak mau disamakan dengan turis. Teman saya ini ia sangat tersinggung kalau dianggap tourist karena tourist berkonotasi hanya datang sebagai pengembira yang hanya suka hura-hura. Bukan bermaksud menyederhanakan persoalan terkadang ada yang sama antara peneliti asing dan turis asing selain mereka semua adalah manusia dari negeri seberang. Tetapi sebelum mencari persamaanya mari kita cari perbedaanya terlebih dahulu. Persamaan dan perbedaan ini nantinya penting untuk mengetahui keterkaitannya terhadap yang dibayangkan orang tentang identitas ketimuran. Timur yang selalu dikonstruksi identitasnya mengikuti era dan jamanya, timur dalam konteks kekinian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Tourist membayangkan kebudayan Bali sebagai sebuah tempat hiburan dan pertunjukan yang dapat menghilangkan dahaga romantisme. Tourist biasanya tertarik dengan pagelaran seni, panorama alam, pura serta candi peninggalan para leluhur sebagai obyek foto. Gambar-gambar indah ini nanti menjadi penghias album foto mereka. Sedangkan para peneliti biasanya suka situasi dibalik layar kemegahan pariwisata, seperti kehidupan anak-anak terlantar di Bali, ibu-ibu korban kekerasan domestik dan pegawai hotel yang merana akibat tragedi bom Bali. Peristiwa dibalik layar ini menjadi objek foto mereka, untuk melengkapi data dan dokumen penelitian. Disini kebudayaan Bali dibayangkan sebagai sebuah ruang yang politis, ada yang terhempas dan ada yang bersulang. Sudah sepantasnya kaum peneliti harus mendapatkan realitas yang lebih dalam sifatnya, mencari sesuatu diluar image dan citra umum, sehingga mengetahui dan berempati terhadap situasi di balik layar adalah bagian dari misi penelitian. Dari sini saya menyadari kenapa teman saya enggan di anggap turis. Status menjadi turis tidak sesuai dengan misi untuk berempati. Juga ada sebuah kesulitan jika berstatus turis, ada perasaan berdosa melanggar etika bagi seorang peneliti. Karena posisi teman saya sebagai peneliti ia dituntut bersusah payah meminimalisir batas antara dia sebagai orang asing dengan manusia Bali sebagai subjek penelitianya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Belajar bahasa indonesia dengan giat, tinggal di wilayah penelitian lebih lama dan berdialog dengan subjek lebih intens, salah satu usaha para peneliti asing untuk dekat dengan si subjek. Kalau berstatus turis tentunya tidak perlu susah-susah mengerti bahasa seseorang, justru orang lokal sendiri yang ingin mendalami bahasa mereka. Turis memiliki batas yang jelas karena mereka adalah tuan dan orang lokal memposisikan dirinya sebagai pelayan mereka. Kalau peneliti apalagi aktivis asing mereka sendiri yang ingin memposisikan diri sebagai pelayan orang lokal dengan metode dan pengetahuanya. Membuat program kemanusiaan ataupun penyuluhan melalui seminar-seminar salah satu contohnya. Tapi bagi orang lokal mereka tetaplah turis yang harus dibalas dengan senyum dan keramahan. Tetap saja mereka adalah target yang dapat mendatangkan keuntungan. Saya mempunyai sebuah pengalaman menarik, ketika saya ajak teman saya itu kesalah satu LSM ternama di Bali. Tanpa basa-basi dan rasa sungkan aktivis lokal ini menyodorkan masalah yang dia hadapi. Masalah sosial yang ditangani LSMnya langsung disodorkan dengan sejujur-jujurnya, dengan harapan teman saya bisa bantu carikan lembaga dana. Mengapa permasalahan itu tidak di sodorkan kepada saya ? Kenapa permasalahan yang ia hadapi lebih jujur diungkapkan kepada orang asing dari pada orang Bali sendiri? Apakah mungkin teman saya bisa mendapatkan status peneliti karena dilain pihak subjek penelitian tetap memandang mereka sebenarnya juga turis yang melulu menjadi lahan profit datangya kucuran dolar? Di sini salah satu persamaan antara turis dan peneliti asing, ketika adanya sebuah persamaan persepsi orang lokal kepada mereka. Mereka tetap seorang mister pembawa dolar entah mister John, mister Michel, mister Fredrick dll.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Peneliti asing berusaha akrab dengan subjek penelitian, mereka berusaha mengikuti pola kehidupan si subjek, mengikuti gaya hidup si subjek, dengan harapan dapat menemukan kedalaman realitas. Ada sebuah kepercayaan jika semakin sama, dan semakin percis dengan subjek, semakin tipis jarak itu. Tetapi sebenarnya ada sebuah ceremonial khusus jika peneliti asing datang ke daerah timur. Mereka berusaha mencari informasi tentang tempat penelitiannya. Terkadang lembaga donor yang menseponsori mereka membuat semacam pendidikan beberapa bulan mengenal tentang Indonesia. Indonesia adalah negara seribu masalah, tidak mudah untuk beradaptasi apalagi jika peneliti berasal dari negeri maju. Menurut teman saya itu semua peneliti dari Amerika mesti dapat imunisasi hepatitis A dan tetanus sebelum berangkat ke indonesia. Makanya saya tidak merasa aneh lagi jika melihat tas teman saya itu penuh obat-obatan. Setiap berangkat tidak lupa lotion anti nyamuk di ransel, karena di indonesia lagi maraknya demam berdarah. Selalu membawa lotion anti septic setelah membasuh tangan sehabis makan, dengan harapan tidak terkena flu burung. Itulah timur kini, sebuah daerah rawan penuh penyakit yang membahayakan. Penyakit yang bisa membunuh orang, yang sama dahsyatnya dengan teroris. Benar memang ada fakta itu, tetapi fakta itu mampu mereduksi, mengenaralisasi dan akhirnya mengarah pada stereotipe identitas. Berdasarkan hal ini, menjadi masuk akal bahwa kebersihan menjadi syarat utama rumah kost yang akan ditempati teman saya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Wilayah timur yang di identitaskan sebagai daerah rawan ini menjadi semacam wilayah tes nyali dan ketangguhan bagi para peneliti asing. Timur adalah Wilayah adu kesaktian menjadi survivor. Mereka melakukan penelitian tetap dengan perasaan was-was, waspada dan sigap untuk menelphone international SOS jika tertular. Disatu sisi etika penelitian mengharuskan mereka menghilangkan sekat dengan dekat terhadap subjek penelitian, di sisi yang lain untuk dekat membutuhkan nyali. Sekat ini yang susah dihilangkan karena ketakutan dan rasa was-was adalah senjata tangguh untuk melahirkan jarak. Mengandaiakan timur sebagai wilayah uji nyali sama saja mengandaikanya sebagai zone perang yaitu daerah yang belum ditaklukan, karena itu harus di taklukan. Mirip dengan acara reality show khas Amrik, <em>Survivor</em> dimana beberapa orang berjuang hidup disebuah daerah asing, disana ada ketakutan, was-was, nyali, dan kecerdikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Alasan medis memang susah di hilangkan, karena siapapun tidak akan mau sakit. Kalau dahulu timur diidentitaskan secara cultural sebagai daerah yang tradisional dan eksotik. Bagi para peneliti kritis, identitas seperti ini sudah ketinggalan jaman. Identitas ini sudah banyak bobroknya, palsu karena terkena bias orientalis dan sangat hegemonik. Sesepuh teoritikus post kolonial Edward Said sudah mengoyak dan meremukan pandangan identitas kaum orientalis klasik ini. Tetapi kalau identitas dilekatkan dengan alasan medis menjadi lain persoalannya, karena sudah menyentuh tubuh si peneliti. Menyentuh tubuh berarti menyentuh subjektifitas, karena tubuh adalah instrument eksistensi, tubuh terkoyak eksistensi sebagai manusia akan terenggut. Tubuh teraniaya sakitnya pun lebih terasa. Ketika terjadi seperti ini timur sebagai identitas bukan lagi berada diluar tubuh. Maksudnya Timur tidak lagi menyangkut dunia diluar barat yang berada jauh. Timur sudah menjelma menjadi katakutan yang sangat membadan dan menjelma didalam tubuh karena eksistensi kehidupan seseorang mampu dilenyapkanya. Demam berdarah, HIV dan flu burung siap menjadi senjata ampuh pembuat jarak yang mengerikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Akhirnya masalah inipun diterjemahkan sebagai masalah adaptasi seseorang yang ingin mencicipi sebuah daerah luar. Tetapi alasan ini melupakan paradigma berpikir seseorang yang ingin berada di sebuah daerah asing. Didalam paradigma itu mengendap bayangan-bayangan tentang kategori-kategori daerah yang ingin di tuju. Kategori-kategori yang di ciptakan wacana medis terus membekas di dalam diri orang barat walaupun sudah berada di daerah timur. Memang