You are currently browsing the category archive for the ‘Culture’ category.

Advertisements

Lahandi said…

… Para ‘pembuat’ sejarah itu selalu ingin membuat inferior negara2 dunia ke-3. Ingin membuat kita yakin bahwa negara kita itu tidak punya tradisi juara, tidak punya bakat yang bagus, tidak punya penemu, tidak punya seniman yang mashur, dsb. Itu memang akal2an mereka bos. …

November 08, 2007 11:22 pm

Emielx said…

… Tapi ini keren, makasih pak, kita jadi kayak nemu bagian sejarah yg hilang…

November 09, 2007 11:12 pm

Gerybatarasony said…

wooowww..!! keren sekali!! ternyata Indonesia udah punya orang2 keren semenjak dahulu, gilaa tahun 60-an “The Tielman Brother” udah rockin dan rollin dalam arti sesungguhnya! Elvis Presley aja pernah nonton mereka di Jerman! ahh.. ini gillaa!! pengetahuan saya tentang sejarah negara jadi bertambah lagi dan saya sangat bangga menjadi orang Indonesia! …

November 21, 2007 8:05 pm

God Father said…

Music History was changed

Elvis dan The Beatles pantesnya jd grup pembukanya

Nenek moyangku ternyata seorang Rocker… bukan cuman Pelaut!

April 02, 2008 11:46 am[i]

Sejak pertengahan tahun 2007, jika kita menelusur di internet dengan menggunakan kata kunci “The Tielman Brothers”, maka komentar-komentar seperti itu akan dengan mudah kita temukan di milis-milis atau blog (terutama) milik anak muda Indonesia. Beberapa saat setelahnya, “kegemparan” ini mulai memunculkan satu genre musik yang sebelumnya bisa jadi kurang dikenal dalam kosakata kita: Indorock. Seorang teman, ketika saya putarkan video dari The Tielman Brothers, video yang sama yang membuat banyak orang Indonesia bersuka-cita sehingga melontarkan kekaguman seperti saya kutip di atas, bahkan berkomentar tidak kalah seru: “kalo udah kayak gini, baru deh kerasa nasionalisme-nya sebagai orang Indonesia.” Siapakah The Tielman Brothers, mengapa band lawas ini bisa menimbulkan kesan begitu hebat bagi banyak orang Indonesia, kesan yang bahkan “beraroma” nasionalisme; dan seperti apa dan bagaimanakah genre musik yang disebut Indorock itu?

Read the rest of this entry »

…wishful, sinful, our love is beautiful to see I know what I would like to be, right back where I came…”

The Doors/wishful sinful/The Soft Parade

Saya memiliki tato pada lengan sampai kaki kanan saya dan gambar matahari memenuhi punggung, yang bagian atasnya bertuliskan “Rest In Pain”. Tato di lengan sampai kaki saya itu berpola celtic yang disambung dengan pola biotech. Keseluruhan tato pada tubuh saya memakai tehnik black and grey kecuali pada bagian kaki memakai tehnik color. Mesin tato yang digunakan oleh “artis tato” yang mentato tubuh saya masih berupa mesin sederhana yang dirakit sendiri dari bekas dinamo kipas angin dan jarum yang digunakan adalah jarum jahit ukuran duabelas. Tinta yang digunakan pun bukanlah tinta yang biasa digunakan di studio-studio tato, tapi tinta gambar merk rotring yang biasanya digunakan untuk mengisi ulang pena gambar arsitek. Yang menorehkan tinta pada tubuh saya bukanlah artis tato profesional, tapi seorang teman sepermainan yang tadinya menggelar lapak tato dipinggir jalan kota Bandung[i].

Read the rest of this entry »

Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah ada pelaku. Mereka si pelaku ini bukanlah subjek pasif karena mereka menikmati juga, menikmati tubuh-tubuh perempuan yang direndahkan dan disiksa secara sexsual itu. Karena alasan tugas atau strategi mereka si pelaku ini mempunyai ruang sebebas-bebasnya mengoyak tubuh-tubuh perempuan yang tidak berdaya ini. Bahkan ketika ada ruang kebebasan yang disahkan ini, mampu menjadikan manusia-manusia pelaku ini sebagai manusia yang super berani. Cerita moral yang diberikan ibu-ibu mereka, kaidah agama ataupun norma-norma sosial lenyap dalam kegagahan mereka saat melakukan penyiksaan. Kemachoan absolute mereka sebagai laki-laki pemberani muncul di bawah rasa takut perempuan yang disekap.

Read the rest of this entry »

Seorang teman dari Amerika datang ke rumah, ia rencananya mau menginap di tempatku. Dengan tergopoh-gopoh dua tas besar ia jinjing dan satu tas lagi ia gendong. Tubuh bermandikan keringat, nafas terengah-engah dan tanpa rasa sungkan dua gelas plastik air minum yang kami hidangkan langsung diminumnya. Ia ingin tinggal di Denpasar dengan harapan dapat memperoleh tempat kost yang jauh lebih murah, daripada hotel di Ubud yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Karena ia antropolog tentunya keberadaanya di Bali untuk sebuah penelitian. Kehidupan perempuan Bali menjadi fokus temanya. Untuk beberapa hari ia tidur di tempatku sebelum menemukan tempat yang ideal baginya.

Read the rest of this entry »


“Wintertime wind blowin’ and freezin’, comin’ from nothern, storm in the sea, love has been lost is that the reason, trying desperately to be free”

Wintertime love, The Doors

I. Sekilas Pandang Jaringan Anti Otoritarian

Jaringan anti otoritarian pada awalnya dibentuk dari jaringan antar individu yang bersepakat untuk tetap berkomunikasi pasca “Street Art Festival” di Jakarta yang diadakan dalam rangka mengenang aksi di Seattle sekitar tahun 2004 yang berakhir dengan pembubaran event itu oleh preman-preman sewaan Pemda. Pembubaran itu samasekali tidak mendapat “tanggapan” dari “panitia” “Street Art” dan mengakibatkan terusirnya partisipan luar Jakarta. Aktivitas ini digagas (atau setidaknya begitulah yang tercantum pada “surat edaran” mereka) oleh Institute Global Justice, kelompok Taring Padi, Yogyakarta dan sebuah kelompok dari Surabaya (saya lupa namanya). Dari “kekacauan” seperti inilah lantas jaringan anti otoritarian terbentuk dengan “memusatkan” diri di Jakarta, dimana sebelumnya telah terbentuk jaringan anarkis; Jakarta Anarchist Resistance (selanjutnya disebut JAR). Pasca “Street Art”, JAR-lah yang kemudian bertransformasi menjadi “pusat” jaringan anti otoritarian. Dari sekian lama komunikasi antar individu yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, maka mereka memutuskan untuk menunjukkan keberadaan mereka melalui momen mayday.

Read the rest of this entry »

Kadek is a college student from Bali who attends university in Jogja. He is intelligent; he has voraciously read all politically critical books –from Soe Hok Gie’s Bible to Achmad Wahid— and protests have become a routine activity. He is one in march of critics who agitated for the collapse of Soeharto’s authoritarian regime. And if there is a discussion on social imbalance or the future of the nation, one can see the veins on his neck pulsate as he speaks as if he were delivering a speech at a protest. His idealism cannot be bargained, compromised or negotiated, it is only an unyielding spirit much like the advice of Wiji Tukul, “there is only one word: fight.”

Read the rest of this entry »