Seorang teman dari Amerika datang ke rumah, ia rencananya mau menginap di tempatku. Dengan tergopoh-gopoh dua tas besar ia jinjing dan satu tas lagi ia gendong. Tubuh bermandikan keringat, nafas terengah-engah dan tanpa rasa sungkan dua gelas plastik air minum yang kami hidangkan langsung diminumnya. Ia ingin tinggal di Denpasar dengan harapan dapat memperoleh tempat kost yang jauh lebih murah, daripada hotel di Ubud yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Karena ia antropolog tentunya keberadaanya di Bali untuk sebuah penelitian. Kehidupan perempuan Bali menjadi fokus temanya. Untuk beberapa hari ia tidur di tempatku sebelum menemukan tempat yang ideal baginya.

            Bali adalah pulau surga para peneliti, dari Cliford Gertz sampai Geoffery Robinson pernah dan terkenal sebagai peneliti karena Bali. Bali juga pulau para turis dari Four Season sampai Bvlgari Hotels n Resort menancapkan tembok kokohnya di sana. Turis dan peneliti asing adalah sama-sama orang asing, tetapi terkadang peneliti asing tidak mau disamakan dengan turis. Teman saya ini ia sangat tersinggung kalau dianggap tourist karena tourist berkonotasi hanya datang sebagai pengembira yang hanya suka hura-hura. Bukan bermaksud menyederhanakan persoalan terkadang ada yang sama antara peneliti asing dan turis asing selain mereka semua adalah manusia dari negeri seberang. Tetapi sebelum mencari persamaanya mari kita cari perbedaanya terlebih dahulu. Persamaan dan perbedaan ini nantinya penting untuk mengetahui keterkaitannya terhadap yang dibayangkan orang tentang identitas ketimuran. Timur yang selalu dikonstruksi identitasnya mengikuti era dan jamanya, timur dalam konteks kekinian.

Tourist membayangkan kebudayan Bali sebagai sebuah tempat hiburan dan pertunjukan yang dapat menghilangkan dahaga romantisme. Tourist biasanya tertarik dengan pagelaran seni, panorama alam, pura serta candi peninggalan para leluhur sebagai obyek foto. Gambar-gambar indah ini nanti menjadi penghias album foto mereka. Sedangkan para peneliti biasanya suka situasi dibalik layar kemegahan pariwisata, seperti kehidupan anak-anak terlantar di Bali, ibu-ibu korban kekerasan domestik dan pegawai hotel yang merana akibat tragedi bom Bali. Peristiwa dibalik layar ini menjadi objek foto mereka, untuk melengkapi data dan dokumen penelitian. Disini kebudayaan Bali dibayangkan sebagai sebuah ruang yang politis, ada yang terhempas dan ada yang bersulang. Sudah sepantasnya kaum peneliti harus mendapatkan realitas yang lebih dalam sifatnya, mencari sesuatu diluar image dan citra umum, sehingga mengetahui dan berempati terhadap situasi di balik layar adalah bagian dari misi penelitian. Dari sini saya menyadari kenapa teman saya enggan di anggap turis. Status menjadi turis tidak sesuai dengan misi untuk berempati. Juga ada sebuah kesulitan jika berstatus turis, ada perasaan berdosa melanggar etika bagi seorang peneliti. Karena posisi teman saya sebagai peneliti ia dituntut bersusah payah meminimalisir batas antara dia sebagai orang asing dengan manusia Bali sebagai subjek penelitianya.