mereka berusaha mirip dengan audiens, bahasa indonesianya lancar, mengikuti trend fashion orang lokal, makan-makanan lokal. Tapi tetap detak jantung berdebar, kalau nanti digigit nyamuk, kalau nanti makan ayam yang ada flu burungnya atau makanan yang dimakan kadulu warsa. Ketakutan adalah hak semua orang di dunia, tidak ada larangan untuk itu. Timbul masalah ketika ketakutan ini dianggap sebagai tindakan rasional bagi mereka, maka juga rasional anggapan timur sebagai daerah rawan. Semakin kokoh identitas timur sebagai mahluk pasif, kurang pengetahuan dan jorok, sedangkan Barat sebagai nabi penolong yang siap membantu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Patut di ingat citra identitas ini semakin kuat karena kuatnya fakta bahwa masyarakat kita banyak yang miskin. Kesehatan dan kebersihan menjadi kebutuhan sekunder mereka. Kesehatan ataupun kebersihan hanya dapat di nikmati kalangan berdasi, dan kalangan bermobil kinclong. Sayangnya segerombolan kalangan bermobil kinclong doyan korupsi dan tentunya yang kena sial kalangan kebanyakan yaitu kaum miskin. Lebih sialnya lagi program-program kesehatan dan kebersihan yang digalakan pemerintah menyalahkan gaya hidup kaum miskin ini. Hal ini bisa dilihat dari ramainya pandangan bahwa banyaknya jentik nyamuk melulu karena tidak pernah menguras bak mandi atau tidak pernah membersihkan selokan. Alasan medis dari kelangan penguasa ini mampu mereduksi pandangan bahwa semua ini merupakan kesalahan masyarakat tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena masyarakat tidak mempunyai pengetahuan yang cukup. Kembali ada hirarkis, pemerintah sebagai nabi penolong dan masyarakat adalah sekelompok orang pasif, yang kurang pengetahuan dan jorok. Masyarakat yang mana? tentu saja si jorok miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;">Disini kita melihat bahwa masalah medis juga adalah permasalahan kelas, ada sebuah struktur politik yang mengukuhkan timur sebagai daerah virus. Alasan-alasan medis mampu menghilangkan politik di balik semua ini, terlihat kemudian masalah menjadi sangat netral politik. Mengikuti paradigma Marxis, identitas timur berada dalam roda kepentingan politik sekelompok orang, dimana kaum miskin siap menjadi kaum yang sengaja diciptakan sebagai sebab musabab bencana. Mereka menjadi pemicu denyut jantung kengerian para peneliti dalam upaya berpetualang di dunia timur. Mereka juga menjadi kambing hitam program-program kesehatan yang digalakan pemerintah. Identitas timur lahir dari pergulatan-pergulatan itu, so welcome to the junggle dude&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=79&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2007/09/21/menguji-nyali-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rekaman Pengalaman Tentang Sejarah Kekerasan di Timor Leste Melalui Penuturan De Carvalho</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2007/09/06/78/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2007/09/06/78/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 11:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/2007/09/06/78/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;saya tahu benar awal saya bergabung bahwa itu bisnis pyramid, itu sangat menyakitkan tapi saya tidak punya pilihan, saya jadikan itu hallal. Ada satu hal yang saya pelajari dari bisnis itu&#8221; -Deo[1] - Ini salah satu pernyataan yang sangat menarik tentang bisnis multilevel yang disampaikan oleh Deo saat kami ngobrol bareng di Taman 65. Kesadaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=78&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><i>&#8220;saya tahu benar awal saya bergabung bahwa itu bisnis pyramid, itu sangat menyakitkan tapi saya tidak punya pilihan, saya jadikan itu hallal. Ada satu hal yang saya pelajari dari bisnis itu&#8221;</i></p>
<p align="center"><i>-Deo<a href="http://taman65.wordpress.com/wp-admin/#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><b>[1]</b></a> -</i></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify">Ini salah satu pernyataan yang sangat menarik tentang bisnis multilevel yang disampaikan oleh Deo saat kami ngobrol bareng di Taman 65. Kesadaran akan pentingnya membangun kesadaran kembali untuk meneruskan perjuangan sebenarnya ditengah-tengah buaian jaringan kapitalis yang sesat. Namun bagi seorang Deo, justru hal ini memberikan inspirasi dan memakai metode mereka sebagai sebuah senjata untuk melawan dan menghancurkan kekuatan mereka.</p>
<p style="margin-left:36pt;"><b>Awal Revolusi di Timor Leste</b></p>
<p style="text-indent:36pt;" align="justify">Untuk kasus Timor Leste, saya ketika awal Revolusi Bunga di Portugal, saya ketika itu berumur delapan tahun. Saya masih ingat benar sebelum revolusi bunga ada beberapa orang mahasiswa yang kuliah di Portugal waktu itu. Sekitar tujuh mahasiswa jauh sebelum mereka kembali ke Timor Leste mereka di Portugal, mereka terlibat dalam satu komunitas kecil, komunitas diskusi di Portugal namanya Casare Timor (Rumah Timor) di Portugal mereka buat satu komunitas seperti ini. Mereka mulai diskusi dan kelompok diskusi itu kemudian membuka, membangun hubungan yang kemudian memberi mereka kesempatan mengenal komunitas lain seperti itu, untuk Mozambique, Genitisao, Brazil sehingga kemudian waktu itu ada hubungan dengan tokoh seperti Amir Kal Caberal kalau teman-teman ada yang pernah baca buku pergerakan Afrika salah satu tokoh yang juga menentukan revolusi di Afrika itu adalah Amir Kal Caberal, dia salah satu tokoh yang disegani Che. Ketika Che berkunjung di dalam perjalanan dia ke Afrika salah satu orang yang penting dia kunjungi adalah Amir Kal Caberal.</p>
<div align="justify"></div>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;" align="justify"><span id="more-78"></span> Nah! Orang-orang yang beberapa mahasiswa yang ada di Portugal tersebut kemudian pulang dengan membawa suatu bekal, bahwa perjuangan Timor Leste untuk melepaskan diri dari Portugal itu harus dimulai dengan merubah cara berpikir Orang Timor Leste melihat dirinya sendiri. Portugal ketika datang ke Timor Leste dia hanya bangga dan mengandalkan marinir, pelaut-pelaut yang memang hebat, tetapi di bidang yang lain Portugal sangat lambat. Yang dia kembangkan waktu itu di Timor Leste adalah exploitasi sumber daya diatas permukaan, perkebunan. Dialah memperkenalkan perkebunan kopi, karet dan kelapa itu kemudian melahirkan struktur masyarakat yang kami sebut di Timor itu Asliyan atau pekerja, apa namanya, saya tidak tahu term yang paling tepat dalam Bahasa Indonesia tetapi seperti &#8220;pesuruh&#8221; gitu mungkin term yang paling tepat atau pekerja kasar untuk para tuan tanah.</p>
<div align="justify"></div>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Nah! Siapa orang-orang yang memimpin perkebunan-perkebunan itu, itu mereka bawa dari, orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah di Portugal atau di koloni lain mereka bawa ke Timor Leste. Kemudia mereka mematok konsolidasi lahan dan menjadikan orang-orang itu sebagai tuan tanah dan mempekerjaan orang-orang Timor. Atau memang sih orang-orang Timor menyerahkan lahan mereka untuk penanaman Kopi. Dan itu kemudian melahirkan struktur bawahan dan pemilik, patron dan bawahan. Budaya itu sangat kuat, budaya itu sangat kuat misalnya di zaman Portugis itu hanya satu orang yang bisa, hanya satu orang yang sampai level kepala dinas yaitu Savier, Fransicus Savier Guameron presiden Fretelin yang pertama yang kemudian menjadi Presiden Timor Leste yang pertama, dia pada zaman Portugis dialah yang sampai pada posisi Kepala Bea Cukai, selain dari itu di bawah. Jadi mentalitas orang Timor leste sebagai bangsa yang terjajah sangat kuat. Struktur itu diperkuat lagi dengan para Pastor yang kemudian melahirkan, sebelumnya saya harus bersyukur bahwa sebagian lain sumbangan gereja katolik untuk Timor Leste adalah membuka ruang untuk pendidikan. Tetapi juga menurut menurut pandangan saya juga memperkuat kekuasaan Portugal di Timor Leste. Pada tahap berikutnya nanti akan kita lihat pertarungan itu muncul di tingkat perdebatanan antara intelektual, kelompok intelektual yang loyal kepada ajaran agama katolik kemudian yang berpikir secara kritis.</p>
