Baru-baru ini National Geographic merilis sebuah laporan tentang kondisi 111 pulau yang menjadi tujuan wisata di seluruh dunia. Dengan metode panel dari 522 ahli, pulau-pulau tersebut dinilai dengan 6 kategori yakni: kualitas lingkungan dan ekologi, integritas sosial dan budaya, kondisi bangunan bersejarah dan situs arkelogi, daya tarik keindahan, kualitas manajemen wisata dan proyeksi terhadap masa depan.

Bali, merupakan salah satu pulau yang dinilai, ternyata menduduki posisi menengah dalam arti secara umum dikategorikan sebagai pulau yang beresiko di masa mendatang (Jonathan B. Tourtellot, 2007: 124). Selain dikarenakan oleh faktor keamanan, dua kali terkena bom, munculnya penilaian ini juga disebabkan oleh pertumbuhan pariwisata yang pesat namun tanpa perencanaan yang baik.

Read the rest of this entry »

Lahandi said…

… Para ‘pembuat’ sejarah itu selalu ingin membuat inferior negara2 dunia ke-3. Ingin membuat kita yakin bahwa negara kita itu tidak punya tradisi juara, tidak punya bakat yang bagus, tidak punya penemu, tidak punya seniman yang mashur, dsb. Itu memang akal2an mereka bos. …

November 08, 2007 11:22 pm

Emielx said…

… Tapi ini keren, makasih pak, kita jadi kayak nemu bagian sejarah yg hilang…

November 09, 2007 11:12 pm

Gerybatarasony said…

wooowww..!! keren sekali!! ternyata Indonesia udah punya orang2 keren semenjak dahulu, gilaa tahun 60-an “The Tielman Brother” udah rockin dan rollin dalam arti sesungguhnya! Elvis Presley aja pernah nonton mereka di Jerman! ahh.. ini gillaa!! pengetahuan saya tentang sejarah negara jadi bertambah lagi dan saya sangat bangga menjadi orang Indonesia! …

November 21, 2007 8:05 pm

God Father said…

Music History was changed

Elvis dan The Beatles pantesnya jd grup pembukanya

Nenek moyangku ternyata seorang Rocker… bukan cuman Pelaut!

April 02, 2008 11:46 am[i]

Sejak pertengahan tahun 2007, jika kita menelusur di internet dengan menggunakan kata kunci “The Tielman Brothers”, maka komentar-komentar seperti itu akan dengan mudah kita temukan di milis-milis atau blog (terutama) milik anak muda Indonesia. Beberapa saat setelahnya, “kegemparan” ini mulai memunculkan satu genre musik yang sebelumnya bisa jadi kurang dikenal dalam kosakata kita: Indorock. Seorang teman, ketika saya putarkan video dari The Tielman Brothers, video yang sama yang membuat banyak orang Indonesia bersuka-cita sehingga melontarkan kekaguman seperti saya kutip di atas, bahkan berkomentar tidak kalah seru: “kalo udah kayak gini, baru deh kerasa nasionalisme-nya sebagai orang Indonesia.” Siapakah The Tielman Brothers, mengapa band lawas ini bisa menimbulkan kesan begitu hebat bagi banyak orang Indonesia, kesan yang bahkan “beraroma” nasionalisme; dan seperti apa dan bagaimanakah genre musik yang disebut Indorock itu?

Read the rest of this entry »

inilah pamflet itu

…wishful, sinful, our love is beautiful to see I know what I would like to be, right back where I came…”

The Doors/wishful sinful/The Soft Parade

Saya memiliki tato pada lengan sampai kaki kanan saya dan gambar matahari memenuhi punggung, yang bagian atasnya bertuliskan “Rest In Pain”. Tato di lengan sampai kaki saya itu berpola celtic yang disambung dengan pola biotech. Keseluruhan tato pada tubuh saya memakai tehnik black and grey kecuali pada bagian kaki memakai tehnik color. Mesin tato yang digunakan oleh “artis tato” yang mentato tubuh saya masih berupa mesin sederhana yang dirakit sendiri dari bekas dinamo kipas angin dan jarum yang digunakan adalah jarum jahit ukuran duabelas. Tinta yang digunakan pun bukanlah tinta yang biasa digunakan di studio-studio tato, tapi tinta gambar merk rotring yang biasanya digunakan untuk mengisi ulang pena gambar arsitek. Yang menorehkan tinta pada tubuh saya bukanlah artis tato profesional, tapi seorang teman sepermainan yang tadinya menggelar lapak tato dipinggir jalan kota Bandung[i].

Read the rest of this entry »

Kejujuran sangatlah menyakitkan dan mengerikan sehingga masuk akal mereka si pelaku kekerasan dengan segenap tenaga dan upaya berusaha menutupnya dengan rapat. Memang para pelaku ini adalah korban dari sebuah sistem, strategi ataupun tugas yang menyebabkan mereka sigap melakukan aksi-aksi kejam itu. Ketika membaca buku ini pelaku sebagai korban adalah muskil, saya pikir kekejaman ini haruslah ada pelaku. Mereka si pelaku ini bukanlah subjek pasif karena mereka menikmati juga, menikmati tubuh-tubuh perempuan yang direndahkan dan disiksa secara sexsual itu. Karena alasan tugas atau strategi mereka si pelaku ini mempunyai ruang sebebas-bebasnya mengoyak tubuh-tubuh perempuan yang tidak berdaya ini. Bahkan ketika ada ruang kebebasan yang disahkan ini, mampu menjadikan manusia-manusia pelaku ini sebagai manusia yang super berani. Cerita moral yang diberikan ibu-ibu mereka, kaidah agama ataupun norma-norma sosial lenyap dalam kegagahan mereka saat melakukan penyiksaan. Kemachoan absolute mereka sebagai laki-laki pemberani muncul di bawah rasa takut perempuan yang disekap.

