Ngobrol HIV/AIDS Bersama
Ikha Widari, Dayu dan Loh De

 

Cool.jpg Hidup ini memang berat kata sebagian orang dan sebagian lagi mengatakan perubahannya terlalu cepat. Tidak pernah terlintas dalam bayangan kita atas apa yang akan kita peroleh dalam hidup ini. Setiap detik kita jalani seperti biasa, hari ini kita hidup dengan berlimpah harta dan wanita yang tercantik di dunia dan detik berikutnya kita bahkan tak memiliki seorang wanita dan sepeser uang sekalipun disaku. Keyakinan yang kita anggap benar tiba-tiba hasilnya sangat mengecewakan. Kebenaran yang kita yakini sekalipun kadang-kadang sangat menyiksa untuk dijalani.

Dari hal yang paling sederhana dalam hidup ini, memisahkan benih dan memilih benih unggul untuk mempersiapkan waktu tanam nanti hingga ikut dalam suatu pemungutan suara untuk calon wakil rakyat. Berharap suara kita diwakili oleh politikus berhati ustad namun ternyata kita memilih orang bejat berwajah ustad kesejahteraan tak pernah meningkat hingga panenpun akhirnya gagal.

Ketika saatnya kita duduk bersimpuh di halaman Tuhan, bersyukur atas karuniaNya, tetangga yang juga seorang teman kerja di balik tembok rumah kita justru sedang meronta-ronta menjerit sambil tangannya memukul-mukul tembok kamar. Sesekali bibir yang basah dibanjiri air mata itu berucap memohon ampun atas cobaan berat yang harus dia hadapi. Sekali lagi, musibah yang tak pernah terbayangkan tiba-tiba menimpa diri kita. Hidupun tiba-tiba berubah!

TGV (Train Grand Vittess) dengan laju kecepatan yang paling tinggipun manusia masih bisa menghentikannya namun bila air mata harus jatuh maka tak seorangpun dapat menahannya. Hingga pada kesimpulannya, tak seorangpun di dunia ini siap komunitas kita.jpg
menerima cobaan dari Tuhan sampai akhirnya tak sadar kita telah berada di depan gerbang cobaan itu sendiri.

Bila cobaan itu adalah sebuah penyakit yang segera akan merenggut ajal kita maka apa yang harus kita lakukan? Bingung sudah pasti, sedih apalagi, menangis tak bisa dihindari dan bila itu saya, saudaraku, teman, suamiku, menantuku yang kini sedang bergelut dengan HIV/AIDS. Alangkah kejamnya dunia apabila kita lalu menempelkan sebuah stigma terus mengambil sikap menjauhinya, justru melalui tindakan seperti ini kita seperti berlomba membunuhnya bersama-sama penyakit tersebut.Sebagai sesama makhluk Tuhan yang ditakdirkan untuk hidup saling berdampingan, untuk hal tersebut dengan berbekal kesadaran dan pemahaman yang jelas, maka jarak yang paling dekat adalah ketika dua manusia masih bisa tersenyum dan tertawa bersama, sehingga hanya kematianlah yang menjauhkan hubungan kita.

Bagaimana kita mengenal HIV/AIDS, konstruksi negara atas penyebab hingga munculnya suatu penyakit sering kali melupakan bahwa akan terjadi penerimaan berbeda persepsi atau anggapan pada tingkat masyarakat dengan intelektualitas yang berbeda pula. Sehingga atas informasi yang diterima berpotensi akan menyudutkan para penderita atau bahkan sebenarnya adalah seorang korban. Ketika seorang paman yang hidup jauh di kampung mendapat informasi yang disosialisasikan melalui aparat setempat bahwa salah satu penyakit mengerikan dapat menyerang anda, putra-putri anda dan itu bisa terjadi kapan saja. Ditambah lagi bahwa penyakit yang dijelaskan adalah tergolong penyakit menular mematikan dan harus dijauhi. Pekerja keras seperti paman dengan kompleksitas masalah di desa yang tingkat ekonominya tergolong masih rendah tersebut tidak akan sanggup membiarkan energinya untuk berpikir panjang lagi. Bagi paman ungkapan “ HIV/AIDS Cukup Sampai Disini” bisa memiliki persepsi yang berbeda menjadi “Penyakit dan Penderita Dilarang Masuk”, menyaingi larangan yang memiliki tingkat penyebaran kesepakatan yang cukup tinggi di Bali” yaitu “Pemulung Dilarang Masuk”. Hanya di Bali, dengan masyarakat yang memiliki kesadaran spritual yang cukup tinggi yang didasari oleh konsep relasi yang luhur yaitu Tri Hita Karana namun masih ditemukan kasus kekerasan terhadap manusia. Bermacam-macam kasus adat sering kali mencuat di media, salah satunya seperti perlakuan terhadap manusia yang sudah meninggal. Sekalipun sudah terbujur kaku namu masih tetap dikenai sangsi, terjerat oleh pasal-pasal dalam hukum adat. Sebuah pemandangan yang sangat ironic, pulau yang terkenal dengan keramahan penduduknya dan pemandangan harmonis senyum indah wanita Bali kemudian terjungkal oleh pemandangan kejamnya sebuah konsekuensi adat sehingga dengan teganya menelantarkan mayat di atas trotoar di pinggir jalan dekat kuburan desa. Nurani kita diuji dan falsafah hidup kita dinodai.

Hari ini sabtu jam enam sore, tanggal duabelas mei di taman 65, kita bersama-sama menanamkan kesadaran kembali atas pemahaman yang belum lengkap selama ini tentang apa itu HIV/AIDS. Walau terlambat karena populasi penyakit ini penyebaran sudah cukup tinggi di Bali bukan berarti kita takut dan akhirnya tidak peduli. Namun yang lebih penting untuk kita pahami bersama adalah untuk tidak mengambil keputusan dan tidak berusaha menghakimi disaat keraguan tentang sebuah penyakit masih menyelimuti wawasan kita.