<div align="justify"></div>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;" align="justify"><b>Munculnya Partai-Partai di Timor Leste</b></p>
<div align="justify"></div>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;" align="justify">Kembali ke tujuh mahasiswa tadi, ketujuh mahasiswa tadi ketika mereka datang ke Timor Leste sudah ada partai, ada lima partai di Timor Leste; ada partai UDT, yang ingin merdeka setelah sepuluh tahun otonomi dengan Portugal, Apudete sama juga, otonomi dengan Indonesia sepeluh tahun baru menuju referendum untuk menentukan pilihan. Jadi Apudete bukan integrasi ke Indonesia. Berita yang dibangun ketika zaman pendudukan Indonesia adalah Apudete partai pro-integrasi itu salah. Di dalam manifesto partai Apudete adalah menyatakan bahwa otonomi dengan Indonesia sepuluh tahun kemudian dia lakukan referendum tetap dengan Indonesia atau merdeka, jadi sepeti itu. Kemudian Fretelin yang waktu itu. ASDT bukan sebagai suatu front. Awalnya Fretelin dibentuk oleh para pendiri J. Ramos Horta, Savier itu salah tokoh-tokoh pendiri ASDT (assosiasi democratik Timor Leste) jadi asosiasi demokratik untuk pembebasan Timor Leste, yang kemudian berubah menjadi front pembebasan Fretelin. Nah!, kemudian ada dua partai kecil, ada partai untuk keluarga para raja, partai yang sangat sedikit feodal kotak, kemudian partai buruh yang mungkin diilhami oleh tokoh buruh dari Australia waktu itu berkunjung ke Timor Leste, tapi dia sama sekali tidak mempunyai model partai buruh seperti negara-negara apa namanya Eropa Timur sangat berbeda, menjadi penghimpunnya sangat kecil. Nah, ketujuh mahasiswa tersebut kemudian menjadi mesin partai ASDT yang kemudian mereka merubah bahwa hanya dengan partai tidak mungkin mendapat dukungan yang besar, dengan demikian diperlukan flatform yang lebih luas. Flatform itu kemudan dibuat Front Pembebasan Nasional namanya Fretelin. Jadi Fretelin itu bukan partai sekarang dirubah menjadi partai. Pada awalnya fretelin sebagai front pembebasan nasional.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><b>Kendala Sosial </b></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;">Nah,<b> </b>kemudian mereka melihat bahwa struktur feodal yang begitu kuat, struktur Ausliyan yang tadi pekerja itu sangat kuat, itu sangat menjadi kendala sehingga mereka kemudian menyamakan strategi bahwa konsep<b> </b>penyadaran kemerdekaan itu harus dimulai dari desa. Apa yang terjadi kemudian mereka, beberapa tokoh yang terkenal sampai saat ini pemikiran dia sangat mempengaruhi, saya pikir juga beberapa teman-teman di Indonesia pernah menulis tentang Mise Teresahe, Fay dan temen-teman pernah melaporkan pada(&#8230;.) khusus. Dia dan kawan-kawan dia kemudian membentuk beberapa apa namanya e&#8230;e..e brigadir, jadi mereka membentuk brigadir-brigadir yang kembali ke desa. Brigadir-brigadir itu detraining untuk melakukan penyadaran. Ada brigadir tentang kesehatan ada brigadir tentang pendidikan popular untuk alpavitisas&#8230;pemberantasn buta hurup, pada tahun itu yang bisa membaca dan tulis sekitar belasan persen jadi targetnya adalah meningkatkan pemberantasan buta huruf jadi mereka ada kader itu. Kemudian kader lain adalah pengimbangan ekonomi kerakyatan, koperasi-koperasi petani, nelayan. Nah, kemudian mereka sebagian besar menjadi mesin yaitu transformasi masyarakat dari basis. Sayangnya proses itu sangat pendek pertarungan dunia waktu itu sangat kuat, Amerika dengan bloknya kemudian Rusia dengan bloknya. Itu kemudian isu internasional itu kemudian dipakai aktor-aktor lokal. Habama mengatakan bahwa, yang terjadi di Timor Leste itu sebetulnya ada kepentingan eksternal mengiring proses politik Timor Leste. Kemudian berkembang isu di Timor Leste bahwa kelompok mahasiswa ini adalah orang-orang yang mau menanamkan komunisme di Timor Leste, Berkembang sangat pesat di kalangan gereja. Kemudian beberapa tokoh yang dibidik secara konservatif di Seminari-Seminari waktu itu yang mungkin juga pemahaman mereka sangat superficial yang kemudian mengatakan bahwa itu komunisme tidak berTuhan seperti itu jadi harus ditangkap. Isu itu kemudian berkembang lintas negara, sehingga beberapa kali Ramos Horta dipanggil oleh Adam Malik berdiskusi di Jakarta beberapa kali. Adam Malik mengatakan waktu itu mengatakan bahwa Indonesia tidak punya niat yang mereka takutkan adalah secara ekplisit dia, waktu itu dia bilang yang kami khawatirkan adalah perkembangan Komunisme. Ramos Horta menegaskan seperti di dalam buku, kalau pernah baca buku testimoninya Ramos Horta dia mengatakan bahwa segala upaya terjadi di Timor Leste pada saat&#8230;, Ramos Horta mengatakan pada pertemuan itu bahwa secara kultural komunisme tidak bisa perkembang di Timor Leste. Pertama karena masyarakat tradisional Timor Leste sangat&#8230;. apa namanya, kultur feodal itu sudah ada kemudian diperkuat lagi dengan agama Katolik. Sehingga, tapi alasan itu juga tidak,tidak,&#8230;saya pikir tidak dipercayai atau barangkali diabaikan oleh Jakarta. Nah, sesaat saya masih ingat kalo tidak salah tanggal 5 Desember 1975, Kisingger dan Jerald Ford kalau tidak salah waktu berkunjung ke Indonesia mereka buat pertemuan di Borobudur, Jawa Tengah dan sehari setelah mereka kembali, tanggal 7 pasukan mendarat, menyerang Timor Leste jadi pencaplokan dilakukan setelah pertemuan itu. Jadi e&#8230;.saya berpikir waktu itu Soeharto dengan para Jenderal di Jakarta tidak mengambil keputusan secara&#8230;apa, berdasarkan kepentingan Indonesia sebetulnya. Itu dibawa&#8230;.terjebak didalam konflik global itu. Dan apa yang terjadi setelah pencaplokan itu, waktu parasut apa namanya diturunkan di Dilli, saya waktu itu sudah, pasukan payung saya sudah di gunung, kita kebetulan berada di gunung sehingga kita tidak dapat lagi kembali ke kota dan saya bersyukur juga, waktu itu sempat beberapa tahun berada di hutan bersama bergerilya di hutan jadi 1975-1979 akhir saya dan beberapa orang ditangkap di kebon. Kami ditangkap di suatu lembah.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><b>Kekerasan di Timor Leste</b></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;">Nah, bentuk kekerasan seperti apa yang terjadi di Timor Leste. Ketika hari pertama mereka mendarat di Dili, itu ada komunitas China di Timor Leste di Dili mereka tidak lari ke hutan waktu itu, mereka di kota masih di kota Dili. Nah, komunitas Cina yang berada di Dili, Agung masih ingat di depan pelabuhan itu ada patung integrasi, siapa yang pernah ke Timor pernah lihat patung integrasi besar di Hotel Timor, di depan Hotel Timor. Itu lokasi pembantaian komunitas China yang mereka tangkap di sekitar pertokoan di situ. Itu saya pikir sebelum mereka di berangkatkan mereka sudah dicuci otakkan bahwa sebagian dari pengikut PKI Indonesia berada di Timor Leste. Dan apa yang, kenapa saya mengatakan seperti itu, ketika beberapa orang anak kecil yang kemudian selamat, kemudian ketika kami berada di Jogyakarta mereka bercerita bahwa mereka mendengar ketika tentara menangkap orang tua mereka itu yang disebutkan adalah komunis. Bunuh! Mereka komunis. Jadi teman-teman itu memberikan, karena yang mereka tahu kemudian waktu kuliah kenal term komunis itu baru mereka ingat bahwa kata-kata ini yang dulu digunakan menghabisi orang tua mereka di pinggir pantai dan salah satu diantara mereka adalah istri Nikola Lobato wakil presiden, atau Perdana Menteri Timor Leste dia dibunuh di pelabuhan itu. Nah, yang lain pembunuhan yang barangkali juga cukup besar untuk komunitas China di Maubara. Di Maubara itu ada satu lagua, ada suatu lagoon danau kecil, itu dulu sampai ada mitologi bahwa warna air yang berubah menjadi merah itu karena kebanyakan darah. Ya, betul lokasi itu dipakai untuk pembantaian komunitas China Maubara dan Likisa. Juga dituduh karena mereka komunis. Itu untuk yang komunitas China.