pict0135.jpgGerakan Lomba Desa adalah salah satu implementasi konsep filoshophy baru yaitu Tri Hita Karana yang sengaja diciptakan sebagai perangkat nilai untuk gerakan tadi. Melalui lomba ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk memahami betapa pentingnya arti menghormati dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Keluhuran nilai-nilai yang terkandung di dalamnya membuat sosialisasinya mudah diresapi oleh setiap lapisan masyarakat. Kalangan profesional terutama arsitek lokal getol dan lancar menempelkan philosophy tadi untuk menambah nilai plus pada konsep rancangannya. Para aparat adat dan dinas pada setiap desa turut serta menjaga dan berusaha mengimplementasikan pada setiap aktifitas adat di desanya.

Pengembangan nilai-nilai Tri Hita Karana pada konsep tata ruang di Bali tidak lepas dari usaha-usaha untuk memelihara tiga komponen ruang, yang saling menjaga kelestariannya dalam sebuah kesatuan tatanan tata ruang desa. Ketiga pembagian ruang tadi adalah Pahrayangan (kawasan Pura), Pawongan (Kawasan Hunian) dan Pelemahan (Kawasan Iklim Micro Desa)

Peranan Bendesa adat dalam hal ini sangatlah penting. Sebagai pemuka adat yang mengerti akan hal ini tentunya menyadari adanya indikasi yang mengarah pada kerusakan pada setiap komponen tadi. Sehingga paru-paru desa yang terletak pada Kawasan Pelemahan ini justru mendapat perhatian lebih besar dari kedua kawasan lainnya.

Tidak ada argumentasi logis untuk mensahkan alasan atas perusakkan lingkungan bila dilihat fungsi pada setiap kawasan tadi. Bendesa atau pemuka adat yang terpilih oleh masyarakatnya kecuali mereka keliru pada saat pemilihan akan lebih mengimplementasikan konsep philosophy tadi pada setiap kebijakannya. Sehingga tidak ada usaha untuk merusak ekosistem kawasan ini atau dengan samar-samar memporak-porandakannya melalui kebijakan untuk menjadikan kawasan ini sebagai target pengalokasian dana bantuan bangunan fisik pada kawasan hijau ini sehingga mensahkan terjadi pembabatan pohon-pohon di kawasan ini. Beralihnya fungsi kawasan ini akan merusak warisan tatanan tata ruang desa.

pembantaian2.jpg

Penebangan pohon-pohon besar dikawasan kuburan desa Kesiman Petilan telah mengingkari konsep Philosophy Tri Hita Karana untuk menjaga agar lingkungan tetap berkesinambungan. Ini ibarat pembantaian atas nama pembersihan lingkungan, konsep bersih melupakan esensi keberadaan sebuah kawasan sebagai kebutuhan paru-paru desa.

Sesungguhnya Konsep Tri Hita Karana dapat disejajarkan dengan konsep lingkungan yang lebih universal, konsep tersebut kini diabaikan karena pola pikir modern yang keliru. Ditambah dengan munculnya bangunan fisik yang kian hari kian bertambah pada kawasan ini, sebuah kekeliruan yang lancar ditirukan akibat pandangan dan pilihan yang keliru. Indikator kemajuan desa dilihat hanya dari pembenahan bangunan fisik bukan pada tingkat kemajuan kesadaran masyarakatnya sehingga philosophy latah dan keberhasilan pembangunan menjadi suatu yang perlu untuk dicurigai.