Lahandi said…

… Para ‘pembuat’ sejarah itu selalu ingin membuat inferior negara2 dunia ke-3. Ingin membuat kita yakin bahwa negara kita itu tidak punya tradisi juara, tidak punya bakat yang bagus, tidak punya penemu, tidak punya seniman yang mashur, dsb. Itu memang akal2an mereka bos. …

November 08, 2007 11:22 pm

Emielx said…

… Tapi ini keren, makasih pak, kita jadi kayak nemu bagian sejarah yg hilang…

November 09, 2007 11:12 pm

Gerybatarasony said…

wooowww..!! keren sekali!! ternyata Indonesia udah punya orang2 keren semenjak dahulu, gilaa tahun 60-an “The Tielman Brother” udah rockin dan rollin dalam arti sesungguhnya! Elvis Presley aja pernah nonton mereka di Jerman! ahh.. ini gillaa!! pengetahuan saya tentang sejarah negara jadi bertambah lagi dan saya sangat bangga menjadi orang Indonesia! …

November 21, 2007 8:05 pm

God Father said…

Music History was changed

Elvis dan The Beatles pantesnya jd grup pembukanya

Nenek moyangku ternyata seorang Rocker… bukan cuman Pelaut!

April 02, 2008 11:46 am[i]

Sejak pertengahan tahun 2007, jika kita menelusur di internet dengan menggunakan kata kunci “The Tielman Brothers”, maka komentar-komentar seperti itu akan dengan mudah kita temukan di milis-milis atau blog (terutama) milik anak muda Indonesia. Beberapa saat setelahnya, “kegemparan” ini mulai memunculkan satu genre musik yang sebelumnya bisa jadi kurang dikenal dalam kosakata kita: Indorock. Seorang teman, ketika saya putarkan video dari The Tielman Brothers, video yang sama yang membuat banyak orang Indonesia bersuka-cita sehingga melontarkan kekaguman seperti saya kutip di atas, bahkan berkomentar tidak kalah seru: “kalo udah kayak gini, baru deh kerasa nasionalisme-nya sebagai orang Indonesia.” Siapakah The Tielman Brothers, mengapa band lawas ini bisa menimbulkan kesan begitu hebat bagi banyak orang Indonesia, kesan yang bahkan “beraroma” nasionalisme; dan seperti apa dan bagaimanakah genre musik yang disebut Indorock itu?

Adalah YouTube.com yang bertanggung jawab menyebarkan “demam” The Tielman Brothers dan Indorock akhir-akhir ini, serta berjasa “mengingatkan kembali” bahwa pernah ada The Tielman Brothers, sebuah band besar yang merupakan salah satu band rock tertua di dunia. Tidak hanya di Indonesia, video live dari lagu berjudul “Rolling Rock” yang di-upload pada akhir tahun 2006 itu juga menghentak khalayak di banyak penjuru dunia karena aksi panggungnya yang menghebohkan. Video yang merekam penampilan pertama The Tielman Brothers di stasiun TV Belanda (AVRO) pada tanggal 23 Januari 1960 itu memperlihatkan bagaimana mereka beratraksi memainkan gitar menggunakan kaki dan gigi, gitar dipegang di belakang kepala sang gitaris sembari menaiki double bass (atau di Indonesia dikenal dengan sebutan kontra bass) yang “dibaringkan” di lantai sambil dengan antengnya tetap dimainkan oleh sang basis, atau ketika sang drummer menggunakan stik drum-nya untuk memukuli senar gitar; semua masih dalam harmonisasi irama dan melodi yang tetap terjaga. Band ini menjadi istimewa karena ia menghadirkan fakta bahwa ternyata aksi panggung liar semacam ini ternyata sudah dilakukan The Tielman Brothers bahkan satu dekade (mereka sudah pasti melakukannya sejak tahun 1956) sebelum dunia diguncangkan oleh penampilan sejenis dari band rock n roll seperti The Rolling Stones. Sang legendaris Jimi Hendrix, yang muncul lebih dahulu dari The Rolling Stones, hanyalah salah satu nama gitaris yang konon terinspirasi oleh The Tielman Brothers, yang kemudian mempopulerkan aksi panggung semacam ini.

The Tielman Brothers sendiri adalah sebuah band yang resminya terdiri atas empat orang kakak beradik: Andy (gitar, vokal), Reggy (gitar, vokal), Ponthon (double bass, vokal), dan Loulou (drum, vokal) dari seorang ayah berdarah Maluku dan ibu berdarah Jerman. Karir bermusik mereka dimulai sejak kecil, ketika keluarga mereka masih berdomisili di Surabaya pada tahun 1945. Saat itu mereka – termasuk ayah, ibu, dan adik perempuan mereka – masih mengusung nama The Timor Rhythm Brothers yang kerap membawakan lagu-lagu daerah sembari menarikan tarian tradisional. Kemampuan membawakan nomor-nomor jazz rumit di usia yang masih sangat belia mencengangkan para audiens mereka, baik orang-orang Eropa maupun Indonesia. Tur keliling kota-kota besar di Indonesia pun bukan hal yang aneh, mereka bahkan berkesempatan mempertunjukkan kebolehan mereka di hadapan presiden Soekarno di istana negara. Pasca pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949, isu kewarganegaraan mencuat. Hermann Tielman, sang ayah, sebagai seorang tentara KNIL harus memilih antara menjadi warga negara Indonesia atau hijrah ke Belanda. Atas berbagai pertimbangan, akhirnya keluarga ini memutuskan untuk pindah ke Breda, Belanda pada tahun 1957. Bermula di kota ini, karir musik legendaris The Tielman Brothers (mereka mengubah nama karena kata “Timor” terdengar asing bagi orang Eropa) berjalan mulus, menjadikannya band rock papan atas yang dikenal luas terutama di Eropa.