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian untuk masing-masing distrik, masing-masing kabupaten itu selalu mempunyai kenangan, sampai hari ini masing-masing kabupaten selalu mempunyai lokasi yang mengingatkan kembali pada kekerasan di era pendudukan. Misalnya di Jaenaro ada Jakarta Port, Jakarta Besar. Itu ada suatu clip di sungai, semua orang yang dituduh valentil atau ikut pergerakkan menyumbang tenaga untuk klandestin, itu dibawa diikat mata atau tangan, barangkali kakinya juga diikat kemudian didorong sampai jatuh menghantam batu-batuan di bawah. Itu sangat terkenal, sangat ditakuti oleh orang-orang Aenaro kalau disebut, &#8220;Kamu akan dibawa ke Jakarta Board&#8221;. Di Kente misalnya kita kenal satu desa namanya Kararas, itu desa para janda. Jadi tahun 1981 itu setelah militar Indonesia melatih para militer namanya Hansip, beberapa hansip kemudian menggunakan persenjataan mereka dan amunisi mereka disumbangkan kepada Valentil. Nah, kemudian jaringan itu, kerja jaringan itu bocor dan satu desa itu kemudian menjadi janda. Itu pembantaian terbuka di depan istri-istri mereka dan anak-anak mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah lain di Los Palos itu ,sekarang Noburas, organisasi saya bekerja dengan komunitas di Tutual dan kami ada satu desa yang digambarkan mereka buat, masyarakat dari swadaya kemudian melukiskan kembali bagaimana kawan-kawan mereka ketika itu dibantai. Jadi ada upacara 17 Agustus atau upacara bendera merah putih, saya tidak tahu ada event yang benar itu apa tapi ada upacara. Setelah upacara, pasukan tembak ada barisan masyarakat di sebeah sana, ada yang disebelah kiri, kanan, di belakang kemudian ada pasukan tembak depan. Orang-orang yang dianggap mendukung pergerakkan kemerdekaan disuruh berbaris di depan dan pasukan tembak langsung menembak di depan masyarakat. Itu membuat saya berpikir, tujuannya untuk menakuti, menakutkan masyarakat untuk melakukan perlawanan. Hampir setiap distrik mempunyai kenangan seperti itu. Itu yang massal, belum yang ditangkap dibawa dari tahanan kemudian dihabisi. Itu barangkali ceritanya tidak banyak karena tidak banyak saksi tapi kalau kita, saya kadang-kadang tidak percaya statistik yang dibuat oleh para peneliti di beberapa buku tentang Timor Leste, tapi bahwa pembunuhan yang terjadi di Timor Leste cukup banyak itu faktanya adalah hampir setiap kabupaten memiliki kenangan itu. Itu yang pertama, yang kedua efek dari peran itu sendiri, Prajurit Indonesia yang saya tidak tahu mereka belajar metode dari mana, setiap kali mereka misalnya masuk desa ini penghuninya sudah lari semua, tidak hanya rumah yang dibakar, kalau jagung yang lagi tumbuh mereka akan tebas semua. Kalau jagung di Timor Leste itu pakai konservasi jagung di atas pohon, itu semua akan dibakar. Jadi betul-betul seluruh sumber daya itu dihancurkan. Dan itu efeknya sangat besar, saya masih ingat ketika tahun 1978 ibu saya sudah lebih dulu ditangkap dan bapak saya sudah dibunuh sejak tahun 1975. Ibu saya ditangkap ketika harus berjalan puluhan kilo untuk mencari makanan dan ketika mereka ditangkap saya harus berjuang menjadi orang tua bagi kedua adik-adik saya. Saya masih ingat saat itu sangat sulit mencari bahan makanan. Pisang liar kami sebut, itu kami harus potong bagian dalamnya yang putih, disini barangkali untuk bikin janur itu. Itukan ada seperti benang, kami harus pakai lidi untuk membersihkan benang itu kemudian direbus dan dimakan. Dan itu bukan hanya satu kali makan, tiap pagi sarapan mungkin siangnya tidak dapat mungkin malamnya seperti itu terus. Itu efek dari kondisi kekurangan makanan tersebut membuat banyak orang meninggal karena mal nutrisi. Diare karena kita tidak tinggal di gubug, kita harus buat gubug temporary, hari ini berada disini besok militer di dekat kita, kita harus mundur lagi kebelakang dan kita masuk seperti ini dibelakang harus berjalan mundur. Maksudnya, berjalan kesana, semua orang tim yang di belakang akan seperti ini. Jadi itu untuk mengacaukan jejak kita dan itu kadang kadang kami harus berjalan seperti itu sampai dibelakang kombat. Kami berjalan berusaha sedemikian rupa sehingga kami berada di belakang mereka lagi. Proses itu yang kita lakukan. Faletil tidak punya arti sebetulnya karena waktu Portugal keluar saat itu hanya ada tiga ribu senjata tiga ribu serdadu dan sebagian dari mereka mati di wilayah perbatasan. Apa yang terjadi, perlawanan itu satu move, satu sektion hanya ada tiga orang. Untuk tiga orang ini barangkali hanya ada satu G&#8230;.(maaf saya tidak tahu nama senjata) ada satu jenis senjata otomatis atau maosef. Maosef itu senjata paling kuno dan kuat tapi tembakannya satu-satu. Jadi kadang-kadang tiga orang itu hanya punya satu senjata. Pelurunya yang tujuh atau enam butir. Jadi amunisi sudah habis waktu itu tahun 1978-79 tersebut sudah habis. Jadi sebetulnya tidak punya arti lagi. Mulai dari situ support base, lokasi-lokasi yang dijadikan pusat mobilisasi masyarakat itu sudah mulai hancur karena restes sudah mulai rusak, hancur karena kekurangan makanan, logistik segala macam. Kemudian ada yang menyerah, give up!. Boleh dikatakan tahun 80-an keadaan itu hampir lumpuh dan kemudian di tahun 1981 dilakukan suatu operasi yang namannya sapu jagat dimana tentara memobilisir semua orang kecuali anak-anak dan perempuan, pemuda 14 tahun ke atas saat itu semua harus ikut operasi yang disebut sapu jagat tersebut. Bergandengan tangan untuk menyapu, setelah proses itu Jakarta berpikir bahwa sudah selesai perjuangan di Timor Leste. Waktu itu Xanana dan Falentil masih tersisa sekitar 60-an orang. Sedemikian rupa turun hanya sekitar enam puluh hingga seratusan orang. Kemudian dari core group itu melakukan reorganisasi jaringan klandestin untuk support. Struktur komando diorganisir ulang dan kemudian memilih Xanana menjadi Panglima Perang. Enam puluh hingga seratusan orang tersebut berjalan kaki untuk mengorganisir kembali perjuangan dan hal itu sangat berat sampai tahun 1983 mereka melahirkan konsep perjuangan. Front Fretilin itu menjadi flatform yang lebih nasional menjadi CNRL kemudian di tahun 90-an dirubah menjadi CNRT untuk memberi nuansa nasionalismenya lebih kuat. Nah, perjuangan itu kemudian tidak berhenti di armada front bersenjata, di dalam kota, saya masih ingat waktu itu saya terlibat dalam gerakan Klandestin tahu 1985 saat itu saya masih SMP. Kadang-kadang kami harus buat pertemuan di pantai di Dili namainya pasir putih sebuah tempat rekreasi. Kami duduk sambil makan, ada tiga orang duduk merencanakan sesuatu dan yang lain ribut-ribut agar orang-orang tidak tahu. Yang kita lakukan waktu itu menggunakan symbol-simbol gereja katolik juga salah satunya adalah jaringan Saint-Antoni, salah satu santo yang dipercayai oleh orang katolik untuk memberikan keselamatan. Kerja jaringan seperti itu sehingga kemudian berkembang yang kemudian menggunakan juga symbol-simbol tradisional Nulig. Mengajak orang di dalam jaringan membagi misalnya jimat bahwa bila jimat tersebut dipakai anda akan tahan peluru. Sebetulnya kalau dikasi itu akan tetap tembus peluru juga. Dari proses itu kemudian kita galang kekuatan sampai kemudian merasa bahwa hal itu tetap tidak efektif karena sering kali ditangkap, kukunya diambil, dicabut terus mengalami penyiksaan-penyiksaan seperti itu. Kemudian sebagaian mendapat kesempatan ke Indonesia. Itu sebetulnya awal kita mengembangkan konsep memindahkan perhatian perang dari Timor Leste ke Indonesia. Sehingga kalau kita lihat ke belakang tahun 1986 saat itu pertama kali orang Timor Leste meminta swaka politik disini, Fernando Lasamo dan teman-teman minta swaka pilitik di Konsul Australia dan kemudian tahun 1988 di Jakarta. Tahun 1990 trennya saat itu kampus kita sudah kuasai dan di beberapa kampus besar kita sudah ada core group seperti di UGM, UI, Komunitas HMI kita masuk disitu. Jadi waktu itu strategi kita bahwa, kalau perjuangan itu kita lakukan sendiri kita tidak akan mungkin sampai. Kita harus menggalang kawan-kawan kita di Indonesia. Buku itu tujuannya berbeda tetapi target musuh kita sama dan saat itulah kita kemudian kenal Fay (Ilmar Farid), Nuke dan teman-teman lain di Jaringan Kerja Budaya (JKB). Kalau teman-teman masih ingat awalnya reformasi, pendudukan fakultas sastra UGM, saat itu sebetulnya semua dilakukan bahu membahu antara activist pro-kemerdekaan dan aktivis (boleh dikatakan awalnya bibitnya asalah teman-teman PRD sebetulnya. Setelah beberapa hari menguasai fakultas Sastra-Filsafat UGM saat itu massa semakin berkumpul dan semakin banyak hingga sampai pada demo pertama kali yang dilakukan