Belajar bahasa indonesia dengan giat, tinggal di wilayah penelitian lebih lama dan berdialog dengan subjek lebih intens, salah satu usaha para peneliti asing untuk dekat dengan si subjek. Kalau berstatus turis tentunya tidak perlu susah-susah mengerti bahasa seseorang, justru orang lokal sendiri yang ingin mendalami bahasa mereka. Turis memiliki batas yang jelas karena mereka adalah tuan dan orang lokal memposisikan dirinya sebagai pelayan mereka. Kalau peneliti apalagi aktivis asing mereka sendiri yang ingin memposisikan diri sebagai pelayan orang lokal dengan metode dan pengetahuanya. Membuat program kemanusiaan ataupun penyuluhan melalui seminar-seminar salah satu contohnya. Tapi bagi orang lokal mereka tetaplah turis yang harus dibalas dengan senyum dan keramahan. Tetap saja mereka adalah target yang dapat mendatangkan keuntungan. Saya mempunyai sebuah pengalaman menarik, ketika saya ajak teman saya itu kesalah satu LSM ternama di Bali. Tanpa basa-basi dan rasa sungkan aktivis lokal ini menyodorkan masalah yang dia hadapi. Masalah sosial yang ditangani LSMnya langsung disodorkan dengan sejujur-jujurnya, dengan harapan teman saya bisa bantu carikan lembaga dana. Mengapa permasalahan itu tidak di sodorkan kepada saya ? Kenapa permasalahan yang ia hadapi lebih jujur diungkapkan kepada orang asing dari pada orang Bali sendiri? Apakah mungkin teman saya bisa mendapatkan status peneliti karena dilain pihak subjek penelitian tetap memandang mereka sebenarnya juga turis yang melulu menjadi lahan profit datangya kucuran dolar? Di sini salah satu persamaan antara turis dan peneliti asing, ketika adanya sebuah persamaan persepsi orang lokal kepada mereka. Mereka tetap seorang mister pembawa dolar entah mister John, mister Michel, mister Fredrick dll.

Peneliti asing berusaha akrab dengan subjek penelitian, mereka berusaha mengikuti pola kehidupan si subjek, mengikuti gaya hidup si subjek, dengan harapan dapat menemukan kedalaman realitas. Ada sebuah kepercayaan jika semakin sama, dan semakin percis dengan subjek, semakin tipis jarak itu. Tetapi sebenarnya ada sebuah ceremonial khusus jika peneliti asing datang ke daerah timur. Mereka berusaha mencari informasi tentang tempat penelitiannya. Terkadang lembaga donor yang menseponsori mereka membuat semacam pendidikan beberapa bulan mengenal tentang Indonesia. Indonesia adalah negara seribu masalah, tidak mudah untuk beradaptasi apalagi jika peneliti berasal dari negeri maju. Menurut teman saya itu semua peneliti dari Amerika mesti dapat imunisasi hepatitis A dan tetanus sebelum berangkat ke indonesia. Makanya saya tidak merasa aneh lagi jika melihat tas teman saya itu penuh obat-obatan. Setiap berangkat tidak lupa lotion anti nyamuk di ransel, karena di indonesia lagi maraknya demam berdarah. Selalu membawa lotion anti septic setelah membasuh tangan sehabis makan, dengan harapan tidak terkena flu burung. Itulah timur kini, sebuah daerah rawan penuh penyakit yang membahayakan. Penyakit yang bisa membunuh orang, yang sama dahsyatnya dengan teroris. Benar memang ada fakta itu, tetapi fakta itu mampu mereduksi, mengenaralisasi dan akhirnya mengarah pada stereotipe identitas. Berdasarkan hal ini, menjadi masuk akal bahwa kebersihan menjadi syarat utama rumah kost yang akan ditempati teman saya itu.

Wilayah timur yang di identitaskan sebagai daerah rawan ini menjadi semacam wilayah tes nyali dan ketangguhan bagi para peneliti asing. Timur adalah Wilayah adu kesaktian menjadi survivor. Mereka melakukan penelitian tetap dengan perasaan was-was, waspada dan sigap untuk menelphone international SOS jika tertular. Disatu sisi etika penelitian mengharuskan mereka menghilangkan sekat dengan dekat terhadap subjek penelitian, di sisi yang lain untuk dekat membutuhkan nyali. Sekat ini yang susah dihilangkan karena ketakutan dan rasa was-was adalah senjata tangguh untuk melahirkan jarak. Mengandaiakan timur sebagai wilayah uji nyali sama saja mengandaikanya sebagai zone perang yaitu daerah yang belum ditaklukan, karena itu harus di taklukan. Mirip dengan acara reality show khas Amrik, Survivor dimana beberapa orang berjuang hidup disebuah daerah asing, disana ada ketakutan, was-was, nyali, dan kecerdikan.

