Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah ada pelaku. Mereka si pelaku ini bukanlah subjek pasif karena mereka menikmati juga, menikmati tubuh-tubuh perempuan yang direndahkan dan disiksa secara sexsual itu. Karena alasan tugas atau strategi mereka si pelaku ini mempunyai ruang sebebas-bebasnya mengoyak tubuh-tubuh perempuan yang tidak berdaya ini. Bahkan ketika ada ruang kebebasan yang disahkan ini, mampu menjadikan manusia-manusia pelaku ini sebagai manusia yang super berani. Cerita moral yang diberikan ibu-ibu mereka, kaidah agama ataupun norma-norma sosial lenyap dalam kegagahan mereka saat melakukan penyiksaan. Kemachoan absolute mereka sebagai laki-laki pemberani muncul di bawah rasa takut perempuan yang disekap.

Buku ini dibuat oleh Ita F Nadia, ringan dibaca namun berat dicerna. Berat karena langsung menyentuh perasaan muak, sedih, jijik, sekaligus marah bahkan mungkin tidak kuat lagi untuk membacanya. Di sini akan terpampang secara blak-blakan bagaimana pahitnya sejarah untuk diingat. Ini adalah buku pengakuan beberapa perempuan yang disekap dan disiksa karena mereka dituduh sebagai komunis. Tidak ada cerita besar seperti terlibatnya CIA dalam tragedi itu, ataupun menceritakan masalah konflik internal TNI. Hanya memuat cerita dari kaum kecil tapi bermakna besar. Setelah anda membaca buku ini maka akan terbersit kengerian jika dimasa depan anak perempuan, saudara perempuan ataupun ibu kita mungkin akan mengalami penderitaan ini. Sudah pasti laki-laki yang menjadi dalangnya.

Membaca buku-buku sejarah tentang peristiwa 65 yang melulu bercerita tentang situasi politik Negara pada waktu itu, akan berbeda rasanya ketika membaca cerita-cerita dari korban-korbanya langsung. Mendengar cerita dari para korban, sejarah tragedi itu bukan lagi berada jauh. Bukan lagi cerita milik orang-orang besar yang terlibat dalam tragedi itu semisal para tokoh, para jendral, para menteri ataupun spionase asing. Cerita-cerita besar inilah yang menjadikan kejadian berdarah itu seolah-olah jauh dari dunia keseharian. Mendengar penuturan korban maka kengerian sejarah itu lebih terasa, dan membuat kita bertanya apakah salah satu dari keluarga kita terlibat. Tragedi berdarah itu bisa masuk ke ruang paling intim yang bisa merengut esksitensi orang yang kita cinta. Tragedi itu bisa masuk ke dalam rumah orang-orang biasa yang tidak tahu juntrung persoalannya seperti ibu-ibu ini. Umumnya mereka adalah masyarakat biasa yang sama sekali tidak tahu menahu alasan mereka dicabik-cabik. Ketika membaca ini kengerian timbul, apakah ke depan ini akan terulang jika terjadi kemelut melanda dunia politik orang-orang besar. Karena mungkin kita adalah bagian dari orang-orang biasa yang bisa saja jadi korban, walaupun sama sekali tidak mengerti akar pemicu malapetaka. Karena itulah sejarah penuturan korban tidak berada jauh, melainkan menjadikannya sangat dekat, dan mungkin kita adalah korban selanjutnya. Bisa jadi kita si laki-laki adalah bagian dari pelaku dikemudian hari.

Petaka bisa datang kapan saja, entah pagi, siang dan malam. Tidak perduli momen dan waktu, petaka bisa datang langsung tanpa permisi masuk ke dalam rumah mu. Ini bukanlah tsunami, manusia murka juga datang dengan kengerian yang secara tiba-tiba. Mirip dengan tsunami, mampu menghempaskan jutaan orang dengan cepat dan mampu menciptakan trauma yang dahsyat. Para korban ibu-ibu ini bukan hanya mengalami penyiksaan fisik, tapi setelah mendapatkan masa bebas mereka juga mengalami penyikasaan sosial. Cap “komunis” menghantui warga, sehingga pengusiran oleh warga menjadi akibat yang ditanggung korban. Identitas mereka ganti di rantauan untuk strategi survive karena sudah terlanjur di cap.