secara terbuka di UGM dan pembakaran patung Soeharto di kampus. Mungkin beberapa teman yang hadir disini saat ini ada disana. Jumlah teman-teman Timtim memang besar waktu itu. Kita bikin patung besar Soeharto, ketika orang sudah siap, mereka bawa masuk patung Soeharto dari belakang, dosen-dosen dan rektor UGM sudah hampir bicara di depan menggunakan mike dan bicara melawan Soeharto dan kebetulan mahasiswa bakar patung Soeharto. Jadi membawa mereka ke dalam konflik itu. Jadi waktu itu kami berpikir waktu itu adalah strategi yang cukup bagus, mereka tidak bisa mundur lagi dan rektor sudah memegang mike dan mereka bicara kritik jadi kita berada di dalam satu line tanpa mereka sadar. Dan kawan-kawan diluar negeri, expathriat di Australia kemudian teman-teman yang lain terus memperkuat barisan diplomasi. Lompat pagar, ada yang kemudian menetap di Inggris ada yang di Irlandia ada yang kemudian dikerim terima beasiswa dari pemerintah ke Kanada kemudian bikin swaka di Kanada. Pokoknya setiap kali ada fasilitas swaka disana, bikin jaringan baru disana. Kemudian dibuat proses melobby para musisi seperti U2 juga pernah pentas menggunakan bendera Timor Leste. Prosesnya seperti itu, kadang-kadang apa artinya musisi itu untuk membawa issu Timor Leste. Tapi teman-teman, waktu kami di Swiss bahwa, kita harus menggunakan semua resources, semua peluang, semua media dan setiap kelompok mahasiswa di Indonesia memiliki media. Media underground untuk menangkis pemberitaan negative dari media-media mainstream tentang East Timor yang mungkin diperoleh oleh koramil atau diperoleh dari Pangdam. Jadi kita coba melawan menangkis dengan model seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><b>Sisi Lain Perjuangan </b></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;">Berhubungan dengan demonstrasi tahun 1991 pembantaian Santa Cruz, Prabowo dengan orang-orangnya membantai pemuda yang membuat demonstasi di Santa Cruz. Nah, seminggu kemudian kami membuat satu demonstrasi yang barangkali setelah kasus Malari, demonstrasi anti Soeharto di Jakarta adalah kelompok Timtim. Tahun 1991 kami buat satu demonstrasi dari depan kedutaan PBB (di depan Sarinah) kemudian kami dikepung di hotel Indonesia. Saya waktu itu, terus terang pertama kali datang ke Jakarta jadi samasekali tidak tahu arah utara-timur dimana. Ketika kami dibawa ke hotel di kebon jeruk tidak punya uang. Waktu itu hanya beberapa ribu di kantong, kadang-kadang nasi bungkus satu harus dibagi untuk tiga orang dan itu beberapa hari. Melakukan persiapan untuk teman-teman lain dari propinsi lain untuk datang ke Jakarta. Kemudian kami pada suatu saat mengumpulkan sekitar 80-an orang, kami kemudian melakukan demonstrasi di depan kedutaan PBB dan kedutaan Australia, kemudian kami setelah dari kedutaan Australia ke kedutaan Amerika. Nah, waktu itu kami dikepung di hotel Indonesia. Saya berpikir hotel Indonesia adalah salah satu kantor kedutaan, jadi saya disuruh sebagai orang yang ada di front line itu untuk melindungi teman-teman yang memegang dokumen deklarasi ‘statement&#8217;. Tiba-tiba kami semakin dikepung dan tiba-tiba barisan pertama, saya dan teman-teman di depan sudah dihantam ke lantai. Saya ditekan saya tidak tahu tenaga dapat dari mana tiba-tiba saya berdiri dan say merasa seperti ada 3 orang dibelakang saya. Tenaga ketakutan itu membuat bisa melompat terlepas dari ketiga orang lalu masuk ke hotel Indonesia. Padahal hotel Indonesia waktu, saya masih ingat sekitar setinggi ini saya masih bisa lompat pagar itu. Di dalam sudah ada teman-teman yang lebih dulu masuk, mereka lari lagi keluar berteiak, &#8220;Oh, itu bukan embassy!&#8221;. Terpaksa kami duduk dengan ketakutan dan kemudian kami dibawa ke Metro Jaya. Tidak ada sebetulnya terlalu seram disitu, Cuma ketika kami masuk itu, pasal subversif yang diberikan kepada kami. &#8221; Anda telah melakukan suatu aksi subversive, subversive kalian tahu PKI itu dibunuh! Mati atau seumur hidup itu pilihan kalian. Jadi selalu interogasi itu dimulai dengan undang-undang subversif itu pasal 304. Diinterogasi berganti-ganti, sistim mereka itu sangat efektif. Jam tujuh sampai jam duabelas, satu orang pergi, orang lain datang menginterogasi kita di beri beer seperti ini, kopi sampai jam dua-tiga pagi membuat kita jadi betul-betul loyo. Ancam lagi, &#8220;detik-detik anda tinggal sedikit, anda dengar itu namannya suara azan sebentar lagi kalau anda tidak melakukan pengakuan anda akan kami bawa ke bawah&#8221;. Di Polda metro Jaya itu dibawahnya ada tempat tahanan isolasi, &#8220;prosedurnya seperti itu&#8221;, lanjutnya. Kami mencoba membohongi dengan berbagai cara. Paling sulit bicara bohong, sulit karena kita harus berpikir sekuensi dari cerita itu. Tadi saya cerita seperti ini dan lalu saya harus terus mengingat sekuensi dari cerita itu terus-menerus, kalau dia berganti saya harus konsisten terus-menerus dan itu sangat melelahkan, sangat sangat melelahkan. Setelah itu, mereka melihat jumlah kami sangat besar delapan puluh dua orang. Kalau itu semua ditahan, semua ambassy di Jakarta pasti akan marah. Apa yang mereka lakukan kemudian mereka mengeluarkan kami empat puluhan orang kemudian yang lain mereka pertahankan. Sebulan berikutnya mereka mengeluarkan beberapa orang lagi dan kemudian hanya tinggal tujuh orang. Ada yang dihukum tiga tahun seperti Versido, kemudian Lasama sepuluh tahun kemudian bersama-sama Xanana di Cipinang.</p>
<p style="text-align:justify;text-indent:42pt;">Nah, cerita ini kemudian saya bawa ke cerita lucu tadi bergabung dengan MW. Ketika balik ke Jogjakarta orang dari Pemda TimTim datang ke Jogja bawa dokumen untuk Deklarasi Patuh Kepada Pancasila dan RI. Kami bikin pertemuan seperti ini, mahasiswa tiga ratusan orang datang mereka bicara, &#8220;Kalian tidak tahu malu terima beasiswa, terima semua fasilitas dari pemerintah, melawan pemerintah.&#8221; Dan setelah itu mereka bilang, &#8220;Yaa semua, kita menyadari teman-teman mahasiswa darah muda&#8221; seperti itu selalu menyanjung kita. &#8220;Kami tahu kalian emosional, daripada kalian kehilangan segala-galanya datang tanda tangan ini dokumen ini&#8221;. Saya suruh, saya dibelakang saya bilang, &#8220;tolong baca dokumen itu&#8221;. Dan dokumen itu isinya jelas untuk tunduk kepada Indonesia dan seterusnya. Saya bilang waktu itu, &#8220;saya pergi ke Jakarta demonstrasi bukan karena kemauan orang tapi saya sadar, saya pergi ke Jakarta melakukan demonstrasi karena sebuah pergolakan batin saya bahwa, &#8220;Saya tidak terima teman-teman saya dibantai seperti binatang di Santa Cruz Dili&#8221;. &#8220;Kalau anda bisa mengembalikan dari mereka yang anda bunuh saya bisa menandatangani surat itu malam ini juga. Jadi apalah artinya seratus ribu, waktu itu beasiswanya seratus ribu. Memang sangat berarti sebetulnya tapi saya bilang, &#8220;apalah artinya seratus ribu dibandingkan dengan nyawa teman-teman saya&#8221;. Dan saya menyadari setelah say buat deklarasi itu, teman-teman saya sangat memberi aplaus kemudian say sampai di kos mereka masih ikuti saya. Menyuruh orang-orang mereka datang bawa saya ke Malioboro. Lesehan makan disitu yang sudah sekian tahun saya disana tidak pernah makan disitu karena sangat mahal, apalagi burung dara dan setelah makan mereka bilang, &#8220;eh, tadi kamu bikin malu sekarang dokumennya disini tanda tangan&#8221;. Saya bilang, &#8220;saya tidak akan menanda tangani itu karena saya telah diberi penghargaan oleh teman-teman saya dan itu beresiko untuk saya&#8221;. Dan betul setelah itu saya baru semester kedua di UGM setelah bea-siswa saya dihentikan kalang kabut juga agar uang semesteran seratus dua puluh ribu biaya hidup minimum untuk makan sekitar empat pulu ribu, transport, buku semua itu membutuhkan minimum sekitar seratus ribu. Sangat berat kehidupan seperti itu tapi terus saya jalani kemudian kadang-kadang harus berhenti jual apalah yang bisa dikerjakan. Nah, suatu saat teman saya datang bawa sabun, bawa tas ada parfum dan bilang ke saya, &#8220;Hey Deo, deo, sini saya ada barang bagus sekali&#8221;. Dia presentasi, begitu dia presentasi saya melihat, &#8220;Ini orang yang nomer satu ini akan terus menjadi nomer satu dan bawahannya akan terus menjadi bawahan&#8221;. Lalu, &#8220;Saya sadar bahwa ini adalah pyramid&#8221;, dalam hati kecil saya ini modal, modal saya juga yaa. Tapi untuk bergabung saya harus mencari empat puluh ribu, yaa,..untuk makan saja tidak punya apalagi empat puluh ribu.(<b>bersambung</b>)</p>