Read the rest of this entry »

Seorang teman dari Amerika datang ke rumah, ia rencananya mau menginap di tempatku. Dengan tergopoh-gopoh dua tas besar ia jinjing dan satu tas lagi ia gendong. Tubuh bermandikan keringat, nafas terengah-engah dan tanpa rasa sungkan dua gelas plastik air minum yang kami hidangkan langsung diminumnya. Ia ingin tinggal di Denpasar dengan harapan dapat memperoleh tempat kost yang jauh lebih murah, daripada hotel di Ubud yang menjadi tempat tinggalnya dulu. Karena ia antropolog tentunya keberadaanya di Bali untuk sebuah penelitian. Kehidupan perempuan Bali menjadi fokus temanya. Untuk beberapa hari ia tidur di tempatku sebelum menemukan tempat yang ideal baginya.

Read the rest of this entry »

“saya tahu benar awal saya bergabung bahwa itu bisnis pyramid, itu sangat menyakitkan tapi saya tidak punya pilihan, saya jadikan itu hallal. Ada satu hal yang saya pelajari dari bisnis itu”

-Deo[1] -

Ini salah satu pernyataan yang sangat menarik tentang bisnis multilevel yang disampaikan oleh Deo saat kami ngobrol bareng di Taman 65. Kesadaran akan pentingnya membangun kesadaran kembali untuk meneruskan perjuangan sebenarnya ditengah-tengah buaian jaringan kapitalis yang sesat. Namun bagi seorang Deo, justru hal ini memberikan inspirasi dan memakai metode mereka sebagai sebuah senjata untuk melawan dan menghancurkan kekuatan mereka.

Awal Revolusi di Timor Leste

Untuk kasus Timor Leste, saya ketika awal Revolusi Bunga di Portugal, saya ketika itu berumur delapan tahun. Saya masih ingat benar sebelum revolusi bunga ada beberapa orang mahasiswa yang kuliah di Portugal waktu itu. Sekitar tujuh mahasiswa jauh sebelum mereka kembali ke Timor Leste mereka di Portugal, mereka terlibat dalam satu komunitas kecil, komunitas diskusi di Portugal namanya Casare Timor (Rumah Timor) di Portugal mereka buat satu komunitas seperti ini. Mereka mulai diskusi dan kelompok diskusi itu kemudian membuka, membangun hubungan yang kemudian memberi mereka kesempatan mengenal komunitas lain seperti itu, untuk Mozambique, Genitisao, Brazil sehingga kemudian waktu itu ada hubungan dengan tokoh seperti Amir Kal Caberal kalau teman-teman ada yang pernah baca buku pergerakan Afrika salah satu tokoh yang juga menentukan revolusi di Afrika itu adalah Amir Kal Caberal, dia salah satu tokoh yang disegani Che. Ketika Che berkunjung di dalam perjalanan dia ke Afrika salah satu orang yang penting dia kunjungi adalah Amir Kal Caberal.

Read the rest of this entry »

“With my friends now, up to the city we’re gonna shake the gate of hell And I will tell them, we will tell them. That the sunlight is not for franchise”

Bella Ciao/Chumbawamba, Asing Song & A Scrap album

Beberapa tahun lalu ketika saya masih SMA banyak teman yang bertanya asal-usul saya; darimana asal saya dan seterusnya. Ketika saya berkata bahwa saya berasal dari Nusa Penida, hal (lucu) pertama yang mereka tanyakan adalah “Apa ada air di Nusa Penida?” Sejauh yang masih saya ingat, saya tidak pernah menjawab pertanyaan (lucu) itu. Seingat saya, saya hanya tersenyum. Kembali lagi ke masa saya masih duduk di bangku SMP di Klungkung, saya sering (terlalu sering malah) mendengar pertanyaan konyol (yang lucu) itu. Jadi ketika saya mendengar pertanyaan (lucu) itu (lagi), hal itu terkesan seperti memutar ulang hari-hari saya (yang indah dan menyenangkan) di Klungkung. Dan itu lebih menguatkan ingatan saya tentang apa yang orang pikirkan tentang saya, darimana saya berasal dan bagaimana mereka bersikap pada saya. Hal kedua yang membekas dalam ingatan saya adalah ketika hampir setiap orang tertawa ketika saya bercakap-cakap dengan kolega saya dari Nusa Penida. Selanjutnya orang-orang akan mencoba menirukan dialek kami dengan cara yang lucu (mereka selalu menganggap hal itu lucu) dan tertawa mengejek setelahnya. Dan itu masih terjadi sampai sekarang…

Read the rest of this entry »

srikandiKelurahan adalah unit ruang administrasi terkecil pemerintahan di tingkat kabupaten. Dalam kegiatan managemen politiknya, lurah melakukan koordinasi yang cenderung ke bawah yakni dengan para pimpinan kelompok warga. Seperti apa yang kita miliki di Bali adalah dengan para klian banjar adat[1] yang ada dalam lingkungan wilayah kekuasaan administratifnya. Hal tersebut menjadikan kedekatan hubungan antara Lurah dan kepala warga tumbuh secara organik tanpa dipacu oleh kebijakan dari atas yang sering kali justru melemahkan produktifitas hubungan, relasi tadi. Sehingga apa yang diharapkan sebagai tanggung jawab moral tugas seorang Lurah dapat dikembalikan lagi ke warganya bukan semata-semata dibutuhkan sebagai pemelihara kebijakan atasan, dalam hal ini adalah camat dan seterusnya walikota/bupati.

Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.