The Tielman Brothers hanyalah salah satu dari sekian banyak kelompok musisi Indo Eropa (terutama peranakan Maluku) yang lahir di Indonesia dengan kisah migrasi yang sama pada masa itu. Saya banyak merujuk pada pengalaman The Tielman Brothers karena band inilah yang menjadi simbol kebanggaan Indorock, dan karena band ini pula yang menjadi pemicu wabah Indorock akhir-akhir ini. Masih ada sederet nama lain seperti Electric Johny & His Skyrockets, The Black Dynamites (kemudian sering pula disebut Los Indonesios), The Javalins, The Crazy Rockers, dan masih banyak lagi. Musik yang mereka usung kemudian melahirkan satu genre yang disebut Indorock, sebuah scene musik rock (kebanyakan instrumental) yang mengalami masa jaya pada kisaran 1958 – 1965, sebelum akhirnya tergusur oleh kehadiran band-band Inggris seperti The Rolling Stones dan The Beatles (atau yang biasa disebut British Invasion).[ii]

Indorock memang lahir dari subkultur imigran Belanda-Indonesia yang dicirikan oleh perpaduan antara musik Barat dan musik Indonesia. Musik Barat yang menjadi acuan band-band ini di masa awal kelahirannya di Indonesia adalah musik Hawai, rock ‘n roll generasi pertama, dan musik country Amerika yang saat itu bisa didengar lewat radio Amerika yang dipancarluaskan dari Filipina dan Australia. Sementara musik Indonesia yang dimaksud, selain lagu-lagu daerah, adalah musik keroncong, yang dicirikan oleh permainan gitar yang khas, minimal dua gitar yang seakan saling “bersahut-sahutan” mengisi melodi dan rhythm. Dalam perkembangan keroncong di Indonesia, fungsi dua gitar ini dihasilkan dari suara cuk dan cak. Eksplorasi gitar, yang menjadi ciri penting genre Indorock (umumnya musisi Indorock bahkan memiliki tiga gitaris), memang merupakan suatu hal yang baru bagi publik Eropa, mereka pada masa itu lebih terbiasa mendengar musik a la “orkestra” dengan biola atau piano sebagai alat musik yang dominan.

Pada tahun 1958, scene rock ‘n roll di Belanda mulai diambil alih oleh anak muda, sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya di negara-negara Eropa lainnya. Jika sebelumnya musik rock dimainkan oleh kalangan tua yang biasanya tampil solo atau hanya kelompok vokal yang lebih “santun” dan hanya merekam lagu-lagu versi gubahan dari lagu Amerika yang sudah dikenal maka kali ini musik rock didominasi oleh band-band anak muda yang sanggup menggubah lagu ciptaannya sendiri. Scene musik yang waktu itu berkembang terutama rock ‘n roll “putih” orang Belanda asli (“Nederrock”) dan rock ‘n roll “biru/hitam” yang diusung oleh orang Indonesia yang tinggal di Belanda (“Indorock”), serta satu scene yang tidak sebesar dua scene tadi, yaitu rock ‘n roll yang dibawakan oleh orang Suriname di Belanda (“Surirock”). Dari semua itu, scene Indorock-lah yang paling banyak peminatnya, dan The Tielman Brothers adalah band rock ‘n roll anak muda Belanda pertama yang mencicipi dapur rekaman, sekaligus menjadi band rock ‘n roll pertama yang membawakan komposisi lagu mereka sendiri.[iii]

»

Membicarakan Indorock sebagai genre musik yang muncul pasca migrasi besar-besaran orang Indonesia [dan Indo] ke Belanda pada tahun 1950an, berarti membicarakan konteks kepindahan itu sendiri dan pilihan “status kewarganegaraan” dari para ekspatriat yang mayoritas orang Maluku ini. Kepindahan para musisi ini jelas sangat terkait erat dengan kebijakan Orde Lama di bawah kepemimpinan presiden Soekarno yang anti-Barat. Saat itu, segala yang berbau Amerika “diberangus”, termasuk pilihan mendengarkan – apa lagi menjadi musisi – rock ‘n roll. Mereka tentu harus menentukan sikap terkait pilihan karir mereka: tetap membawakan musik sebagaimana mereka menginginkannya, walau harus berjuang lebih keras “di negeri orang”; atau harus berakhir di penjara, sebagaimana yang terjadi pada Koes Ploes pada awal tahun 1960an (yang bahkan aksi panggungnya jelas tidak “se-urakan” The Tielman Brothers). Pada kasus The Tielman Brothers sendiri, keluarga mereka sebenarnya ditawarkan kesempatan emas tur keliling Indonesia dengan imbalan yang tidak kecil oleh Presiden Soekarno, jika mereka memilih menjadi warga negara Indonesia. Sebuah kesempatan emas untuk sang “anak emas”. Namun, tentu saja, ada persyaratan yang harus dipenuhi: mereka harus meninggalkan ke-rock ‘n roll-an mereka dan hanya membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia.