<p style="text-align:justify;">*)Mohon maaf bila adanya kesalahan dalam penulisan nama, tempat dan peristiwa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<hr align="center" size="1" width="33%" />
<p style="text-align:justify;"><a title="_edn1" name="_edn1"></a><a href="#_ednref1" title="_edn1"><span>[1]</span><span></span></a><span></span> Ketua Haburas sebuah LSM yang bergerak dalam bidang konservasi lingkungan di Timor Leste.</p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"><span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=78&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2007/09/06/78/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SAYA BUKAN ORANG BALI٭ “Identitas Primitif Dimata Manusia Primitif”</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/saya-bukan-orang-bali%d9%ad-%e2%80%9cidentitas-primitif-dimata-manusia-primitif%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/saya-bukan-orang-bali%d9%ad-%e2%80%9cidentitas-primitif-dimata-manusia-primitif%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 07:00:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/saya-bukan-orang-bali%d9%ad-%e2%80%9cidentitas-primitif-dimata-manusia-primitif%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[“With my friends now, up to the city we’re gonna shake the gate of hell And I will tell them, we will tell them. That the sunlight is not for franchise” Bella Ciao/Chumbawamba, Asing Song &#38; A Scrap album Beberapa tahun lalu ketika saya masih SMA banyak teman yang bertanya asal-usul saya; darimana asal saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=75&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="justify"><em>“With my friends now, up to the city we’re gonna shake the gate of hell And I will tell them, we will tell them. That the sunlight is not for franchise” </em></p>
<p class="MsoNormal" align="right"><em>Bella Ciao/Chumbawamba, Asing Song &amp; A Scrap album</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Beberapa tahun lalu ketika saya masih SMA banyak teman yang bertanya asal-usul saya; darimana asal saya dan seterusnya. Ketika saya berkata bahwa saya berasal dari Nusa Penida, hal (lucu) pertama yang mereka tanyakan adalah “Apa ada air di Nusa Penida?” Sejauh yang masih saya ingat, saya tidak pernah menjawab pertanyaan (lucu) itu. Seingat saya, saya hanya tersenyum. Kembali lagi ke masa saya masih duduk di bangku SMP di Klungkung, saya sering (terlalu sering malah) mendengar pertanyaan konyol (yang lucu) itu. Jadi ketika saya mendengar pertanyaan (lucu) itu (lagi), hal itu terkesan seperti memutar ulang hari-hari saya (yang indah dan menyenangkan) di Klungkung. Dan itu lebih menguatkan ingatan saya tentang apa yang orang pikirkan tentang saya, darimana saya berasal dan bagaimana mereka bersikap pada saya. Hal kedua yang membekas dalam ingatan saya adalah ketika hampir setiap orang tertawa ketika saya bercakap-cakap dengan kolega saya dari Nusa Penida. Selanjutnya orang-orang akan mencoba menirukan dialek kami dengan cara yang lucu (mereka selalu menganggap hal itu lucu) dan tertawa mengejek setelahnya. Dan itu masih terjadi sampai sekarang&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span id="more-75"></span><span>Ketika seseorang dijahili gara-gara agamanya, dipermalukan atau diolok-olok gara-gara warna kulit atau logatnya, ia tak akan pernah melupakannya, demikian Amin Maalouf. Seperti halnya para <em>surfer</em> di Kuta yang membuat <em>joke</em> tentang <em>ride the tsunami</em>, mungkin di Bali <em>joke</em> itu tidak berarti apapun, tapi bagaimana jika itu disampaikan pada para <em>survivor</em> Aceh? Hal tersebut akan menorehkan luka pada diri orang yang diolok-olok itu dan hal itulah (salah satunya) yang kemudian membentuk jalinan identitas kediriannya yang membedakannya dengan yang lain. Identitas yang terbentuk kemudian adalah identitas yang berdasarkan atas dendam yang sewaktu-waktu bisa saja meledak, entah itu dalam bentuk yang positif ataupun negatif. Mengutip Amin Maalouf; “Orang kerap memandang diri mereka dalam pengertian pertaliannya yang mudah diserang. [...] Orang-orang lain yang berbagi pertalian yang sama bersimpati. Mereka bergabung bersama menyatukan kekuatan, menyemangati satu sama lain, menantang “pihak lain”.” Tetapi “sebenarnya” untuk kami berkumpul dengan manusia-manusia sejenis kami cukup berat, karena orang-orang yang disebelah kami akan tersenyum mendengar kami bercakap-cakap. Jangankan senyuman, lirikan mata saja sudah lebih dari cukup untuk menghentikan pembicaraan kami atau kami akan melanjutnya dengan berbisik (sambil memaki tentu saja). Saya merasa seakan-akan cara kami bercakap-cakap salah, seakan-akan mereka ingin menyatakan bahwa diri mereka adalah pusat yang mesti kami tiru. Memang kemudian ada beberapa orang yang “menyerah” dan mengikuti logat Denpasar untuk bercakap-cakap-namun ketika kembali berkumpul dengan spesies sejenis, kembali lagi menggunakan bahasa (logat) ibunya. Sebelum melanjutkan cerita ini, ijinkanlah saya bercerita sedikit tentang hal lain yang (saya kira) juga berhubungan dengan cerita ini. Mengingat ungkapan “Mencuri logistik lawan”, peniruan ini menjadi suatu strategi bertahan dalam suatu hubungan kuasa yang tidak seimbang. Dari perspektif pascakolonial hal ini melahirkan suatu bahasa yang hibrid, namun proses pembentukannya menimbulkan luka pada saat yang bersamaan. Jika kita mengikuti diskursus pembentukan massa, maka luka ini adalah semacam stimulus untuk mencari orang-orang senasib, orang-orang yang memiliki luka karena sebab yang sama. Mereka akan berkumpul dan membentuk massa yang ketakutan, massa yang ketakutan ini memiliki ciri (salah satunya) agresif. Sentil-lah salah satu penanda identitas massa ini, tanpa ragu saya katakan apa yang akan terjadi: <em>chaos</em>!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Terjadi hampir diseluruh dunia, identitas seseorang selalu dihubungkan dengan identitas suatu kelompok. Serangan 11 September atau ledakan bom Bali jilid I dan II selalu dihubungkan dengan kelompok muslim, atau setiap kekacauan dalam suatu aksi demonstrasi selalu dihubungkan dengan kelompok anarkis. Akibatnya, seseorang dinilai berdasarkan identitas kelompoknya, seseorang “disalahkan” karena apa yang tidak mereka lakukan, atau bahkan karena sesuatu yang tidak pernah mereka ketahui! Kita selalu menyalahkan kelompok minoritas tanpa melihat dengan jelas pada kelompok mayoritas. Kita juga menganggap kita sebagai kelompok mayoritas adalah penolong kelompok minoritas, seakan-akan mereka memerlukan pertolongan, seakan-akan mereka tidak bisa melakukan apapun untuk menghadapi dunia ini<a href="#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Setelah ngalor-ngidul sejenak, (dengan enggan) saya akan kembali pada lintasan tulisan ini. Beberapa saat lalu, saya bertemu dan berbincang dengan seorang teman yang juga dari Nusa Penida. Ada satu hal menarik yang saya tangkap dari pembicaraan itu. Setengah bertanya ia berkata entah mengapa kalau di kampung ia lebih suka berada diluar rumah sedangkan ketika di Denpasar (ia bekerja di Denpasar sebagai buruh) ia tidak begitu suka keluar dari kamarnya, bahkan ia merasa sangat betah ada di kamar seharian. Saya tidak hendak memberikan spekulasi jawaban disini, tapi saya kira anda semua sudah paham mengapa saya tuliskan perkataan teman tadi. Dan mungkin untuk lebih meyakinkan anda, saya akan bertanya; “Dari lima orang teman yang anda punyai berapa orang yang berasal dari Nusa Penida?” Memang benar bahwa perbedaan identitas adalah satu permasalahan kecil dari suatu kasus kecil, dan logat serta perbedaan bahasa hanyalah salah satu unsur kecil penjalian jalinan identitas seseorang. Tahukah anda apa yang akan terjadi jika anda adalah seorang Madura di tanah Dayak? Atau untuk contoh yang lebih jauh, apa yang akan terjadi jika anda adalah seorang Muslim di India pada masa pra pemisahan India-Pakistan? Saya