You are currently browsing the monthly archive for June 2007.

inggratis.jpg

Taman 65; sebuah media pendidikan alternatif di Kesiman-Denpasar, bekerjasama dengan VIA (Volunteer in Asia); sebuah organisasi yang menyalurkan mahasiswa tenaga sukarelawan sosial untuk belajar dan berinteraksi di Indonesia, akan menyelenggarakan Bahasa Inggris Gratis untuk teman-teman LSM, mahasiswa, seniman atau siapa saja yang punya komitmen dan keinginan yang kuat untuk belajar, terutama bahasa Inggris. Program ini akan diselenggarakan mulai tanggal 9 Juli – 16 Agustus 2007 dan akan lebih menekankan pada kurikulum belajar kelompok melalui diskusi, bacaan dan menulis lewat interaksi langsung antara mahasiswa VIA dari Amerika dengan peserta lokal. Pada akhir program ini, peserta dan mahasiswa VIA akan melakukan kerja kolaborasi untuk membuat majalah sederhana dari hasil tulisan mereka selama program. Majalah ini nantinya dapat dimiliki secara cuma-cuma oleh peserta, mahasiswa VIA akan membawanya kembali ke negara dan kampus mereka.

Komunitas Taman 65 bersama VIA membuka kesempatan bagi siapa saja yang memiliki komitmen dan niat belajar yang tinggi untuk mengikuti program ini. Tidak memandang walaupun mereka “orang luar” maupun “orang asli.” Karena sesungguhnya berbagai macam ide, pendapat dan pikiran dari berbagai macam orang dari disiplin ilmu yang berbeda akan sangat berharga untuk menambah khasanah wawasan kita bersama.

Berhubung program ini akan menggunakan Taman 65 di Jalan W.R Supratman No.193 Kesiman-Denpasar sebagai tempat belajar dengan kapasitasnya yang cukup terbatas, dan juga menimbang efektifitas kelompok belajar dalam berinteraksi, kami mohon maaf sebesar-besarnya jika kami tidak mampu menampung peserta dalam jumlah yang besar. Oleh karenanya, dengan mengisi form dan mengirimnya kembali paling lambat tanggal 6 Juli 2007 anda sudah dapat mengikuti program ini. Untuk informasi lebih jelas silahkan hubungi Termana (08156574080)


Advertisements

The Jineng building remains our joyful friend.

pict0129.jpgA woman named Sri graduated from Senior High School two years ago and her joy was immense when she entered her favored tourism school in the Nusa Dua area. Her parents were also very happy seeing the joy of t heir only daughter.

Sri’s parents were rich farmers from a small village in Bali. A village, which is surrounded by green, wide-terraced rice fields with beautiful view, the kind that can be seen on postcards. However, Sri considered that her village was place which is distracted her form the glitter of the world; the fancy things, her favorite soap operas, and youth trends. Staying longer in the village, she felt, was not her choice, but her destiny led her to start her life there. Most Balinese young people would prefer to work in the tourism industry; in a luxury modern hotel in the southern part of Bali than to deal with the mud and dirt of the rice field in the village.

Read the rest of this entry »

 

pict0135.jpgGerakan Lomba Desa adalah salah satu implementasi konsep filoshophy baru yaitu Tri Hita Karana yang sengaja diciptakan sebagai perangkat nilai untuk gerakan tadi. Melalui lomba ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk memahami betapa pentingnya arti menghormati dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Keluhuran nilai-nilai yang terkandung di dalamnya membuat sosialisasinya mudah diresapi oleh setiap lapisan masyarakat. Kalangan profesional terutama arsitek lokal getol dan lancar menempelkan philosophy tadi untuk menambah nilai plus pada konsep rancangannya. Para aparat adat dan dinas pada setiap desa turut serta menjaga dan berusaha mengimplementasikan pada setiap aktifitas adat di desanya.

Read the rest of this entry »


“Wintertime wind blowin’ and freezin’, comin’ from nothern, storm in the sea, love has been lost is that the reason, trying desperately to be free”

Wintertime love, The Doors

I. Sekilas Pandang Jaringan Anti Otoritarian

Jaringan anti otoritarian pada awalnya dibentuk dari jaringan antar individu yang bersepakat untuk tetap berkomunikasi pasca “Street Art Festival” di Jakarta yang diadakan dalam rangka mengenang aksi di Seattle sekitar tahun 2004 yang berakhir dengan pembubaran event itu oleh preman-preman sewaan Pemda. Pembubaran itu samasekali tidak mendapat “tanggapan” dari “panitia” “Street Art” dan mengakibatkan terusirnya partisipan luar Jakarta. Aktivitas ini digagas (atau setidaknya begitulah yang tercantum pada “surat edaran” mereka) oleh Institute Global Justice, kelompok Taring Padi, Yogyakarta dan sebuah kelompok dari Surabaya (saya lupa namanya). Dari “kekacauan” seperti inilah lantas jaringan anti otoritarian terbentuk dengan “memusatkan” diri di Jakarta, dimana sebelumnya telah terbentuk jaringan anarkis; Jakarta Anarchist Resistance (selanjutnya disebut JAR). Pasca “Street Art”, JAR-lah yang kemudian bertransformasi menjadi “pusat” jaringan anti otoritarian. Dari sekian lama komunikasi antar individu yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, maka mereka memutuskan untuk menunjukkan keberadaan mereka melalui momen mayday.

Read the rest of this entry »