Selain alasan “musikalitas profesional” ini, ada alasan lain yang tidak kalah penting. Orang-orang Maluku, terutama eks-KNIL (dan keturunannya), apa lagi sejak pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia, berada di posisi yang “tidak nyaman” di negeri ini. Sejak akhir abad ke-19, banyak laki-laki Maluku, terutama yang beragama Kristen, menjadi anggota KNIL yang mengabdi pada Kerajaan Belanda. Hal ini memang merupakan bagian dari politik divide et impera kolonial Belanda, apalagi sudah sejak lama disadari oleh pemerintah Belanda bahwa agama dapat dijadikan salah satu strategi efektif untuk meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap kolonial. Sebagai imbalannya, para anggota KNIL ini diberi status sosial yang lebih tinggi dan jaminan pendidikan bagi anak-anak mereka. Selepas kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, terjadilah Agresi Militer Belanda yang didukung oleh tentara KNIL. Akibat partisipasi KNIL dalam operasi militer melawan angkatan muda republik Indonesia ini, orang-orang Maluku kemudian kerap diberi julukan “Belanda hitam”, “antek kulit putih”, atau “pengkhianat” oleh orang Indonesia lainnya. Nasionalisme Indonesia saat itu (yang dipandang banyak kalangan sebagai nasionalisme Jawa; bagi orang Maluku Jawa-isasi ini berarti berhadapan dengan batasan lain: agama [Islam]) disambut dengan diproklamirkannya Republik Maluku Selatan (RMS) pada 25 April 1950 yang lepas dari Indonesia. Namun kemerdekaan Maluku ini tidak berusia lama (walaupun banyak orang Maluku yang masih mempercayai keberadaan RMS yang sah, mereka bahkan tetap memiliki presiden RMS yang berdiam di Belanda), dengan diinvasinya pulau itu oleh tentara Indonesia dan Maluku pun menjadi bagian dari Indonesia. Peristiwa ini, kemudian berbuntut dengan diangkutnya ribuan tentara eks-KNIL dari Maluku beserta keluarga mereka ke Belanda.[iv]

Posisi para migran Maluku di Belanda pada masa itu, jangan pula dibayangkan sebagai sesuatu yang sanggup membuat mereka merasa lebih nyaman dibandingkan di Indonesia. Mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan karena perserikatan buruh khawatir mereka dapat menurunkan standar upah pekerja Belanda. Selain itu, perlu dicatat bahwa keberadaan mereka di Belanda awalnya dimaksudkan untuk sementara waktu saja hingga kondisi di Maluku pasca-“pemberontakan” RMS kembali kondusif; sehingga tidak ada bayangan dari orang-orang Maluku ini pada saat itu untuk melebur dengan masyarakat Belanda, dan sebaliknya. Mereka menjadi pengangguran, terisolasi dalam kamp penampungan, tidak lagi memiliki status militer yang sebelumnya mereka banggakan, belum lagi kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat setempat dan harus berdamai dengan iklim yang berbeda dengan di Indonesia. Nyaris tidak ada yang tersisa bagi mereka, kecuali hidup dalam harapan yang membuai, romantisme masa lalu, dan mitos yang sanggup menggugah semangat mereka. RMS, bisa jadi salah satu mitos yang bermain-main di benak mereka saat itu, sebuah bayangan akan negara Maluku yang damai, sebuah “rumah”. Sampai saat ini, perjuangan akan RMS memang masih mereka kobarkan, janji Belanda untuk membantu mewujudkan impian akan Ibu Pertiwi dan memulangkan mereka ke kampung halaman tetap diingat, walaupun tentu saja sudah banyak yang berubah. Seiring dengan perkembangan waktu, generasi selanjutnya dari para migran Maluku di Belanda sudah jauh berasimilasi dengan masyarakat Belanda, menjadi bagian dari negara Belanda yang multikultur. Mereka bisa jadi sudah menganggap diri mereka “orang Belanda”, walau tetap menghargai akan RMS, demi orang tua dan kakek nenek mereka.

Namun, sekali lagi, perasan mereka tentu berbeda pada masa awal kedatangan ke Belanda yang penuh tekanan. Dalam setiap keterhimpitan sekalipun, senatiasa tersisa ruang kosong. Hidup jalan terus, mereka harus tetap “ada”, sekaligus menunjukkan keber”ada”an itu. Mereka “bergerilya” mencari ruang tersisa itu, sebuah tempat dimana mereka tetap bisa berdiri di antara masyarakat Belanda, sebuah komunitas yang [tidak sepenuhnya] asing bagi mereka. Apa yang dilakukan oleh para musisi Indorock ini dapat pula kita pandang sebagai sebuah upaya untuk mencari sebuah ruang kosong yang tersisa, tempat di mana ia berusaha membangun nilainya sendiri, sekaligus membangun sebuah ruang negosiasi demi menunjukkan eksistensi mereka. Mereka hadir dan menuntut perhatian – sekaligus menuntut pengakuan.