Alasan medis memang susah di hilangkan, karena siapapun tidak akan mau sakit. Kalau dahulu timur diidentitaskan secara cultural sebagai daerah yang tradisional dan eksotik. Bagi para peneliti kritis, identitas seperti ini sudah ketinggalan jaman. Identitas ini sudah banyak bobroknya, palsu karena terkena bias orientalis dan sangat hegemonik. Sesepuh teoritikus post kolonial Edward Said sudah mengoyak dan meremukan pandangan identitas kaum orientalis klasik ini. Tetapi kalau identitas dilekatkan dengan alasan medis menjadi lain persoalannya, karena sudah menyentuh tubuh si peneliti. Menyentuh tubuh berarti menyentuh subjektifitas, karena tubuh adalah instrument eksistensi, tubuh terkoyak eksistensi sebagai manusia akan terenggut. Tubuh teraniaya sakitnya pun lebih terasa. Ketika terjadi seperti ini timur sebagai identitas bukan lagi berada diluar tubuh. Maksudnya Timur tidak lagi menyangkut dunia diluar barat yang berada jauh. Timur sudah menjelma menjadi katakutan yang sangat membadan dan menjelma didalam tubuh karena eksistensi kehidupan seseorang mampu dilenyapkanya. Demam berdarah, HIV dan flu burung siap menjadi senjata ampuh pembuat jarak yang mengerikan.

Akhirnya masalah inipun diterjemahkan sebagai masalah adaptasi seseorang yang ingin mencicipi sebuah daerah luar. Tetapi alasan ini melupakan paradigma berpikir seseorang yang ingin berada di sebuah daerah asing. Didalam paradigma itu mengendap bayangan-bayangan tentang kategori-kategori daerah yang ingin di tuju. Kategori-kategori yang di ciptakan wacana medis terus membekas di dalam diri orang barat walaupun sudah berada di daerah timur. Memang mereka berusaha mirip dengan audiens, bahasa indonesianya lancar, mengikuti trend fashion orang lokal, makan-makanan lokal. Tapi tetap detak jantung berdebar, kalau nanti digigit nyamuk, kalau nanti makan ayam yang ada flu burungnya atau makanan yang dimakan kadulu warsa. Ketakutan adalah hak semua orang di dunia, tidak ada larangan untuk itu. Timbul masalah ketika ketakutan ini dianggap sebagai tindakan rasional bagi mereka, maka juga rasional anggapan timur sebagai daerah rawan. Semakin kokoh identitas timur sebagai mahluk pasif, kurang pengetahuan dan jorok, sedangkan Barat sebagai nabi penolong yang siap membantu.

Patut di ingat citra identitas ini semakin kuat karena kuatnya fakta bahwa masyarakat kita banyak yang miskin. Kesehatan dan kebersihan menjadi kebutuhan sekunder mereka. Kesehatan ataupun kebersihan hanya dapat di nikmati kalangan berdasi, dan kalangan bermobil kinclong. Sayangnya segerombolan kalangan bermobil kinclong doyan korupsi dan tentunya yang kena sial kalangan kebanyakan yaitu kaum miskin. Lebih sialnya lagi program-program kesehatan dan kebersihan yang digalakan pemerintah menyalahkan gaya hidup kaum miskin ini. Hal ini bisa dilihat dari ramainya pandangan bahwa banyaknya jentik nyamuk melulu karena tidak pernah menguras bak mandi atau tidak pernah membersihkan selokan. Alasan medis dari kelangan penguasa ini mampu mereduksi pandangan bahwa semua ini merupakan kesalahan masyarakat tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena masyarakat tidak mempunyai pengetahuan yang cukup. Kembali ada hirarkis, pemerintah sebagai nabi penolong dan masyarakat adalah sekelompok orang pasif, yang kurang pengetahuan dan jorok. Masyarakat yang mana? tentu saja si jorok miskin.

Disini kita melihat bahwa masalah medis juga adalah permasalahan kelas, ada sebuah struktur politik yang mengukuhkan timur sebagai daerah virus. Alasan-alasan medis mampu menghilangkan politik di balik semua ini, terlihat kemudian masalah menjadi sangat netral politik. Mengikuti paradigma Marxis, identitas timur berada dalam roda kepentingan politik sekelompok orang, dimana kaum miskin siap menjadi kaum yang sengaja diciptakan sebagai sebab musabab bencana. Mereka menjadi pemicu denyut jantung kengerian para peneliti dalam upaya berpetualang di dunia timur. Mereka juga menjadi kambing hitam program-program kesehatan yang digalakan pemerintah. Identitas timur lahir dari pergulatan-pergulatan itu, so welcome to the junggle dude….