You are currently browsing the category archive for the ‘Review’ category.

“saya tahu benar awal saya bergabung bahwa itu bisnis pyramid, itu sangat menyakitkan tapi saya tidak punya pilihan, saya jadikan itu hallal. Ada satu hal yang saya pelajari dari bisnis itu”

-Deo[1]

Ini salah satu pernyataan yang sangat menarik tentang bisnis multilevel yang disampaikan oleh Deo saat kami ngobrol bareng di Taman 65. Kesadaran akan pentingnya membangun kesadaran kembali untuk meneruskan perjuangan sebenarnya ditengah-tengah buaian jaringan kapitalis yang sesat. Namun bagi seorang Deo, justru hal ini memberikan inspirasi dan memakai metode mereka sebagai sebuah senjata untuk melawan dan menghancurkan kekuatan mereka.

Awal Revolusi di Timor Leste

Untuk kasus Timor Leste, saya ketika awal Revolusi Bunga di Portugal, saya ketika itu berumur delapan tahun. Saya masih ingat benar sebelum revolusi bunga ada beberapa orang mahasiswa yang kuliah di Portugal waktu itu. Sekitar tujuh mahasiswa jauh sebelum mereka kembali ke Timor Leste mereka di Portugal, mereka terlibat dalam satu komunitas kecil, komunitas diskusi di Portugal namanya Casare Timor (Rumah Timor) di Portugal mereka buat satu komunitas seperti ini. Mereka mulai diskusi dan kelompok diskusi itu kemudian membuka, membangun hubungan yang kemudian memberi mereka kesempatan mengenal komunitas lain seperti itu, untuk Mozambique, Genitisao, Brazil sehingga kemudian waktu itu ada hubungan dengan tokoh seperti Amir Kal Caberal kalau teman-teman ada yang pernah baca buku pergerakan Afrika salah satu tokoh yang juga menentukan revolusi di Afrika itu adalah Amir Kal Caberal, dia salah satu tokoh yang disegani Che. Ketika Che berkunjung di dalam perjalanan dia ke Afrika salah satu orang yang penting dia kunjungi adalah Amir Kal Caberal.

Read the rest of this entry »

Advertisements

“With my friends now, up to the city we’re gonna shake the gate of hell And I will tell them, we will tell them. That the sunlight is not for franchise”

Bella Ciao/Chumbawamba, Asing Song & A Scrap album

Beberapa tahun lalu ketika saya masih SMA banyak teman yang bertanya asal-usul saya; darimana asal saya dan seterusnya. Ketika saya berkata bahwa saya berasal dari Nusa Penida, hal (lucu) pertama yang mereka tanyakan adalah “Apa ada air di Nusa Penida?” Sejauh yang masih saya ingat, saya tidak pernah menjawab pertanyaan (lucu) itu. Seingat saya, saya hanya tersenyum. Kembali lagi ke masa saya masih duduk di bangku SMP di Klungkung, saya sering (terlalu sering malah) mendengar pertanyaan konyol (yang lucu) itu. Jadi ketika saya mendengar pertanyaan (lucu) itu (lagi), hal itu terkesan seperti memutar ulang hari-hari saya (yang indah dan menyenangkan) di Klungkung. Dan itu lebih menguatkan ingatan saya tentang apa yang orang pikirkan tentang saya, darimana saya berasal dan bagaimana mereka bersikap pada saya. Hal kedua yang membekas dalam ingatan saya adalah ketika hampir setiap orang tertawa ketika saya bercakap-cakap dengan kolega saya dari Nusa Penida. Selanjutnya orang-orang akan mencoba menirukan dialek kami dengan cara yang lucu (mereka selalu menganggap hal itu lucu) dan tertawa mengejek setelahnya. Dan itu masih terjadi sampai sekarang…

Read the rest of this entry »

srikandiKelurahan adalah unit ruang administrasi terkecil pemerintahan di tingkat kabupaten. Dalam kegiatan managemen politiknya, lurah melakukan koordinasi yang cenderung ke bawah yakni dengan para pimpinan kelompok warga. Seperti apa yang kita miliki di Bali adalah dengan para klian banjar adat[1] yang ada dalam lingkungan wilayah kekuasaan administratifnya. Hal tersebut menjadikan kedekatan hubungan antara Lurah dan kepala warga tumbuh secara organik tanpa dipacu oleh kebijakan dari atas yang sering kali justru melemahkan produktifitas hubungan, relasi tadi. Sehingga apa yang diharapkan sebagai tanggung jawab moral tugas seorang Lurah dapat dikembalikan lagi ke warganya bukan semata-semata dibutuhkan sebagai pemelihara kebijakan atasan, dalam hal ini adalah camat dan seterusnya walikota/bupati.

Read the rest of this entry »

 

img_27571.jpgKita memanggilnya Bang Udin, sekali waktu Bang Udin sempat hadir di tengah-tengah kita di taman 65 untuk membeberkan semua ‘gerakkannya’ selama ini di salah satu kampung di Salatiga. Gerakan yang dimaksud (..jangan berpikir yang ngeri-ngeri dulu dech! Ini karena anda sudah terlanjur sepakat bahwa kata gerakan sudah tidak mendapatkan hati di masyarakat apalagi selalu dihadapkan pada kecurigaan-kecurigaan negara…) adalah terobosan dalam dunia pendidikan yang tidak lagi memakai metode warisan ulama-ulama lama pedepokan yang rata-rata cerdas dalam hal penyelewengan dana bos. Apabila model ini diteruskan justru ikut meramaikan deretan lembaga penghambat perkembangan pendidikan anak-anak bangsa.

Read the rest of this entry »