Kisah mereka hampir mirip dengan kisah eksodus kaum kulit hitam dari Hindia Barat ke Inggris pada kisaran waktu yang sama, ketika sejarah hidup mereka justru sanggup melahirkan sebuah subkultur baru. Dick Hedbige (1979) pernah menuliskan bagaimana para pendatang yang “kecewa” ini mulai merasakan perpaduan aneh dari berbagai motivasi yang bertentangan: perasaan putus asa atau setidaknya tidak sabar dengan kondisi negeri asal mereka, kepercayaan akan aksi mereka, hasrat akan perbaikan status; sekaligus keyakinan bahwa Ibu Pertiwi akan memenuhi kewajibannya, merelakan sekaligus “menghukum” anak-anak negerinya yang hilang. Mereka mulai berkumpul, “kekecewaan” mereka siap diekspresikan[v].

Pada pertengahan tahun 1950an, musisi Indonesia yang tersebar di banyak kota di Belanda, terutama di Den Haag sebagai salah satu kota dengan populasi orang Indonesia terbanyak, sering mempertunjukkan kebolehan bermusik mereka dalam pesta setiap akhir pekan yang dikunjungi oleh anak-anak muda Indonesia dan Eropa. Menarik mencermati bagaimana sebenarnya yang dilakukan oleh kaum migran Maluku di Belanda ini cenderung melawan arus konservatisme Belanda saat itu. Berbeda dengan anak-anak muda Belanda yang lebih memilih membawakan musik jazz karena citra musik rock ‘n roll yang urakan, justru anak muda Indonesia berani memainkan musik rock ‘n roll dan Hawaiian yang saat itu tengah menjadi tren, selain tentu saja, musik keroncong sebagai salah satu ujud menumpahkan kerinduan mereka akan tanah air nun jauh. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, perpaduan antara beragam musik inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal Indorock. Setiap kota kemudian memiliki ciri khasnya sendiri dan membentuk scene indie-nya masing-masing.

Gaya musisi Indorock yang tidak lazim bagi arus utama musik di Belanda saat itu memang memancing cercaan dari banyak pihak. Piet Muys, pemerhati musik dari Belanda mencatat bagaimana aksi The Tielman Brothers yang untuk pertama kalinya disiarkan oleh stasiun televisi Belanda (AVRO) pada Januari 1960 sebagai “pertunjukan rock ‘n roll yang sungguh sensasional dan liar, yang tidak pernah muncul di TV Belanda … benar-benar sulit ditandingi. Rock ‘n roll dari anak muda Indonesia ini sungguh begitu menghangatkan jiwa kita di negara yang dingin dan ortodoks ini, namun pengamat TV dan pakar musik berpikiran lain. Segudang kritik negatif langsung dicetak di koran-koran.”[vi] Eksperimentasi gitar dan aksi panggung yang “tidak sesuai norma konservatif” Belanda yang diusung oleh para musisi ini memang melahirkan caci-maki, namun perhatian besar yang tersorot pada mereka di sisi lain langsung merebut hati massa yang sontak menjadi penggemar fanatik mereka.