kira anda semua sudah memiliki jawaban anda sendiri-sendiri dalam kepala anda. Dalam contoh yang pertama anda berdialek berbeda, dalam contoh yang kedua anda beragama berbeda. Dan apa yang anda usung (dalam contoh diatas) hanyalah salah satu unsur kecil penjalin jalinan identitas anda, dialah kemudian yang membedakan anda dengan yang lain atau dalam sudut pandang lain (yang mungkin lebih ekstrem); dialah yang menentukan hidup-mati anda. Jika masih saja seseorang dibedakan berdasarkan unsur-unsur tersebut dan kemudian dihubungkan dengan identitas kelompoknya, percayalah kita semua sedang dalam suatu upaya untuk mengosongkan dunia ini dari manusia dengan identitas tertentu dan dari kelompok tertentu. Saya kira, permasalahan bukan terletak pada kecil atau besar, tapi pada kesediaan seseorang untuk menerima perbedaan orang lain apapun bentuknya tanpa kompromi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Lagi-lagi saya melantur, untuk mencegah saya menuliskan lebih banyak lagi contoh-contoh kecil yang (ternyata) berdampak besar, sebelum saya sudahi tulisan ini saya akan melakukan sedikit pembelaan pada “celah kecil” yang terrekam disini. Saya menuliskan ini bukan hendak melestarikan kesan eksotis Bali, bukan. Kita semua tahu eksotisme Bali cuma buatan sarjana kolonial. Kesan harmonis juga cuma buatan, untuk sekedar menyamarkan kenyataan busuk dibaliknya. Keharmonisan macam apa yang hendak ditunjukkan jika hal-hal seperti cerita saya diatas masih saja terjadi? Mungkin terlalu sederhana; saya tidak mau ditoleransi, saya hanya ingin kesetaraan. Semoga&#8230;</span></p>
<p><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref1" title="_edn1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sebenarnya saya enggan untuk mengatakan hal ini sebagai persoalan mayoritas-minoritas karena hal ini bisa menjebak, saya kira. Karena saya tidak bisa menghindar dari kata ini, mungkin bisa saya katakan kalau mayoritas-minoritas dalam tulisan ini bukan pada arti sempitnya.</p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><span class="MsoEndnoteReference">٭</span> Terimakasih untuk Gu, Su, Ca dan “teman-teman Bali” lainnya, yang tanpa mereka saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan tulisan ini. Atas ide kritis, “pertemanan” dan seterusnya saya ucapkan terimakasih.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=75&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/saya-bukan-orang-bali%d9%ad-%e2%80%9cidentitas-primitif-dimata-manusia-primitif%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Strategi Penguasa dan Lemahnya Gerakan Menuntut Keadilan</title>
		<link>http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/strategi-penguasa-dan-lemahnya-gerakan-menuntut-keadilan/</link>
		<comments>http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/strategi-penguasa-dan-lemahnya-gerakan-menuntut-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 06:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taman65</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/strategi-penguasa-dan-lemahnya-gerakan-menuntut-keadilan/</guid>
		<description><![CDATA[Kelurahan adalah unit ruang administrasi terkecil pemerintahan di tingkat kabupaten. Dalam kegiatan managemen politiknya, lurah melakukan koordinasi yang cenderung ke bawah yakni dengan para pimpinan kelompok warga. Seperti apa yang kita miliki di Bali adalah dengan para klian banjar adat[1] yang ada dalam lingkungan wilayah kekuasaan administratifnya. Hal tersebut menjadikan kedekatan hubungan antara Lurah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=73&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><a href="http://taman65.files.wordpress.com/2007/08/dangin-tangluk.jpg" title="srikandi"><img src="http://taman65.files.wordpress.com/2007/08/dangin-tangluk.jpg?w=306&#038;h=230" alt="srikandi" align="right" border="10" height="230" hspace="5" vspace="5" width="306" /></a>Kelurahan adalah unit ruang administrasi terkecil pemerintahan di tingkat kabupaten. Dalam kegiatan managemen politiknya, lurah melakukan koordinasi yang cenderung ke bawah yakni dengan para pimpinan kelompok warga.<span>  </span>Seperti apa yang kita miliki di Bali adalah dengan para klian banjar adat<a href="#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang ada dalam lingkungan wilayah kekuasaan administratifnya. Hal tersebut menjadikan kedekatan hubungan antara Lurah dan kepala warga tumbuh secara organik tanpa dipacu oleh kebijakan dari atas yang sering kali justru melemahkan produktifitas hubungan, relasi tadi. Sehingga apa yang diharapkan sebagai tanggung jawab moral tugas seorang Lurah dapat dikembalikan lagi ke warganya bukan semata-semata dibutuhkan sebagai pemelihara kebijakan atasan, dalam hal ini adalah camat dan seterusnya walikota/bupati.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span id="more-73"></span>Melihat Lurah dalam perannya sebagai media, seorang lurah lebih dituntut mengerti dan paham sejarah dan kultur wilayah dan warga yang dipimpinnya secara jernih. Menerima, mengakomodir atas setiap perkembangan dinamika sosial yang terjadi<span>  </span>dan sepenuhnya menganggap sebagai sebuah indikator positif kemajuan akan kesadaran hak politik warganya.<span>  </span><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Sakralisasi pemimpin sebagai sang maha guru wisesa<a href="#_edn2" title="_ednref2" name="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dalam Konsep Kepemimpinan Hindu menghasilkan fakta yang terbalik yaitu menempatkan pemimpin cenderung menjadi penguasa atau bak seorang raja yang gila status dan kekuasaan bukan sebaliknya sebagai abdi rakyat. Rakyat <span> </span><span> </span>yang telah rela menyisihkan penghasilannya untuk menghormati mereka yang diambil melalui deretan pos-pos tagihan justru tetap diharapkan untuk menundukkan kepala bila menghadap para mereka. Hal ini terjadi karena kekeliruan mereka menganggap dirinya memiliki status yang lebih tinggi. Hal inilah yang kemudian menjadi awal dan sumber kekeliruan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Gila status menciptakan hirarki birokrasi yang akhirnya jauh dari efisiensi. Samar-samar kondisi ini memberikan kesempatan pemimpin secara diam-diam mengkontruksi ruang kerjanya bagai kawasan istana seorang raja, <span> </span>sehingga semakin jauh dari jangkauan permasalahan setiap warganya. Ruang kerja yang semestinya sensitif terhadap suara rakyat, kini dindingnya sarat peredam dan kehilangan kepekaan sosialnya. Integritas dirusak oleh lingkaran tembok kepentingan. Kemegahan arsitekturnya yang kaya dengan konsep philosophy, bagai selimut emas dalam lingkungan warga yang kedinginan karena iklim korupsi yang tidak kunjung berganti musim. Legalitas tidak lagi memihak dan melindungi hak dan kepentingan rakyat. Permasalahan seperti ini sudah sangat sering dikemukakan namun hingga saat ini sikap pemerintah tidak menampakkan adanya perubahan. Budaya tebar pesona dari si muka tebal adalah sikap yang dianggap sangat menjijikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Manajemen pengelolaan yang tidak transparan terhadap aset-aset rakyat memicu kerenggangan hubungan tadi, keluhan warga dianggap angin lalu. Rakyat hanya dianggap sebagai objek kebijakan dari atas dan ladang potensi sumber daya yang dengan mudah bisa ditawarkan pada pengusaha penanam modal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pada saat tertentu Banjar sempat dialih fungsikan, dimanfaatkan menjadi objek propaganda partai politik pemerintah dengan melalui pendekatan materi dan uang, hak politik masyarakat dengan mudah diperjual-belikan. <span> </span>Menyadari akan hal ini—usaha mengikis pembodohan yang dikondisikan oleh penguasa sendiri terus tumbuh&#8211;, kini masyarakat mulai dan semakin sadar akan kehilangan subyektifitasnya sebagai penentu perkembangan desanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Salah satu ekses dari metabolisme pengelolaan hak rakyat yang tidak ramah tersebut memotivasi kesadaran hingga maraknya demo yang berbuntut pada penyegelan terhadap fasilitas public yang oleh warga sendiri. Salah-satunya adalah penyegalan oleh warga terhadap Sekolah Taman