Bagi para pelaku sudah pasti kemunculan cerita-cerita ini sangat menghantui mereka. Mereka terlihat sebagai mahluk biadab yang sangat tangguh mengobrak-abrik ‘organ’ perempuan. Pelaku yang memiliki kuasa saat ini tentunya akan berusaha meredam pengakuan-pengakuan para korban. Bisa dibayangkan seandainya terbongkar maka kejantanan dan keperkasaan sang pelaku akan rontok. Mereka akan terlihat pengecut karena menundukan seseorang yang tidak berdaya dengan gagah dan garangnya. Tidak bisa dibayangkan seandainya anak-anak para pelaku ini tahu perbuatan bapak-bapak mereka. Keperkasaan pelaku sebagai pemimpin di dalam keluarga, ataupun di dalam perusahaannya akan remuk rontok. Anak-anak mereka ataupun anak buah mereka akan bertanya balik apakah kesuksesan yang mereka nikmati karena cara-cara yang biadab. Anak buah tahu mungkin bisa dipecat, anak-anak tahu maka akan menanggung malu seumur hidup. Oleh karena itu maka cerita ini berbahaya bagi nyaman dan harmonisnya keluarga, karena itu harus dilenyapkan.

Tragedi 65 adalah sebuah tragedi dimana kejantanan menjadi pertaruhan. Resim orde baru tumbuh karena mereka mempertaruhkan kejantanannya. Negara orde baru muncul sebagai sebuah bentuk kejantanan yang terlihat absolute. Lihat program-program PKK, disana laki-laki diciptakan sebagai pemimpin serta pengayom keluarga. Begitu istimewanya posisi laki-laki sehingga dikonstruksi sebagai pelindung kaum perempuan yang dianggap lemah. Laki-laki adalah Superman yang nyata, ini terbukti dari didirikannya puluhan bangunan megah ciptaan orde baru sebagai tanda kesuksesannya. Istilah bapak bangsa pun menjadi semakin popular. Laki-laki sangatlah dihargai setinggi langit. Keberhasilan ini merupakan ciptaan seorang pemimpin yaitu si laki-laki. Melihat cerita dari para korban perempuan ini maka akan terlihat kejantanan itu rapuh. Melihat ini maka kejantanan itu telah kalah dalam taruhannya. Mereka tidak-lah jantan seperti yang mereka kira, karena sukses dengan cara-cara yang tidak jantan walaupun beraksi bengis dengan gagahnya kala itu. Keberanian pada dasarnya adalah sebuah tindakan pengecut. Keberanian yang lahir bukan karena berani menentang maut, melainkan karena tidak adanya maut maka mereka berani. Tokoh Bima salah satu jendral dari keluarga Pandawa dalam epos Mahabarata menjadi berani karena ia memiliki kekuatan dari anugerah Para Dewa Perang, apakah Bima dalam perang kuru bisa menjadi berani kalau dia tidak memiliki kekuatan yang dikondisikan tadi?

Memperkosa beramai-ramai, menyetrum orang yang tidak berkutik, melukai tubuh orang yang diikat adalah bahan-bahan dasar kokoh bangunan megah nan perkasa kepemimpinan laki-laki. Di satu sisi kepemimpinan laki-laki ini disulap sedemikian rupa seolah-olah kepemimpinan laki-laki sangatlah gagah tanpa dosa. Tapi jika melihat sejarah penuturan korban maka tidak aneh lagi, gonjang-ganjing negara kita saat ini dilestarikan oleh cara-cara biadab. Sejarah yang kita pelajari adalah sejarah kebiadaban, hingga saat ini masih lestari.

Wajah Indonesia masih tetap sama dari dulu sampai sekarang. Rakyat banyak menjadi korban kekerasan yang tidak hanya terkait dengan peristiwa 65. Korban Penggusuran, korban KKN, korban penculikan, korban kekerasan aparat, adalah salah satu dari puluhan korban yang juga ingin diakui dan didengar pengalaman mereka. Jika kita menggantungkannya pada resim maka kekerasan-kekerasan yang berlimpah ini akan diseleksi mengikuti kepentingan sang rezim. Jelas karena cerita-cerita ini mungkin saja akan dapat mengangangu jalannya resim, karena itu diseleksi. Rasa duka, sedih, marah, dan trauma para korban dikompetisikan dalam arena seleksi buatan rezim. Alangkah baiknya kalau semua cerita ini bisa dibagi-bagikan ke masyarakat, sehingga kita bisa belajar dari cerita-ceita korban ini. Ini akan gawat kalau rezim nanti percaya bahwa masa depan akan lebih baik jika melupakan yang buruk dimasa lampau. Semua cerita buruk korban-korban berbagai macam kekerasan ini akan menjadi masa lalu saja. Gawatnya lagi setiap kekerasan akan terus menjadi masa lalu, walaupun itu masih dilakukan hari ini dan esok hari.