Bisa jadi, suguhan lain dari yang lain a la The Tielman Brothers ini, sesuai dengan apa yang dikatakan Hebdige, sebagai upaya menilai ulang stigma dan menjelmakan kemencolokannya tentang pernyataan tentang keasingan, suatu lambang bagi ke-Lain-an diri mereka[vii]. Melalui “berani tampil beda” inilah, keberadan mereka berusaha diperluas, dijabarkan, dan diwujudkan. Ia bisa menjadi simbol perlawanan. Sebuah upaya resistensi dalam keterhimpitan. Tapi sebenarnya, jika kita membicarakan konteks orang-orang Maluku dalam kaitan keterlibatan keluarga mereka dengan KNIL, maka perlawanan seperti apa yang dimaksud? Secara sederhana (kalau tidak serampangan), kita bisa beranggapan bahwa mereka adalah “antek kulit putih”, maka mereka berarti bukan dari pihak terjajah, karena mereka berada “di sisi” penjajah. Benarkah demikian? Bisa jadi. Tapi kita harus melihat bahwa mereka tidak benar-benar ada “di sisi” Belanda, karena mereka tidak pernah bisa menjadi “Belanda”, mereka adalah “Belanda hitam”. Posisi mereka pun berada dalam hirarki atasan-bawahan, tuan-budak dengan segala hasratnya yang tetap menghantui. Lebih jauh, kita tidak bisa melupakan bahwa bagaimanapun juga mereka adalah imigran. Pengertian imigran mengandung pengertian “migran”, meninggalkan kampung halaman mereka karena “keterpaksaan”, adanya setidaksesuaian harapan di tanah mereka sebelumnya. Perasaan ini di satu sisi menimbulkan perasaan bersalah karena meninggalkan “masalah” di kampung halaman; di sisi lain, di tanah yang baru ada permasalahan persinggungan dengan masyarakat setempat, muncul perasaaan takut ditolak atau malah dikasihani. Hal-hal semacam ini, bisa dengan mudah kita temukan dalam perjalanan hidup orang-orang Maluku di Belanda. Amin Maalouf pernah menuliskan bagaimana diam-diam para pendatang ini kebanyakan bermimpi agar dianggap sebagai “penduduk asli”, godaan pertama mereka adalah menjiplak tuan rumah yang ada kalanya berhasil, ada kalanya tidak[viii]. Dalam upaya-upaya inilah mimikri, sebagaimana ditawarkan Homi K. Bhabha, pun hadir (walaupun mungkin cikal bakal itu sudah ada sejak mereka masih berada di Indonesia), sebuah upaya untuk menjadi “Belanda” atau katakanlah, Eropa. Mereka mendengarkan musik yang sama, memakai pakaian yang sama, berbicara nyaris dalam bahasa yang sama dengan mereka; namun pada satu sisi lain, kampung halaman mereka tetap tidak ditinggalkan, tidak hanya dalam ujud fisik seperti warna kulit, namun juga mereka ujudkan dengan menunjukkan kecintaan mereka pada gitar sebagaimana “diajarkan” oleh musik keroncong, sebuah aliran musik yang berkembang menjadi budaya populer di Indonesia pada dekade itu. Kepiawaaan Andy Tielman misalnya, sang gitaris yang menjadi front man The Tielman Brothers, dalam mengocok gitar memang diakui banyak pihak. Tidak tanggung-tanggung, tidak kurang dari Fender, sebuah perusahaan gitar jazz bonafide, sempat membuatkan seri gitar Jazzmaster, khusus untuk Andy Tielman. Sesuatu yang menunjukkan pengakuan atas sang master gitar yang memang hanya dikhususkan pada segelintir musisi dunia saja. Lebih jauh, permainan gitar mereka (terutama Andy) menginspirasi tidak hanya musisi Indorock lainnya, namun juga diakui membawa pengaruh bagi musisi lain seperti Elvis Presley, juga termasuk band-band Merseybeat sound, yang terutama dipopulerkan oleh The Beatles. Tidak kurang seorang George Harrison, gitaris The Beatles, mengidolakan Andy Tielman dan menyebutnya sebagai “The Indo-Man”. Di masa-masa ini, ada kalanya Andy bahkan menutup kepala gitarnya dengan handuk, agar “trik khusus” yang ia gunakan tidak ditiru orang lain, yang tentu saja tidak selalu berhasil. Gaya panggung mereka, walaupun bisa jadi beberapa bagiannya “dicuri” dari gaya Spike Jones dan Bill Haley, namun kemampuan mereka “beratraksi” sambil tetap memainkan alat musik dan bernyanyi yang bisa membuat takjub orang Eropa masa itu, sebenarnya bukan hal yang baru bagi mereka yang terbiasa bernyanyi dan bermain musik sembari menarikan tarian tradisional saat masih berada di Indonesia. Apa yang dilakukan mereka, sanggup mentransformasi makna warisan kolonial menjadi tanda pembebasan. Lebih lanjut, sebagai diaspora, mereka sudah pasti dapat memunculkan identitas-identitas baru dan kompleks yang membutuhkan analisis yang baru pula.

Produksi makna dari sumber-sumber yang berbeda ini, dalam pencarian ruang kosong bagi eksistensi mereka, termobilisasi dalam sesuatu yang Bhabha sebut sebagai Ruang Ketiga (Third Space). Performa dari relasi ini umumnya berada dalam “ketidaksadaran” yang membawa ambivalensi dalam tindakan interpretasi atas makna baru tersebut. Intervensi Ruang Ketiga yang menjadikan struktur makna berada dalam proses ambivalensi, menghadirkan pengetahuan kultural yang terus-menerus hadir sebagai kode yang tidak pernah menyempit dan senantiasa terbuka. Bahkan sebelum kita membicarakan konsep hibriditas, dari sini pun kita bisa melihat bagimana “kemurnian budaya” adalah sesuatu yang tidak bisa dipertahankan. Dalam Ruang Ketiga, tanda yang sama akan selalu bisa diterjemahkan, disesuaikan, dan dibaca dengan cara yang baru sama sekali. Bhabha lebih lanjut menawarkan cara mengkonseptualisasikan budaya lintas-nasional (inter-nasional) yang terutama berdasarkan pada artikulasi hibriditas budaya[ix]. Musik Indorock jelas merupakan musik hibrid ketika ia mengambil gagasan dan kosa kata Barat sembari menjajarkannya dengan gagasan pribumi, yang lantas dibaca melalui lensa interpretatif mereka sendiri, untuk kemudian dipakai dengan penyesuaian “sana-sini” yang semakin menegaskan perbedaan tak terjembatani antara penjajah dan terjajah.

