…wishful, sinful, our love is beautiful to see I know what I would like to be, right back where I came…”

The Doors/wishful sinful/The Soft Parade

Saya memiliki tato pada lengan sampai kaki kanan saya dan gambar matahari memenuhi punggung, yang bagian atasnya bertuliskan “Rest In Pain”. Tato di lengan sampai kaki saya itu berpola celtic yang disambung dengan pola biotech. Keseluruhan tato pada tubuh saya memakai tehnik black and grey kecuali pada bagian kaki memakai tehnik color. Mesin tato yang digunakan oleh “artis tato” yang mentato tubuh saya masih berupa mesin sederhana yang dirakit sendiri dari bekas dinamo kipas angin dan jarum yang digunakan adalah jarum jahit ukuran duabelas. Tinta yang digunakan pun bukanlah tinta yang biasa digunakan di studio-studio tato, tapi tinta gambar merk rotring yang biasanya digunakan untuk mengisi ulang pena gambar arsitek. Yang menorehkan tinta pada tubuh saya bukanlah artis tato profesional, tapi seorang teman sepermainan yang tadinya menggelar lapak tato dipinggir jalan kota Bandung[i].

Dulu sebelum saya memiliki tato, saya selalu memandang takjub pada tubuh yang penuh dengan tato. Saya selalu berpikir bagaimana mereka menahan sakit pada tubuh mereka, mengapa mereka rela menahan sakit, dan apa kepuasan yang mereka dapat setelah itu? Titik balik dimana saya merasa saya harus merasakan semua jawaban pertanyaan itu adalah ketika kakak saya di damprat habis-habisan oleh bapak karena ia mentato tubuhnya. Bisa dikatakan kalau saya sedikit tertantang dengan aturan ketat orang tua yang terasa begitu erat mengikat dengan tameng norma-norma umum. Tato pertama yang saya buat adalah tato matahari di punggung saya beserta tulisan diatasnya. Menurut beberapa teman, saya cukup berani (sebagai seorang yang sama sekali belum pernah ditato) untuk membuat tato sebesar itu. Tato itu hanya menyisakan sedikit ruang kosong di punggung saya. Memang benar, proses mentato tubuh terasa sakit, tapi kenikmatan setelahnya mengalahkan (ingatan akan) sakit itu sendiri.

Kenikmatan bertato saya dapatkan ketika ada seseorang (yang juga bertato) memperhatikan tato yang saya punyai. Selain itu, ia menjadikan saya “berbeda” dengan orang lain, ia membentuk kedirian saya di hadapan yang lain. Meskipun pembentukan kedirian saya mengarah kepada yang negatif dihadapan yang lain. Ia menjadi negatif ketika dihadapkan pada moralitas bentukan kuasa. Tato yang melekat pada tubuh saya, bisa dilihat sebagai “pemberontakan” atas batas-batas “kenormalan”. Sebaliknya, tubuh saya tidak “melakukan” apapun dihadapan yang lain yang juga memiliki tato. Dihadapan yang lain ini saya dibedakan dari tehnik, pola, dan seterusnya yang berhubungan dengan tato. Dengan kata lain selalu ada sekat antara saya dengan yang lain, bisa saja sekat itu berupa cermin yang memantulkan diri saya, bisa juga “tembok” yang menghadapkan saya pada sesuatu yang benar-benar berbeda.

Pertama-tama others yang mesti hadapi adalah orang tua yang mengekang dengan norma-norma kenormalan bentukan kuasa. Melalui norma-norma ini, kekuasan yang dihadapi tidak lagi berupa kuasa (negara) yang berada nun jauh disana, melainkan kuasa (negara) yang sudah melekat pada tubuh orang-orang sekitar yang sangat dekat dan kasat mata. Rezim disiplin, dalam pandangan ini, tidak perlu jauh dicari, ia berada dekat sekali, bahkan sangat dekat. Sebuah “perlawanan” yang sangat beresiko. Yang dipertaruhkan disini bukan sekedar pengurungan tubuh secara fisik sebagaimana yang terjadi pada sebuah perlawanan pada kuasa negara. Terkadang yang dipertaruhkan disini adalah “kehilangan keberadaan diri” dihadapan orang tua. Perkataan seperti misalnya, “Memalukan nama keluarga!” bisa dilihat sebagai salah satu ekspresinya. Mereka juga adalah cermin dimana saya selalu berusaha mencari cara untuk memenuhi hasrat mereka. Kenikmatan ketika saya bertato juga bisa dicari jejaknya dari sini. Ketika mereka berpaling dari saya, saya berusaha menjadi apa yang bukan mereka untuk menarik perhatian mereka lagi.

Dengan kontras, ketika mereka kembali berpaling pada saya namun menunjukkan ketidak sukaannya, hal itu menggoreskan luka mental pada kedirian saya. Kembali lagi saya terasing dari hasrat yang lain. Perasaan berdosa ini kemudian menjadi perantara atas dua kemungkinan terbesar. Pertama, saya akan “terpuruk” dalam perasaan berdosa dan merasa terancam dengan dosa yang telah saya lakukan. Perasaan terancam ini kemudian akan menyarankan suatu keadaan siaga sekaligus ketakutan. Bersiaga agar tidak lagi melakukan kesalahan, karena dengan kesalahan itu orang tua saya berpaling dari saya. Pada saat yang sama saya takut mendapat hukuman setelah apa yang saya lakukan. Dengan demikian dengan tidak langsung (dan dengan disadari ataupun tidak) orang tua saya adalah kuasa yang mesti saya patuhi (meski secara verbal tak ada kalimat pelarangan), mereka menundukkan (tubuh) saya menjadi tubuh yang patuh. Kedua, saya akan tetap “melawan” kuasa itu dengan segala konsekwensinya. “Perlawanan” ini lebih disebabkan karena luka yang digoreskan itu. Sementara perasaan berdosa itu adalah pemicu “perlawanan” tersebut. Luka itu mencederai kedirian saya sehingga saya bersikap defensif yang lebih mengarah pada agresifitas binatang yang terlukai.

Secara fisik, tubuh yang dipenuhi tato adalah tubuh yang “mengancam” kekuasaan dalam kemampuannya untuk “tidak tunduk”. Masyarakat moralis “mendapat” legitimasi kuasa (negara) untuk “menyingkirkan” tubuh yang kira-kira memiliki potensi untuk “bersaing” memperebutkan kekuasaan. Dengan kekuasaan yang ia peroleh inilah mereka menunjukkan kontras baik-buruk tubuh dengan tato. Ketidak jelasan batas baik-buruk disamarkan dengan mengetengahkan moralitas bentukan kekuasaan (negara) melalui (salah satunya) media. Pada akhirnya seseorang tidak lagi dikurung dalam sebuah ruang sempit penjara, namun ia merasa selalu diawasi dan merasa dituntut untuk mengikuti norma-norma bentukan kuasa (negara). Penjara tanpa terali yang mengurung fisik inilah yang menciptakan tubuh-tubuh yang patuh. Patuh untuk mengikuti norma-norma bentukan, bahkan patuh untuk tidak “bernafas”!

 



[i] Untuk glosari istilah-istilah, pola, tehnik, jenis tinta dan jenis mesin tato, lihat: Hatib Abdul Kadir Olong, LKiS, 2006.