Kanak-Kanak Srikandi di Kesiman beberapa minggu lalu yang diikuti oleh demo &#8211;menuntut kejelasan pihak kelurahan&#8211;atas hak rakyat tersebut. Mengalih fungsikan hak rakyat menjadi fasilitas sosial adalah awal sebuah strategi pemerintah. Sehingga menggugat keberadaan fasilitas publik adalah sikap yang dianggap diluar dugaan namun tidak bagi pemerintah karena segalanya sudah dipersiapkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Apa yang diketahui selama ini adalah warga sebagai korban penyegelan dan pemerintah adalah subyek yang berhak dan yang mempunyai kuasa otoritas <span> </span>yang sah atas tindakan tersebut. Rakyat mulai pintar, demo yang sering dianggap melanggar ketertibanpun beralih bentuk ke dalam wajah penyaluran aspirasi yang lebih ramah lingkungan. Warga tidak takut lagi untuk memainkan pihak keamanan, yang selama ini hanya dianggap sebagai simbol aparatus negara karena sifat kecenderungan keberpihakannya, hingga membuat kehadirannya yang over reaktif menjadi sia-sia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Terlihat, kepatuhan terhadap kuasa bukan berarti tunduk dengan kuasa, kuasa <span> </span>tetap boleh dimainkan. Karena, bila cara-cara cerdas seperti ini tidak dipikirkan, aspirasi tersebut akan gagal di tengah jalan. Warga yang mengalami ereksi secara emosional sepakat untuk membungkus diri dengan kostum adat-madya<a href="#_edn3" title="_ednref3" name="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> menjadi alat proteksi dan sebagai counter-image gerakannya. Kostum ini seolah-olah menegaskan bahwa apa yang dilakukan tersebut bukanlah demo seperti demo-demo yang cendrung anarkis gerakan ini lebih dianggap sebagai sebuah ‘perjuangan’ memerangi ketidak-adilan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Beberapa hal yang menjadi perhatian saya akan kuatnya budaya kuasa dalam mengontrol pikiran publik</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Penyegelan terhadap lembaga sosial yang berbentuk Sekolah TK oleh warga sendiri mengakibatkan anak didik tidak bisa melakukan aktivitas belajar, dihari pertama sekolah setelah liburan panjang. Maka opini yang terbentuk, tentunya bagi warga yang menganggap betapa pentingnya kehadiran fasilitas ini akan berbalik menghujat demo&#8211;gerakan menuntut keadilan &#8211;karena telah mengganggu keberlangsungan aktivitas belajar-mengajar. Tidak melihat gerakan menuntut keadilan oleh warga adalah gerakan untuk mereduksi otoritas negara dalam hal ini adalah legalisasi perampasan terhadap hak-hak rakyat. Justru adanya hal ini dapat memberikan konstribusi besar terhadap proses pembelajaran dalam membuka wawasan kesadaran masyarakat, untuk selalu kritis dan memiliki keberanian untuk menggugat ketidak-adilan pemerintah yang sangat rentan menggandeng selubung kepentingan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Antisipasi dari pihak aparat keamanan, seperti biasa gerakan ini sudah tersendus jauh sebelumnya oleh aparat. Terlihat dengan hadirnya pihak keamanan yang melebihi kapasitas, yang akan mengimagekan bahwa ‘gerakan’—menuntut keadilan tersebut cukup berbahaya&#8211;dan berhasil membuat masyarakat tak sadar dan sepakat dengan cara-cara aparat mensikapinya. <span> </span>Kalau mau dilihat sesungguhnya, justru kehadiran aparat keamanan yang sangat show of force tersebut membius perhatian publik.<span>  </span>Kecemasan warga berhasil terbentuk, sepertinya akan<span>  </span>terjadi bentrok fisik antara aparat dengan warga karena pemerintah telah menghadirkan sekelompok lawan yang berwajah negara.<span>   </span>Pemandangan seperti inilah yang sesungguhnya menyita perhatian setiap orang lewat, sehingga berpotensi melambatnya arus lalulintas walau tidak sampai macet. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Secara kuantitas dukungan gerakan tersebut, melihat dari siapa mereka yang hadir sifatnya bisa dikatakan mewakili aspirasi warga yang tidak sempat hadir secara phisik. Karena, bila hal ini mendapatkan tanggapan positif tentunya akan dikembalikan seluruh permasalahannnya kepada warga. Kondisi yang dipandang sepihak ini—kuantitas pendemo—maka dengan mudah mencap gerakan ini sebagai “gerakan kelompok” warga dengan selubung kepentingan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Dalam setiap kasus yang menghadapkan warga dengan pemerintah tentunya harus dilihat kembali sifat pengetahuan dan dasar fakta sebagai sebuah instrumen. Ilmu pengetahuan—trik mensiasati pengalihan hak yang aman melalui keputusan&#8211; menjadi alat kekuasaan lalu dibenturkan dengan fakta sejarah dan kesaksian masyarakat. Sehingga sangat sulit melihat adanya peran pemerintah sebagai pelindung hak-hak rakyat. Justru sebaliknya setiap benturan akan menegaskan kembali perampasan dan pempublikasian kelemahan hak kepemilikan warga. Didukung oleh sambutan sikap curiga yang dibuat-buat menjadikan ketidak-adilan yang menimpa warga adalah hal yang tidak perlu untuk ditanggapi serius bagi warga yang lain. <span> </span>Masalah ini cenderung dipandang memuat kepentingan pribadi dan memalukan sehingga setuju dengan sikap pemerintah. Sikap warga seperti ini sangat hypocrite dan berpotensi mematikan kekritisan warga yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan jembatan investor. Sikap berkelid pemerintah, sembunyi di balik keputusan adalah usaha mengikis hak rakyat untuk mengoreksi kewenangan penguasa. Dalam kasus seperti ini tiba-tiba saja Lurah hanya tampil sebagai penjaga gawang kekuasaan tidak menunjukan perannya sebagai pelindung hak-hak rakyat. Kembali pemerintah menunai kesuksesannya, karena telah berhasil membumerangkan bagi setiap gerakan menuntut keadilan yang dianggap menyerang kekuasaan dan otoritas negara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span><span>  </span><span> </span><span> </span></p>
<p><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ednref1" title="_edn1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span>      </span>Kepala pimpinan kelompok warga dalam sebuah desa adat di Bali</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref2" title="_edn2" name="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span>      </span>Pemerintah di kategorikan sebagai guru wisesa</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ednref3" title="_edn3" name="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span>      </span>Pakaian adat yang terdiri dari; kain bagian bawah, baju kemeja atau t-shirt dan destar sebagai ikat kepala, semua sifatnya tidak resmi secara adat.</p>
<p class="MsoEndnoteText">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taman65.wordpress.com/73/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taman65.wordpress.com/73/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taman65.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taman65.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taman65.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taman65.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taman65.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taman65.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taman65.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taman65.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taman65.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taman65.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taman65.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taman65.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taman65.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taman65.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taman65.wordpress.com&amp;blog=610369&amp;post=73&amp;subd=taman65&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taman65.wordpress.com/2007/08/28/strategi-penguasa-dan-lemahnya-gerakan-menuntut-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9c95748e1f7e61b6c18e0ebcc7f71d88?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taman65</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taman65.files.wordpress.com/2007/08/dangin-tangluk.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">srikandi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