Musisi Indorock yang umumnya adalah musisi hibrid ini juga kian menunjukkan betapa identitas itu niscaya bukanlah sesuatu yang mutlak dan terberi, melainkan selalu dalam posisi tarik ulur yang senantiasa direkonstruksi terus-menerus. Identitas mereka tidak pernah mapan, sama seperti musik yang mereka usung. Seperti yang sudah jamak kita ketahui, keroncong itu sendiri bukanlah musik asli Indonesia. Ia adalah musik yang berakar dari musik Portugis yang disebut fado, yang dibawa ke Indonesia pada abad ke-16. Musik keroncong awalnya adalah musik yang dimainkan oleh para budak dan opsir Portugis, Maluku adalah salah satu daerah kekuasan Portugis yang menjadikannya cukup lama mengakrabi musik ini dibanding banyak daerah lain di Indonesia. Dalam perkembangannya, musik ini mengalami akulturasi dengan unsur tradisional Indonesia, sekaligus terdapat pergeseran alat musik dan fungsinya. Kontra bass misalnya, di Portugis alat ini merupakan alat musik gesek, namun di Hindia Belanda, kontra bass lama-kelamaan menjadi alat musik petik, setelah sebelumnya pernah menjadi alat musik pukul. Bahkan sebelum musisi Indorock melakukan mimikri dalam musiknya, apa yang ia ambil pun sebenarnya merupakan mimikri, upaya sang budak untuk mengikuti “gaya” tuannya. Gagasan mengenai mimikri dalam keroncong mungkin tidak akan banyak saya bahas di sini, karena sepertinya pembahasan ini sudah banyak disinggung. Saya hanya hendak menunjukkan bagaimana hal-hal semacam ini tidak pernah usai, seperti sejarah gitar sebagai alat musik petik itu sendiri yang memiliki sejarah teramat panjang nan kompleks. Meski Spanyol (dan Portugis) “berjasa” menyebarluaskan gitar akibat invasi kolonialisme yang dilakukannya ke berbagai penjuru bumi, namun jejak sejarah alat musik ini berikut perkembangannya, dapat terus dirunut ke belakang hingga invasi bangsa Moor pada abad ke-8, bahkan mungkin lebih tua lagi dari itu.

Dalam proses penulisan paper ini, ada sesuatu yang saya “temukan” dan tidak kalah menarik. Dalam satu perbincangan dengan seorang musisi keroncong, Muhammad Ramdhan a.k.a Ramses, setelah sebelumnya saya putarkan beberapa lagu Indorock, ia berpendapat bahwa sulit baginya untuk menemukan unsur “keroncong” dalam lagu-lagu tersebut. Di telinganya yang sudah menggeluti keroncong 15 tahun lebih, ia berpendapat bahwa unsur rock ‘n roll-lah yang dominan. Akhirnya saya berkesimpulan, walaupun mungkin unsur keroncong baik dalam bentuk sinkopasi dan notasi kromatik sulit ditemukan dalam Indorock, namun yang membuatnya tetap dapat dianggap berakar dari keroncong adalah eksplorasi pada gitar, sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, sesuatu yang belum menjadi hal yang lazim di Eropa masa itu. Namun hal ini menggelitik kegelisahan saya yang lain. Saya menjadi bertanya-tanya, mengapa begitu banyak sumber yang menyatakan bahwa Indorock “erat” dengan keroncong? Bisa jadi, para pakar musik di Belanda masa itu tidak paham sepenuhnya soal musik keroncong, selain persoalan eksplorasi gitar yang membuat mereka tercengang itu. Patut dicatat bahwa Indorock tidak dikenal luas di Indonesia, sama seperti The Tielman Brothers itu sendiri, menjadikan tidak [atau belum] ada pakar musik Indonesia yang memberi komentar. Bisa jadi. Tapi, bagaimana dengan para musisi Indorock itu sendiri? Mereka sudah pasti jauh lebih paham hal-hal semacam ini. Bagi banyak musisi, seperti yang kita pahami, tidak banyak memang yang merasa perlu berpusing-pusing dengan pelabelan musik mereka, seperti juga nama Indorock yang diberikan oleh publik Eropa. Urusan seperti itu, seperti juga apa dan bagaimana musik mereka, biasanya memang menjadi santapan kritikus. Tapi ijinkan saya untuk membayangkan hal lain. Bahwa pengakuan publik Eropa terhadap eksistensi musik keroncong dalam musik mereka yang diterima luas itu adalah salah satu bentuk pengukuhan sekaligus pengakuan terhadap eksistensi bagi keberadaan “rumah” mereka yang nun jauh, yang mereka rindukan. Para musisi ini membiarkan eksotisme, yang tentu saja sanggup menjual ini, “membuai” publik Eropa, sebuah bayangan akan Timur yang mereka idamkan. Lebih jauh, hal ini juga bisa kita lihat bagaimana Timur yang pernah mereka “taklukkan” ini, akhirnya sanggup “berdamai” dengan budaya mereka, budaya Barat.

Respon negatif yang dilontarkan para kritikus musik Belanda terhadap penampilan The Tielman Brothers, mungkin tidak pula bisa kita pandang melulu dikarenakan aksi panggungnya yang tidak sesuai dengan norma-norma konservatif Belanda. Saya rasa, disini ada semacam “ketakutan”, ketika bagaimana musik dari “mantan budak” mereka ini ternyata diterima oleh publik Belanda dan Eropa secara luas. Dampak dari Indorock ini ternyata memang jauh lebih hebat dari yang saya bayangkan. Dalam Dutch Culture in European Perspective: 1950 (2004) disebutkan bahwa apa yang dilakukan The Tielman Brothers ini dapat dipandang serupa dengan aksi Elvis Presley yang sanggup menerjemahkan idiom musik kulit hitam bagi khalayak kulit putih, ketika mereka sanggup menerjemahkan rock ‘n roll menjadi lebih “Belanda”[x]. Kesukesan The Tielman Brothers juga diakui membawa banyak perubahan bagi kultur anak muda Belanda saat itu, bahkan berperan terhadap lahirnya kultur anak muda di Belanda menjadi sesuatu yang otonom dan diterima, untuk pertama kalinya. Ketakutan khalayak Eropa tadi menjadi beralasan, ketika kehadiran anak-anak muda [non-Belanda] ini justru sanggup mengubah tatanan nilai yang sudah lama dianut oleh budaya orang tua. Apa lagi, ia bersumber dari sesuatu yang terlepas dari genggaman “orang tua” ini, sebuah tanah yang mereka sebut Hindia Belanda. Lihatlah juga bagaimana pada sampul album piringan hitam The Tielman Brothers yang bertajuk O Sole Mio (1964), disertai pernyataan jelas: “We don’t have Indonesia anymore …, but we still have The Tielman Brothers. Ternyata, tidak hanya orang-orang dari negeri jajahan saja yang membutuhkan pengakuan; pihak kolonial, atau Barat, pun membutuhkannya demi pengukuhan satu bentuk “kedirian” mereka yang tercerabut paksa, sembari pada saat bersamaan seakan berusaha mengingatkan kembali dan “bermain-main” dengan romantisme masa lalu. Di sini, kita juga bisa melihat sesuatu yang jelas lainnya: kalimat ini menunjukkan bahwa The Tielman Brothers tetaplah bukan “Belanda”, tetapi sesuatu yang mereka [pernah] miliki, ia adalah tetap “Indonesia”. Saya jadi bertanya-tanya apa yang dirasakan oleh The Tielman Brothers ketika mereka membiarkan tulisan itu tercantum di sampul album mereka. Banggakah – karena merasa “diakui”? Atau sedih – karena “tidak diakui” (dan harus berdamai atas nama “pasar”)? Entahlah. Memang, Andy Tielman, sang gitaris sekaligus front man dari The Tielman Brothers sudah sejak lama dijuluki oleh publik Belanda sebagai The Godfather of Dutch Rock ‘n Roll, sementara bagi para penggemar Indrock ia biasa disebut The Uncrowned King of Indorock. Pada tahun 2005, atas jasa-jasanya bagi perkembangan kultur pop Belanda, Andy mendapatkan penghargaan Order of Orange Nassau dari pemerintah Belanda. Pengakuan itu bisa jadi memang sudah ada, setidaknya dari sisi musikalitas, sesuatu yang sepertinya sudah bisa bermakna banyak bagi seorang musisi.

»»

Di pihak lain, terlepas dari perdebatan tentang identitas The Tielman Brothers dan Indorock (juga Maluku), ia ternyata sanggup menyisakan kebanggaan bagi banyak pihak di Indonesia, sebagaimana dilansir di awal tulisan ini. Kebanggaan ini bisa mudah dipahami ketika ada sesuatu yang dapat dikatakan cukup dekat dengan kita (Maluku di bayangan teman-teman ini sudah pasti Maluku sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia) mendapat pengakuan dari banyak pihak, yang dalam hal ini notebene adalah Eropa. Memang, penampilan memukau The Tielman Brothers dalam video tadi bisa dengan mudah membuat siapa saja tercengang dan menggelengkan kepala. Namun, saya sedikit bertanya-tanya apakah komentar-komentar yang “beraroma” nasionalisme itu juga akan muncul jika katakanlah, mereka tidak memakai jas a la orang Eropa, menyanyikan lagu tradisional, tidak menampilkan orang kulit putih yang nongol untuk merapikan panggung (anggaplah di studio mana video ini direkam atau diputarkan untuk publik mana video ini berada di luar konteks, karena bahkan jika mereka tahu pun saya rasa tidak menjadi persoalan, apa lagi hal ini tidak bisa diketahui dengan mudah jika hanya melulu menyaksikan video ini), walaupun menampakkan kemampuan musikalitas dan aksi panggung yang sama? Seperti teman saya yang tidak saya beri pengantar tentang apa dan siapa band ini hingga ia selesai berkomentar? Atau bisa jadi mereka bangga setelah mengetahui band ini diakui di Eropa dan sanggup melahirkan genre musiknya tersendiri? Atau mungkin hal ini juga bisa menimbulkan kebanggaan karena gaya para musisi ini mirip dengan gaya para musisi idola mereka sekian lama, yang kebetulan tidak ada “sangkut-pautnya” dengan Indonesia, dan hampir semuanya Eropa, yang bisa jadi mereka percaya sebagai sesuatu yang orisinil? Berlawanan dengan semangat komentar-komentar ini, saya tidak berani mempertanyakan lebih jauh “nasionalisme” dan “ke-Indonesia-an” dari para musisi Indorock ini, selain fakta bahwa banyak dari para musisi ini yang memilih menghabiskan masa tuanya di Indonesia dan menghembuskan nafas terakhirnya di tanah air. Saya percaya rasa keterasingan itu ada, sama seperti musik mereka sendiri di tanah air, persis seperti salah satu lagu The Tielman Brothers, I’m A Stranger In My Land, walau saya masih sibuk mereka-reka, “land” manakah yang mereka maksud.

Saya terus-terang juga mempertanyakan mengapa popularitas The Tielman Brothers tidak begitu luar biasa mengingat segala pencapaian musikalitas mereka? Bisa jadi ia tidak dikenal luas di Indonesia (seperti juga gitaris Ambon Lodewyk Nanlohy yang membawa pengaruh besar bagi scene rock ‘n roll Australia) mengingat masa jaya mereka adalah era kepemimpinanan Soekarno, tapi bagaimana di belahan dunia lainnya, apakah benar itu ada keterkaitan dengan “ke-bukan-Eropa-an mereka” atau jawabannya “sesederhana” berada dalam pusaran kapitalisme semata? Apakah akan berbeda misalnya, jika mereka ada di Amerika? Karena kalau bicara masalah zaman dan teknologi media, ada begitu banyak musisi sebelum mereka yang sudah dikenal luas. Apakah ini terkait melulu dengan “ke-konservatif-an” Belanda? Ah, mungkin jawaban untuk semua ini akan bisa menjadi sangat panjang lagi dan menjadi sangat politis, dan membutuhkan kaca pembesar yang lain lagi untuk meneropongnya.


[i] Kutipan ini saya ambil dari blog beralamat http://menteridesainindonesia.blogspot.com. Namun komentar senada bisa dengan mudah ditemukan di situs-situs, milis, atau blog lain; baik dari dalam atau luar negeri.

[ii] Sebagian besar sejarah Indorock dan The Tielman Brother saya sarikan dari tulisan Piet Muys, The History of Indorock (1999) dan The Tielman Brothers (2003) dalam http://indorock.pmouse.nl/ , yang terakhir saya unduh pada 25 April 2008.

Tidak banyak referensi terkait Indorock yang bisa saya akses, umumnya artikel tersebut berbahasa Belanda. Walaupun akhir-akhir ini banyak artikel yang mengulas tentang Indorock, namun semua artikel yang saya temukan hanya merupakan reproduksi dari tulisan Piet Muys diatas, termasuk artikel Wendy Putranto berjudul Stranger in Their Land yang mengulas tentang The Tielman Brothers dan dimuat oleh majalah yang kerap dijadikan barometer musik, The Rolling Stones, pada edisi 29, September 2007 (edisi Indonesia). Kesemua tulisan itu lebih membicarakan Indorock dari sisi musikalitasnya saja.

[iii] Paragraf ini saya sarikan dari tulisan Rockin’ Henry yang berjudul “50 Years Rock ‘n Roll in Netherlands” yang pernah dimuat di majalah Belanda/Belgia Boppin’ Around pada tahun 2005. Penulisan kata-kata “putih/biru/hitam” adalah sebagaimana penyebutan yang ada di artikel itu (“white/blue/black”). Artikel ini saya unduh pada 19 Mei 2008, dari http://members.lycos.nl/playlistsite/html/50yearsdutchrandr.html/.

[iv] Ben Allen & Aart Loubert, “History & Identity: Moluccans in the Netherlands”, The Hague Legal Capital, 2005. Diunduh pada 2 Juni 2008 dari www.thehaguelegalcapital.nl/lc/publications/articles/History%20and%20Identity.doc.

[v] Lihat Dick Hebdige, Subculture: The Meaning of Style, 1979, dari edisi Indonesia: Asul-Usul & Ideologi Subkultur Punk, Ari Wijaya (penerjemah), Buku Baik, tanpa tahun, hlm. 78-79.

[vi] sebagaimana dikutip dari tulisan Piet Muys, “The Tielman Brothers”, 2003; dinduh dari http://indorock.pmouse.nl/ pada 25 April 2008

[vii] Lihat Dick Hebdige, Subculture: The Meaning of Style, 1979, dari edisi Indonesia: Asul-Usul & Ideologi Subkultur Punk, Ari Wijaya (penerjemah), Buku Baik, tanpa tahun, hlm. 80.

[viii] Lihat Amin Maalouf, In the Name of Identity, dari edisi Indonesia, Ronny Agustinus (penerjemah), Resist Book, 2004, hlm.39-40.

[ix] Lihat Homi K. Bhabha, “Cultural Diversity & Cultural Differences”, dalam The Postcolonial Studies Reader, Bill Ascroft et.al (ed.), London: Routledge, 1995, hlm 208 – 209.

[x] Lihat Kees Schuyt & Ed Taverne, Dutch Culture in European Perspective: 1950, Uitgeverij Van Gorcum: 2004, hlm. 408.